Chapter 7

2109 Words
Hari ini adalah hari Senin pertama post orientasi. Arimbi pagi ini ada di kantor pusat karena ia akan ada meeting dengan direktur AIP dan tim teknologi dan uji coba bibit yang merupakan tim tempat Arimbi bertugas. Manager tim ini adalah pak Budi dan tim ini saat ini terdiri dari beberapa unit, agenda meeting hari ini salah satunya adalah untuk penambahan unit baru. Sebelum meeting pukul 8.30, Arimbi menyiapkan beberapa materi untuk rencana kerjanya, sebagai staff baru ia merasa harus punya rencana kerja walau sifatnya tentative karena nanti di meeting pasti akan ada update untuk beberapa tupoksinya mengingat pak Budi minggu lalu pernah menyebut tentang penambahan unit baru di divisi AIP. 10 menit sebelum meeting dimulai Arimbi sudah masuk ke ruang meeting direktur yang berada di sebelah ruangan direktur AIP, belum ada orang disana sehingga Arimbi duduk menunggu sambil kembali membuka file di tab nya untuk membaca kembali beberapa item dari rencana kerja yang telah dibuatnya. Tak lama pintu ruangan meeting terbuka dan masuklah pak Budi, mas Daden, pak Drajat, bu Lilis dan pak Bayu, ketika pintu akan ditutup kembali oleh pak Bayu muncul ibu direktur AIP, bu Diah. Sambil menyapa semua yang hadir beliau berjalan ke kursi tempat biasa beliau duduk ketika memimpin rapat. "Selamat Pagi semua, sehat-sehat kan? semoga weekend nya kemarin menyenangkan ya..". bu Diah membuka pembicaraan. "Sehat bu...yang pasti weekend kemarin ada yang panen cuan" sahut pak Drajat sambil tertawa. "Wah...syukur banget ya bisa panen cuan di weekend" sambung bu Diah. "Jadi berapa ton kemarin pak Bayu panenan kolamnya?" bu Lilis bertanya ke pak Bayu yang diledekin pak Drajat dari tadi. "Belum sampai bu Lilis, kalau yang ukuran ton itu mah mainnya orang kebun, kolamnya kecil kok saya, hasilnya kemarin baru nila dan lele saja dan dapatnya semua baru 4 kwintal kurang" jawab pak Bayu. "Wahh...banyak itu pak, semoga panen berikutnya bisa lebih banyak ya" sahut pak Budi. "Mudah-mudahan pak Budi, ini kita baru mulai usaha dan masih learning by doing jadi belum berani terlalu banyak memulainya takutnya penjualannya belum atau tidak lancar" pak Bayu menjelaskan. "Setidaknya saya sudah jadi pelanggan pak Bayu walau permintaannya baru 10 atau 20 kg saja, ya kan pak.." celutuk mas Daden. Pak Bayu mengangguk membalas mas Daden sambil ketawa dan mengacungkan jempol dua. "Bagus sekali pak Bayu, sebagai pemula, hebat loh bisa panen sebanyak itu, mudah-mudahan semakin berkembang ya" bu Diah menanggapi. "Iya bu, alhamdulillah...terimakasih untuk dukungan dan saran dari semua sejak saya mulai merintis usaha tersebut" jawab pak Bayu. "Baik...kita mulai ya..., jadi meeting kita hari ini adalah meeting awal yang mungkin akan maraton dalam beberapa hari kedepan. Tujuannya adalah untuk persiapan rapat kerja dengan dewan direksi dan komisaris dalam tiga minggu yang akan datang. Sebelumnya saya mau infokan bahwa sebelum pak Ken ke Thailand minggu lalu, saya dan direktur marketing beserta direktur Q n A di panggil pak Ken untuk membahas beberapa rencana expansi dan kesiapan perusahaan untuk expansi tersebut". bu Diah membuka rapat dengan informasi penting tujuan dilakukannya rapat ini. "Expansi yang akan dilakukan bertujuan untuk memperluas market karena pasar kita akan bertambah seiring dengan kepemilikan terhadap perusahan di Thailand yang akan menjadi anak cabang perusahaan kita. Selain itu perusahaan sedang mengkaji untuk penambahan variant produk dari beberapa jenis divisi usaha agriculture kita, oleh karena itu kita di divisi AIP perlu menyusun proposal program kerja yang akan kita laksanakan dalam kerangka expansi perusahaan. Rencana expansi ini juga yang membuat saya ikut mengajukan recruitment staff ketika ada open vacancy perusahaan kemarin karena kita butuh unit riset untuk bisa melakukan inovasi dan perencanaan variant produk baru di divisi kita". lanjut bu Diah menjelaskan sambil berakhir menatap ke arah Arimbi. "Selama ini riset kita tidak terlalu demanding terutama untuk produk teh, karena variant unggulan kita adalah black tea, oleh sebab itu riset produk itu masih dikerjakan oleh divisi Q n A. Kedepannya, dengan adanya expansi, kita dituntut untuk mempunyai variant produk lain, dan itu butuh riset yang lebih specific untuk melakukannya. Karena variant black tea kita tetap konstan permintaannya di pasar dan kita menguasai hampir 60 persen pasar black tea, hal ini membuat kita hanya berfocus kesana tanpa mencoba membuat variant lain yang mungkin saja bisa mengikuti black tea kita menguasai pasar global". lanjut bu Diah "Jadi ini specific di tujukan untuk Arimbi...saya berharap untuk Arimbi bisa ngelead dan conducted or established new riset unit di luar yang sudah kita miliki sebelumnya yang mana tujuannya untuk pengembangan varietas produk yang bisa dijadikan komoditas unggulan dari produk teh kita" bu Diah menjelaskan ke Arimbi. "Untuk itu kita perlu bersama-sama menetapkan blue print unit baru ini sebelum di ajukan ke direksi pada meeting yang direncanakan 3 minggu lagi... Kira-kira ada pendapat dan masukan?" bu Diah mrmbuka diskusi. "Ijin bu...boleh saya bicara" Arimbi berkata. "Oh..iya..ya..tentu..silahkan Ari" bu Diah mempersilahkan. " Saya berterima kasih dan senang bisa diterima di Will Agro Global Industries dan bergabung di divisi AIP karena bagi saya moment ini adalah kesempatan besar untuk saya melakukan pekerjaan yang saya sangat senangi yaitu bertanam teh" ucap Arimbi. "Dan ternyata ada banyak hal di seputar menanam dan produksi teh tersebut sebelum sampai kepada penikmat teh di berbagai belahan dunia, dan proses tersebut semakin membuat saya tertarik mendalami keilmuan tentang teh. Saya akan menjalankan tugas yang di amanatkan kepada saya dengan sebaik-baiknya, namun saya tahu bahwa saya juga belum begitu berpengalaman dalam menyelenggarakan system riset yang mumpuni untuk perusahaan sebesar Will Agro Global Industries ini, barangkali ada pertimbangan lain bu...terutama untuk kepala unit riset baru tersebut...sekira mungkin ada kandidat lain bu...". Arimbi menyampaikan pemikirannya. Bu Diah tersenyum mendengar jawaban Arimbi, dia tidak menyalahkan Arimbi yang berpikir kalau dirinya belum sanggup menerima promosi sebagai kepala unit. "Ari...saya paham dan mengerti apa yang sedang kamu pikirkan...tapi saya juga punya keyakinan dan kepercayaan pada kamu..I do believe in you to handle this" bu Diah menjawab keraguan Arimbi. "Tapi bu...saya kan staff baru...apakah nanti tidak jadi polemik jika langsung promosi sebagai kepala unit bu...maaf sekali lagi bu...bukan mau mengelak. " Wait..." bu Diah berkata dan beliau kemudian membuka laptopnya dan mencari file yang akan di lihatnya, kemudian menghubungkan laptopnya ke projector, lalu muncul di screen sebuah file, setelah di zoom ternyata itu tampilan curriculum vitae milik Arimbi tetapi yang di tampilkan bu Diah adalah cv dan portofolio Arimbi, sehingga lebih detail isinya. "Ari...saya kept cv kamu ini setelah saya baca semua isinya dan saya langsung bilang pak Hariadi saat itu bahwa saya sudah dapat kandidat yang saya cari dan butuhkan untuk divisi saya, walau saat itu penutupan vacancy masih seminggu lagi". bu Diah berkata penuh semangat. "Bapak ibu yang ada di ruangan ini silahkan lihat dan baca sendiri apa isi cv itu...supaya bapak ibu semakin mengenal dan mengetahui siapa staff baru kita yang bernama Arimbi ini, dan itu juga menjawab cerita-cerita yang anda sekalian dengar kemarin seputar proses recruitment, terutama cerita tentang saya yang tidak mau mempertimbangkan dua kandidat lain yang notabene usulan dari internal. Sekarang anda semua lihat sendiri dan bisa menilai siapa dan untuk apa Arimbi saya usulkan sebagai kandidat tunggal pada waktu itu. Mengikuti training dan study di Europa dan Jepang sejak masih menjadi mahasiswa di jenjang sarjana, lalu menjadi mahasiswa sekaligus peneliti di kampus Europa yang rangking 5 besar sedunia di bidang agriculture dan menjadi anggota muda peneliti di negara yang punya sejarah panjang tentang teh, gak cukup itu saja Ari juga memegang sertifikat internasional sebagai tea expert. Sekarang bapak ibu coba bandingkan dgn kandidat yang di usulkan internal kemarin...apakah salah kalau pilihan jatuh pada Arimbi?...kandidat lain yang di usulkan tidak jelek, mereka bagus dalam capaian academic nya...tetapi yang punya experience di bidang yang di pelajari bahkan sudah mengglobal hanya Arimbi yang punya. Kita perusahaan yang marketnya adalah pasar internasional, jika ada kandidat dengan internasional networks nya sudah sangat firm seperti Arimbi...apakah saya masih akan memilih yang lain yang tidak selengkap yang dimiliki Ari? hanya orang bodoh yang mekakukan itu" Bu Diah panjang lebar menceritakan tentang masa-masa recruitment Arimbi sebulan yang lalu. "Mba Ari" pak Budi memanggil Ari yang sedari tadi hanya menunduk menatap tab nya di meja. "Saya mendukung usulan bu Diah, selama saya bekerja di Will Agro Global Industries dan berinteraksi dengan adek-adek staff baru hasil recruitment perusahaan, baru mba Ari yang saya lihat punya kompleksitas kompetensi yang mumpuni. Betul...Will Agro Global Industries ini besar, justru dengan besarnya itu bisa mba Ari jadikan sebagai inkubator untuk membentuk sikap mental, skill dan pengalaman mba Ari dalam dunia kerja...kita tidak tahu pathway atau jalur yang mana yang akan mengantarkan kita pada fase lain kehidupan kita di dunia ini, kalau kita tidak mencoba track yang ada atau tersedia saat ini...kita tidak akan sampai kemana-mana, kita hanya akan disini saja. Di coba dulu saja mba" nasehat pak Budi. "Jangan khawatir, kita yang ada di ruangan ini adalah support system utama mba Ari nanti ketika memulai unit tersebut" imbuh pak Drajat. "Pengalaman dan networking yang kamu miliki itu adalah modal dan kekuatan utama kamu yang membuat kamu sebagai orang yang pas menjalankan unit riset ini Ari. Kamu tidak akan jalan sendiri di awal-awal pembentukan unit ini, kita semua terutama saya akan mendampingi dan membersamai kamu dalam setiap prosesnya" bu Diah berkata sambil berjalan ke arah tempat Arimbi duduk lalu menepuk bahu Ari dengan kedua tangannya dengan maksud memberi semangat, memberi keyakinan dan dorongan agar Arimbi percaya diri untuk menerima promosi ini. "Bagaimana?" bu Lilis yang duduk di sebelah Ari menatap ke dirinya sambil tersenyum dan menggenggam tangan Ari untuk menguatkan. "Ayo mba Ari...nanti sayakan barengan terus sama mba Ari untuk urusan lapangannya, jadi jangan khawatir" mas Daden menimpali dari seberang meja. "Unit riset sangat kita butuhkan karena kita selama ini belum punya komoditas lain selain black tea. Dulu pernah tim Q n A mencoba mengembangkan variant lain tetapi karena mereka mengerjakannya harus berkompetisi dengan QC yang lain sehingga hasilnya tidak optimal, waktu itu mereka coba mengembangkan variant oolong tea tapi sepertinya terhenti begitu saja." pak Bayu menjelaskan. "Sekarang kita punya SDM yang betul-betul punya exposure dengan riset di bidang teh dan sudah teruji di bidang tersebut, tentu kita berharap sekali kita bisa punya variant lain yang sekiranya bisa di kembangkan di wilayah perkebunan kita" bu Diah menambahkan. " Baiklah, saya akan coba, saya mohon sekali arahan dan bantuan bapak ibu senior yang sudah lebih berpengalaman mengemban tanggung jawab besar sebagai pemimpin suatu unit maupun divisi. Saya hanya takut mengecewakan jika saya ternyata tidak bisa memghasilkan suatu produk seperti yang di harapkan semua" Arimbi menyampaikan kekhawatirannya. "Ari...memulai sesuatu yang baru pasti akan banyak rintangannya dan sering berakhir dengan gagal mencapai tujuan yang di inginkan, percayalah...kami semua masing-masing sudah pernah jatuh bangun mengalaminya...jadi jangan takut untuk salah dan gagal..itu wajar..semua proses akan seperti itu. Yang terpenting adalah kamu tidak patah semangat dan mau bangkit lagi dengan niat yang semakin kuat dari sebelumnya" bu Diah menguatkan dan menyemangati Arimbi "Terimakasih bu Diah dan bapak ibu semua atas kepercayaan dan keyakinan terhadap saya, semoga saya tidak mengecewakan dan bisa menjalankan tugas ini dengan baik". Arimbi menyatakan kesediaannya. "Ok...agenda pertama sudah clear, kita akan punya unit riset yang akan di pimpin oleh Arimbi, saya akan komunikasikan usulan divisi AIP untuk posisi kepala unit yang baru ini ke dewan direksi, semoga bisa di setujui ya. Saya tidak akan memberi dateline apapun kepada Ari terkait unit riset ini, tapi mengingat kita akan harus meeting dengan direksi 3 minggu lagi, menurut Ari kira-kira tempo waktu tersebut cukup untuk segala persiapan bertemu direksi nanti? Karena kalau rasanya masih butuh waktu untuk persiapan, dari sekarang saya bisa sounding ke sekretariat direksi dan direktur lainnya untuk pengunduran jadwal meeting nya" jelas bu Diah "Saya akan mulai hari ini untuk review data topografi geography dan climate area perkebunan serta history nya, kalau semua datanya lengkap dalam 3 hari saya bisa turun untuk analisis lapangan sekitar 3 hari juga, setelah itu saya kerja di dokumentnya mulai dari feasibility study, rencana kerja dan menyiapkan presentasinya yang butuh waktu sekitar 10 sampai 12 hari kerja" penjelasan Arimbi tentang step awal yang akan dilakukannya. "Usulkan jadi 4 minggu lagi aja bu" saran pak Budi. " Takutnya kalau expertnya yang langsung handle seperti Arimbi...sub-sub temuan atau additional itemnya jadi banyak sehingga butuh waktu lebih panjang untuk menyusun dokument nya" sambung pak Budi menjelaskan. "Setuju pak" sahut yang lain " Baik, setelah ini saya akan segera mengurusnya" jawab bu Diah sambil tersenyum puas. Arimbi menggangguk mengiyakan saran dari semua rekan staff yang hadir. " Beberapa hal yang harus di ingat Ari" bu Diah melanjutkan " jangan stress out dengan tugas yang harus dikerjakan saat ini dan jangan sungkan untuk minta bantuan atau apapun yang kamu butuhkan kepada kami semua...pintu ruangan saya terbuka anytime jika kamu butuh ya" bu Diah menguatkan lagi. "Betul" sahut staff lainnya. " Baik...sekali lagi terimakasih bapak ibu semuanya" ucap Arimbi sambil membungkuk kepada bapak ibu yang ada di ruangan itu. *********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD