Tujuh

1885 Words
Aku diam saat Bang Satrio mengaku kalau ia sudah menandatangani dokumen persetujuan yang diajukan Pak Iskandar. Dalam dokumen tersebut, jika ada orang-orang Satrio yang bergerak untuk menggagalkan rencana Genosida Pak Iskandar, maka ia akan melancarkan sejumlah serangan pada kami semua. Tak peduli orang yang terlibat langsung atau tidak. "Jadi sekarang apa?" Tanya Arya. "Kita kalah, apa lagi?" Sahutku, lalu berbalik meninggalkan ruangan, keluar dari rumah menggunakan mobil yang tersedia di halaman. Aku menyetir ke panti, ingin menenangkan diri dengan bertemu bu Veronica dan adik-adik yang ada di sana. Sekian menit menyetir, aku tidak kunjung sampai. Ku pinggirkan mobil dan kaget karena ternyata aku berada di lingkungan kampus Trinity. Lha? Ngapa gue nyetir ke sini? Tanyaku dalam hati. Kunyalakan mode autopilot dan membiarkan mobil ini berjalan sendiri, membawaku ke tempat yang sebenarnya aku tuju. Kepalaku sudah terlalu riuh sampai-sampai ngelantur seperti barusan ini. Kupandangi jalanan di depanku ini, karena lingkungan kampus jadi banyak orang yang beraktivitas, ada penjual makanan, juru parkir, bahkan orang yang lewat. Melihat mereka semua, entah kenapa hatiku langsung hancur, tahu kalau aku tidak bisa menyelamatkan mereka semua, tahu kalau dalam beberapa waktu ke depan mungkin mereka, atau keluarganya, atau kenalannya akan diracun sampai mati. Kumatikan mode autopilot lalu memutuskan menyetir kembali, mengarahkan mobil ke kostan Trinity. Hanya butuh waktu sebentar, aku langsung mengiriminya pesan. Me: Trinity? Bisa keluar kost sebentar? Aku di depan, Kalau bisa, Langsung masuk ke mobil merah ya? Pesan terkirim, aku sengaja tidak ingin keluar mobil karena tidak siap jika berhadapan langsung dengan orang di luar sana, apalagi kalau harus menebar senyum palsu. Tak lama, pintu kostan Trinity terbuka, ia terlihat celingukan sebelum akhirnya matanya fokus ke arah mobilku dan berjalan mendekat. Kubuka pintu mobil dari dalam agar ia bisa langsung masuk. "Kenapa Mas Bran?" Tanya Trinity. "Ini, mau kasih kamu vitamin sama suplemen." Kataku beralasan. Aku memang sudah stock vitamin untuk Trinity tapi gak punya rencana memberikan itu hari ini. Kuambil paperbag dari belakang lalu memberikan padanya. "Makasi Mas Bran." "Iya gak apa, oh ya, dua minggu ke depan kamu ada sibuk apa?" Tanyaku. "Kenapa gitu?" "Boleh tolong jawab aja?" "Emm aku lagi bolak-balik kampus aja nyusun proposal, gak ada kegiatan apa-apa." "Temen kamu? Ada yang kegiatan di luar kota?" "Kenapa emang?" "Jawab aja." "Emm, temen kostku, Melinda dia mau ke Kalimantan ikut penelitian pacarnya. Ke hutan-hutan gitu, ke Dayak Iban." Aku diam, sepertinya untuk beberapa minggu ini, ke hutan lebih aman, mending ketemu hewan dan tumbuhan dari pada manusia. Dan, orang-orang Dayak sepertinya jauuuuh lebih ramah dari orang di kota apalagi orang seperti Pak Iskandar yang bermulut manis tapi berhati iblis. "Kalo kamu ikut ke sana, ganggu penelitiannya gak?" "Kenapa gitu?" Aku diam lagi, agak sulit memang meminta Trinity menjawab pertanyaan-pertanyaanku tapi aku tidak menjelaskan sedikitpun padanya. "Untuk beberapa minggu ke depan, negara ini lagi gak aman, Dek. Jadi mending kamu melipir sementara dan kalau ditawari bantuan dari pemerintah, tolong tolak ya?" "Kenapa?" Tanya Trinity untuk kesekian kalinya. "Aku gak bisa jelasin banyak, tapi aku minta kamu ngerti." "Mereka berangkat besok Mas Bran, aku gak ada persiapan." "Persiapan apa?" "Emmm, beli baju khusus buat di lapangan atau alam liar gitu, aku gak punya soalnya. Carrier, sepatu tracking, tiket pesawat, cincin." "Cincin?" Diantara barang-barang yang ia sebutkan kenapa bisa ada barang yang gak masuk akal. "Iyaa, aku dapet cerita, katanya pernah ada yang penelitian di Kalimantan, eh gak dibolehin pulang, disuruh nikah sama salah satu anak di sana. Gak tau sih yaa ini suku mana aku gak tau, tapi ya aku mau antisipasi, kata temenku ya pake aja cincin biar kalo diminta nikah sama orang sana aku bisa alesan aku udah nikah. Well, bukannya aku gak mau nikah sama orang sana, kali aja kan ada yang ganteng gitu? Tapi kalo unsur paksaan ya aku gak mau, aku kan cantik!" Kepalaku muter dengerin penjelasan Trinity, terus apa itu ujungnya? Ya ampun, ternyata dia sok galak kalau di depan kakaknya doang, aslinya begini. "Yaudah ayok aku temenin beli-beli barangnya." Ajakku, namun Trinity diam. Jadi, tanpa berlama-lama dan menunggu jawaban darinya, aku langsung menjalankan mobil ke sebuah mall yang kutahu lengkap. Dari peralatan mau ke gunung sampai jewelry pun ada. "Mas Bran?" Panggil Trinity saat kami sampai di parkiran. "Kenapa? Yuk turun." "Emm, gimana ya bilangnya? Aku gak bisa." "Kenapa gak bisa?" "Aduhh, gitu deh, hehehe aku belum minta uang ke Mbak Kika, terusan gaji aku belum keluar." Aku tersenyum mendengar itu. "Gak usah mikir gitu, aku beliin, yok!" "Ihh, gak enak lah, aku suplemen dibeliin, mau cuci darah Mas Bran yang bayarin, sampe donor darah aja darahnya dari Mas Bran. Miskin banget ya aku?" "Udah santai aja, aku ada uang dan selama ini bingung ngabisinnya gimana, yukk, aku traktir!" "Seriusan ini?" "Ya masa aku ngeprank kamu? Yukk!" Ajakku untuk kesekian kali. Trinity tersenyum lalu mengangguk, kami pun turun dan berjalan bersisian masuk ke dalam mall. Karena yang terdekat dari pintu masuk itu toko jewelry, jadi aku langsung mengajaknya masuk. "Bentaran, Mas." Ujar Trinity. "Kenapa?" "Deg-degan aku, kaya mau apaan tau beli cincin di tempat ginian." "Ya emang kenapa?" "Entar kalo orang yang jualnya nyangka mau nikah, gimana?" "Ya gak gimana-gimana." "Bentar, aku tarik napas dulu." Ujar Trinity. Aku tersenyum, lucu dengan tingkahnya yang seperti ini. Lalu ketika ia siap, kami pun masuk ke dalam tokonya. Seorang pelayan langsung menghampiri kami dan bertanya ini itu. "Kamu mau yang gimana?" Tanyaku. Trinity terlihat seperti menahan tangis sambil menggeleng, sebelum menjawab pertanyaanku. "Gak tau yang mana, terserah." Akhirnya aku yang melihat-lihat katalog cincin yang dimiliki toko ini. "Gak pake cincin tunangannya Mas? Langsung mau cincin nikah aja?" Tanya pelayan bernama Vina ini. "Emang beda?" Ia lalu menunjukan koleksi cincin tunangan yang rata-rata dihiasi berlian di atasnya, sedangkan cincin nikah itu cenderung polos. "Gini aja Mas, ambil paketan yang ini aja, cincin nikah dua (sepasang), cincin tunangan satu buat cewek. Gimana?" Aku bengong. Lha, milih cincin buat Trinity kok aku jadi kebagian? Eh? Emang yang bilang buat aku siapa? Kok aku jadi GR gini sih? "Apa aja deh, Mbak, yang bisa langsung diambil, gak harus pesen dulu." Kataku mengingat Trinity besok berangkat. "Yaudah saya ukur jarinya dulu terus dicocokin sama stock yang ada, gimana!" "Nah udah gitu aja." "Mau ambil paketan aja Mas?" Aku melirik Trinity. "Mau dek?" Tanyaku. "Terserah Mas, aku gak tau." Suaranya masih sama, kaya lagi tahan tangis. Ini anak kenapa sih? "Yaudah mbak itu aja." Kataku memutuskan, bingung emang jalan sama cewek tuh, apa-apa terserah. Jari Trinity pun diukur, dan mbak Vina mencarikan cincin dengan nomor yang pas. Aku tersenyum saat melihat cincin yang menurutku bagus dicoba oleh mbak Vina ke jarinya Trinity, dan.. pas. "Itu bagus," Kataku. "Mau ini aja Mas, Mbaknya gimana?" "Aku terserah, Mbak." Jawab Trinity. "Yaudah sekarang cari cincin buat masnya dulu aja." Aku menelan ludah ketika giliranku yang diukur jarinya, agak aneh sihhh yaa, kayanya aku kalo beli cincin tuh ya cincin gede-gede buat aksesoris, yang dipakai di jari tengah atau telunjuk, bukan cincin nikah gini yang dipakai di jari manis. Gosh! "Naah ini yang pas dijari Masnya cocok sama cincin polos mbaknya, tinggal pilih cincin tunangannya aja nih. Atau mau yang tadi aja? Yang kata Masnya bagus?" "Dek gimana?" Tanyaku meskipun aku tahu jawabannya pasti terserah. "Yaudah Mas, itu aja." Jawabnya diluar dugaan. Setelah setuju, mbak ini membungkus cincin tersebut, sedangkan aku menuju kasir untuk membayar. Keluar dengan jinjingan kecil, aku menoleh ke kanan dan ke kiri, nyari toko lain. "Mas, gak apa itu beli cincin sampe segitu, padahal kan cuma buat aku ikut Melinda nemenin pacarnya penelitian?" "Gak apa, santai." Kataku. Kami berjalan, naik ke lantai dua karena kata Trinity untuk barang-barang peruntukan kegiatan outdoor ada di sana. Memasuki toko tersebut eh aku malah langsung naksir sama satu topi, dan Trinity malah buntutin aku. "Kamu cari sana yang diperluin, sekalian baju juga yang banyak aja." Kataku. "Gak enak aku cari sendiri." "Mau topi? Aku mau beli ini deh kayanya, bagus." Kataku. "Aku yang penting-penting aja lah, Mas. Gak enak, tadi aja udah abis banyak buat cincin." Aku tersenyum, tampangnya beneran lucu banget, beda banget dia yang sok asik atau sok galak depan kakaknya. Kupakaikan topi ditanganku ini, dan ia langsung mendongkak. Pas ukurannya, karena tadi saat kucoba memang agak kecil, malah bagusan dia yang pakai. "Cocok, ambil aja nih, kali aja di sana panas, jadi udah punya topi." "Jangan banyak-banyak Mas Bran, aku gak enak loh, asli." "Udah, yuk, cari apa lagi? Kemeja, sepatu, tas, headlamp, apa lagi sih? Fire-start butuh gak? Kamu nge-camp apa nginep di rumah warga?" "Gak tau aku Mas, kan ini Mas Bran yang suruh ikut, mana aku tau." Kembali, suaranya seperti ingin menangis. Aku tersenyum, lalu mendekati seorang penjaga dan memintanya mencarikan alat-alat yang sekiranya diperlukan Trinity saat di lapangan nanti. Selesai, kuantar kembali Trinity, tapi tidak ke kostan, melainkan ke kampus, tempat teman-temannya sedang rapat terakhir sebelum berangkat. Bagus lah, Trinity jadi punya persiapan. "Mas Bran mau ikut?" Tanyanya. "Boleh deh." Kataku, mengingat aku belum mau pulang, jadi mending ikutan anak-anak muda ini rapat. Aku bergabung, tapi duduk diam di belakang, mendengar mereka membicarakan rencana terdengar seru. Jujur, aku belum pernah masuk hutan yang beneran hutan, apalagi yang mereka kunjungi ini gak cuma 1 suku di Kalimantan, eh sukunya sih Dayak, tapi tadi aku denger ada Dayak Iban, Dayak Punan, banyak lah rumpunnya. Hari sudah larut ketika rapat kecil ini berakhir, aku juga sudah memesankan tiket untuk Trinity berangkat besok. "Daah, istirahat, besok berangkat kan? Siapin fisiknya." Kataku ketika Trinity menolak kuantar, ia memilih jalan kaki bersama temannya. "Iya Mas, makasi banyak yaa, semuanya ya ampun." Kali ini dia betulan nangis, ya Tuhan, salah apa aku? "Eh? Kamu kenapa nangis?" "Gak tau, dari tadi aku baper, Mas Bran-nya baik banget abisan." Katanya sambil mengusap air matanya sendiri. "Yaudah santai aja sih, Dek." "Tuh kan, aku dipanggil Dek, aku jadi kangen sama Abang aku yang gak tau kemana." Aku diam. Yeah, aku tahu Dwika dan Trinity mempunyai kakak bernama Eka, tapi keberadaannya hingga hari ini entah, tidak ada yang tahu. "Aku anter balik aja ya? Barang-barang kamu ada di mobil, dan ribet kalau dibawa sendiri, oke?" Ajakku, gak enak diliatnya kalau anak yang lagi nangis ini jalan kaki, nanti disangka kenapa-kenapa. "Yaudah deh, boleh Mas." Trinity mengangguk setuju. Kami jalan berdua ke parkiran, lalu aku mengemudikan mobil ke arah kostnya. "Ini mau kamu angkut sendiri? Aku boleh masuk gak sih? Bantuin angkat?" Tanyaku. "Emm, cuma sampe ruang tengah paling, ke kamar gak boleh, nanti aku dijutekin sama temen kost yang lain. "Yaudah seenggaknya kamu gak ngangkat jauh-jauh." Kubantu Trinity mengangkat barang belanjaannya, ketika selesai dan aku ingin pulang, ia menahanku sebentar. "Kenapa?" "Ini Mas, jatah cincinnya Mas Bran, terus yang berlian simpen aja ya sama Mas Bran?" "Pake aja, buat apaan aku nyimpen cincin cewek?" "Ya kali aja Mas Bran mau lamar cewek siapa gitu?" "Cincinnya kan pas di kamu, kamu mau aku lamar?" Tanyaku jahil, tapi bikin deg-degan juga sih. Trinity terkejut, mukanya memerah sedangkan aku menahan senyum sambil menenangkan jantung yang bergerak gak karuan. "Daah, aku pulang ya? Baik-baik nanti berangkatnya. Tiketnya udah aku kirim ke email kamu. Hati-hati!" "Makasi banyak Mas Bran, salamin ke Mbak Kika ya? Bilang aku pergi." "Siaap!!" Aku keluar, kembali ke mobilku dan mengemudikannya ke arah rumah. Karena masih kesal dengan Bang Satrio, aku malam ini gak pulang ke rumah putih, tapi ke rumah hitam. Ingin sekali tidur nyenyak malam ini tanpa diganggu Bang Satrio ataupun ceweknya itu. **** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD