Yang Sia-sia

941 Words
Saat jam istirahat, Rangga nampak sedang mencari-cari Dhira. Setelah lima menit berkeliling, akhirnya ia pun menemukannya. Namun ketika ia akan menghampirinya, seseorang memanggil Rangga dengan memakai embel-embel kakak. Membuat Rangga mengurungkan niatnya. Dhira yang tidak jauh dari tempat Rangga berdiri pun mendengarnya dan ikut menoleh, melihat siapa yang memanggil Rangga. “Liz?” ucap Rangga keheranan. “Kak Rangga! Akhirnya, aku menemukan Kakak!” seru gadis itu senang, ia terlihat lebih pendek dari Rangga—hanya sebatas bahunya. Kulit putih, wajah mungil dengan rambut hitam lurus melewati bahu. Gadis yang manis. “Hey! Kenapa kamu bisa ada di sini? Bagaimana kabarmu?” Rangga pun nampak tak kalah senang seperti gadis manis itu. Mereka terlihat, akrab. “Sangat baik!” cengirnya. “Aku berusaha keras buat pindah ke sini. Ayah sangat susah dibujuk. Aku merindukanmu, Kak!” Gadis yang dipanggil Liz itu pun memeluk Rangga. Dhira agak terkejut melihat hal itu. namun, sepertinya Rangga sudah terbiasa dengan hal itu. Sebab, pria itu tidak melayangkan protes sama sekali. Rangga melepas pelukan dan menatap gadis di depannya sambil tersenyum, lalu mengelus puncak kepalanya. “Aku juga kangen. Wah ... ternyata kau sudah sebesar ini.” Liz cemberut. “Aku kan memang sudah besar. Kak Rangga jangan anggap aku anak kecil terus dong!” Rangga terkekeh. “Iya, iya, yang udah gede.” “Kak, temani aku keliling yah? Please ...,” rengeknya sambi mengayun-ayunkan lengan Rangga. “Hm ... bagaimana ya ....” Rangga mengedarkan pandangan ke arah tempat tadi Dhira berada. Namun, perempuan itu sudah tidak ada di tempat semula. “Oke.” Ia pun memutuskan untuk menemani Liz keliling sekolahnya. Liz tersenyum senang. “Kak Rangga emang terbaik!” *** Rangga akhirnya bisa lepas dari Liz setelah bel masuk berbunyi. Ia menghela napas lelah. Rencananya untuk berbicara pada Dhira pun menjadi batal. Ia masuk kelas dan melihat perempuan itu sudah ada di bangkunya, sedang mengobrol bersama Karen. Ia pun memutuskan menghampiri Dhira. “Ra.” Dhira menoleh. Rangga hendak membuka mulut saat teman-temannya masuk kelas dan langsung menghampirinya. “Eh, Ga! Lu tadi sama siapa? Tumben banget bareng cewek. Pacar lu ya?” Rangga menghela napas. “Bukanlah!” “Bener? Kok deket banget? Sampe gandengan segala,” goda temannya. “Dia sepupu gue.” “Ohh .... Available gak? Kenalin bolehlah ....” Rangga bersedekap menatap temannya. “Denger ya, gue nggak sudi kalau dia sama cowok macem lu.” “Dih, emang gue kenapa? Cakep, iya. Tajir, iya. Penyayang, iya. Kurang apa lagi coba?” “Kurang waras!” sungut Rangga sebal. Kemudian Pak Agus masuk, menghentikan ucapan maupun tindakan yang hendak Rangga lakukan. Rangga menggeram kesal. Hari ini ia sama sekali tidak bisa berbicara dengan Dhira. Ia menghela napas. Masih ada waktu sepulang sekolah nanti. Ia bertekad harus berbicara dengan perempuan itu bagaimanapun caranya. “Ra, kamu lagi ada masalah apa sih sama si Rangga?” Karen bertanya setelah Rangga kembali ke bangkunya. “Nggak papa, kok.” Karen menatap Dhira tak percaya. “Kalau nggak ada apa-apa, nggak mungkin kamu secuek dan sedingin itu sama dia. pasti terjadi sesuatu, kan?” Dhira menghela napas. Ucapannya dihentikan oleh deheman guru mereka di depan. “Ada apa, Dhira, Karen?” “Maaf, Pak,” ujar Karen dan Dhira. Mereka pun terpaksa diam/ “Pokoknya kamu nanti harus cerita sama aku,” bisik Karen terakhir kalinya. Menit-menit di jam pelajaran terakhir terasa begitu lama dan menyiksa bagi Rangga. Bahkan selama pelajaran, ia sama sekali tidak bisa mencerna apa yang dibicarakan guru di depannya. Fokusnya tidak pernah lepas dari Dhira. Hingga begitu bel pulang berbunyi, Rangga bernapas lega seolah baru saja keluar dari dalam perairan. Setelah teman-temannya pamit, ia cepat-cepat menyusul Dhira. “Aku mau bicara,” ucap Rangga begitu berhasil menahan gadis itu. “Tolong lepas,” ucap Dhira dingin tanpa menatap Rangga. Rangga melepas cekalan tangannya. Dan Dhira masih tidak ingin menatap cowok di depannya. “Mau sampai kapan kamu mengabaikan aku, Ra? Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku tidak bermaksud—“ “Kak Rangga!” Rangga terpaksa menghentikan ucapannya dan menoleh pada orang yang memanggilnya. “Ya ampun! Kelas Kakak jauh banget sih, capek!” Liz tampak mengatur napas saat sampai di dekat Rangga. “Ada apa?” tanya Rangga heran. Liz cemberut. “Kakak lama, sih. Jadi aku aja yang nyamperin. Kita pulang bareng, ya? Aku udah bilang Ayah mau pulang bareng Kakak.” Gadis itu berubah ceria. “Kalau begitu aku permisi,” pamit Dhira melenggang begitu saja dari hadapan Rangga. “Ra! Tunggu, Ra!” “Kak Rangga!” Liz menahan lengan Rangga yang mencoba menyusul Dhira. Sementara perempuan itu terus berjalan tanpa menoleh sekali pun. Rangga pun akhirnya hanya bisa menghela napas pasrah. Lagi-lagi ia harus menunda pembicaraannya dengan Dhira. “Dia siapa?” Liz bertanya penasaran karena melihat raut wajah Rangga yang seolah tidak rela membiarkan Dhira pergi. “Dhira. Teman sekelas,” jawab Rangga pendek. Mood-nya sedang tidak baik sekarang. “Kakak lagi ada masalah ya sama cewek itu?” “Begitulah. Aku tidak sengaja menyakitinya.” Liz bergumam menanggapi jawaban Rangga. Lalu kembali bertanya, “Dia tidak mau memaafkan Kakak?” Rangga menghela napas berat. “Entahlah. Berbicara dengannya pun sangat sulit. Dia selalu menghindar dan mengabaikanku.” “Hm ... kalau begitu biarkan saja. Yang penting kan, Kakak sudah mau minta maaf. Kenapa sampai pusing begitu sih?” Rangga tertawa kecut. “Ya, andai semudah itu. Andai aku tidak peduli. Aku tidak perlu pusing begini.” “Jalan, yuk, Kak! Udah lama kan nggak jalan bareng? Mau yaa ...? Aku bakal balikin mood Kakak yang ancur gara-gara cewek itu.” Rangga hanya tertawa. “Baiklah. Hari ini khusus untukmu.” *** Sementara itu, Dhira berjalan menuju musala. Seperti biasa, ia melaksanakan salat Zuhur di sekolah. Di sana, ia melihat Latifah yang baru selesai wudu. “Fah, bareng ya.” “Oke.” Dhira pun segera mengambil air wudu dan melaksanakan salat berjamaah bersama Latifah sebagai imam. Usai zikir dan salat sunnah, Dhira termenung di atas sajadahnya—masih mengenakan mukena—sambil menelungkupkan wajah di atas lutut. Lalu menghela napas berat. Rangga benar-benar mengganggu pikirannya. Pria itu gigih sekali meminta maaf padanya. “Ra ....” “Hm.” “Kamu baik-baik aja?” “Hem.” “Mau cerita?” Dhira akhirnya mengangkat wajah. Menatap temannya. Mau cerita pun, Dhira bingung harus menceritakan apa. “Sepertinya aku akan pindah, Fah.” Akhirnya, malah itu yang keluar dari mulutnya. “Maksudmu? Pindah sekolah?” Dhira mengangguk. “Aku akan menetap di Bandung.” “Ah ... jadi begitu.” “Em,” Dhira membenarkan. “Jadi, aku rasa ... memang tidak akan mungkin. Apa pun yang aku rasakan tentangnya, hanya akan menjadi sia-sia.” Latifah tersenyum teduh. “Kamu salah, Ra. Tidak ada yang akan sia-sia, sekecil apa pun hal itu. Setiap kehadiran memiliki maknanya masing-masing.”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD