Kemal Arjuna
Dijodohkan dengan seseorang yang namanya selalu Ia sebut dalam doanya, merupakan definisi bahagia yang sesungguhnya bagi seorang Kemal Arjuna.
Menikah dengan cinta dalam doa nya merupakan impian yang selalu ingin di gapai walau hanya melalui doa kepada Tuhannya.
Amira Putri Arkana, nama yang selalu Kemal mohonkan kepada sang pencipta agar menjadi pendamping hidup nya. Gadis berparas cantik bertutur kata lembut, memiliki etika yang baik dan sederhana itulah yang namanya selalu ada dalam setiap doa Kemal. Tanpa seorangpun yang tahu, hanya hati dan Tuhannya yang tahu.
Allah Maha Baik yang telah mengabulkan doa Kemal. Entah karena orang tuanya tahu atau ada hal lain, sehingga kedua orang tua Kemal meminta Kemal menikah dengan cinta dalam doa nya tersebut.
Pada sore hari yang cerah, Kemal duduk berdua dengan ayahnya di taman belakang rumah mereka, ditemani segelas es jeruk peras kesukaan nya, dan segelas teh hangat kepunyaan ayahnya, pembicaraan yang awalnya santai menjadi serius ketika Kemal mendengar permintaan ayahnya.
"Kemal, Ayah ingin minta sesuatu sama kamu, Nak." Kemal yang sedang meminum es jeruk nya menatap Sang Ayah yang terlihat sangat serius.
"Apa Yah? Kalau memang mampu pasti Kemal kabulkan, dan tentunya atas izin Allah."
Begitu lah Kemal selalu membawa Tuhan nya dalam setiap langkah nya.
"Ayah minta kamu segera menikah, Nak! Apakah kamu sudah memiliki calon istri?"
Kemal tersenyum jika mendengar kata 'calon istri', ingin rasa nya Kemal memberitahu siapa wanita yang Kemal inginkan sebagai istrinya, tetapi Kemal tidak mampu mengatakannya. Kemal tahu jika ayahnya sudah bertanya demikian, berarti ayahnya sudah memiliki kandidat untuknya.
"Belum, Yah." Kemal menjawab dengan tersenyum
Ayahnya menarik napas, seakan mengeluarkan keresahan hatinya, "Bagaimana kalau kamu Ayah jodohkan, dengan putri teman Ayah? Ayah rasa kalian akan cocok, melihat bagaimana sikap kalian, sama sama tidak memiliki kekasih, dan tidak ingin menjalin hubungan sebelum menikah."
Ayahnya berbicara panjang lebar menjelaskan status Kemal dan seorang wanita yang akan dijodohkan dengan nya.
Kemal memang tidak berniat menjalin hubungan apapun dengan seorang wanita, kecuali hubungan dalam pernikahan.
"Memang siapa wanita yang mau sama Kemal, Yah?"
Ayahnya tersenyum dan menggeleng, begitulah putranya, selalu merendah.
"Kamu ini, harusnya pertanyaan yang kamu ajukan itu, 'memangnya siapa yang tidak mau dengan seorang Kemal Arjuna' anak lelaki Ayah yang paling sempurna menurut Ayah!"
Ucapan ayahnya membuat Kemal tertawa "Ayah bicara seperti itu 'kan karena Kemal ini anaknya Ayah."
Mereka tertawa bersama, "Loh, memang iya 'kan, siapa yang tidak mengenal seorang Kemal Arjuna?"
"Kesempurnaan hanya milik Allah, Yah. Lalu siapa wanita sholehah yang akan dijodohkan dengan Kemal, Yah?"
"Anak nya Pak Andri Arkana. Kamu tahu, 'kan?"
Seketika Kemal tersenyum, "Kemal tahu Yah, tapi 'kan yang perempuan Kembar, ada Amira sama Amara, yang mana yang akan dijodohkan dengan Kemal?"
sesungguhnya hati kemal dag dig dug untuk saat ini, tetapi sebisa mungkin kemal bersikap tenang
"Kamu kalau disuruh pilih, mau Amira apa Amara?" tanya sang ayah sengaja menggoda Kemal.
"Kemal terserah pilihan Ayah sama Ibu aja, Kemal yakin baik Amira maupun Amara, pasti sudah menjadi pilihan yang tepat untuk Kemal."
Ayah nya tersenyum bangga, begitulah Anaknya, anak yang sangat berbakti dan menurut pada kedua orang tuanya
"Kalau dengan Amira bagaimana?"
Seketika Kemal tidak bisa menyembunyikan senyum nya, "Kalau memang itu menurut Ayah yang terbaik, Kemal hanya bisa menurut."
"Oke, nanti malam kita akan ke rumah Mm Andri, untuk makan malam, sekaligus membahas ini lebih lanjut."
Ayah Kemal berdiri sambil menepuk pundak Kemal perlahan, lalu pergi meninggalkan Kemal sendiri.
Setelah ayahnya pergi, Kemal menengadahkan kedua tangan nya, berucap syukur karena Allah telah mengabulkan doa nya. Senyum bahagia tercetak jelas di bibirnya, bayangan wajah cantik Amira dengan senyum manis nya menari nari di pikiran nya. Tetapi detik berikutnya Kemal segera beristighfar, telah membayangkan Amira.
"Astagfirullah Kemal, Amira belum menjadi istrimu, hilang kan bayang-bayang itu ya Allah."
karena bagaimana pun membayangkan lawan jenis yang belum menjadi muhrim nya tetap lah dosa.
Kemal terus beristighfar untuk menghilangkan bayangan senyum Amira, tidak bisa dipungkiri hati nya sedang amat berbunga-bunga.
Allah dengan segala kebaikan nya, telah mendengarkan permintaan Kemal. Rasa syukur tak henti terucap dari bibirnya, cinta dalam doa nya akan segera menjadi nyata, dalam ikatan suci pernikahan.
Namun, detik berikutnya senyum Kemal perlahan memudar, Kemal memikirkan perasaan Amira. Bagaimana bila Amira mempunya hal yang sama seperti dirinya? Memiliki cinta dalam doanya terhadap lelaki lain, akankah Amira bahagia jika harus hidup dengan nya? Kemal tidak pernah tahu perasaan Amira. Kemal hanya berdoa semoga Amira bahagia mendengar kabar jika mereka dijodohkan. Perihal perasaan Amira nanti akan Kemal tanyakan langsung.
Setelah cukup menikmati sore hari dengan rasa bahagianya, Kemal beranjak masuk ke dalam rumah dan menaiki tangga menuju kamarnya. Jam menunjukan pukul 17.35 wib, sebentar lagi waktunya sholat magrib. Kemal pergi menuju kamar mandi untuk berwudhu, setelah selesai berwudhu, Kemal menuju lemari untuk mengganti pakaian nya. Memilih deretan baju koko yang hampir semuanya berwarna putih, hanya ada beberapa yang berwarna warni bergantung rapi di dalam lemarinya. Kemal memilih baju koko dengan warna putih, dipadukan dengan kain sarung berwarna senada bergaris hitam, dan juga peci warna hitam. Setelah bercermin memastikan penampilannya, Kemal turun bersamaan dengan ayahnya yang keluar dari dalam kamar
"Ayah sama Kemal ke masjid dulu ya Bu!, Ibu hati-hati di rumah ya, pintunya Kemal kunci dari luar Assalamualaikum."
Kemal dan ayahnya pergi menuju masjid dekat rumahnya, setelah mencium tangan ibunya.
"Waalaikumsalam."
Jawab Ibu Kemal sambil menutup pintu
Setelah masuk ke dalam rumah Sandra masuk ke dalam kamar mandi di mushola dalam rumahnya, Sandra pun sama akan melaksanakan sholat bersama ketiga pembantunya.
Setelah selesai melaksanakan solat maghrib, Sandra masuk ke dalam kamar nya, menyiapkan baju untuk suami dan dirinya sendiri. Karena malam ini mereka akan makan malam di kediaman Andri ayah dari Amira, makan malam yang akan diteruskan dengan rencana perjodohan anak-anak mereka.
Kemal dan ayahnya telah kembali dari masjid, mereka pun segera bersiap untuk menuju kediaman Amira. Kemal memilih menggunakan kemeja berwarna Navy dipadukan dengan celana chinos berwarna mocca. Jam tangan yang menghiasi pergelangan tangan nya begitu terlihat mewah dan menampilkan kesan cool pada dirinya. Rambut yang tertata rapi, harum parfum dengan perpaduan antara lembut dan maskulin begitu enak di penciuman, menegaskan kepribadian seorang Kemal Arjuna.
Kemal berniat menggunakan sneakers, tapi ayahnya melarang, karena jarak antara rumah Kemal dan Amira hanya terpisah 5 rumah, ayahnya memutuskan untuk berjalan kaki, sekalian berolahraga katanya, dan Kemal hanya menuruti perintah ayahnya.
Ayah Kemal turun dari kamarnya dengan menggunakan kemeja batik berwarna merah dengan celana bahan kesukaan nya seperti biasa. Sedangkan ibunya menggunakan baju batik yang senada dengan ayahnya, karena mereka memang dijuluki pasangan romantis sejagat raya oleh Kemal.
Pasangan yang masih terlihat sangat tampan dan cantik di usianya yang sudah tak lagi muda. Sedangkan adik Kemal tidak bisa ikut karena memang masih menempuh pendidikan nya di luar negeri.
Jam baru menunjukan pukul 18.45 wib, sebelum berangkat mereka berkumpul di ruang keluarga untuk membahas rencana mereka.
"Nak," panggilan lembut dari ibunya membuat Kemal menoleh.
"Kenapa, Bu?" tanya Kemal tak kalah lembut.
"Kamu tahu kan maksud makan malam kita kali ini?" tanya Sandra dengan sedikit khawatir.
"Kemal tahu, Bu!"
"Terus, apa kamu benar-benar setuju dengan rencana perjodohan ini dengan Amira?"
Kemal bangkit dan menghampiri sang ibu, di genggam kedua tangan ibunda tercintanya, dibawa tangan itu menuju mulutnya, dikecup dengan lembut.
"Apapun dan siapapun pilihan Ibu Peri, Kemal ikuti, karena Kemal yakin itu semua yang terbaik."
Jawaban dan perlakuan Kemal membuat Sandra tersenyum lebar, betapa bangganya Sandra memiliki anak seperti Kemal, walaupun hidup bergelimang harta, tetapi tak menjadikannya sombong dan angkuh,
"Terimakasih Sayang, Ibu hanya takut Kemal terpaksa, dan sudah memiliki calon sendiri."
Kemal menggelengkan kepalanya, "Kemal tidak pernah berniat untuk menjalin hubungan tanpa pernikahan!" jawaban yang selalu di berikan Kemal ketika orangtua dan yang lain nya bertanya tentang kekasih.
"Ya udah, kita berangkat sekarang, Bu!" Seno menginterupsi anak dan istrinya.
Kemal bangkit dan mengulurkan tangan pada ibunya, "Ayo Bu."
Sandra bangkit dan menerima uluran tangan Kemal. Setelah berpamitan kepada para pembantu mereka berjalan beriringan. Sandra menggandeng tangan Kemal berjalan keluar pintu, memang setiap mereka pergi Sandra akan menggandeng tangan Kemal, sedangkan Aishi akan menggandeng tangan Seno. Mereka berjalan santai dari rumah menuju kediaman Amira.
Sesampainya mereka di kediaman Amira, mereka disambut dengan hangat oleh kedua orang tua Amira. Mereka mengucapkan salam. Para orang tua bersalaman dan cipika cipiki ala wanita, sedangkan Kemal mengecup punggung tangan orang tua Amira.
"Assalamualaikum," ucap Mereka bertiga dengan kompak.
"Waalaikumsalam, waduh tambah gagah aja ini mah, olahraga nya siang malam," jawaban Andri membuat mereka semua tertawa
"Padahal mah kita kehabisan bensin, mangkanya jalan kaki, kehabisan makanan juga. mangkanya mau numpang makan sekalian," balasan Seno membuat mereka tertawa lagi.
"Boleh sih, tapi jangan di bungkus ya, takut habis nantinya, soalnya kalo malam saya suka kelaparan, Hahaha."
Lagi dan lagi, Seno dan Andri jika sudah bertemu memang selalu bersikap konyol, katanya biar awet muda.
"Ya udah, mendingan kita masuk yu, masa mau ngobrol di luar."
Ananda menghentikan obrolan konyol mereka, karena jika diteruskan, maka akan sampai besok pagi.
"Ya udah yu," balas Ibu Kemal
Mereka langsung menuju meja makan, disaat yang bersamaan, Amira dan Angga secara bersamaan menuruni anak tangga. Setelah mengecup punggung tangan orang tua Kemal mereka bergabung bersama.
"Loh, Amara kemana, nggak ikut sekalian?"
tanya Sandra, karena hanya ada Amira dan Angga.
"Amara lagi pergi sama temen nya, San."
Ananda menjawab dengan lembut.
"Ini semua yang masak Amira loh Nak Kemal." Ananda memberitahu dengan bangga hasil masakan anaknya.
Kemal tersenyum mendapatkan Fakta Amira pintar memasak.
"Oh … Amira pinter masak nya, ini semua Ibu kasih jempol 2 buat hasil nya." Sandra menyampaikan Apresiasinya sambil mengangkat kedua jari jempolnya.
"Jadi kita nggak perlu takut Kemal bakal susah dapat masakan enak ya, Bu. karena calon istrinya pinter masak," icapan Seno membuat Kemal dan Amira tersedak bersamaan
Amira tersenyum begitu manis, dan itu tak luput dari penglihatan Kemal.
"Dibantu sama Bibi ko, Om, Tan." jelas Amira dengan menyembunyikan pipi nya yang merona.
"Yang penting Koki utamanya Amira, 'Kan?" ucap Sandra kekeuh.
"Cie… belum apa apa udah di puji camer." ledekan Angga membuat pipi Amira semakin merona. "Dih… pipi nya kaya udang rebus merah banget, hahaha." Angga belum berhenti menggoda Amira, membuat pipi Amira semakin memerah karena malu.
"Kakak! apaan sih, jail banget!" seru Amira dengan sedikit kesal.
"Hahaha." serempak mereka tertawa.
Setelah selesai makan malam, mereka semua menuju ruang tamu, dan mulai membahas rencana perjodohan antara Kemal dan Amira
"Jadi gimana Ndri, buat rencana kita selanjutnya, apakah Amira sudah setuju?" pertanyaan Seno membuat perasaan Kemal cemas, tetapi tetap terlihat tenang.
"Aku sudah bertanya Kang, tapi alangkah lebih baiknya Kemal sendiri yang bertanya pada Amira, itupun jika Kemal memang sudah setuju." Semua mata beralih pada Kemal.
"Baiklah, Amira, maukah Amira menerima perjodohan Kita?" tanya Kemal dengan perasaan cemas, semua mata tertuju pada Amira, Amira menarik napas gugup.
"Bismillahirrahmanirrahim, Amira mau, A."
Kompak semua menjawab 'Alhamdulillah'
Setelah semua mengucap kalimat syukur, Kemal meneruskan pertanyaan berikutnya.
"Apakah Amira tidak mempunyai kekasih, atau mungkin seseorang yang selalu Amira sebutkan dalam doa, dan Amira harapkan menjadi pendamping hidup, Amira?"
Kemal memastikan tidak adanya keterpaksaan dalam perjodohannya.
Seketika semua menjadi penasaran akan jawaban Amira
Amira tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Tidak A, Amira tidak pernah berniat menjalin hubungan sebelum menikah!"
Semua menghembuskan napas lega, terutama Kemal, ternyata mereka berdua memang sejalan.
"Oke, karena kedua belah pihak telah setuju, sekarang kita tentukan hari pertunangan dan pernikahan." Andri berbicara dengan Semangat.
"Bagaimana jika untuk pertunangan nya kita adakan 2 minggu lagi, dan untuk pernikahannya 1 bulan setelah pertunangan." Seno memberikan usul yang langsung disetujui oleh semua.
"Untuk tempat dan sebagainya, siapa yang akan mengurus?" tanya Sandra memberikan kesempatan.
"Kalau boleh, Angga ingin mengurus persiapan acaranya."
Semua menoleh pada Angga tidak percaya, karena Angga bukan lah seorang pengangguran. Angga adalah CEO dari AA Corp, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan, baik itu Rumah sakit, Alat kesehatan, maupun obat obatan. Sudah bisa dibayangkan bagaimana sibuknya seorang Angga Putra Arkana.
"Nanti mengganggu pekerjaan Kakak lagi?"
Pertanyaan Amira mewakili semua nya
"Buat Kamu Kakak ga bakalan sibuk."
Angga memang begitu menyayangi kedua adiknya, tetapi Angga tidak memanjakan mereka, Angga adalah sosok kakak idaman semua gadis.
"Kalau untuk tempat, Kemal ingin diadakan di rumah saja, tapi kalau untuk yang lain nya Kemal serahkan semua sama Angga, oke Bro?" Semua mengangguk setuju.
Bukan karena ingin menghemat biaya, tapi kemal ingin pesta untuk rakyat, dengan harapan semua masyarakat mendoakan pernikahan mereka nantinya.
Karena di daerah mereka tinggal selalu memandang perbedaan kasta.
Setelah semua setuju dengan rencana perjodohan sampai pada persiapan pernikahan, keluarga Kemal kembali pulang, karena waktu telah menunjukan pukul 22.00 wib.
Tanpa mereka sadari ada seseorang di balik tembok yang mendengarkan semua ucapan mereka, dan mengepalkan tangan dengan sorot mata penuh kebencian pada Amira.