Tiga puluh lima

1448 Words

Tangan kiriku sudah mulai normal, syukurlah. Namun latihan jalan yang agak berat. Entah kenapa aku seperti anak bayi yang gak punya tenaga, kakiku sangat lemah untuk berdiri menopang badan, apalagi kalau dipakai berjalan. "Sabar Bang, kan gak bakal langsung kaya semula." Ucap Jelita yang kali ini menemaniku. "Je, aku gak suka dipanggil Bang." Aku mengingatkan anak ini, entah ke berapa juta kali. "Hehehe iya, Mas. Yok istirahat dulu." Jelita membantuku duduk di kasur, ia lalu mengambilkan minum. "Lagian, mas Bran nih ngadi-ngadi aja. Udah tau gak bisa bawa motor, masih aja nekat bawa. Begini kan, kejungkir, tangan nyolok ke kawat, paha ketiban motor, dahi nyundul batu! Huh!" Aku tersenyum, cuma dia doang yang kalau nemenin aku latihan ngomel-ngomel, kalau Bu Veronica sabar banget, kal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD