Chapter 8

2080 Words
Sudah empat hari ini Arimbi bersemedi di kubikelnya, begitu datang pagi dia langsung membuka laptopnya lalu sibuk dengan kertas-kertas arsip data yang dibutuhkannya untuk melakukan kajian perencanaan variant produk serta analisa feasibility study unit riset. Staff lain silih berganti mengantarkan document yang akan diperlukan Arimbi untuk tugas yang diamanatkan kepadanya, ternyata lewat dari waktu yang telah ia target di awal yaitu hanya tiga hari saja yang ternyata mundur jadi empat hari. Besok ia akan berada di lapangan untuk mengumpulkan data real situation kondisi kebun dan tanaman yang ada. Selama empat hari non stop melakukan data review dan kemudian mengolah data yang dikumpulkan sambil menganalisa hasil nya cukup menguras otaknya dan itu membuat perut dan matanya perih sehingga dia mengambil break setiap dua jam dari kubikelnya agar tidak ambruk. Biasanya jam makan siang Arimbi akan makan lebih dahulu di ruang makan yang merupakan pantry divisi AIP, karena jam sebelasan perutnya sudah merintih dan syukurnya jam segitu makan siang staff yang tidak makan di dining room sudah di drop ke setiap divisi sehingga Arimbi gak menunggu lama untuk mengisi perutnya. Setelah break untuk makan siang yang hanya dia gunakan selama 10 menit saja, Ari akan kembali ke kubikelnya dan lanjut lagi dengan pekerjaannya mengolah data, sekitar tiga jam kemudian dia akan turun ke lantai dasar dan cuci mata ke minimarket dan coffeshop, biasanya dia akan naik ke ruangannya dengan membawa buah tangan seperti cemilan dan coffe atau smoothies. Habit baru Arimbi ini tak luput dari pengamatan seniornya di ruangan. "Ari turun ya?" tanya pak Budi yang baru masuk ruangan setelah selesai meeting. "Sepertinya begitu pak" sahut pak Drajat. "Saya tuh..kasihan ngelihat dia, sebagai anak baru, masih muda...tiba-tiba dapat tugas berat menyiapkan unit baru. Kita aja yang senior pasti minta banyak orang untuk bantuin kalau disuruh hal seperti itu, semoga dia gak burnout dengan semua ini." ujar pak Budi. "Belum lagi tugas baru yang langsung diminta oleh pak Teddy...itu yang waktu itu bu Diah cerita waktu acara penutupan orientasi" bu Lilis menambahkan. "Yahh...semoga dia kuat ya, kalau soal kemampuan saya tidak ragu, buktinya dia tahu dari mana harus mulai dan apa yang dia butuhkan untuk melakukan tugasnya" pak Drajat berkata. "Untuk teknis...kita gak bisa bantu banyak, kan Ari ahlinya dia tentu yang lebih tahu dan paham, kita paling bisa bantu untuk hal-hal non teknis yang sifatnya abstrak" pak Budi menyambung. "Non teknis...abstrak, maksudnya apa pak?" tanya pak Drajat. "Nanti saya kasih tahu contohnya jika kejadian ya" jawab pak Budi sambil tersenyum. Sementara itu Arimbi yang sedang berada di coffeshop memilih untuk membeli smoothie hari itu, karena ada dua antrian sebelum dirinya, jadilah dia duduk menunggu di kursi yang ada dekat area kasir. Siang ini pengunjung tidak terlalu ramai karena sudah lewat jam makan siang sehingga hanya ada tiga orang pengunjung saja di dalam coffeshop. Sambil menunggu Ari melihat beberapa file di hp nya. "Ikut duduk disini ya..." suara seorang pria yang berdiri didepannya. Ari mengalihkan pandangannya dari hp dan menatap orang yang berdiri di depannya. "Oh..iya..silahkan" jawab Ari sambil membalas senyum lebar dari pria yang ada di depannya ini, setelah itu dia kembali menatap layar hp nya. Dari busananya, Ari menduga orang ini bukan karyawan Will Agro Global Industries, pria ini terlihat memakai setelan kemeja dan celana dengan jas tanpa dasi terlihat semi formal, karena staff di perusahaan ini mendapat baju seragam setelan celana dan kemeja yang dibagian d**a terdapat logo perusahaan. Semua staff mulai dari Komisaris, CEO sampai housekeeping dan security semua punya seragam. Jadi karena pria ini bukan karyawan, Ari tidak merasa perlu untuk berinteraksi lebih lanjut sehingga ia kembali membaca dokument di hp nya. "ehhem...lagi ngantri juga mba?" tanya pria tersebut. "Iya" Ari sekilas melirik sambil menjawab. Si pria itu mengangguk sambil memperhatikan gerak-gerik Arimbi, lalu matanya tertuju ke beberapa cemilan yang tergeletak di meja di depan Arimbi. "Wahh...masih ada ya yang jual lolipop jagoan neon ini, sudah lama saya gak nemu yang jual, ini lolipop teman belajar ketika ujian waktu SMA dulu". si pria berkata sambil menunjuk lolipop diantara cemilan yang dibeli Arimbi. "ohh..ya.." Arimbi menjawab sambil tersenyum. "Smoothie...Wiwi" tiba-tiba ada panggilan dari arah kasir. "Ini buat anda...silahkan...saya duluan." Arimbi berdiri sambil mengemasi belanjaan cemilannya yang di atas meja dan meletakkan satu lolipop jagoan neon yang tadi di belinya di hadapan pria itu duduk, setelah itu ia beranjak ke kasir mengambil pesanannya dan segera berjalan keluar untuk balik ke ruangannya. "Hei!.." si pria mencoba memanggil Arimbi yang sudah berjalan ke arah pintu. "Unik juga...model begituan sukanya lolipop jagoan neon, mana cemilan yang dia beli receh-receh semua lagi...roti sobek nanas, kacang panggang dan jagoan neon, dan lagian itu type cemilan amunisi lemburan biasanya, menarik!..perlu di investigasi nih." si pria tampan tadi berkata dalam hati sambil tersenyum lebar dan masih menatap kearah pintu keluar dimana Arimbi baru saja keluar. Sementara di area outdoor tepatnya diplataran coffeshop terlihat seseorang yang sedang menatap tajam dan sinis kedalam coffeshop, matanya sedari tadi tak lepas mengamati gerak-gerik seseorang sejak orang tersebut keluar dari lobby dan bergegas masuk ke coffeshop sepertinya sedang mengikuti seseorang, awalnya matanya berbinar dan happy mengamati sosok tersebut, tapi setelah dia menatap lebih seksama kedalam coffeshop, dia seketika terlihat emosi, dia mendengus kesal sambil bergumam "sialan.." **** Arimbi sudah duduk kembali di kubikelnya dan kembali focus ke laptopnya dan juga pada sebuah PC desk yang ada di mejanya. Hari ini sepertinya ia akan lembur menyelesaikan data dan analisisnya karena besok ia akan mulai melakukan kajian lapangan yang artinya ia akan banyak di lapangan untuk tiga atau empat hari kedepan. Selain itu hasil analisa yang sedang ia kerjakan saat ini akan diperlukan untuk dirinya melakukan kajian lapangan besok, walau tidak semua, tapi itu bisa jadi panduan untuk mengumpulkan data kajian. Sekitar pukul 15.30, Arimbi menemui pak Budi di ruangannya "Pak Budi hari ini saya ijin lembur ya pak...karena besok saya akan mulai turun ke lapangan jadi semua analisis yang perlu di kumpulkan data lapangannya harus saya bawa besok pak" jelas Arimbi. " Masih banyak yang harus diselesaikan?" tanya pak Budi. " Kira-kira berapa jam kamu butuh waktu untuk menyelesaikan semua?" lajut tanya pak Budi. " Lumayan pak, saya butuh sekitar tiga sampai empat jam untuk selesaikan sekalian cetak satu set untuk saya bawa besok" jelas Arimbi. "Jadi kemungkinan kamu akan kelar sekitar jam delapan ya..." imbuh pak Budi. "Kurang lebihnya segitu pak". jawab Arimbi. "Ya sudah...silahkan dilanjutkan, nanti saya info security dibawah untuk kontrol kesini ya". info pak Budi. "Oiya pak...satu lagi, saya butuh untuk dapat data dari pemerintah setempat, terutama data tentang kerawanan kawasan yang di konservasi oleh pemerintah serta mereka punya blue print mitigasi wilayah kah yang sekiranya bisa kita analisis terutama yang nanti ada kaitannya dengan operasional perusahaan." jelas Arimbi panjang lebar. "Wah..kalau itu kita harus ke bu Diah untuk minta bantuan beliau, karena suami bu Diah kerja di kantor pemerintahan di kota..ayok ikut". pak Budi menjawab sambil berdiri dan berjalan ke luar ruangan menuju ruangan bu Diah. Akhirnya setelah sempat diskusi bertiga di ruangan bu Diah, akhirnya disepakati untuk kunjungan ke kantor pemerintahan akan di urus bu Diah besok, paling cepat Arimbi bisa berkunjung hari Senin minggu depan karena besok sudah hari Jumat. Setelah itu Arimbi kembali ke kubikelnya dan focus untuk menyelesaikan data analisis yang sudah ia kerjakan sejak hari Senin kemarin. Tak terasa ketika jam sudah menunjukkan pukul 16.30, satu persatu staff di ruangannya mulai bersiap untuk pulang. Pak Bayu dan bu Lilis mampir ke kubikel Ari. "Besok mba Ari kalau ke kebun sudah dapat pass code untuk akses keluar masuk area kebun?" tanya pak Bayu. "Oh..sudah pak, tadi pagi mas Daden bantu ngurusin ke tim IT" jawab Arimbi " Jam berapa besok di kebun mba? Apa ke sini dulu?" tanya bu Lilis. " Besok sepagi mungkin bu, karena ada data observarsi yang harus di kumpulkan terkait possibility produk yang punya chance bagus untuk di kembangkan." jelas Arimbi. " Oo..baik, besok saya juga ke kebun, besok saya bawakan sarapan ya...kalau berangkat pagi sekali mba Ari pasti belum sarapan kan". bu Lilis menambahkan. "Wah..jangan repot-repot bu, besok saya bisa beli sarapan". "Jangan!...pokoknya urusan sarapan dan makan jangan repot ya, besok saya yang bawa. Saya gak bisa bantu banyak mba Ari..jadi setidaknya saya bantu ngawasin makannya mba Ari aja, karena sepertinya mba Ari orangnya suka lupa makan kalau sudah sibuk, contohnya beberapa hari ini aja kalau sudah dekat jam makan siang kita semua disini yang ingatin mba Ary, kalau gak gitu mba Ary gak beranjak dari mejanya." bu Lilis menjawab. " Aww..ibu baik sekali, seperti ibu saya dirumah yang suka menyiapkan makan saya setiap saya hectic belajar...terima kasih ya bu" Arimbi berkata sambil berdiri dan memeluk bu Lilis "Iya..sama-sama". bu Lilis berkata sedikit terharu karena di peluk Arimbi, dia merasa humble dan baik hatinya seorang Arimbi Ketika Arimbi mengira semua orang sudah pulang semua, karena beberapa staff tadi mampir ke kubikel nya untuk pamit pulang sekaligus menyemangati Arimbi, ketika jam sudah menunjukkan pukul 17.50 menit tiba-tiba mas Daden masuk ke ruangan sambil membawa laptopnya yang masih menyala. "Lho..mas Daden kok belum pulang?" tanya Arimbi kaget. "Iya..kan kamu lembur." jawab mas Daden singkat sambil duduk di meja transit yang ada di tengah ruangan. " Yang lembur aku mas...mas Daden kan gak perlu ikutan lembur". Arimbi menjawab. "Ini sudah mau jam 18.00 mas, sudah mulai gelap tuh...mas Daden kan lebih jauh pulangnya ketimbang aku yang masih dekat-dekat sini, belum lagi nanti kalau hujan...ayo mas pulang sekarang aja". Arimbi bernegosiasi agar mas Daden mau pulang, kasihan kalau harus menunggu dirinya sampai selesai. "Nanti kamu pulang gimana?" mas Daden balik bertanya. "hmm...aku nanti telpon pak Wito aja sepertinya...biar minta tolong di jemput". jawab Arimbi yang terdengar gak pasti di telinga mas Daden. "Sebentar..." mas Daden lalu keluar dari ruangan, sekitar 10 menit kemudian dia muncul lagi di ruangan bersama pak Maskur security gedung yang berjaga di lantai 1. "Ri..nanti kamu pulang diantar pak Maskur ya, kebetulan pak Maskur yang jaga hari ini dan beliau ini masih kerabatnya pak Wito..jadi aman deh urusan pulangnya". mas Daden menjelaskan. "Iya mba Ary, tadi bu Diah dan pak Budi juga nitip ke kami yang jaga di bawah, tadi karena masih lihat mas Daden naik, jadinya kami belum kontrol ke atas karena berarti mba Ary masih ada temannya, nanti kalau sudah mau pulang kami di calling aja ke pos mba". pak Maskur menjelaskan sambil menunjuk intercom yang ada di dinding dekat pintu keluar ruangan Arimbi. "Nanti setiap jam, saya akan kontrol kesini mba, saya balik ke pos dulu ya mas Daden, mba Ary" pak Maskur menambahkan sambil berlalu keluar ruangan. "Oiya...baik pak dan makasih ya pak." ucap Ary "Udah mas...mas Daden pulang sekarang ya biar gak kemalaman." Arimbi beralih ke mas Daden. "Beneran nih gak mau ditungguin" mas Daden bertanya sambil menutup laptopnya dan merapikan tas ranselnya sebelum memasukkan laptop kedalamnya. "Bener mas...aku gak apa-apa kok, sudah biasa kok aku kerja sendiri kalau lembur". jawab Arimbi. "Baiklah...aku duluan ya, kalau perlu apapun tinggal telpon ya, jangan sampai terlalu malam ya Ri" ucap mas Daden ke Arimbi. "Iya mas baik...makasih ya sudah bantuin dan nungguin aku hari ini". Arimbi membalas. Mas Daden menjawab dengan mengangkat jempolnya kearah Arimbi sambil berjalan kearah pintu keluar ruangan. Tepat pukul 20.20 Arimbi menelpon pak Maskur di pos, tiga menit kemudian beliau sudah berada di ruangan Arimbi, tujuannya selain menemani turun juga untuk mematikan lampu dan memastikan semua peralatan listrik sudah dimatikan semua serta mengecek semua cctv di ruangan dalam keadaan menyala. Di lobby masih ada satu orang security yang standby, Arimbi pamit ketika lewat menuju ke teras lobby untuk menunggu pak Maskur mengambil motornya. Setelah pak Maskur datang dengan motornya, Arimbi memanggul ranselnya di bahu dan segera menaiki motor pak Maskur. Suasana area perkantoran itu ketika malam sangat terang benderang, motor melewati lapangan hijau yang dilalui driveway dari depan lobby sampai ke pintu gerbang utama yang berjarak sekitar lima ratus meter. Sesampai di gerbang terdapat pos penjagaan dimana disana ada seorang petugas yang membantu membukakan pagar, setelah keluar dari pagar terdapat boulevard yang lebar yang berhias lampu terang benderang sehingga area jalan yang ada disitu jadi tidak menakutkan kalau malam hari seperti saat ini Arimbi rasakan. Tidak banyak kendaraan yang melintas. Pak Maskur membawa motornya dengan tenang tidak ngebut, sesekali mereka beriringan dengan beberap motor dan mobil. Seseorang yang sedang mengendarai mobilnya dari arah resort tiba-tiba memelankan laju kendaraannya ketika melewati gerbang kantor pusat, ia menajamkan penglihatannya untuk memastikan siapa yang dia lihat di depan sana yang baru keluar dari gerbang kantor pusat. Ketika sudah semakin dekat dan jelas siapa yang dia lihat, kembali mobil di pacu dengan menginjak pedal gas ketika sudah dekat dengan objek yang tadi di perhatikannya.."murah amat" bisiknya. **********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD