Dua belas

1917 Words
Aku membuka mata, membalik badan dan sedikit merenggangkan tubuh. Bruk "Adawww!" Menoleh, aku langsung duduk dan melihat Trinity di lantai sambil mengusap sikunya. Hah?? Kok dia di sini? "Kenapa kamu di sini?" Tanyaku. "Kenapa Mas Bran di sini?" Ia balik bertanya. Mampus dah ini aku. "Emm, itu, anu--" "Itu anu, itu anu, ini aku gak dibantuin berdiri Mas?" Aku refleks langsung mengulurkan tangan dan menarik Trinity, ia kemudian duduk, aku sedikit bergeser agar kami tidak terlalu berdempetan. "Hotel penuh, gak bisa minta kunci kamar kamu lagi, yaudah deh minta kunci kamar ini. Tapi aku tidur di sofa! Sumpah! Inget banget! Kamu ngapain ikut tidur di sofa juga?" Kayaknya aku gak pernah deh mengalami pagi seheboh ini. Kulirik Trinity, mukanya merah sekarang. Karena canggung, aku turun dari sofa, menuju koper ku untuk mencari baju. "Aku mandi ya? Biar kamu bisa di kamar ini." Kataku. "Terus baju-bajuku di kamar gimana Mas?" "Nanti aku urus kuncinya. Kamu santai aja, aku mandi dulu." Di kamar mandi, aku berdiri diam beberapa saat di depan cermin. Gilak, sumpah ini gila, ini kali pertama aku sekamar sama cewek berduaan. Dan sedari bangun tadi jantungku berdetak liar. Kubasuh wajah dengan air dingin, lalu berjalan menuju shower untuk menyiram tubuh dari kepala sampai ujung kaki. Tak berlama-lama mandi, aku segera saja berpakaian, saat aku keluar kamar mandi, ku lihat Trinity sedang membuka pintu kamar, dan aku syok melihat Bang Satrio berdiri di sisi pintu luar. Mati! "Ini bukannya kamar Bran? Kok Tri ada di sini?" "Apapun yang lo pikirin, pokoknya gak gitu!" Seruku sebelum Trinity menjawab. Bang Satrio yang melihatku keluar dari kamar mandi langsung memasang tampang menuduh. Wajahnya seperti sedang menuntut penjelasan. "Bentar, di luar aja, kenapa sih lo sepagi ini udah ganggu, gak menikmati pagi pertama jadi suami?" Tanyaku, dan Bang Satrio langsung menoyor kepalaku. "Penting k*****t! Lo gue telefon gak nyambung." Aku berbalik, mencari ponselku yang tergeletak tak berdaya di sofa tempatku tidur. Ternyata ponselku mati. Sebelum keluar, aku menyambar powerbank dan keycard dari meja. "Yo, di luar aja." Ajakku. "Tri, ditinggal ya? Kalo si Bran b******k lapor aja, biar Bang Satrio mutilasi dia." "Apaan sih lo?" "Iya siap Bang!" Sahut Trinity. Aku melongo mendengar itu, buset, main siap-siap aja, ngapa-ngapain aja engga. Karena masih pagi, aku dan Bang Satrio turun ke resto, sekalian sarapan. "Hal penting apa yang bikin lo sampe ninggalin istri lo Bang? Jangan bilang lo lebih cinta sama gue?" Tanyaku jahil sambil mengambil sepotong waffle. "Najis!" Setelah menuangkan sirup maple ke atas waffle, kubuat secangkir kopi lalu duduk di luar, biar bisa rokokan saat sarapan selesai. "Gue dapet petunjuk soal Ibu gue, Bran." Ucap Bang Satrio sambil meletakkan sepiring full makanan berat. "Lo sarapan sebanyak itu? Abis buang kalori berapa kilo lo semalem?" Tanyaku iseng. "Lo makin hari makin songong ya Bran!" "Abis kerjaan dari lo juga makin hari makin berat." "Modus minta naik gaji lo?" "Kaga sih, bonus 10% keuntungan perusahaan udah lebih dari cukup, tapi kalo lo mau naikin gaji gue ya boleh, biar pas pensiun gue bisa beli pulau pribadi." "Anjir bahasan jadi kemana-mana, pertama soal Ibu gue Bran, lo bisa cari detektif swasta di sini? Gue gak mungkin kan nyuruh lo yang nyari Ibu gue? Lo di Indo aja udah ribet, jadi ya pasti pake detektif swasta." "Yaudah bisa gue atur itu sih, mana petunjuknya? Dapet dari siapa?" Tanyaku. "Dari cucu mantan ART yang pernah kerja sama Bokap, sebenernya ini ART udah pikun-pikun, tapi kadang pikirannya bener, kadang balik ke masa lalu gitu, nah kemarin cucunya denger neneknya ngoceh soal Ibu gue." "Yaudah kirim ke gue aja ya text dari cucunya itu." "Kedua... " "Apa lagi buset? Satu aja belom kelar." Potongku, ini waffle udah abis lagi, huh. Akhirnya aku merogoh kantong parka yang kukenakan, mengeluarkan rokok dan membakarnya. "Bisa gak sih cari tau soal Ibu dan Kakaknya Dwika?" "Abangnya Trinity?" "Ye kan mereka kakak adek, abangnya Trinity ya kakaknya Dwika juga." "Hehehe iyaa, kenapa?" "Kaya pengin tau aja gue, mereka kemana, kenapa ninggalin Dwika sama Trinity dan Ayahnya." "Gue cari nanti, kalo masih seputaran Indo sih santai yaaa." "Ketiga..." "Astaga, b*****t. List lo berapa banyak sih?" Protesku. "Hehehe ini terakhir." "Iya, apa?" "Kok bisa lo sekamar sama Trinity?" Jantungku mendadak dangdut denger pertanyaan itu. Buset, aku tahu aku gak ngapa-ngapain, tapi kenapa tetep tegang ya? Kujelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Bang Satrio. Tapi tidak kuberitahu kejadian pagi tadi yang tiba-tiba Trinity ada di sampingku. "Yaah, padahal gue udah ngarep lo jatuh cinta, Bran! Lo dari dulu gak pernah lirik cewek mana pun, heran!" "Buset, lo ngomong nyantai amat, kunyuk. Lagian, dia ade ipar lo," "Ya bagus dong? Kita jadi kakak adek beneran, family." "Dihh sok iye lo, kaya sepeda anak bocah." Bang Satrio senyum-senyum gak jelas. "Pokoknya Bran, gue mah dukung lo mau sama siapa aja, asal jangan sama bini gue. Mau lo sama Trinity, sama siapa kek, cowok kek, cewek kek, Alien kek, kangguru, apapun laah bahkan kalo lo jatuh cinta sama umbi-umbian, gue tetep support lo, oke?" "Udah gila lo!" Seruku seraya melempar puntung rokok ke piring kotor, lalu bangkit, cari makanan lain. Pagi ini jadi laper banget, Bang Satrio paling jago emang bikin orang emosi. **** Trinity Aku masih diam di kamarnya Mas Bran, karena yang punya kamarnya gak dateng-dateng, kunci kamarku juga belum ia berikan. Bang Satrio nyulik Mas Bran kemana sih? Lama banget! Udah gerah padahal aku pengin mandi. Berjalan mondar-mandir di kamar, mataku iseng melihat koper milik Mas Bran yang terbuka, kopernya rapi banget, beda sama aku yang amburadul gara-gara selalu bingung milih baju. Mendekati koper itu, kutarik sebuah kaus dan celana pendek. Ini masih oke kali ya kalau kupakai? Kubawa pakaian itu ke kamar mandi, sambil berjalan aku menyambar sebuah handuk baru dari meja dekat kasur. Mandi dengan perlengkapan yang ada, aku bahkan cuci muka dengan sabun wajah milik Mas Bran, wanginya enak banget, maskulin gitu. Dan peralatan mandinya Mas Bran nih branded semua gila, deodoran sama kumpulan parfume-nya aja bisa ngasih makan aku satu semester kali ya? Selesai mandi, kuambil satu botol parfume Mas Bran dari sekian yang ada, menyemprotkannya ke udara lalu mencium baunya. Anjirrrrr, akutu jarang jarak deket sama Mas Bran, cuma tau kalau dia gak bau, tapi nyium aroma parfume ini bikin sinting sih. Wanginya laki banget, ini cewek yang deket dia klepek-klepek kali ya? Bawaannya langsung pengin ndusel. Eh kan, aku jadi inget semalem, hehehe. Berganti pakaian, aku membungkus rambut dengan handuk. Kaget aku saat buka pintu kamar mandi, pas banget soalnya pintu depan juga kebuka, Mas Bran masuk. "Eh? Kok?" "Dapet mas kuncinya?" Tanyaku langsung. "Itu kamu pake baju aku?" Ia malah balik bertanya bukannya jawab. "Ya abis mas Bran lama, aku gerah." Kataku, ia malah menatapku dari ujung sampe ujung dengan tatapan heran. "Mas? Dapet gak kuncinya?" "Eh iya, inih!" Ia merogoh-rogoh kantung jaketnya, lalu memberikanku sebuah kartu. "Nih, jangan ditinggal lagi." "Yaudah Mas, aku ke kamar yaa, bajunya dipinjem dulu." Kataku. Mas Bran mengangguk, lalu aku berjalan ke pintu depan. "Trinity?" Panggilnya, aku langsung menoleh. "Kenapa Mas?" "Kamu mau keluar begitu? Ke kamar?" Tanyanya. Aku langsung menyentuh rambutku yang masih terbungkus handuk. Oh iya. Segera saja kulepas handuk ini lalu menggantungnya di tiang cantelan khusus jaket. Ku lihat Mas Bran, ia malah mengedarkan pandangannya ke dinding-dinding kamar. "Bukan handuk, tapi itu... ehmmm, kamu gak pake bra!" Mataku melebar ketika mendengar itu, oh iya, gila! Aduh. Kulihat Mas Bran melepas jaketnya, lalu ia mendekat sambil mengulurkan jaket dalam tangannya sementara ia sendiri tertunduk. "Nih, pake aja." Katanya. "Makasi, Mas." Aku menerima jaket tersebut, memakainya lalu ngibrit ke luar, malu ya Tuhan! Menuju lift, aku langsung mengarah ke kamarku. Sampai di kamar, pengin ganti baju tapi sayang, bajunya Mas Bran ini wangi banget, kan tadi aku nyemprot beberapa macem parfume-nya. Ya Tuhan, dilemanya gini amat yak? Kuputuskan untuk berganti, soalnya aku beneran gak pake daleman sama sekali, atas bawah, kan kacau yaa. Meletakkan pakaian ini masuk ke plastik kotor, aku jadi ingat sesuatu. Ya ampun... baju kotorku kan masih ada di kamar mandi room-nya Mas Bran. Mampus, malu amat aku kalau Mas Bran masuk kamar mandi? Itu semua pakaian dan daleman tergeletak di lantai berantakan. Aduhh, aduhh, aduhh, gimana ini? Segera aku berganti dengan bajuku sendiri, kali ini plus daleman. Di kamar, aku mencari ponsel dan menelepon Mas Bran, kali aja ini bisa mencegah dia masuk kamar mandinya. Gosah! Panggilan terhubung, tapi aku malah mendengar suara dering di dekatku. Mencari sumber suara, jantungku anjlok pas nemu ponsel dalam saku jaket, banyak banget isinya ada HP, powerbank, korek, rokok. Menyampirkan jaket itu di lengan, aku langsung keluar, turun menuju kamar Mas Bran di lantai 15. Menekan bel di depan pintu kamarnya, aku menunggu sekian detik sebelum pintu itu terbuka. Saat terbuka, Mas Bran langsung mengulurkan sebuah plastik transparan. "Nih, mau ngambil ini kan?" Aku diam, malu, aku yakin pipiku memerah, yang ia berikan itu ternyata baju milikku semalam lengkap dengan jeroannya. "Heheh, bukan sih, tapi nih tuker, HP Mas Bran ada di situ." Aku mengambil plastik tersebut, lalu mengulurkan jaket miliknya. "Kamu gak ada rencana balikin bajuku?" "Nanti, aku cuci dulu. Heheheh. Lagian, Mas Bran bajunya kenapa item semua sih?" "Kamu mau diem di depan pintu, masuk atau balik ke kamar sendiri?" Tanyanya, sama sekali gak menjawab pertanyaanku. Aku melangkah maju, Mas Bran langsung menyerongkan tubuhnya agar aku bisa lewat. Masuk ke kamarnya, aku duduk di kasur, Mas Bran bergabung tapi ia duduk di single sofa yang ada. "Kenapa mas?" Tanyaku. "Lha, kan kamu yang kesini." "Kan mas Bran yang nawarin masuk," "Aku nanya, kamu mau masuk apa balik ke kamar." "Ohh, terus ini aku ngapain di sini?" "Ya gak tau, aku mau kerja." Ucapnya. "Kerja apan? Bukannya kita lagi gak di Indonesia?" Tanyaku, Mas Bran tersenyum manis. "Kerjaanku gak cuma yang di Indonesia aja, dek." Ya Allah, baper akutu tiap dipanggil Dek sama Mas Bran. "Terus apa?" "Kalau yang ini aku gak bisa kasih tau." Aku mengangguk. Gak tau mau ngomong apa lagi. Kayanya dari awal Mas Bran ini emang jarang ngejelasin apapun deh. "Mas, aku mau tanya dong?" "Tanya apa?" "Kira-kira judul tugas akhir yang bagus apa ya?" "Hah?" Ia terlihat kaget, mungkin gak sangka pertanyaanku absurd. Ya abis ngomong apa lagi dong? Aku masih pengin di sini ngobrol sama dia, tapi gak punya bahan. "Iya, sakit hati aku, Mas. Judulku dicuri sama temen." "Kok gitu?" Kujelaskan sedikit tentang kecerobohanku yang lain, yaitu tidak menghapus draf proposalku di komputer perpustakaan, yang ternyata dipakai juga oleh teman kelasku, dan ia langsung mengajukan judul proposal itu dan karena ibunya adalah Kaprodi, eh jadi langsung Acc. Sedih kan aku? "Kamu gak protes gitu?" Tanya Mas Bran. "Protes gimana? Gak didenger sama Kaprodi-nya, mau lapor dekan juga percuma." "Mau aku bantuin?" Aku menatap Mas Bran. Lalu menggeleng, kayaknya banyak urusan Mas Bran yang lebih penting daripada urusanku ini. "Sakit hati lah pokoknya aku, tapi ya mau gimana lagi? Untungnya sih baru proposal, bukan udah jadi penelitian yang ada hasil dan lainnya." "Itu yang bikin kamu mabuk semalem?" Aku mengangguk. "Pusing aku Mas, udah nyusun dari awal, kebayang nanti penelitian gimana, ehh ditikung orang." "Mau aku bantu?" "Bantu cari judul aja Mas, nanti aku yang kembangin sendiri." "Yaudah nanti aku mikir-mikir dulu aja ya?" Aku mengangguk. Sekarang ngomong apa lagi dong? Aku masih betah nih, soalnya Mas Bran wangi banget gila, bikin pengin ndusel, tapi aku gak punya bahan obrolan lagi, huhuhu. "Mas Bran belum jawab pertanyaanku." Kataku, mencari bahan. "Pertanyaan yang mana?" "Kenapa bajunya item semua." "Aku suka warna item, dan nyaman aja pakenya. Tapi gak semua item kok." Udah, bahas apa lagi? Ya ampun, bantuin aku dooongggg, huhuhuhu. **** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD