Tiga belas

1157 Words
Perjalanan kembali ke Indonesia, Trinity duduk di sampingku selama di pesawat, kali ini dia banyak diem gak bawel kaya biasanya, padahal kupingku mulai suka mendengar kebisingan dari mulutnya, hehehe. Begitu pesawat mendarat, kubiarkan penumpang yang di belakang turun duluan, setelah dirasa cukup sepi baru aku menurunkan koper kecil kami dari kabin, selesai itu aku membangunkan Trinity yang sedari tadi tidur. "Yukk turun." Ajakku. "Eh? Inih? Kita di mana Mas?" "Udah sampe Indonesia, yuk?" Ku tarik kedua koper ini, membiarkan Trinity di belakang membuntuti. "Masnya naik apa?" "Aku nginepin mobil, ikut aja yuk?" "Hehhe emang mau nebeng." "Ke kostan?" Trinity mengangguk. "Sini Mas, koperku aku aja yang bawa, ribet Mas Bran bawa dua begitu." Ia menarik kopernya dari peganganku, tangan kananku yang kosong refleks menarik tangannya karena kami akan menyeberang sedikit, dan... buset kenapa sih aku nih?? Kulepas genggaman tangan itu ketika jantungku mulai liar. Huh, tarik napas dulu deh yaa. Mempersilahkan Trinity naik duluan ke mobil, aku beralih ke belakang, memasukan koper kami ke dalam bagasi. "Mas Bran gak dijemput? Rajin banget nyetir sendiri." "Yang gak ikut kawinan Bang Satrio dikasih libur, gak enak aku kalo ganggu jatahnya orang istirahat kumpul sama keluarga." Trinity mengangguk, aku menoleh ke arahnya sebentar, dan jantungku masih berdetak tak karuan seperti tadi. Gosh? Ini tuh kenapa sih? Jujur, selama ini aku gak pernah memikirkan apa yang terjadi pada diriku, kenapa aku suka mendadak keringetan, degdegan dan yang lainnya. Karena aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. "Dek?" "Hemm?" "Bentar yaa, aku mau liatin kamu, semenit aja, boleh?" "Hah?" Aku menatap Trinity, memandangi wajahnya, dari kening, alis, hidung, pipinya yang memerah, bibir, lalu dagunya. Dia cantik, sama kaya yang pernah dia bilang sendiri. Tapi di luar sana juga ada banyak cewek cantik, dan kenapa responku gak sama kaya pas mandangin dia? "Mas Bran kenapa sih?" Trinity membuang muka, aku jadi memandang lurus lagi ke depan. "Sorry." Hanya itu kata yang keluar dari mulutku. Aku menjalankan mobil, kami jadi canggung karena hal yang kulakukan tadi. Sepanjang perjalanan sampai kost Trinity pun kami diam tanpa suara. Parkir di depan gerbang kostnya, aku turun untuk membantunya mengeluarkan koper. "Makasi Mas Bran, udah anterin aku, mau ditebengin." "Sama-sama, maaf ya Dek, yang tadi." Ia tidak menyahut, Trinity langsung menarik kopernya dan masuk, menghilang di balik pagar kostnya yang tinggi Aku tersenyum pahit, lalu masuk ke mobil dan mengemudikannya menuju rumah hitam. Udah deh, emang gak seharusnya ya aku mikirin perasaan yang aneh ini, masih banyak urusanku yang menuntut untuk diselesaikan. **** Bangsat: Kalo si Trinity tinggal sama Bi Ipeh dan Kiran gimana? Dwika hari ini kepikiran adeknya banget Pesan tersebut masuk ke ponselku tadi malam, tapi baru kubuka pagi ini. Aku gak sempet pegang HP, ada kencan sama kerjaan di laptop soalnya, gak bisa diganggu. Me: Tanya anaknya lah Masa nanya gue? Bangsat: Ya elu tanyain gitu Bilang kakaknya khawatir Dia kalau dikasih tau Dwika suka banyak ngelesnya Lagian rumah putih kosong kan? Lo tinggal di mana sih? Temenin gih Kali aja jodoh Me: Lha kalau sama kakaknya aja begitu apalagi sama gue, Bang? Gue di rumah item, enak di sini banyak orang, jadi kalau koordinasi gampang Anjir, enteng banget lo ngomong Minta disambelin mulutnya Bangsat: Sesekali urus cinta-cintaan Bran Me: Terus perusahaan lo siapa yang urus? Bangsat: Ya elo lah Me: Yaudah gak usah bawel Bangsat: Bran, asli pacaran gih, get laid!! Gue ngeri lo gak punya hubungan Lo gak aseksual kan? Aseksual gak aseeekkk Me: Lo mabok ya? Ngomongnya ngelantur Bangsat: Lo masih perjaka kan ya Bran? Me: Bukan urusan lo Bangsat: Coli pernah gak sih? Me: Bye Jijik b**o bahasan lo Masih pagi udah gak jelas Kututup room chat bersama Bang Satrio, agak geli yaa dua cowok, dewasa, bahas yang begituan. Apa banget? Itu kan pribadi. Aku aja gak pernah ganggu urusan Bang Satrio. Dulu, jamannya dia belum ketemu Dwika dan nyari mangsa cewek untuk penyaluran, gak pernah aku kata-katain dia, malah aku yang sering anterin cewek yang dia bungkus pulang karena Bang Satrio langsung tinggal tidur gitu aja, dan jaman dia di penjara, aku yang bawa ceweknya. Gebleg emang Satrio Pamungkas tuh. Sepanjang hari, ponselku diteror oleh telefon dari Bang Satrio. Aku sengaja gak mengangkat, biar kata dia bos, dia juga harus tahu kalau aku punya privasi. Aku selalu jaga semua privasinya dia, apa susahnya sih gak usah ngusik? Kesel! "Mbak Siska, ini selesai ya. Apa lagi?" Aku keluar ruangan, memberikan Siska beberapa dokumen yang butuh tanggapanku. Berkas-berkas itu sudah penuh tempelan post-it, sebagai feedback dariku. "Mas Bran dari tadi denger gak telefon saya bunyi terus?" "Denger, kenapa?" "Bang Satrio, Mas, minta disambungin terus. Bener gak mau angkat?" "Gak usah." "Saya takut ngelawan bos." "Kan sekarang saya yang lagi jadi bosnya." "Tapikan----" "Temenin saya makan yuk?" Ajakku. "Lha??" "Di kantin bawah aja, males saya turun sendiri." "Yaudah iya, Mas. Tapi saya bawa bekel, saya temenin sambil makan bekel saya ya?" Aku mengangguk. Kami turun ke cafetaria, Siska membawa lunch-bag miliknya beserta tumbler dengan warna senada. Begitu aku masuk cafetaria, beberapa orang menoleh ke arah kami, semuanya memasang wajah tersenyum, aku menebar senyumku random, lalu menuju counter makanan, mengambil beberapa menu yang aku suka. "Mas Bran mau pesen minum apa?" Tanya Siska ketika aku meletakkan nampan makananku di meja, lupa pesen minum. "Jus belimbing aja." "Oke Mas!" Siska berjalan ke counter minuman, dan tak lama ia kembali dengan dua gelas tinggi, satu berisi jus belimbing milikku, satu berisi es teh. "Makasi Mbak." Kataku. "Tumben Mas Bran ngajak makannya di sini?" Kami mulai makan dan Siska membuka bahan obrolan. "Males makan di ruangan, kalo keluar kejauhan, kamu tau kerjaan lagi banyak. Harus hari ini, besok saya seharian rapat di luar." "Iya sih bener, semangat ya Mas!" Aku mengangguk, melanjutkan makananku. Ternyata enakan turun ke bawah, makanannya masih anget, kalo telefon dan minta dibungkus anter ke atas, makanannya keburu dingin. Di tengah-tengah makan, ponsel Siska berdering, ia pamit sebentar untuk mengangkat panggilan tersebut. Tak lama, ia kembali dengan wajah pucat. "Kenapa?" "Anak saya berantem Mas di sekolahnya, saya dipanggil." "Did he win?" Siska malah memasang tampang heran, aku lalu tersenyum. "Yaudah sana, setengah hari aja, nanti yang udah beres saya simpen di meja kamu, besok kamu urusin, saya rapat, oke?" "Bener nih Mas?" "Iya udah sana berangkat aja, mau dianter Pak Giyanto gak?" "Gak usah Mas, sendiri aja. Makasi!" "Okee!" Aku melanjutkan makan sendirian, selesai makan, kurapikan bekas makanku dan dua gelas minum yang ada di meja, membawanya ke rak khusus nampan kotor, setelah itu kembali ke ruangan. Di ruangan, aku berkutat lagi dengan dokumen-dokumen yang bikin sakit kepala. Sesekali membuka HP untuk membalas pesan penting. Pesan dari Bang Satrio sendiri sudah menumpuk tapi kuabaikan saja. Lalu, ada satu pesan masuk, dari Trinity, dan tiba-tiba saja jantungku berdetak tidak normal. Shit. Aku benci perasaan gak jelas seperti ini. Well, bukan benci Trinity sih, benci kenapa respon tubuhku selalu begini. Arghhh! Trinity: Mas Bran? Katanya mau bantuin Udah kepikiran belum judul tugas akhir aku? Lha? Dia yang kuliah kok aku yang repot? ****** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD