Ponsel dikembalikan ke Ibu-ibu yang tadi meminjamkannya. Chesa menengok ke belakang, dia menatap lama rumah besar di belakangnya. Tatapan mata itu meredup, berubah sendu. Chesa menggeleng. Ia memutar badan, dan lari secepat mungkin untuk menuju halte. Kilat-kilat petir terlihat. Langit semakin menggelap. Jalanan sepi dan senyap. Tidak ada orang yang melintas. Hanya cahaya remang-remang yang menerangi jalan. Chesa duduk di halte. Dia mengusap-usap telapak tangannya agar memberi sensasi hangat. Angin berhembus kencang membuat helaian rambutnya melambai ke samping. Percik-percik air mulai turun, perlahan membasahi aspal. Chesa memandang sekitarnya dengan waspada. Halte begitu sepi. Bahkan tidak ada mobil yang melintas di jalan ini. “Butuh payung?” Chesa menengok ke sumber suara, “Enggak

