Delapan

1325 Words
Trinity "Empat ratus lima puluh juta?" Tanya Melinda syok. "Iya Mel, gila kan? Gimana gue gak gemeter dia beli cincin harga segitu." "Udah, pulang dari Kalimantan lo jual dah tu cincin, mayan bisa buat party-party." "Udah gila kali gue, mau gue balikin aja dah." "Dah ah, Ti, gue ngantuk mau tidur." "Yaudah sana." Melinda, teman satu kamar kostku itu pindah ke kasurnya, sementara aku sendiri masih memegang kotak berisi cincin yang dibelikan Mas Bran. Heran aku, ada ya orang kaya dia? Aku kira bakal beli cincin di pasar aja gitu, asal, yang penting pake. Eh malah beli cincin kawinan beneran. Gilaaaak!! Kubuka kotak berwarna burgundy ini, lalu memandangi cincin yang bertahtakan baru berlian mungil, kuambil cincin itu lalu memakainya di jari manis tangan kanan. Mengulurkan tanganku ke udara, kulihat tanganku yang berhiaskan cincin, bener sih kata Mas Bran, cincinnya bagus. Tapi ya... Gila juga sih, tunangan kaga, nikah apalagi, ehh malah beli cincin couple, plus cincin tunangan juga. Ya ampun. Kulepas cincin itu, menarik napas panjang karena masih gak nyangka bisa beli cincin ginian dengan harga segitu. Melatih diri sendiri, ku kenakan cincin yang polos, lalu menambahkan cincin berlian ini di jari yang sama. Udah lah, biar terbiasa, sebelum aku besok ikut berangkat ke Kalimantan secara dadakan. Yang penting melarikan diri aja dulu, soalnya Mbak Dwika juga bilang kalau situasi negara ini emang lagi gak aman. **** Sepertinya aku salah jurusan, asli, selama ini aku kuliah vokasi jurusan ilmu komunikasi, lha nyasar sama temen-temen jurusan lain yang pada penelitian soal pengelolaan hasil hutan, konservasi rangkong gading, kesehatan masyarakat dan lain sebagainya. Ya, penelitan ini gak cuma dilakukan satu bidang saja, tapi banyak, makanya orang kaya aku sama Melinda boleh ikutan, katanya bantu-bantu, tapi asli, aku pusing gak ngerti. Ini hari terakhir, agak sedih juga karena lebih dari dua minggu ini aku akrab sama anak-anak kecil di sini dan para warga lainnya yang suka bantuin aku. Dan... Aku rasa cincin yang kubeli ini gak berguna sama sekali, mungkin rumor yang dikatakan senior itu cuma gosip karena orang sini baik-baik semua. Mereka bersedia menampung kami di rumahnya. Setiap hari kami dimasakkan makanan yang mereka petik dari ladang sendiri. Hidup mereka damai, jauh dari hingar-bingar kota yang menyesakkan d**a. Tapi ada satu yang kusesali, beberapa rumpun suku Dayak di sini kurang terkoneksi dengan pasar. Oke kukasih contoh, kemarin aku bantuin Safitri dan beberapa penduduk lokal panen Tengkawang, yang kalo denger katanya sih bisa jadi sumber minyak nabati yang lebih baik dari sawit, tapi masyarakat sini gak berani panen banyak-banyak, takut gak ada yang beli. Jadi mereka panen buat keperluan pribadi. Coba aja kalau potensi begini dilirik perusahaan mayor atau pengusaha setempat? Mungkin bisa meningkatkan kemakmuran keluarga yang ada di sini. Well, itu sih pikiran aku doang, dan mungkin Tengkawang belum dilirik karena waktu panennya gak tentu, bisa 5 tahun sekali. "Kak, sini aku yang bantu bawa." Tawar David, anak berumur 11 tahun yang aktif menemani kami. Kuberikan ia tas ranselku sementara aku menggendong oleh-oleh yang diberikan warga sini; buah cempedak, buah prenggi dan empusut. Melinda, dia malah dapet beras 5 kilo. Baik-baik kan ya ampunnn. Bakal kangen deh sama masakan-masakan enak yang asing di mulutku seperti; rentak tanduk dan buah lepang. Mau nangis ninggalinnya. Perjalananku ke Kalimantan bener-bener ngasih sudut pandang baru soal kehidupan. Dan, tentu kami nerima oleh-oleh gak gitu aja, kami juga tahu cara berterima kasih yang baik, semua perbekalan kami, kami berikan kepada mereka dan mereka sangat senang menerima tumpukan indomie, sarden, kornet dan lain-lain, jadi ibaratnya tukeran. Seneng banget kan? Ahh mau nangis lagi. "Kamu mau nungguin kita, dek?" Tanyaku pada David dan Daniel, dua anak yang mengantar kami ini duduk berbarengan, katanya menemani kami menunggu bus. "Iya dek, dua jam loh nungguinnya." Ujar Melinda. "Gak apa-apa Kak!" Serunya. Aku mengangguk, mengajak salah satu anak ini bermain ampar-ampar pisang dengan tangan. Sedih rasanya akan berpisah dengan anak-anak ini dan kembali ke kehidupanku yang membosankan. Setelah hampir 2 jam menunggu, bus yang akan membawa kami ke Putussibau akhirnya datang juga. Aku memberikan pelukan hangat kepada David dan Daniel, lalu saat akan naik bus tanganku gak sengaja merogoh kantong parka yang kukenakan, ternyata ada beberapa butir permen dan coklat, langsung saja kuberikan pada mereka. "Dek, nih makasi yaa udah nemenin aku." Kataku. "Makasih Kakak!" Seru mereka berdua gembira lalu aku memeluk mereka sekali lagi. "Kalo mau ke sini lagi tapi gak penelitian boleh gak sih?" Tanyaku ke Kak Hadi ketika bus sudah berjalan. "Ehh kurang tau deh, bisa kali ya? Cuma kan merea bukan tempat tujuan wisata yang kita bayar terus dianter guide keliling-liling. Lo liat kita salama di sana gimana, mereka sukarela bantuin, nemenin, dikasih duit nolak harus dipaksa dulu baru nerima, terusnya kita balik juga gak tangan kosong." Aku mengangguk. Ingin aku kembali, dan tujuanku nanti sepertinya aku akan mengabadikan kunjunganku dengan tato khas Dayak di tubuhku. Nanti, kalau terlaksana. Semoga. **** Kembali ke kehidupan mahasiswi, aku jadi rajin bolak-balik kampus buat nyusun proposal tugas akhirku, dan karena wifi di perpustakaan kampus itu kenceng banget, dan ruangannya adem, jadilah aku memilih menyusun tulisanku di sana. Sedang asik menulis, sebuah pesan singkat masuk. Mbak Dwika: Dek, ketemu yuk? Main! Me: Hayyyy! Aku harus pulang tau Aku banyak cerita hehehe Yukkk ketemu Main apa??? Mbak Dwika tidak membalas, sebagai gantinya panggilan telepon darinya masuk. Langsung kututup pekerjaanku, meninggalkan komputer milik kampus dalam keadaan menyala lalu keluar dari perpustakaan. "Kemana Mbak?" Tanyaku. "Ya main-main aja dek, belanja-belanja kek, apa gitu." "Yaudah okeee, okee. Janjian di mall deket kampus aku ya?" "Oke, satu jam lagi? Aku baru beres mandi nih, abis itu ganti langsung berangkat." Ujar Mbak Dwika. "Oke, Mbak." Memutus panggilan tersebut, aku langsung keluar meninggalkan gedung, berjalan ke arah kostan untuk meletakkan barang-barang. Sedikit dandan untuk mengulur waktu, barulah aku ke luar, jalan menuju tukang ojek pangkalan dan minta diantar ke mall tempat janjian dengan Mbak Dwika. "Seminggu lagi Dek, aku diundang ke istana. Mau ikut kamu? Aku dapet undangan buat dua orang loh." "Wah? 3 hari lagi aku berangkat Mbak nemenin orang ke Garut, penelitian." "Siapa? Pacar?" "Aku gak punya pacar." "Cari pacar sana." "Males, buat apa pacar? Aku bisa kok apa-apa sendiri, malah banyakan aku yang bantuin orang." "Songong!" Hanya itu sahutan dari Mbak Dwika. Sebenernya, aku tuh anaknya baperan, makanya aku suka males deket sama cowok. Ya gimana ya, aku bukan orang yang tahu gimana cara ladenin cowok, jadi kalo ada yang baik malah baper. Aku nih, diliatin cowok pas makan di kantin aja salting. Dulu, pas ada senior nanya-nanya soal hobi, aku kebawa mimpi. Terus itu Mas Bran, baik banget sama aku, beliin cincin dan segala macem, kan otakku langsung mikirin masa depan. Huhuhu. Makanya, aku sok cuek aja, takut bapernya kebablasan nanti aku malah ribet sendiri. "Lagian kamu sok-sokan nyuruh punya pacar, kamu aja dari dulu cuma sama Mas Pram, gak ada perkembangan." "Aku putus sama Pram." "Baguss! Ah tapi kemaren-kemaren juga putus terus balikan. Sempit idup kamu, Mbak." Mbak Dwika tersenyum, entah kenapa senyumnya seperti menyimpan sesuatu. "Dek, mau ngomong serius dong." Ujar Mbak Dwika. "Apa Mbak?" "Itu rumah kita gimana? Diikhlasin aja?" Aku diam, aku dan Mbak Dwika memang tidak seharusnya ngekost karena kami punya rumah peninggalan Ayah, namun rumah itu disabotase oleh saudara dan saudari Ayah. Aku pernah hampir terbakar hidup-hidup di rumah itu, membuatku tidak ingin kembali. "Gak tau Mbak, aku takut balik ke rumah itu." Ucapku jujur, karena apapun keadaannya, aku lebih pilih tidur di mushola deh daripada balik ke rumah itu. "Yaudah kalo gitu, kita tinggal aja ya? Nanti kalau ada rezeki lebih aku coba ngajuin cicilan rumah, biar kita bisa tinggal bareng lagi, biar kalau mau ketemu gak usah janjian kaya gini. Kita gak misah." "Iya Mbak, aku juga penginnya ngumpul sama kamu." Mbak Dwika mengangguk. Selesai pertemuan kami hari ini, kusampaikan pada Mbak Dwika kalau ia berhak dapet jodoh yang lebih baik daripada mantannya yang gak jelas itu. Dan Mbak Dwika malah berdoa supaya aku cepet punya pacar. Huh! Gimana mau punya pacar? Tipe cowok aja gak punya. **** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD