"Masnya jangan bilang-bilang mbak Dwika tapi ya?"
"Malah aku yang mau kamu jangan bilang-bilang Mbak Dwika. Nanti nyambung ke Bang Satrio, disangkanya aku gak ngurus kerjaan malah ngurus ginian."
Aku dan Trinity saat ini sedang berada di koridor sebuah rumah sakit, menunggu giliran untuk melakukan proses cuci darah.
Aku sengaja melakukannya tidak di rumah sakit yang mengenaliku atau Bang Satrio, biar gak bocor ke mana-mana beritanya.
"Mas Bran kok baik, mau bantuin aku?"
"Ya abis gimana ya? Kamu masih muda, jangan sampe deh udah kena penyakit macam-macem." Jawabku asal.
Lalu, tiba giliran Trinity, ia memintaku untuk menemaninya, dan tentu saja aku dengan senang hati setuju.
Begitu proses cuci darah akan dimulai, Tiba-tiba Trinity megap-megap kesulitan bernafas, beberapa bagian kulit di muka dan tangannya pun berubah merah.
"Dok, ini kenapa?" Tanyaku.
"Astaga!!! Kayaknya Nona Trinity alergi sama obat antikoagulen-nya."
Aku panik, gila! Mampus! Mati aku kalau anak orang kenapa-kenapa. Mana aku yang ngajak lagi ke rumah sakit.
Sial! Sial! Sial!
Aku diminta mundur sementara dokter dan beberapa perawat menangani Trinity. Gosh, bilang apa nanti aku sama Mbak Dwika? Sama Bang Satrio?
Shit!!
Terasa keringat merembes di pelipisku, langsung kuseka dengan tangan, masih panik melihat Trinity yang sesak begitu.
Beberapa menit mengalami panic attack, akhirnya Trinity kembali normal, namun kulitnya masih merah dibeberapa bagian.
"Mas Branta, sepertinya proses cuci darahnya harus ditunda dulu, tubuh Nona Trinity tidak kompatibel dengan antikoagulen yang kami gunakan, lalu memakai Heparin jenis lain pun beresiko dan kami tidak berani coba-coba."
"Jadi gimana dok?"
"Mungkin saran dari saya Nona Trinity agar mendapatkan transfusi darah dulu, lalu treatment dengan konsumsi vitamin E dan suplemen selenium. Kalau yang saya lihat dari laporan sih ginjalnya masih sangat bagus jadi kalau gak cuci darah pun gak apa-apa."
"Oke dok makasi, lalu kapan Trinity bisa dapat transfusi darah?" Tanyaku.
"Saya cek stock golongan darah yang cocok dulu ya."
Aku mengangguk. Well, kalau gak ada stock pun aku mau-mau saja berbagi darah untuk Trinity, kebetulan golongan darahku juga B+, sama seperti Trinity.
Seperti yang kuramalkan, persediaan darah B+ sedang kosong, meskipun seorang perawat mengatakan kalau ia sudah menelepon PMI untuk stok ulang, tapi tetap aku mengusulkan diri mendonorkan darahku, kelamaan kalau nunggu darahnya dateng.
"Gak apa Mas Bran?" Tanya Trinity, aku mengangguk.
Jadilah perawat bernama Sari ini mengambil darahku, lalu melakukan transfusi kepada Trinity.
"Sus, emang gak apa ya? Kan Trinity gak kekurangan darah, tapi malah ditransfusi." Tanyaku sambil duduk di ranjang, melihat darahku yang sudah ditampung di kantong masuk ke tubuh Trinity.
"Gak apa, Mas Branta."
"Bran aja Sus panggilnya, Branta kepanjangan." Aku memotong ucapan perawat ini.
"Ohh okee, gak kenapa-kenapa kok Mas Bran, kan Nona Trinity masuk katagori yang perlu menerima transfusi, ini dari tadi saya pantengin kan karena 15 menit pertama tuh riskan, takut tubuhnya gak kompatibel kaya tadi, tapi ini kayanya aman-aman aja, Mbak Trinity gak kenapa-kenapa kan?"
"Agak sedikit kedinginan, Sus."
"Oh gak apa, itu mah wajar."
"Terus Sus, fungsinya transfusi ini apa? Kan kalau cuci darah tuh udah jelas yaa membersihkan, kalau ini gimana maksudnya?"
Asli, daripada aku gabut ya mending aku tanya-tanya, sekalian mengalihkan diri juga, gak enak kalau natap Trinity terus.
"Nanti, sel darah Nona Trinity akan melemah dan hancur, digantikan oleh darah dari Mas Bran, jadi darah yang mengandung racunnya bye-bye gitu Mas."
Aku mengangguk mengerti, ku lirik Trinity yang sedang terpejam. Gosh, kok cantik banget yaa? Masih bisa loh dia bikin aku keringetan.
"Mas Bran gak lemes?" Tanya Trinity, proses transfusi memakan waktu dua jam lebih, tapi akhirnya selesai juga.
"Engga, aku gak apa. Yuk aku anter balik ke kostan."
Trinity mengangguk, lalu kami keluar menuju parkiran. Hari ini aku bawa mobil sendiri, gak ajak Pak Giyanto karena takut beliau keceplosan pas ditanya Bang Satrio. Lagi, biar saja ini jadi urusanku.
"Mas Bran mau mampir?" Tanyanya.
"Bukannya ini kost khusus cewek ya?"
"Hehhee iya, aku basa-basi aja."
"Terus kalo aku iya-in kamu mau jawab apa?"
"Gak tau hehehe, gak kepikiran."
Aku tersenyum, kenapa cewek tuh kalo oon bukannya bikin sebel, tapi malah gemes? Ya Tuhan!!!
"Yaudah sana gih, inget ya? Jangan cerita-cerita ke Dwika."
"Siap mas, aku nanti pura-pura gak akrab aja sama Mas Bran."
Aku mengangguk, lalu Trinity keluar dari mobil. Kuturunkan kaca, lalu melihatnya melambaikan tangan sebelum berbalik dan menghilang tertutup pagar kost yang tinggi.
Okee, Trinity sudah lumayan aman, mari kita kembali ke kerjaan yang bikin pusing.
******
"Bang, jangan nekat!" Seruku.
Hal yang tidak kuinginkan terjadi. Ketika musuh Bang Satrio tahu kelemahannya dan mencoba memperoleh keuntungan dari itu semua.
"Bran, gue denger si Iskandar anjing itu sekap Dwika aja udah mau gila gue. Masa gue harus diem aja? Makin gila, Bran."
"Masalahnya ini bukan cuma lo doang, bukan tentang lo bunuh dia atau tentang jejeran orang yang dukung lo. Ada rakyat yang gak tahu apa-apa terlibat di sini dan jadi korban. Kalau lo tandatangani surat ini, gak ada jaminan setelah genosida selesai, kita gak bakal dibantai. Orang kaya pak Iskandar itu pasti gak mau ada satupun manusia yang tau busuknya dia. Rencana bunuh jutaan nyawa aja dia santai dan mau mengkambinghitamkan Presiden kok."
Kepalaku mau meledak rasanya. Dwika Kencana, orang yang dicintai bosku itu disekap oleh salah satu mafia kelas kakap negeri ini, mafia yang menyamar menjadi pejabat dengan jas dan dasi. Menyamar dengan senyum ramahnya padahal senyum itu berisi racun. Dan kali ini, mafia itu menemukan titik lemah bosku. Padahal Bang Satrio adalah ikon dalam gerakan perlawanan kami.
"Terus gue harus diem aja? Bayangin kalau Dwika mereka siksa, Bran!"
"Gue gak yakin, feeling gue Dwika cuma disekap aja, gak ada untungnya buat pak Iskandar nyiksa Dwika."
"Terus gue harus percaya sama feeling lo? Lo gak tau, nyiksa Dwika itu sama aja nyiksa gue."
Aku menelan ludah.
"Terus lo mau apa? Bang, please. Bukannya gue gak mikirin perasaan cinta-cintaan lo ini. Tapi pikirin orang yang udah dukung kita, pikirin orang-orang gak bersalah yang sedang kita perjuangkan hak-nya. Lo mau korbanin mereka semua demi satu cewek?"
"Terus menurut lo gue harus korbanin Dwika?"
Aku diam. Lalu terdengar geraman marah, dan detik berikutnya Bang Satrio memungut ponselnya yang tadi ia banting ke lantai.
"Pinjem HP lo, telefon Pak Bambang!" Titahnya padaku. Pak Bambang sendiri adalah pengusaha paling kaya di negeri ini.
Bang Satrio menjauh ketika telefon sudah tersambung, aku sendiri menunggu karena ia pasti marah jika kubuntuti,
"Gimana, Bran?" Tanya Arya, salah satu utusan kepolisian.
"Belum tahu, Bang Satrio lagi telefon pak Bambang."
"Kita semua akan terkhianati loh Bran kalau Satrio sampai masuk perangkapnya Iskandar."
Aku mengangguk. Itu lah yang saat ini sedang kucegah. Aku tak ingin orang yang sudah mendukung dan percaya pada kami malah balik badan dan tidak peduli pada masalah ini.
Lalu, terdengar suara mesin mobil menyala di luar, dan aku langsung berlari untuk memeriksanya.
"Siapa yang pergi Pak?" Tanyaku panik, aku tak melihat Bang Satrio di manapun.
"Tadi Abang minta kunci, ya saya kasih, pesan katanya jangan diikuti kalau mau Abang selamat."
"s**t! Dia bawah HP?"
"Tadi sih sambil telefon, bawa berarti, Mas."
"s**t!" Makiku lagi lalu berlari ke dalam rumah.
Mengambil ponsel kedua, aku melacak lokasi di mana ponselku berada. Tak butuh waktu lama, ku lihat posisi Bang Satrio yang membawa ponsel ku itu, titik itu terus berjalan menjauh, menuju ke arah kaki gunung Salak.
Ke luar, aku langsung memberi intruksi.
"Saya gak peduli, kita harus nyusul Bang Satrio dan memastikan dia aman. Gimanapun, dia icon kita dalam gerakan melawan p***************l ini.
"Saya gak mau Bang Satrio mati tanpa back-up karena kita semua diam di sini. Tapi saya juga gak minta kalian ikut dan bersedia mati untuk Bang Satrio. Saya cuma mau yang sungguh-sungguh ingin melawan bergerak membantu ikon kita, dan untuk yang gak ikut pun saya hargai, gak ada hukuman apapun untuk kalian semua." Kataku, lalu tanpa memperpanjang ceramah, aku langsung masuk ke salah satu mobil yang standby dan menyetir membawanya menyusul Bang Satrio.
Dari kaca spion, ku lirik banyak mobil yang mengikutiku, membuatku terharu.
"What's your plan, Bran? Over." Terdengar suara Arya dari HT yang tergeletak di kursi penumpang.
"Gue udah nyuruh beberapa sniper untuk berjaga di sekitar lokasi, kalau lihat dari titik gerak Bang Satrio, kayaknya gue tahu ke mana Bang Satrio pergi. Over."
"And then???"
"We'll see, kalau Bang Satrio dalam 2 jam gak balik, kita serang semua titik yang dicurigai menjadi gudang racunnya Iskandar. Biar dia tahu, sekalipun dia tangkep Bang Satrio, masih ada yang berjuang melawannya."
"Roger that, Bran!"
Aku berhenti di sebuah pom bensin, mobil lain tersebar acak di sekitaran sini. Kami sengaja tidak bergerombol agar tidak dicurigai.
Ku pantau terus titik lokasi Bang Satrio yang tidak bergerak. Ia sudah sampai di Lab Percobaan milik Pak Iskandar.
Di telingaku, menempel earpod yang tersambung ke para sniper yang berjaga. Mereka ada di mana-mana, mengingat kawasan ini tidak banyak gedung tinggi, aku memiliki asumsi mereka bersembunyi di pohon-pohon tinggi yang ada.
"Lapor Mas Bran! Ada pergerakan, 4 orang masuk mobil hitam, sudah ada supir di dalam mobil. Dari postur sepertinya Bang Satrio. Nomor mobil F 1001 BGR. Ganti!" Terdengar bisikan di telingaku.
Aku menarik napas, melirik titik Bang Satrio yang tidak bergerak, tapi bisa saja ponselnya di sita. s**t!!!
Kupejamkan mataku, menyerahkan semua keputusan pada instingku. Lalu melihat peta kembali untuk membaca rute.
Menjalankan mobil, aku memutar balik, menyetir dengan kecepatan yang terbilang lambat. Mobil yang kubawa kali ini hanya mobil biasa, bukan mobil yang mencolok, jadi semoga saja aku tidak dicurigai.
Mataku selalu melirik ke belakang, mencari mobil dengan nomor polisi yang sudah kuketahui.
Lama sekali sampai akhirnya aku melihat mobil tersebut di belakangku, terhalang 1 mobil angkutan umum dan 2 motor.
Mengubah ritme berkendara, aku menyetir dengan kecepatan standar, agar mobil tersebut masih dalam pengawasanku. Aku sudah hafal rute jalanan di sini, tidak ada persimpangan kecuali putar balik, jadi dipastikan mobil ini akan berjalan terus.
Saat sudah memasuki jalan besar ku lihat mobil itu tiba-tiba berhenti, kugunakan kesempatan ini untuk berbalik dan melaju menyamakan posisi dengan mobil tersebut namun berseberangan.
Turun dari mobil, ku lihat Bang Satrio keluar dari mobil itu dengan tangan terborgol, ia lalu memutari mobil menuju sisi yang lain.
Aku menyeberangi jalan, ketika aku sampai ku lihat Bang Satrio menyangga tubuh Dwika yang tiba-tiba ambruk.
"Bang!" Seruku.
"Thank God you're here! Come on, help me!"
Aku mendekat, bang Satrio membiarkanku menyangga Dwika karena ia sendiri pun terluka.
"You're good?"
"Fine, where's your car?!" Tanyanya sambil berusaha melepaskan borgol dari tangannya
"Pelan-pelan Bang, di mobil ada alat buat buka itu. Kita nyeberang, mobil gue di seberang." Kataku.
Aku langsung menggendong Dwika dengan kedua lenganku, ia tak sadarkan diri sementara kedua tangannya yang juga terborgol menggantung begitu saja.
"Seriusan? Lo naek mobil butut ini?"
"Eh kucrut, mobil jelek gini gak dicurigain!" Kataku seraya menjejalkan Dwika di jok belakang.
"Tau dari mana lo gue kemana?"
"Gak usah banyak tanya lo, kaya babu baru aja!" Seruku kesal, sambil membuka kuncian borgol dengan paperclip.
"Lo ngambek sama gue?"
"Lo gak mikir lo bakal mati apa? Gila-gila aja lo dateng ke tempat begitu sendirian, nganter nyawa lo?"
"Ya kan kalo gue mati, gue matinya bareng orang yang gue cinta gitu."
Aku memutar bola mataku. Baru kali ini aku melihat Bang Satrio sebegitu gak berdaya, gak ada niat melawan atau apapun.
"Terus gimana caranya lo nemuin gue?"
"I trust my feeling, I told you to do that, but what? You just did the opposite, so you end up like this, gosh! You officially defeat Romeo from the stupid boyfriend category."
"Gue baru tau lo bisa salty begitu Bran. sakit loh gue dengernya."
"Au amat ah!" Seruku lalu menjalankan mobil, memutar balik dan membawa dua sejoli yang gagal mati ini pulang ke rumah.
*****
TBC