Azara langsung memasukkan handphone-nya ke dalam tas setelah memutus saluran telepon. Wajahnya benar-benar muram sekarang. Di sisi lain dia merasa kesal, tapi di sisi lainnya lagi dia merasa bersalah karena sejak awal Bintang mengatakan kalau dia hanya takut Azara kenapa-kenapa, bukan suatu hal yang tidak baik. Dia embuskan napas pelan lalu menatap ke sisi jalan yang tampak ramai di malam hari. Azara ini jarang sekali keluar malam. "Kenapa, Za? Bintang enggak izinin kamu? Kalau emang kamu enggak dapat izin aku bisa antar kamu pulang, kok." Ucapan Anggara seketika membuyarkan kecamuk dalam pikiran Azara. "Enggak, aku tetap mau ikut, dia cuma kayak Kak Dio, kebanyakan enggak boleh. Demi apa pun, aku enggak suka orang kayak gitu. Selama ini, penyelamatku itu kamu sama Mama, aku enggak bisa

