Pernikahan Bang Satrio dan Dwika berlangsung intim dan khidmat. Hanya dihadiri tamu undangan yang merupakan keluarga terdekat.
Sepanjang hari ini senyumku mengembang, melihat Bang Satrio, orang yang sudah kuanggap kakakku sendiri terlihat bahagia tanpa dibuat-buat. Senang karena pernikahannya berjalan lancar dengan seseorang yang teramat dia cintai.
Berjalan ke meja Bar, aku meminta dibikinkan minuman untuk menemaniku malam ini, tak terduga ternyata di deretan meja Bar sudah ada Trinity, aku pun pindah duduk, menjadi ke dekatnya.
"Hey, dek?" Panggilku, Trinity menoleh, matanya sudah segaris, kayaknya ini anak mabuk parah.
"Silahkan." Ucap seorang bartender sambil memberikan aku minuman.
"Dia minum apa aja sampe begini?" Tanyaku pada bartender tersebut.
"Banyak Mas, semua dicoba kayaknya, minta tambah terus, tinggal air kolam kayanya yang belum dia minum."
Aku melirik khawatir pada Trinity, baru akan mendekatinya, ponselku berdering, nama Bang Satrio muncul di layar.
Mataku mengedarkan pandangan ke sekitar, Bang Satrio sudah gak ada di kerumunan orang yang hadir di pernikahannya. Ini anak ke mana? Ke kamar? Kok nelepon? Gak mungkin kan nanya tutorial malam pertama? Dia seribu kali lebih ahli daripada aku.
"Kenapa Bang?" Tanyaku saat panggilannya kujawab.
"Cariin dokter dong, dokter kandungan, Dwika ngeluh perutnya sakit." Ujarnya panik.
"Hoh? Oke?"
Kumatikan panggilan tersebut, mencari nomor dokter yang kukenal di Australia.
Hanya butuh satu kali panggilan, dokter tersebut bersedia datang ke hotel tempat dirayakannya pernikahan dan tempat kami menginap.
Saat akan berjalan meninggalkan meja Bar, pikiranku teralih ke Trinity yang sudah ambruk dengan tangan terlipat di meja Bar.
"Dek, ikut aku yuk?" Ajakku.
Trinity linglung, tapi tidak menolak, kupapah ia agar bisa berjalan dengan baik.
"Ke kamarku aja Mas, aku capek." Katanya.
"Oke!"
Meninggalkan halaman, aku dan Trinity masuk ke lobby hotel, menggunakan lift naik ke lantai tempat kamarnya berada.
"Kuncinya mana dek?" Tanyaku.
"Bentar, tadi ada di sini!" Serunya sambil mengacak tas kecil miliknya.
"Sini aku yang cari." Kataku saat ia tak kunjung menemukannya, merogoh dalam tas, keycard yang dicari langsung ketemu.
Kubuka pintu kamar tersebut lalu membawa Trinity ke dalam.
"Istirahat ya? Nih minum." Aku berlutut di lantai, memberikan botol air mineral pada Trinity yang duduk di kasur.
Trinity menerima botol tersebut lalu menenggaknya banyak-banyak, matanya mulai bisa fokus sekarang.
"Gosh, makasi ya Mas Bran."
"Yeah, aku tinggal ya, dokter yang mau periksa Dwika udah mau sampe."
"Dokter? Mbak Dwika kenapa?" Tanyanya panik.
"Gak tau, Bang Satrio cuma bilang perutnya sakit, makanya aku panggilin dokter." Jelasku.
"Aku ikut Mas! Aku cuci muka dulu."
Aku mengangguk, berdiri lalu berjalan ke arah pintu, menunggu Trinity di luar. Tak berapa lama, ia keluar, sudah memakai baju santai, kaus dan celana kain panjang.
"Yuk, ke lobby dulu jemput dokternya."
"Gak janjian aja?" Tanyanya.
"Gak enak, udah minta dokter dateng, masa gak dijemput?"
"Kaya jelangkung."
"Masih mabuk ya kamu?" Tanyaku.
"Lagi sakit hati aku, Mas."
Aku diam.
Ohhh, Trinity udah punya pacar yaa? Kok selama ini gak keliatan? Dan.. dia masih pakai cincin yang kubelikan. Itu pacarnya gak cemburu apa?
Sampai di lobby, aku langsung menghampiri seorang wanita setengah baya yang wajahnya cocok dengan yang ada di ponselku.
"Doctor Brown?" Aku memastikan.
"Yeah, Mr. Brand, right?"
"Bran," Kataku melafalkan nama sendiri, banyak emang yang salah sebut namaku sangkanya Bran dibaca bren, padahal ya apa adanya, Bran pake a.
"Owh, sorry, forgive me. " Ucap dokter ini sambil tersenyum.
"It's okay, come on, let's go upstairs, the patient is waiting."
Kami bertiga masuk ke lift, kali ini menuju kamar tempat Bang Satrio menginap. Aku dan Trinity berdiri dekat pintu sementara dokter Brown memeriksa Dwika yang ternyata hanya kelelahan.
Dokter Brown meninggalkan kami berempat di ruangan, dan Bang Satrio langsung bertanya soal keadaan pestanya yang ia tinggalkan. Kukatakan kalau semua baik-baik saja, dan aku malah disuruh anter Trinity balik ke kamarnya.
Saat keluar ruangan, ternyata dokter Brown masih menunggu, jadi kuantar dulu dokter ini ke lobby.
"Thank you so much, doctor Brown. I have paid the bill that your assistant sent me."
"Thank you, Mr. Bran." Sahutnya.
Setelah kepergian dokter Brown, aku melirik Trinity yang matanya sudah setengah watt.
"Yuk, ke kamar kamu." Ajakku.
Trinity mengangguk, ia lalu berjalan duluan memasuki lift dan aku mengikuti di belakangnya.
Ingin sekali aku bertanya perihal sakit hatinya, tapi kayaknya itu urusan pribadi yang gak baik aku usik, jadi ya aku diam saja selama kami di dalam lift.
"Mas, kunci aku ketinggalan."
"Ketinggalan di mana?" Tanyaku, kami sudah sampai depan kamar Trinity padahal.
"Di dalem,"
"Lha? Yaudah ke lobby minta kunci lain."
"Aku takut dimarahin, ini yang ke tiga soalnya."
Aku terkejut, buset, dia pelupa apa gimana?
"Mau ke kamarku?" Tawarku.
"Gak ah, Mas Bran aja yang minta kunci ke resepsionis, biar gak aku yang dimarahin."
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.
Kurogoh saku celana belakang sebelah kiri, mengambil kunci kamarku sendiri.
"Mata kamu udah gak kuat itu, nih masuk kamar aku aja, kita tukeran kamar, kamarku lantai 15, nomor 1507. Oke?"
"Terus Mas Bran di kamar aku?"
"Ya mau gimana lagi emang? Kamu ke kamar duluan, aku ke lobby minta kunci, tidur di kamarmu."
"Mas Bran gak liat tadi kamarku berantakan? Aku malu lah, ada barang-barang aku di sana, nanti Mas Bran acak-acak lagi."
"Goshhh! Udah sana masuk ke kamarku! Aku booking kamar baru!"
Kutinggalkan Trinity, berjalan menuju lift, kurasakan ia membuntutiku, dan ia juga masuk lift.
"Kenapa lagi?"
"Mau turun aku." Katanya
"Kan aku udah bilang, aku ke lobby, pesen kamar baru, ngapain ikut?"
"Yee PD, kita di lantai 17, Mas Bran mau aku terjun? Apa naik tangga? Gak boleh aku masuk lift turun ke lantai 15?"
"Ohhh." Tuhan, orang mabok gini-gini amat yaa rupanya? Kayanya aku kalau mabuk gak nyusahin deh, gak nyebelin juga, paling h***y dikit, tapi itu juga gak ditanggepin, langsung tidur di kasur.
**
Aku baru ngeh, seluruh kamar hotel ini sudah full booking oleh kami, dan gak ada satu pun kamar kosong setelah si resepsionis ini memberitahu.
"Can I have another key to enter room 1711?" Tanyaku.
Si resepsionis ini tersenyum ramah, lalu tak berapa lama ia melotot. Dan aku pun diceramahin katanya maksimal kartu untuk satu ruangan itu cuma 2, lha ini udah 3, dan aku gak bisa minta kunci lagi.
Harus ada petugas khusus dengan master key yang ambil kunci di dalam, dan itu harus menunggu besok pagi.
"Okay sorry, how about key for room 1507?"
Resepsionis ini mukanya udah datar, gak senyum tapi juga gak bisa marah, dan setelah nego tipis-tipis akhirnya aku diberi kunci kamarku.
Sebenernya bisa aja aku nebeng tidur ke yang lain, tapi ini sudah pukul setengah 2 pagi. Gila aja aku ganggu mereka-mereka yang sudah capek ngurusin pernikahan Bang Satrio ini.
Mau gimana lagi coba?
Jadi setelah menerima kunci baru, aku naik ke lantai 15, masuk ke kamarku dan menemukan Trinity sudah tidur di kasurku.
Oh lord, semoga aja dia gak histeris pas bangun nanti tau kalau ada aku di ruangan ini.
Melepas pakaian, aku berganti dengan celana pendek dan kaus tipis, menyambar satu bantal dari kasur lalu tidur di sofa yang menyatu dengan jendela. Dah lah, yang penting bisa merem.
**
TBC