Hae Ri yang sebelumnya sangat menikmati permainan piano Park Jung Woo menoleh ke arah Jung Ha yang tiba-tiba pergi padahal konser itu baru berlangsung selama 30 menit. Jung Ha sungguh tidak tahan berada di dalam sana. Suara piano itu benar-benar menyiksanya. Dia butuh udara segar. Dia memutuskan untuk menunggu di luar hingga konser itu berakhir. Dia bisa gila jika terus berada di dalam hingga konser berakhir.
Setelah konser itu berakhir Hae Ri segera keluar untuk mencari keberadaan Jung Ha. Saat tiba-tiba pergi tadi wajah Jung Ha terlihat pucat. Hae Ri khawatir terjadi sesuatu pada pria itu. Hae Ri mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Jung Ha. Saat berhasil menemukan pria itu Hae Ri segera menghampirinya.
“Jung Ha-ssi,” panggil Hae Ri dengan nada khawatir.
“Ne,” sahut Jung Ha melihat Hae Ri menghampirinya.
“Kau tidak apa-apa? Kenapa tiba-tiba keluar? Apa terjadi sesuatu?” tanya Hae Ri beruntun.
Jung Ha menggaruk kepalanya. “Di dalam rasanya sesak, jadi aku keluar untuk mencari udara segar. Aku tidak apa-apa.”
Meskipun Jung Ha menjawab tidak apa-apa, Hae Ri tahu ada yang disembunyikan pria itu dan itu tergambar jelas di raut wajah Jung Ha.
“Mau menemui Park Jung Woo bersama-sama?” ajak Jung Ha kemudian.
Hae Ri mengangguk. Mereka berdua lalu mencari keberadaan pianis berusia 30 tahun itu. Park Jung Woo tengah sibuk berbincang dengan tamunya.
“Park Jung Woo-ssi,” panggil Hae Ri berhati-hati, dia takut mengganggu pembicaraan pianis itu.
Park Jung Woo tersenyum ke arah Hae Ri, ia lalu berpamitan pada para tamunya dan menghampiri Hae Ri dan Jung Ha.
“Selamat, konser yang sungguh memukau,” puji Hae Ri sambil menyerahkan buket bunga yang dibawanya.
“Terima kasih.” Park Jung Woo mengambil buket bunga itu sambil tersenyum. “Oh Jung Ha-ssi? Aku pikir kau tidak datang.”
“Aku sangat menikmati lagu-lagu yang Anda mainkan,” kata Jung Ha berbohong. Hae Ri melirik Jung Ha, mungkin Jung Ha tidak ingin membuat kliennya kecewa jika tahu dia pergi di tengah-tengah pertunjukkan.
“Terima kasih, oh ... kalian saling kenal?” tanya Park Jung Woo.
“Ne, baru-baru ini kami memutuskan untuk berteman,” jawab Jung Ha yang dibarengi anggukan oleh Hae Ri.
Setelah perbincangan singkat dengan Park Jung Woo, mereka memutuskan untuk segera meninggalkan aula konser itu.
“Hae Ri-ssi,” panggil Jung Ha.
Hae Ri menoleh ke arah pria itu. “Ne?”
“Apa kau punya waktu setelah ini?” tanya Jung Ha dengan berhati-hati.
Hae Ri terdiam sejenak. Ia lalu menjawab dengan sebuah anggukan.
“Mau minum kopi bersama?” ajak Jung Ha kemudian.
Hae Ri bingung, apakah ia harus mengiyakan ajakan Jung Ha itu atau menolaknya. Menolak sepertinya sungguh tidak sopan, pikir Hae Ri.
“Aku ingin membalasmu atas hadiah yang kau berikan waktu itu,” jelas Jung Ha kemudian.
Hae Ri tampak berpikir sejenak, lalu berkata, “Tapi aku akhir-akhir ini tidak bisa minum kopi kepalaku sering sakit.”
“Begitukah.”
Hae Ri melihat raut kecewa di wajah Jung Ha.
“Bagaimana kalau minum teh, itu jika kau tidak keberatan.”
Jung Ha mengangguk tanda setuju. “Aku tahu tempat yang menyajikan teh yang enak.”
***
Hae Ri dan Jung Ha duduk berhadapan di dalam sebuah kedai. Di depan mereka ada secangkir teh dan kue tiramisu. Suasana kedai itu sangat nyaman, Hae Ri suka desain interior kedai itu. Sangat klasik menurutnya. Apa lagi ditambah lagu-lagu yang putar adalah lagu-lagu ballad. Hae Ri akan mengajak Ahreum ke sini lain kali, dia pasti menyukai tempat ini.
“Terima kasih untuk hadiah waktu itu,” ucap Jung Ha memecah keheningan.
Hae Ri tersenyum. “ Tidak masalah, itu hanya hadiah kecil.”
Sejak teh itu dihidangkan Jung belum meminumnya. Ia hanya menyentuh pinggiran cangkirnya. Hae Ri yang melihat itu merasa ada sesuatu yang aneh.
“Jung Ha-ssi kau tidak apa?” tanya Hae Ri dengan hati-hati.
“Hanya teringat masa lalu sekilas,” jawab Jung Ha lalu menghela napas.
Apa dia mungkin teringat mantan pacarnya? Batin Hae Ri. Entah kenapa sejak Ahreum mengatakab bahwa Jung Ha pernah memiliki seorang pacar, Hae Ri menjadi penasaran tentang mantan pacar pria itu.
Meskipun merasa penasaran, Hae Ri tidak berani bertanya lebih lanjut dia takut dianggap terlalu ingin tahu. Lagi pula mereka juga baru berteman, agak berlebihan jika Hae Ri terus bertanya.
“Sebenarnya aku membenci piano," kata Jung Ha kemudian.
Kenapa? batin Hae Ri.
"Mantan pacarku adalah seorang pianis, tiga tahun lalu dia mencampakkanku. Sejak saat itu aku mulai membenci hal-hal tentang dirinya, termasuk piano."
Hae Ri terdiam, dia tidak tahu harus merespons bagaimana. Tiba-tiba pria pendiam seperti Jung Ha membicarakan mantan pacarnya pada Hae Ri yang baru-baru ini dikenalnya.
Jung Ha menyadari ekspresi Hae Ri, gadis itu pasti terkejut tiba-tiba dia membicarakan mantan pacarnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud membahasnya. Hanya saja tadi kenangan itu tiba-tiba terlintas dibenakku."
"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit terkejut kau membicarakannya," ucap Hae Ri.
Hening. Tak ada lagi obrolan di antara keduanya. Jung Ha kembali menatap kosong cangkir teh di hadapannya, sementara Hae Ri diam-diam menatap Jung Ha. Dia mulai penasaran bagaimana Jung Ha bisa putus dengan pacarnya sampai pria itu membenci semua hal tentangnya. Namun, selagi menatap Jung Ha gadis itu justru terhanyut oleh ketampanan Jung Ha. Hae Ri baru sadar jika Jung Ha punya wajah yang sangat tampan.
"Hae Ri-ssi," panggil Jung Ha yang membuat gadis itu kembali tersadar.
"Ya?"
"Maaf, sepertinya aku benar-benar lelah hari ini. Bisakah kita pulang sekarang?"
Hae Ri mengangguk cepat. "Ya tentu."
"Maaf, lain kali aku pasti mentraktirmu makan sebagai ganti hari ini."
"Tidak apa-apa, kau tidak perlu repot mentraktirku. Hari ini sudah lebih dari cukup," kata Hae Ri.
Mereka berdua lalu keluar dari kedai itu. Hae Ri menatap punggung Jung Ha yang berjalan selangkah di depannya. Di dalam pikirannya terbesit sebuah pertanyaan. Apa yang dilakukan mantan pacar Jung Ha hingga membuat pria itu terlihat menderita?
Melihat punggung Jung Ha seperti ini membuat Hae Ri merasa Jung Ha menanggung beban yang sangat berat. Punggung pria itu terlihat menyedihkan di mata Hae Ri.
Kenapa kau terlihat begitu menderita? Hae Ri membatin.
***
Hae Ri berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya. Dia teringat bagaimana ekpresi Jung Ha di konser Park Jung Woo tadi siang. Terlihat pria itu begitu membenci piano hingga tak sanggup mendengar suaranya. Sebenarnya apa yang dilakukan mantan pacar Jung Ha hingga membuat pria itu sangat membencinya?
Hae Ri melirik ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Gadis itu lalu meraih ponselnya. Haruskah dia bertanya pada Ahreum tentang mantan pacar Jung Ha?
"Tidak-tidak," kata Hae Ri cepat sambil menggelengkan kepalanya.
Dia tidak boleh bertanya pada Ahreum, sahabatnya itu pasti akan berpikir jika dia mulai tertarik pada Jung Ha.
Hae Ri meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas. Ia lalu mencoba memejamkan matanya, lebih baik dia tidur sekarang. Tidak baik merasa penasaran terhadap hubungan orang lain. Namun usahanya untuk tidur tidak berjalan dengan baik. Dia sama sekali tidak mengantuk. Pertanyaan tentang mantan Jung Ha masih saja mengganggu pikirannya.
"Kenapa aku penasaran sekali dengan mantan pacarnya?"
Harusnya aku singkirkan rasa penasaran waktu itu.
Harusnya rasa penasaran itu tak boleh terus tumbuh.
Harusnya aku berhenti waktu itu.
Jika aku berhenti mungkin semua tak akan serumit ini.