REKSARA - 1

1109 Words
"Lepas," akhirnya kata itu meluncur juga dari mulut Reksa yang sejak tadi memilih sabar menghadapi gadis kekanakan berwujud perempuan secantik putri salju di sampingnya. Karena sudah tidak ada Neida di dekat mereka, Amarapun melepaskan pegangannya dari lengan Reksa tanpa mengeluarkan protes berarti. "Ke kelas sendiri, gue ada urusan," ujarnya seraya berjalan menuju arah yang berbeda dengan kelas Amara. "Eh, tunggu!" Amara kembali menahan tangan Reksa. Kali ini bukan lengan cowok itu korbannya, melainkan pergelangan tangan Reksa. "Lo diem - diem naksir sama gue ya?" ujar Reksa seraya memberi kode kepada tangannya yang kini segera disentak Amara. "Sembarangan! Gue cuma gak mau lo nyamperin cewek kegatelan itu lagi!" "Dia punya nama," Reksa berkata tidak suka. "I know. Tapi gue gak sudi nyebutnya," ujar Amara keras kepala. "Suka - suka lo." "Reksa!" Amara ingin menahan Reksa lagi tapi Reksa sudah lebih dulu menghentikkan langkah. "Apa lagi sih, Amara?" Terdengar desisan Reksa yang emosinya sudah mulai tersulut. Menghadapi seorang Ayudia Amara Kharisza memang harus sangat amat sabar. "Beneran gak mau ketemu Neida kan?" "Gue mau ke Warung Babeh. Lo mau ikut aja?" tawar Reksa yang tentu saja langsung disambut gelengan kepala Amara. Warung Babeh adalah markas untuk anak - anak Vanostra. Sekumpulan lelaki tampan yang sayangnya berandalan dimata Amara. "Males!" "Yaudah," setelah itu Reksa benar - benar pergi, meninggalkan Amara yang masih menatap punggungnya awas, takut jika Catrapatti Reksa Anuraga berbelok ke kelas 11 IPA 1, tempat si perempuan jadi - jadian bernama Neida itu berada. Setelah memastikan jika Reksa benar - benar menuju ke arah Warung Babeh, barulah Amara berbalik dan menuju kelasnya sendiri, 11 IPS 3. *** Bunyi langkah kaki dari teman - teman Amara yang sibuk berlarian mencari jawaban untuk LKS PKN yang harus mereka kumpulkan hari ini menyambut Amara. Gadis itu berjengit menatap teman - temannya yang bekerja sama dengan begitu baik. Memang kekompakan para murid itu baru terlihat disaat genting seperti ini. Tak ada kubu - kubu yang terlihat, hanya segerombol anak 11 IPS 3 yang saling menyalin dan membantu membaca tulisan Katya yang memiliki IQ diatas rata - rata namun tulisannya seperti ceker ayam. Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan, dan inilah milik Katya Shafiera, sahabat Amara. "Santai bener Ibu Bos. Udah ngerjain lo, PKN?" "Udah dong," walau Amara bukan termasuk jejeran murid kesayangan guru, namun gadis itu sesungguhnya juga memiliki otak yang cukup encer. Ia juga tak suka melalaikan pekerjaan rumah atau tugas lain yang diberikan para guru. "Eh, Ra," teguran Abi, sahabat lelaki Amara, membuat gadis itu menoleh. Abi si kapten tim basket kemudian menatap Amara dengan tatapan yang begitu Amara kenali. "Apa? Mau minta tolong tulisin jawaban di LKS PKN, soalnya lo harus ketemu anak - anak basket?" Abi memegang belakang tengkuknya sambil meringis tak enak. "Kalau boleh aja sih. Kalau engga, yaudah, gapapa. Pasrah deh gue kalau remed." Amara memutar kedua bola mata lalu mengambil alih LKS PKN milik Abi. "Nanti bayarnya pakai Sushi Tei ya?" ujar Amara disambut acungan jempol Abi. "Thank you, Princess," ujarnya seraya menepuk pelan puncak kepala Amara. "Princess tapi disuruh kerjain tugas lo mulu. Apaan?" canda gadis itu mengundang kekehan renyah Abi. "Tapi kan gue sayangin juga? Gue jagain? Gue manjain?" ujarnya. Ia tahu, Fabian Atmadja hanya menggodanya, namun Amara tak bisa menahan senyum untuk merekah dan kupu - kupu bertebangan liar di dalam perutnya. "Udah sana ketemu anak - anak. Nanti keburu bel, Abi!" Amara mengusir Abi karena tak ingin Abi tahu jika ia baru saja merasakan perasaan yang jika dikamus persahabatan tak akan terdeteksi artinya. "Iya, iya. Tadi dirumah sarapan gak? Mau gue beliin roti strawberry sama Milo kaleng?" "MAU!" jawab Amara cepat. Abi mengangguk lalu sekali lagi menepuk pelan puncak kepala Amara. "Oke, Princess," katanya sebelum beranjak meninggalkan kelas dan jantung Amara yang sudah berdegup sangat kencang hingga Katya hanya bisa menggelengkan kepala di sebelahnya. "Cantik sih, tapi naksir sahabat sendiri," ledek Katya yang langsung disambut pelototan Ayudia Amara Kharisza. *** "AMARA!" Amara yang sedang sibuk menyalin jawaban dari LKSnya sendiri ke LKS Abi hanya berdehem singkat tanpa menghentikkan pekerjaan atau sekedar menoleh kepada seseorang yang memanggil namanya nyaring. "AYUDIA AMARA KHARISZA!" mendengar namanya disebut dengan nada panik seperti itu, Amara akhirnya mengangkat kepala. "Apa?" "Abi berantem sama Kak Reksa di lapangan!" "HAH? APA? KOK BISA?" "Gak tau. Tapi mereka nyebut - nyebut nama lo!" Kening Amara berkerut bingung. "Mereka nyebut - nyebut nama gue?" Rizky, yang selalu mengetahui segala berita terupdate dari yang sudah terbongkar hingga sangat rahasia, mengangguk - anggukan kepala dengan bersemangat. "Mereka kayaknya ngerebutin lo gitu," Hoax, ujar otak Amara. Mana mungkin Abi sama Reksa memperebutkannya? Abi adalah sahabat Amara yang Amara tahu betul tak ada rasa selain seperti ke sahabat pada umumnya kepada dirinya. Dan Reksa? Well, Reksa adalah tunangannya Amara tapi mereka membenci satu sama lain. Jadi tidak mungkin bukan kedua cowok itu memperubtkan dirinya? "Lo salah kali," ujar gadis itu. "Engga, Ra. Udah ah, ayo ikut dulu! Keburu bonyok itu laki - laki lo!" "Anjir! Laki - laki gue, banyak dong??" "Ember. Dua kan?" Amara ingin menggetuk kepala Rizky namun tak bisa karena Rizky tiba - tiba membawanya berlari menuju lapangan basket outdoor yang ada di belakang gedung utama SMA Rajawali. Rizky tidak berbohong ternyata, kedua lelaki kesayangan para siswi di SMA Rajawali itu benar - benar sedang adu jotos dan nama Amara terseret didalam percakapan mereka. Amara tidak bisa mendengar dengan jelas apa sebenarnya sumber keributan itu namun ia buru - buru melerai mereka. "STOP, STOP!" Amara langsung berdiri di tengah - tengah Reksa dan Abi. "Kalian berdua apa - apaansih? Kayak anak kecil!" Amara benci keributan, walau ia juga sebenarnya suka membuat onar. Tapi ia tak suka menyaksikan perkelahian fisik. Hal itu membuat Amara takut. Itulah sebabnya Amara tak suka dekat - dekat dengan Vanostra dan menganggap geng yang di gadang - gadang geng terkuat itu seperti tak kasat mata. Abi meminta maaf kepada Amara dan hal itu entah kenapa membuat Reksa semakin kesal. Cowok itu kemudian menarik Amara ke sisinya. Amara begitu terkejut dengan genggaman Reksa di tangannya. "Lo, Fabian Atmadja, denger ini dengan baik ya. Cewek di samping gue ini," Reksa mengangkat tangan Amara yang kini ia rubah pegangannya menjadi genggaman ke atas, agar Abi bisa melihat genggaman itu dengan jelas. "Dia, tunangan gue. Ayudia Amara Kharisza tunangannya Catrapatti Reksa Anuraga, jadi lo, jauh - jauh dari tunangan gue!" setelah mengumumkan itu, Reksa segera membawa Amara pergi. Amara yang masih syok dengan pengumuman dari Reksa barusan hanya bisa menurut dan mengikuti cowok itu yang membawanya ke UKS yang ada di lantai 4 gedung utama SMA Rajawali. "Lo diem - diem suka sama gue ya, Sa?" tanya Amara membalikkan ucapan Catrapatti Reksa Anuraga tadi pagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD