“Mau berteman denganku?”
Ajakan Jung Ha itu membuat Hae Ri kaget hingga terdiam selama beberapa detik.
“Aku pikir kita bisa menjadi teman sekarang, bagaimana pun Ahreum dan In Ha pasti akan membuat kita sering bertemu nantinya,” jelas Jung Ha. Ahreum dan In Ha sepertinya tidak menyerah untuk membuat mereka dekat walaupun mereka sudah bilang tidak tertarik untuk berkencan. Dengan menjadi teman mungkin bisa membuat Ahreum dan In Ha berhenti untuk mendekatkan mereka.
Hae Ri akhirnya mengangguk, berteman dengan Jung Ha bukan ide yang buruk. Dengan berteman juga bisa mengurangi kecanggungan di antara mereka.
“Baiklah mari berteman,” ucap Hae Ri sambil tersenyum.
Jung Ha lalu mengulurkan tangannya.
Hae Ri menatap tangan Jung Ha sejenak sebelum akhirnya menjabat tangan pria itu.
Aku tidak tahu jika kata ‘berteman’ membuatku sungguh bahagia.
Membuatku berharap lebih padamu yang mungkin tak menganggapnya apa-apa.
Harusnya waktu itu aku menolak, jika tahu akan jadi serumit ini.
Harusnya sejak awal aku tak pernah meraih tangan itu.
***
Jung Ha keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk. Saat meraih ponselnya yang ada di atas meja Jung Ha melihat paper bag berisi hadiah dari Hae Ri. Jung Ha kemudian mengeluarkan isi paper bag itu. Isinya adalah peralatan menggambar ada buku gambar, pensil, pensil warna dan alat-alat menggambar lainnya, ada sebuah post it juga di dalamnya.
“Buatlah kenangan yang indah.” Jung Ha membaca pesan dari Hae Ri dalam post it itu.
Pria itu lalu memotret hadiah dari Hae Ri dan mengunggahnya ke akun i********: miliknya. Jung Ha memberi caption ‘Hadiah... terima kasih.’
Tutt...tutt...tuttt...
Cekrek...
Jung Ha mendengar pintu apartemennya terbuka, dia tahu siapa yang datang. In Ha.
"Bagaimana kencanmu hari ini?" tanya In Ha begitu ia memasuki ruang tamu.
Jung Ha menatap sahabatnya itu tanpa ekspresi. "Memangnya tadi bisa disebut kencan jika kami dijebak oleh kalian."
In Ha meringis memamerkan deretan gigi putihnya.
"Yang pentingkan kalian menonton film berdua."
Jung Ha menghela napas lalu melempar In Ha dengan handuk yang dipegangnya tadi.
Buk...
Handuk setengah basah itu mendarat tepat di wajah tampan In Ha. Sungguh sial sekali hari ini In Ha. Tadi siang dia disembur oleh Ahreum dan sekarang Jung Ha melemparnya dengan handuk setengah basah.
"Ish."
In Ha balas melemparkan handuk itu pada Jung Ha tapi Jung Ha dengan sigap menangkap handuk itu.
"Bagamana Hae Ri menurutmu?"
"Hae Ri?"
"Iya Hae Ri."
"Bagaimana apanya?" Jung Ha balik bertanya.
In Ha menghela napas, sepertinya Jung Ha terlalu lama melajang.
"Maksudku, apakah Hae Ri itu cantik, baik atau apalah! Kau itu terlalu lama melajang, pertanyaan macam itu saja tidak tahu!"
"Dia gadis yang baik," kata Jung Ha kemudian. Dia tahu betul maksud pertanyaan sahabatnya itu.
"Lalu?"
Jung Ha melirik In Ha. "Lalu apa lagi?"
"Dia CANTIK atau tidak?" tanya In Ha sambil menekankan suaranya pada kata cantik. Dia hampir kehabisan kesabaran menghadapi Jung Ha.
Bukannya menjawab pertanyaan sahabatnya itu Jung Ha malah tersenyum, lalu melenggang menuju dapur.
Melihat Jung Ha pergi tanpa menjawab pertanyaannya membuat In Ha kesal. Ia lalu meyusul Jung Ha dan merengek.
"Yakk tak bisakah kau menyukai Hae Ri saja, agar Ahreum mau berkencan denganku!"
"Memangnya rasa suka itu bisa dipaksakan?"
"Jika kau begini terus lalu bagaimana nasib cintaku." Kali ini In Ha merengek sambil menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil.
"Hei, bukankah kau punya banyak pacar. Ditolak oleh Ahreum berulang kali tak masalah bukan."
"Ahreum itu berbeda."
"Berbeda apanya? Mereka sama-sama perempuan."
"Yakk! Kau tahu apa, orang yang sudah lama melajang sepertimu mana paham perasaanku."
Jung Ha memang tidak tahu perasaan In Ha, tapi apa salahnya melajang? Melajang bukan suatu kejahatan bukan? Sebenarnya dia merasa kasihan pada In Ha, tapi memaksakan untuk mencoba menjalin hubungan dengan Hae Ri bukanlah solusi untuk In Ha. Bukankah harusnya Ahreum menerima perasaan In Ha karena juga menyukainya, tapi jika akhirnya Ahreum menerima In Ha karena Hae Ri sudah punya pacar bukankah artinya Ahreum tak tulus?
***
Hae Ri sedang mengecek kembali sketsa yang dibuatnya untuk desain panggung konser pianis Park Jung Woo. Ini sudah jadi kebiasaan Hae Ri untuk mengecek hasil pekerjaannya berulang-ulang, memastikan dia tidak membuat kesalahan sekecil apa pun. Saat dia sedang sibuk mengecek setiap detail dari sketsa yang dia buat, ponselnya berdering. Ahreum meneleponnya. Sahabatnya itu pasti ingin tahu apa yang terjadi antara Hae Ri dan Jung Ha hari ini.
Hae Ri mendekatkan ponsel ke telinganya setelah menggeser tombol berwarna hijau di layar ponsel. “Halo.”
“Hae Ri Hae Ri.” Itu adalah kebiasaan Ahreum memanggil Hae Ri seperti itu.
“Wae?” tanya Hae Ri.
“Bagaimana hari ini?” Ahreum balik bertanya.
“Bagaimana apanya?” Hae Ri pura-pura tidak mengerti. Dia jelas sangat tahu arah pertanyaan sahabatnya itu.
“K-E-N-C-A-N dengan Jung Ha hari ini?” Ahreum kembali bertanya dengan menambah penekanan pada kata kencan.
Hae Ri memutar bola matanya malas. “Apa itu bisa disebut K-E-N-C-A-N ketika kami berdua dijebak oleh kalian?”
Ahreum tertawa. “Tapi sepertinya berjalan dengan baik bukan jebakan kami?”
“Kami memutuskan untuk berteman.”
“Apa?” Di seberang sana mata Ahreum berkedip-kedip, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar.
“Kami memutuskan untuk berteman.” Hae Ri mengulangi perkataannya.
“Benarkah?” Ahreum kembali bertanya untuk memastikan apa yang dikatakan sahabatnya itu adalah benar.
“Iya.”
“Yayyyy.” Teriak Ahreum kencang. Bahkan karena terlalu kencang Hae Ri sampai menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Kau ingin membuatku tuli?” keluh Hae Ri karena teriakan sahabatnya itu.
“He he he mian, aku hanya terlalu senang.”
“Jangan berharap lebih, kami hanya berteman saja.” Hae Ri mengingatkan sahabatnya itu.
“Hey... jika kalian berkencan akan lebih bagus. Siapa tahu besok kalian akan saling jatuh cinta. Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi besok.”
Ahreum memang benar, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi besok. Segala sesuatu bisa berubah dengan cepat begitu juga dengan perasaan seseorang.
“Kelihatannya itu mustahil.” Hae Ri menatap keluar jendela.
“Wae?”
“Ada dinding pembatas tak terlihat yang dibangun Jung Ha. Dia sepertinya tidak ingin menjalin hubungan lebih dari teman.” Hae Ri mengingat kembali bagaimana sikap Jung Ha selama ini. Saat pertama kali bertemu pria itu bersikap acuh padanya dan pada pertemuan berikutnya Jung Ha bersikap sopan padanya seolah-olah dia memang membuat dinding pembatas.
“Bukankah kau juga membuat dinding pembatas yang super kuat, ck.”
“Aku? Kapan?” kilah Hae Ri. Dia tidak merasa membuat dinding pembatas.
Ahreum menghela napas di seberang sana. “Mau aku beri tahu? Kau ingat apa yang kau katakan pada pria-pria yang menyatakan perasaannya padamu? ‘Mian aku tidak tertarik untuk berkencan’, ‘berkencan adalah hal terlalu mewah untukku’, ‘aku tidak punya waktu untuk berkencan’.”
Hae Ri meringis. Dia tidak ingat pernah mengatakan hal-hal itu.
“Setidaknya Jung Ha dulu pernah punya pacar, sedangkan kau? Kau ingat siapa cinta pertamamu?” sindir Ahreum.
“Tidak. Aku tidak ingat.”
Ahreum kembali menghela napas. “Bukannya tidak ingat, kau memang tidak punya.”
Hae Ri tertawa. Ahreum benar dia tidak punya cinta pertama. Dulu dia terlalu sibuk belajar dan bekerja paruh waktu. Jadi tidak sempat memikirkan hal-hal seperti cinta pertama.
“Jadi Jung Ha dulu punya pacar?” tanya Hae Ri.
“Ya, tapi sudah lama putus. Aku tidak terlalu kenal siapa pacarnya karena kami beda jurusan,” jawab Ahreum.
“Kenapa mereka putus?” Hae Ri mulai penasaran apa alasan Jung Ha putus dengan pacarnya.
“Tidak tahu, kau penasaran ya? Kau mulai tertarik dengan Jung Ha?” goda Ahreum.
“Tidak. Aku hanya sekedar bertanya,” kilah Hae Ri.
“Hae Ri-ya aku harap kau bisa hidup bahagia, kau sudah bekerja keras selama ini.”
Sebelah alis Hae Ri terangkat. Ahreum tiba-tiba berubah serius.“Kau ini kenapa?”
“Cobalah untuk mencintai dan merasakan indahnya dicintai. Kau juga berhak merasakannya, jangan menanggung semua sendirian. Temukanlah orang yang mau berbagi kesedihan dan kebahagiaan bersamamu, mengerti?”
Hae Ri tersenyum, tiba-tiba sudut matanya mulai basah.
“Terima kasih, kau seperti nenek-nenek saja. Aku tutup teleponnya, aku sedang bekerja sekarang."
"Iya, ingat apa yang aku katakan! Cobalah untuk jatuh cinta!"
Setelah itu Hae Ri mengakhiri panggilan itu. Ia kemudian menatap buku sketsa di depannya. Hae Ri tahu Ahreum sangat peduli padanya, tapi berkencan bukan prioritasnya sekarang ini. Dia tahu Ahreum melakukan semuanya, mulau dari mencoba menjodohkan dirinya dengan Jung Ha untuk membuat hidupnya bahagia. Namun bukan itu yang akan membuat Hae Ri bahagia. Menurut Hae Ri, dia bisa hidup bahagia jika dia sudah hidup tanpa rasa khawatir dan kekurangan. Tanpa perlu takut menatap setiap lembar tagihan setiap bulan. Jika hal itu terwujud Hae Ri yakin dirinya akan bahagia.
***
Jung Ha menatap poster besar yang ada di depan aula konser tempat pianis Park Jung Woo akan tampil nanti. Jung Ha adalah perwakilan dari tempat kerjanya untuk memberikan selamat atas konser yang di gelar Park Jung Woo. Jung Ha menatap tiket yang dipegangnya dengan ragu-ragu. Sejak awal harusnya dia menolak proyek itu, sehingga dia tidak perlu menonton konser pianis Park Jung Woo. Setiap Jung Ha melihat piano, dia teringat akan cinta pertamanya yang juga seorang pianis dan Jung Ha membencinya.
“Jung Ha-ssi?” sapa Hae Ri ragu-ragu, takut jika itu bukan Jung Ha.
Jung Ha tampak kaget melihat Hae Ri ada di sana. “Hae Ri-ssi.”
Jung Ha melihat buket bunga yang dibawa Hae Ri, ia lalu ingat bahwa Hae Ri yang mengerjakan desain panggung konser Park Jung Woo.
“Kau sendirian?” tanya Hae Ri.
Jung Ha mengangguk. “Kau juga?”
“Ne, Yoo Jin eonni dan Shin Won sunbae sedang sibuk jadi aku datang sendirian.”
Jung Ha yang sebelumnya ingin pergi karena merasa tidak sanggup untuk menonton konser Park Jung Woo, akhirnya mengurungkan niatnya itu. Menontonnya bersama Hae Ri mungkin bisa membuatnya merasa sedikit nyaman.
Suara yang keluar dari setiap tuts piano yang ditekan terdengar merdu. Pianis Park Jung Woo memainkan lagu Moonlight Sonata. Hae Ri terlihat menikmati musik yang mengalun memenuhi aula konser itu. Namun Jung Ha sepertinya tidak menikmatinya. Jung Ha membeci setiap denting suara tuts piano itu. Dia teringat bagaimana cinta pertamanya begitu piawai dalam memainkan piano. Semuanya diingat jelas oleh Jung Ha. Dan itu ingatan yang menyakitkan. Moonlight Sonata juga adalah lagu favorit cinta pertamanya. Bukankah menonton konser Park Jung Woo adalah siksaan bagi Jung Ha. Ia memang tidak melupakan cinta pertama yang mencampakkannya, tapi mengingat semua kenangan bersamanya juga sangat menyiksa dirinya.
***