The Power Of Doa'

1899 Words
Setelah matahari seharian tidak menampakkan wajahnya ternyata tidak juga menurunkan hujan. Malahan pada malam harinya langit cerah ditaburi bintang yang mengelilingi bulan separuh. Kemal yang baru saja menyelesaikan makan malam bersama orangtuanya menaiki tangga menuju kamar untuk berganti baju. Karena ia akan pergi ke rumah Amira. Dengan memakai polo shirt berwarna Putih, chinos berwarna coklat dan jam tangan yang menghiasi pergelangan tangannya. Setelah menyemprotkan sedikit parfum ia pun bergegas turun untuk menuju rumah Amira. Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya ia pun langsung berjalan kaki. Sesampainya di rumah Amira seperti biasa sambutan hangat dari satpam rumah Amira ia dapatkan. Setelah berbasa-basi dengan satpam ia pun langsung menuju pintu masuk. Tok...tok.. "Assalamualaikum." Kemal pun mengetuk pintu dan mengucapkan salam. "Waalaikumsalam" Ketika pintu dibuka dari dalam ia melihat wajah cantik dari Amira, "Aa, kok gak bilang mau kesini?" Kemal memang tidak memberitahu akan kedatangannya. "Sengaja, buat kejutan sama calon istri!" godanya pada Amira. Membuat pipi Amira merona. "Apa sih, jail banget, ya udah masuk yu," ajaknya dengan memberikan jalan pada Kemal. "Om sama Tante kemana?" "Ayah sama Mamah lagi ke rumah Om Andra A, Aa mau minum apa?" "Apa aja yang dibuat sama Mira pasti Aa minum." jawab nya membuat Amira tersenyum. "Kalo Mira bikin racun gimana? Aa masih mau minum?" tawar Amira dengan menggoda. "Emang Mira mau jadi janda sebelum nikah?" jawaban Kemal membuat Amira bergidik ngeri. "Ih! Amit-amit jabang bayi, Aa ngomongnya asal aja!" Dengan mengerucutkan bibirnya kesal akan jawaban Kemal. "Ya udah Mira mau buatin minum buat Aa dulu, es teh manis mau gak?" "Apa aja pasti Aa minum!" Amira pergi menuju dapur untuk membuat es teh manis untuknya dan juga Kemal. Angga yang menuruni tangga hendak ke dapur untuk mengambil membuat kopi berbelok arah menghampiri Kemal. "Hai Mal, udah lama?" "Hai, Ga. baru dateng kok." "Gimana kemaren urusan sama pihak WO nya?" kemarin Angga memang tidak menemani ketika mereka membahas persiapan pernikahan. "Dek, tolong bikinin kakak kopi dong sekalian." Dengan sedikit berteriak Angga menyuruh Amira. "Alhamdulillah udah di sampein semua yang kita mau secara detail. Surat undangan hari sabtu katanya udah jadi dan siap di anterin." "Alhamdulillah kalo gitu, buat masalah baju gimana?" "Itu udah jadi urusan Ibu sama Tante." "Ini A minumnya, sama ini juga Kak kopinya, silahkan diminum." Setelah meletakkan minuman di meja, Amira mendudukkan dirinya di samping Angga. Kemal meminum sedikit es teh manisnya, "sebenarnya ada yang mau Aa omongin sama Mira, lebih tepatnya ke izin sih!" Angga yang paham Kemal yang mungkin hanya ingin berbicara berdua dengan Amira berniat ingin pergi. "Ya udah kalo gitu Kakak ke depan dulu." baru akan berdiri Kemal sudah mencegahnya. "Disini aja, Ga. Sekalian ngobrol aja." Angga kembali mendudukkan dirinya di samping Amira. "Tadi pagi Bima telepon, katanya Aa harus berangkat ke Jerman untuk meeting kerjasama dengan Mr.Jack. Memang rencana awalnya Mr.Jack yang akan kemari, sekalian untuk meninjau lokasi. Tapi kata sekretarisnya kemarin kesehatannya sedang menurun, jadi kami yang diminta untuk berangkat ke sana." "Mr.Jack dari Neos Groups?" Angga bertanya setelah dirasa Kemal selesai berbicara. Sedangkan Amira hanya menghela napas kasar pertanda tidak setuju. "Iya, bingung juga sebenarnya, kalau gue ke sana berarti gue ingkar janji sama Amira. Tapi kalau gak berangkat nama perusahaan yang jelek, lo pasti tau 'kan siapa Mr.Jack. Susah sekali mengajukan kerjasama dengannya. Dan kali ini Juna's group beliau langsung yang menerima proposal pengajuannya. Bisa dibilang kesempatan yang langka. Maka dari itu gue minta izin terlebih dahulu sama Amira." Kemal berbicara dengan menatap Amira. Untuk menjelaskan dengan detail. "Kalau itu memang sangat penting Mira memberi izin, lagipula kita belum menikah, jadi belum berhak mengatur atau mengekang Aa," jawabnya dengan diiringi senyum manisnya. "Tapi 'kan sebelumnya Aa sudah janji gak bakal kemana pun sebelum pernikahan kita. Tapi Aa juga gak bisa mengabaikan begitu saja meeting kali ini." Kemal berbicara dengan nada menyesal. Angga yang hanya diam mendengarkan akhirnya berbicara, "Berangkat aja Mal, lagian masih lima belas hari. Buat persiapan pernikahan kalian 'kan dari awal memang gue yang mau handle." "Iya Ga, karena Mira juga udah ngizinin jadi hari Selasa gue berangkat, makasih banget ya sebelumnya, dan maaf jadi ngerepotin." Kemal berbicara dengan sungkan terhadap calon kakak iparnya. "Apaan sih sungkan amat, emang dari awal 'kan gue yang mau, jadi santai aja." "Aa pulangnya kapan?" Amira bertanya memastikan untuk kepergian Kemal lusa. "Etdah Dek, berangkat aja belom udah ditanya kapan pulangnya! Heran deh." Godaan dari Angga membuatnya mendelik. "Apa Sih nyambung aja, sirik wlee." Ditanggapi dengan menjulurkan lidahnya pada Angga. Membuat Kemal teringat akan adiknya Aishi yang sedang di negeri orang demi menuntut ilmu. "Paling cepet tiga hari." "Ya udah, berarti pas fitting baju udah balik lagi 'kan? Hari sabtu?" Amira memastikan Kemal cepat kembali. "Insyaallah ya. Aa gak mau janji, takutnya ingkar lagi. Tapi Aa usahain semua urusannya dipercepat." "Ya udah hati-hati dan jaga hati. Jangan terlalu diforsir kerjanya, pulang dalam keadaan sehat dan selamat ya." Kemal tersenyum bahagia mendengar perhatian dari calon istrinya. Kemal tidak pernah menyangka akan pada tahap dimana ia di perhatikan dan di khawatirkan oleh seseorang yang selama ini namanya ia perjuangkan dalam doa. "Insyaallah ya, semoga Allah selalu melindungi hati dan pikiran kita semua." "Amin," jawab Angga dan Amira secara bersamaan. "Nanti jangan lupa juga sampe sana kabarin kalau sempet kabarin, jangan bergadang, makan yang teratur, istirahat' yang cukup." Amira masih terus mengingatkan segala hal pada Kemal, membuat Angga menggeleng tak percaya akan tingkah adiknya. "Gimana udah jadi istri, baru calon aja udah posesif banget sih Dek?" "Gak apa-apa Ga, gue seneng kok, itu tandanya Amira mengkhawatirkan gue, dan juga perhatian." Amira yang dibela oleh calon suaminya tersenyum penuh kemenangan, "tuh dengerin perhatian bukan posesif." "Nanti juga lu rasain gimana rasanya di khawatirin sama calon istri." Kemal berkata setelah meminum kembali es teh manisnya. Angga mencibir dan berkata, "Emang rasa apa?" "Menyenangkan," jawab Kemal dengan melirik Amira. Membuat Angga mengedikkan kedua bahunya. "Ya semoga aja gue juga cepet ngerasain, biar tau rasanya gimana." "Amin, semoga cepet dikabulkan sama Allah ya." "Udah malem nih, Aa pulang dulu yah, insyaallah sebelum berangkat nanti Aa kesini dulu buat pamitan, assalamualaikum." "Waalaikumsalam, Oke." jawab Angga dan Amira bersamaan. Setelah mengucapkan salam Kemal keluar dengan diantar Amira sampai pintu. "Abis sholat isya Aa telpon ya, ganggu Mira gak?" "Mira tunggu." jawabnya cepat. "Ya udah, Aa pulang dulu, assalamualaikum calon istri." Kata yang selalu membuat pipi Amira merona yaitu 'calon istri' yang diucapkan oleh Kemal. "Waalaikumsalam, calon suami." Mereka terkekeh bersama dan Kemal membawa langkahnya untuk pulang. Sesampainya di rumah Kemal langsung menuju kamarnya. karena kedua orangtuanya sudah berada di kamar untuk beristirahat, karena sekarang waktu telah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Kemal bergegas mengganti pakaiannya dan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan kewajibannya. Setelah selesai ia kembali mengganti bajunya dengan pakaian tidur yang akan ia kenakan. Kemal mulai menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang dengan beralaskan bantal yang ia tumpuk, mengambil guling untuk ia dekap, dan juga mengambil handphonenya untuk menghubungi Amira sesuai perkataannya tadi. Di nada sambungan kedua Amira sudah mengangkat teleponnya. "Assalamualaikum calon istri." "Waalaikumsalam, Aa jangan godain Mira terus dong!" "Loh, emang Aa godain apa?" "Itu… manggilnya calon istri terus. Mira kan malu." "Eh...Mira 'kan emang calon istri Aa? Jadi Mira malu jadi calon istri Aa?" "Ihh… bukannya gitu, cuma gimana ya susah ah dijelasin nya. Pokoknya Mira malu kalau disebut calon istri." "Hahaha, Mira lucu, Aa tau kalau Aa sebut Mira calon istri pasti pipinya ada warnanya ya?" "Ihh malah diledekin." "Bener kata Angga, nanti pipinya kayak udang rebus merahnya." "Aa jangan ikut-ikutan kayak kak Angga dong yang suka banget ledekin Mira." "Abisnya Mira lucu, baru disebut calon istri aja udah merona, apalagi Aa sebut Sayang." "Jangan!" "Kenapa?" "Pokoknya gak mau, nanti aja kalau udah sah di depan saksi hehehe." "Jadi gak sabar." "Sumpah ya A, sampe sekarang Mira masih gak percaya sama perubahan sikap Aa. Yang jadi suka ngomong sama kadang jail, bahkan Aa yang gak malu nunjukin sifat manja Aa di depan Mira waktu Mira sakit itu. Kalo denger dari cerita kak Angga sama penglihatan Mira selama ini tuh jauh banget bedanya." "Kan Aa udah bilang, Aa bersikap seperti ini cuma sama orang-orang terdekat aja, Aa gak mau terlalu dekat dengan orang lain apalagi sama perempuan. Aa selama ini ngejaga pandangan dan sikap dari para perempuan itu karena Aa takut dosa, ya walaupun Aa tau sikap Aa juga udah keterlaluan sama Mira. pas di rumah sakit, dengan beraninya Aa pegang tangan Mira bahkan sampe berani meluk Mira. Tapi Aa berani sumpah itu Aa lakuin spontan karena rasa khawatirnya Aa dan yang pasti karena Aa dengerin bisikan syetan. Aa juga sekarang gak bisa jaga pandangan Aa dari Mira. Dan itu spesial loh cuma sama Mira. Karena Mira harus tau perasaan apa yang Aa rasain sekarang." "Perasaan apa?" "Bahagia! Jujur selama ini Aa suka sama Mira. Aa selalu berdoa semoga Mira itu jodohnya Aa. Dan Alhamdulillah ternyata Allah mengabulkan doa Aa, saat Ayah bilang mau jodohin Aa sama Mira Aa bahagia pake banget." Sedangkan Amira di rumahnya sedang menangis haru atas ungkapan hati Kemal. Ternyata selama ini mereka sama-sama berjuang lewat doa masing-masing. Amira pun merasakan hal yang sama, satu kata yang sama yaitu bahagia atas doa yang selama ini ia panjatkan. "Mira nangis? Ada kata-kata Aa yang nyakitin Mira?" Di kamarnya Amira menggelengkan kepala seakan Kemal ada di depannya. "Mira juga sama 'A, selama ini Mira selalu berdoa semoga Aa jodohnya Mira. Mira nangis memang karena kata-kata Aa, tapi bukan nyakitin. Justru kata-kata Aa ngebuat Mira bahagia. Ternyata selama ini Mira ga berjuang sendirian dalam doa. Ternyata kita sama-sama berjuang buat kita bisa sama-sama tanpa saling mengetahui satu sama lainnya. Mira terharu 'A. Pas Ayah ngasih tau kalau Mira dijodohin sma Aa, Mira selalu bertanya sama bayangan Mira di cermin, 'apa pantas Mira jadi pendamping laki-laki sesempurna Aa? Selama ini Mira gak pernah percaya diri buat jadi istri Aa, karena Mira masih anggap ini semua cuma mimpi, dimana Mira gak mau bangun supaya mimpinya gak pergi. Tapi sekarang Mira baru yakin dan bisa percaya diri kalau Mira emang pantes jadi pendamping Aa, karena disini doa kita dengan tujuan yang sama dikabulkan sama Allah. Allah dengan segala kebaikannya untuk kita berdua. Makasih udah mau berjuang tanpa Mira tahu." Pun dengan Kemal yang berada di kamarnya tak kuasa meneteskan air mata bahagia. Air mata yang keluar bersamaan dengan senyum yang mengembang sempurna. Mendengar ucapan cinta dalam doanya. Amira benar, mereka berdua berjuang dalam doa masing-masing tanpa diketahui satu sama lain. Dan sungguh baik Kemal maupun Amira sangat amat bahagia dan bersyukur, atas segala nikmat yang telah diberikan oleh sang Maha Pencipta. "Mira benar, ternyata selama ini kita berjuang untuk diri kita masing-masing, dengan kebaikan Allah yang telah mengabulkan doa kita, sehingga perjuangan kita berdua berbuah manis tanpa adanya kekecewaan. Aa ucapin terimakasih sama Mira karena udah mau berjuang dalam doa sama Aa, makasih Sayang." "Gak perlu bilang makasih A, toh Mira juga berjuang buat Mira sendiri. Sama-sama tanpa sayang, karena belom saatnya hahaha." "Hahaha...yaudah sekarang Mira istirahat, inget pesan Aa, Mira itu lebih dari cukup buat jadi pendamping Aa. Aa cuma mau Mira yang jadi pendamping Aa. Dan satu lagi kesempurnaan hanya milik Allah. Aa cuma manusia biasa yang jauh dari kata sempurna. Selamat tidur Sayang, assalamualaikum, I love u." "Iya A, selamat tidur juga waalaikumsalam, love u to." Dan mereka mengakhiri percakapan di telepon dengan manis dan saling mengungkapkan isi hati masing-masing. Tentang dahsyatnya sebuah doa. Jika dulu Indonesia berperang melawan belanda dengan tombak dan doa, sampai Indonesia merdeka. Maka Kemal dan Amira pun berjuang dalam doa untuk sampai ke pelaminan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD