Amira Putri Arkana

1276 Words
Andri melirik istrinya untuk meminta persetujuan, Ananda mengangguk, "Mira, mau tidak Ayah jodohkan, dengan anak teman Ayah?" Amira menundukkan kepala, berpikir sejenak, mungkin ini saatnya ia bertemu jodohnya, walaupun mungkin bukan seseorang yang ia harapkan. "Mira mau, Yah." Amira menjawab dengan tersenyum manis. Kedua orang tuanya tersenyum, "Mira tidak ingin tahu dengan siapa Mira dijodohkan?" Amira menatap ayahnya. "Memang siapa yang akan menjadi calon suami Mira, Yah?" "Mamah tidak tahu apakah Amira akan senang atau tidak, yang pasti menurut Mamah dan Ayah, Dia merupakan lelaki yang sangat cocok dengan Mira." Ananda menjawab pertanyaan putrinya sambil mengusap pelan kepalanya Amira kembali tersenyum, "Siapapun yang menurut Mamah dan Ayah terbaik buat, Mira. InsyaAllah Mira mau," jawaban Amira membuat kelegaan di hati kedua orang tuanya. "Nanti malam keluarga Om Seno akan datang, untuk makan malam bersama, sekaligus membahas rencana selanjutnya." Perkataan ayahnya membuat Amira terkejut dan membulatkan matanya tak percaya. "Ja-jadi yang akan dijodohkan dengan Mira itu, Aa Kemal, Yah?" Amira bicara dengan nada tak percaya Ayah nya menganggukkan kepala dan tersenyum lebar, membuat pipi Amira merona seketika. Amira merasakan sesak di dadanya karena kabar yang begitu mengejutkan, yang sungguh sulit Amira percaya. Bagaikan gayung yang bersambut, laki-laki yang selama ini menjadi cinta dalam doanya akan dijodohkan dengan nya, membuat Amira mengucapkan syukur yang tiada henti dalam hatinya. Ternyata Allah begitu baik kepadanya, doanya dikabulkan, dan jangan tanya bagaimana perasaan Amira saat ini. 'Bahagia' satu kata yang bisa menggambarkan perasaan Amira. Kedua orang tuanya bisa merasakan kebahagian yang dirasakan oleh putrinya, walaupun Amira berusaha menyembunyikan rona pipinya dengan cara menunduk. "Jadi, Amira tidak keberatan 'kan, bila dijodohkan dengan Kemal." Ananda sengaja bertanya untuk menggoda putrinya "Iya Mah, walaupun bukan dengan Aa Kemal, jika menurut Mamah dan Ayah baik untuk Mira, Mira pasti setuju." kedua orang tuanya mengulum senyum, mereka sudah tahu jawaban itu yang pasti diberikan Amira. "Alhamdulillah, terimakasih Nak." Ucap mereka bersamaan. "Harus nya Mira yang berterimakasih sama Ayah dan Mamah, karena selalu mempersiapkan segala nya untuk Mira." "Ya udah, nanti malam dandan sedikit ya," godaan dari ibu nya membuat pipi Amira semakin merah merona. "Apaan sih Mah, Mira ke kamar dulu Yah, Mah." Pamit Amira segera karena tidak mau di goda lagi. "Bukan nya Mira tadi mau ke dapur ya, ko malah balik ke kamar?" pertanyaan dengan nada menggoda dari ayahnya membuat Amira menjadi salah tingkah. "Eh! Gak jadi Yah, hehehe," jawaban Amira membuat kedua orang tuanya terkekeh. "Ya udah, Mira naik dulu." Amira berlari kecil menaiki tangga dengan senyum bahagia. Sesampainya di kamar Amira menuju cermin, melihat pantulan dirinya sendiri. "Apakah pantas Aku bersanding dengan lelaki sesempurna Aa Kemal?" Amira bertanya pada bayangannya sendiri, dan melihat pipinya yang merona, Amira malu karena tidak bisa menyembunyikan perasaan nya. Jam menunjukan pukul 15.30 Wib. Setelah melaksanakan sholat Ashar, Amira menuju dapur untuk memasak, Amira telah memberi tahu para pembantunya agar ia saja yang memasak, dan rencana itu disetujui orang tuanya, karena tidak diragukan lagi masakan Amira, yang pasti tidak akan mengecewakan calon mertuanya. "Bahan nya sudah disiapkan 'kan, Bi?" tanya Amira pada Ani Art di rumahnya. "Sudah Neng, mau mulai sekarang?" Amira mengangguk, "Sekarang mulai bersihin sama buat bumbu dulu aja, jam lima baru kita start untuk masak, supaya masih hangat ketika dihidangkan." Amira memberi instruksi kepada Ani dan di jawab dengan anggukan dengan jari membentuk huruf O, yang artinya oke Setelah menyiapkan semua bumbu dan membersihkan semua bahan yang akan dimasak, Amira di bantu Ani memulai masak. Amira berperan sebagai koki utama kali ini, sedangkan Ani berperan sebagai Asisten sang koki. "Ibu Sarti kemana, Bi?" tanya Amira setelah selesai membalikan ikan gurame yang sedang ia goreng. "Oh, tadi disuruh sama ibu ke supermarket buat beli buah-buahan Neng." Amira mengangguk, "Pantesan gak keliatan." Jam menunjukan pukul 17.54 Wib, sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang, Masakan Amira belum semuanya selesai. "Bi, Ini tinggalin aja dulu, itu kompornya dikecilkan paling kecil ya, kita siap siap buat sholat magrib dulu yuk." Ani berbalik setelah mengaduk sop iga tadi. "Apa gak sebaiknya kita gantian aja Neng, sholatnya?" Amira menggelengkan kepalanya. "Kita sholat sama-sama di mushola, ini tinggalin aja, masih lama juga kan. Kompor nya atur ke paling kecil, supaya matangnya merata." Ani mengangguk setuju, Setelah mengatur api kompor menjadi paling kecil, Ani bersiap untuk sholat berjamaah, menyusul Amira yang sudah lebih dulu membersihkan diri. Selesai melaksanakan solat maghrib berjemaah, Amira kembali ke dapur menyelesaikan masakan nya. Kali ini dibantu oleh Sarti dan Ani, agar cepat selesai. Pukul 19.15 wib Amira telah menyelesaikan semua makanannya, Amira diminta bersiap "Neng Mira, sekarang ke kamar, siap siap ya, nanti biar Bibi yang nyiapin semuanya." Perintah Ani setelah masakannya semua matang sempurna. Amira kembali menuju kamarnya untuk bersiap, memilih menggunakan gamis renda berwarna navy dengan aksen payet mutiara di sekitar d**a, dipadukan pashmina berwarna Abu muda, membuat penampilan nya terlihat sangat manis. Kembali Amira menatap penampilannya di cermin. "Cocok Nggak ya pake baju ini." Amira bertanya pada bayangan nya sendiri. Entah mengapa membayangkan akan makan malam dengan keluarga Kemal di acara seperti ini membuat perasaan Amira tidak menentu, dengan didominasi rasa gugup yang luar biasa. Tok… Tok… "Dek, Ayo turun, itu keluarga Kemal udah datang." Seruan Angga menambah rasa gugup Amira, beberapa kali Amira beristighfar dan menarik nafas untuk mengurangi kegugupannya. "Astaghfirullah, Astaghfirullah, tenang Amira, santai, Bismillahirrahmanirrahim." Setelah mensugesti diri sendiri dan merasa sedikit tenang, Amira berjalan keluar kamarnya, dan mendapatkan Angga tersenyum jahil tepat ketika Amira membuka pintu. "Lama banget dandannya, padahal kan cuma makan malem, belom lamaran resmi." Amira mencubit lengan kakak nya. "Ih, Kakak! Mira gugup ini, coba pegang tangan Mira, dingin banget, gimana dong?" tanya Amira dengan wajah panik, Angga terkekeh memegang tangan adiknya. "Tarik napas, istighfar Dek. Jangan lupa bismillah." Setelah melakukan perintah sang Kakak, Amira tersenyum sedikit tenang. "Yuk, Kita turun." Mereka turun bersama, Amira memasukan lengan nya ke lengan Angga, dengan sedikit mencengkram lengan Angga begitu mereka hampir tiba. "Jangan kenceng kenceng, Dek, Tangan baju Kakak kusut ini," bisik Angga dengan menggoda. Amira tidak menanggapi ucapan kakak nya, karena semakin dekat, Amira merasa semakin gugup. Di depan, keluarga Kemal sedang berbicara dengan orang tuanya, Kemal tersenyum pada Amira dan Angga, ketika mata nya bertemu dengan mata Amira, Kemal langsung menundukkan pandangan nya. Setelah selesai makan malam, dan dilanjutkan dengan pembahasan tanggal pertunangan dan pernikahan, keluarga Kemal pulang. Keluarga Amira melanjutkan obrolan mereka "Angga, apa kamu tidak sibuk jika harus menyiapkan acara pernikahan Amira?" pertanyaan Andri di angguki oleh Ibunya dan Amira. "Iya Kak, kan ada WO, kita serahin aja sama WO nya, biar Kakak nggak repot, Mira takut ganggu kerjaan Kakak." Ucapan Amira dibenarkan oleh orang tuanya. Angga menggelengkan kepala, "Tenang aja, Kakak usahakan yang terbaik buat Adek kakak ini, Masalah kerjaan, bisa diatur." Jawaban Angga membuat Amira dan kedua orang tuanya akhirnya menyetujui keinginan Angga. "Ya udah kalo emang nggak ngerepotin Kakak, Makasih ya Kak, ya udah kalo gitu Mira ke kamar dulu ya." Pamit Amira. "Cie tidur nya mimpi indah ini mah kayaknya, hahaha." semua tertawa dengan godaan Angga. "Sirik dih, wlee!" balasan Amira dengan menjulurkan lidahnya membuat mereka kembali tertawa, setelah nya Amira berlari kecil menuju kamarnya. Setelah membersihkan diri, lagi dan lagi, Amira bercermin memperhatikan bayangan nya sendiri. "Astaghfirullah, Amira tidak boleh terlalu berlebihan, berbahagialah sewajarnya." Amira memperingati dirinya sendiri, karena ia merasa sudah berlebihan menanggapi hal tersebut. Sedangkan di lantai bawah, tepat nya dibalik tembok dekat dengan ruangan keluarga, setelah mendengarkan percakapan antara dua keluarga, dan juga dengan dilanjutkan obrolan keluarga Amira yang menggoda Amira dengan bahagianya, seseorang semakin merasa ingin menyingkirkan Amira agar tidak bisa menikah dengan Kemal. "Tidak akan ada pernikahan antara Amira dan Kemal, akan aku pastikan pernikahan itu tidak akan pernah terjadi." Bermonolog sendiri dengan senyum licik yang menghiasi bibir pucat nya. Di Otak nya sudah tersusun rencana untuk mencelakai
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD