Kesalahan

1663 Words
Malam itu, Dhira sedang mengerjakan tugas-tugas sekolah di meja belajarnya. Lalu ia melihat gelang pemberian Rangga yang melingkar manis di tangannya. Membuatnya kembali teringat saat kejadian pagi tadi di sekolah. Dan itu membuatnya tersenyum. Apalagi kata-kata Rangga yang mengatakan kalau ia menghormati dirinya lebih dari apa pun. Juga senyuman yang membuat jantungnya berdebar-debar. Entah kenapa, semua itu membuatnya bahagia. Ia lupa, lupa siapa itu Rangga. Sementara di sisi lain, Rangga sedang memainkan gitarnya di balkon atap rumahnya. Ia pun melakukan hal yang sama. Melihat gelangnya dan membayangkan kejadian tadi pagi bersama Dhira. Saat Dhira menendang kakinya juga semua ekspresi lucu yang Dhira keluarkan. Ia sangat menyukainya. Lalu ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk. Ia pun segera membukanya. “Aku lupa mengucapkannya tadi pagi. Terima kasih.” Rangga tersenyum bahagia lalu membalas pesan singkat yang dikirim Dhira barusan. “Ah. Ya, tentu saja kau harus mengucapkan itu padaku. Aku sudah bergadang semalaman untuk membuatnya. Jangan dilepas apalagi sampai hilang!” Dhira tersenyum menerima balasannya tapi ia tidak membalas pesan itu lagi dan memilih melanjutkan belajarnya. **** Dhira sedang menaruh tugas di meja salah satu guru di kantor. Lalu Bu Catrin, seorang guru kesenian memanggilnya. “Ada apa ya, Bu?” “Ibu mau minta tolong, panggilkan Rangga dan suruh temui Ibu di kantor. Ada yang harus ibu bicarakan padanya.” “Oh, baik Bu.” “Oke. Tolong ya.” Bu Catrin tersenyum manis yang dibalas anggukan sopan dari Dhira. Kini Dhira sedang berjalan ke ruang musik dengan perasaan bahagia, pasalnya ia akan bertemu dengan Rangga. Entah kenapa dan sejak kapan, ia senang kalau Rangga mulai mengganggunya. Ia merasa itu sudah jadi makanan sehari-hari yang kalau tidak ada maka akan terasa hampa, kosong. Rangga memang ada di ruang musik bersama teman-temannya. Saat Dhira akan masuk, ia mendengar mereka sedang mengobrol dan menyebut namanya. Ia pun mengurungkan niatnya. Ia ingin tahu apa yang mereka bicarakan tentangnya. Kebetulan pintunya sedikit terbuka, jadi ia bisa mendengar percakapan mereka. “Ga, lu kok sering banget gangguin si Dhira, lu suka nungguin dia pulang lagi. Lu suka ya sama anak berjilbab itu?” tanya salah satu teman Rangga. Rangga nampak sedikit kaget dengan pertanyaan sahabatnya. “Apa? Gue? Suka sama tu cewek? Lu gila yah? Ya enggak lah!” elak Rangga. Bisa terlihat ia sedikit salah tingkah dan gugup, namun Dhira tak bisa melihat itu. Ia hanya mempercayai apa yang ia dengar. “Bener nih? Lu nggak bohong, kan?” tanya temannya yang lain. “Ya iyalah. Mana mungkin gue suka sama cewek aneh itu. Dia itu bukan tipe gue. Gak ada yang bisa dilihat, semuanya ketutup jilbab gitu. Mana ada yang mau? Bener nggak?” Rangga dan kawan-kawannya tertawa renyah. Dhira tertegun. Tangannya mengambang di atas gagang pintu. “Bener juga sih, lagian dia itu cewek sok alim banget. Gak suka gue liatnya. Tapi Ga, gimana kalo si Dhira suka sama lo?” tanya temannya lagi. Binar yang semula ada di wajah Dhira kini pudar. Sinar di matanya pun meredup seiring kata demi kata yang dilontarkan oleh laki-laki itu. Ada rasa sesak yang entah datang dari mana dan apa penyebabnya. Ia hanya tak menyangka sama sekali. Ia pikir, Rangga berbeda, ia pikir Rangga menyukainya, setidaknya sebagai sebagai teman. Ternyata, mereka sama saja. Kini, perasaannya sudah tak karuan. “Ya elah, siapa sih cewek yang gak suka sama gue?” ucap Rangga bangga dibenarkan oleh teman-temannya. “Gue cuma seneng aja jailin dia. Enak buat digangguin.” Dhira sudah tak tahan lagi. Ia tak bisa berdiri lebih lama lagi di sana. Dengan perasaan campur aduk ia membuka pintu. Semua orang menoleh ke arahnya. Rangga sedikit kaget karenanya. “Rangga, Bu Catrin menyuruhmu untuk menemuinya di kantor. Beliau bilang ada yang harus disampaikan,” ucap Dhira tanpa jeda, tanpa menatap Rangga, lalu pergi. Teman-temannya menebak kalau yang dimaksud Bu Catrin adalah tentang festival Rock itu. Namun dari pada itu, perhatian Rangga lebih tertuju pada Dhira. Bagaimana kalau gadis itu mendengar semua perkataannya? Ia pun segera menyusul Dhira dan memanggilnya. “Tunggu, Ra!” serunya. Dhira berhenti namun tak berbalik. Entah apa yang membuatnya begitu sakit hati. Ia hanya merasa Rangga tidak seharusnya mengatakan hal seperti tadi. Tanpa bisa ia cegah, air matanya jatuh begitu saja. Ia menangis dan mempercepat langkahnya. Rangga bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda—yang entah apa. Ia benar-benar takut Dhira mendengar semua perkataannya. Pulang sekolah, seperti biasa Rangga menunggu Dhira di depan musala. Ia segera menghampiri Dhira saat gadis itu keluar. “Aku sudah bilang jangan menungguku! Apa kamu tak bisa mendengar?” seru Dhira kesal dan segera berjalan pergi. Rangga sedikit kaget karena mendapat serangan mendadak. Bahkan ia belum sempat menyapa tapi Dhira tiba-tiba saja membentaknya. Ia pun kembali menghalangi jalannya. “Tunggu, Ra. Apa kamu—” “Ya. Aku mendengarnya. Kau puas? Tuan Rangga Verald Atmaja?” tukas Dhira. Ia mencoba untuk lebih tenang dengan menarik napas. “Aku lelah, aku ingin pulang. Tolong jangan ganggu aku lagi, aku bukan mainan yang bisa kamu mainkan seenaknya.” Dhira mencoba pergi namun Rangga tak membiarkannya. “Rangga!” bentak Dhira. “Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu ... aku bisa jelaskan semuanya.” “Sudahlah. Itu tidak penting bagiku. Dengar baik-baik. Aku tidak peduli apa yang kamu katakan tentangku. Terserah kamu mau anggap aku seperti apa. Itu bukan masalah buatku,” ujar Dhira. Namun pada kenyataannya, hatinya bertolak belakang dengan apa yang terlontar dari lisannya. “Aku hanya tidak menyangka, kamu lebih buruk dari yang aku kira. Aku tidak suka orang sepertimu,” pungkas Dhira, lantas segera berjalan dengan cepat menjauhinya. Rangga terdiam. Ia sadar, ia salah kali ini. Tapi ia tak bisa membiarkan semuanya terus seperti ini. Ia tidak mau Dhira membencinya. *** Malam itu Rangga lagi-lagi duduk di balkon atas rumahnya. Memandang langit, memikirkan semua hal yang sudah ia alami. Rangga teringat ucapan Dhira di sekolah tadi. “Aku tidak suka orang sepertimu” “Memangnya aku ini orang yang seperti apa?” gumamnya. Di sisi lain, Dhira menatap langit malam yang tenang. Semua perkataan Rangga di sekolah terus terngiang di telinganya. Entah apa yang membuatnya begitu sedih akan hal itu. Dhira memegang dadanya dan bergumam kalau rasanya sakit sekali. Ada perasaan kecewa di dirinya. Mungkinkah ia mengharapkan sesuatu? “Dhira ....” Uminya menghampiri Dhira dan duduk di sampingnya. “Kamu sedang apa di sini? Apa ada masalah?” tanya Uminya lembut. “Tidak apa-apa kok, Mi ....” Dhira terpaksa berbohong. Tidak mungkin ia bercerita kalau ia sedang bersedih hanya karena seorang Rangga. “Ra ... minggu depan kita akan pindah lagi,” ucap Uminya. Dhira nampak kaget dan berkata kalau ini terlalu tiba-tiba. “Kenapa pindah lagi sih, Mi? Dhira udah suka di sini ... lagi pula Dhira sudah kelas tiga, tidak seharusnya pindah sekolah,” Dhira menolak. Lalu Abinya juga menghampiri mereka. “Maafkan Abi, Ra. Kali ini kita tidak akan pindah lagi. Kita akan menetap di Bandung. Abi memutuskan untuk menyerahkan bisnis pada pamanmu. Abi sudah lelah, Abi ingin mengelola pesantren kita di Bandung.” Penjelasan Abi membuat Dhira terdiam, ia tak bisa menolak. “Dhira masuk duluan. Dhira sudah mengantuk.” Setelah mengatakan itu Dhira masuk ke dalam rumah. Ia terdiam di kamarnya dan memikirkan segala sesuatunya. Ia lalu melihat gelang pemberian Rangga yang masih melingkar indah di tangannya. Ia masih ingat jelas hari ketika Rangga memberinya gelang tersebut, lalu ia juga ingat saat Rangga mengatakan hal yang—entah kenapa—membuatnya sakit hati. Dhira menghela napas lelah. Tidak mengerti dengan sikap Rangga. Juga tidak mengerti dengan perasaan yang melanda dirinya. Dhira kemudian menutup mata, mencoba untuk tidur dan melupakan semua hal yang menurutnya tidak penting untuk dipikirkan. *** Keesokan harinya di sekolah Rangga terus mengganggu Dhira. Ia mencoba segala cara untuk minta maaf. Namun Dhira mengacuhkannya. Bahkan Dhira tidak marah saat Rangga mengacak-ngacak isi tasnya. Karen yang melihatnya pun merasa heran. Ia menemui Rangga dan menanyakan apa yang terjadi. “Dhira kenapa, sih? Kalian lagi marahan?” tanya Karen. Rangga menghela napas. “Aku melakukan kesalahan lagi. Mungkin aku menyakitinya,” jawabnya sambil memandang Dhira. Bel masuk telah berbunyi, artinya pelajaran akan segera dimulai. Kimia, pelajaran yang disukai Dhira namun dibenci Rangga. Bu Misa sedang membagi beberapa murid menjadi beberapa kelompok. “Bu, boleh tidak saya satu kelompok dengan Dhira?” ucap Rangga setelah mengangkat satu tangannya. Semua orang menatap Rangga dan menyorakinya. “Diam,” perintah Bu Misa yang seketika membuat kelas hening. Lalu menatap anak didiknya itu. “Itu tidak jadi masalah jika ada anggota kelompok Dhira yang bersedia barter. Ini akan adil, kan?” “Kalau gitu sama saya saja, Bu!” seru Karen. Ia lalu mengedipkan sebelah matanya pada Rangga. Rangga tersenyum senang. Setidaknya masih ada yang memihaknya. “Ya sudah, ganti posisi kalian,” perintah Bu Misa. Mereka bertukar tempat duduk, sekarang Rangga duduk di samping Dhira. Tapi Dhira malah mengajukan untuk bertukar kelompok, dia menanyakan apa ada yang ingin barter dengannya—yang artinya satu kelompok bersama Rangga. Dan jawabannya tentu saja, banyak. “Kenapa, Dhira?” tanya Bu Misa. “Maaf Bu, saya hanya merasa tidak nyaman saja. Tidak apa-apa kan, Bu?” “Ya sudah cepat. Setelah ini tidak ada pergantian anggota lagi. Mengerti? Ibu tidak mengizinkan siapa pun yang ingin pindah kelompok,” tegas Bu Misa. Rangga pun terlihat tak berniat membantah. Ia memandang Dhira yang pergi dari sampingnya. Duduk di bangku yang cukup jauh dengannya. Tanpa melihatnya sedikit pun. *** Saat jam istirahat, Dhira memutuskan menghabiskan waktu di perpustakaan. Ia sedang tidak ingin diganggu siapa pun atau berada di tempat berisik yang membuatnya pusing. Saat ini ia sedang butuh keheningan. “Ra.” Dhira menoleh pada Latifah yang memang memutuskan ikut bersamanya. “Kenapa?” “Apa kamu sudah menghapusnya?” “Menghapus apa maksudmu, Fah?” tanya Dhira tak mengerti. Temannya ini kadang-kadang memang suka berbicara tidak jelas seperti saat ini. “Perasaanmu ....” Dhira tertegun. “Kamu menyukainya, kan?” Dhira menatap Latifah dengan kening berkerut lalu tertawa sumbang. “Jangan gila, Fah.” Latifah masih menatap Dhira yang enggan menatapnya. “Ra ....” “Aku tidak menyukainya. Aku tidak mungkin menyukainya. Aku sangat-sangat membencinya!” tukas Dhira penuh penekanan. “Kamu berbohong, Ra ....” Latifah kini melihat Dhira yang tengah menahan air matanya. Dhira sendiri tidak tahu. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Ia menutup mata, menahan agar tidak ada cairan bening yang lolos dari balik kelopak matanya itu. Lalu kembali menatap Latifah dengan cairan yang menggenang di pelupuk mata. “Aku tidak tahu, Fah ...,” lirihnya. “Aku sendiri bingung. Apa yang harus kulakukan, Fah ...?” Dhira tak bisa lagi menahannya. Air matanya jatuh begitu saja tanpa ia perintahkan. Ia menangis di pelukan temannya. Mungkin ia memang menyukainya, tapi hal itu adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi. Dan ia melanggar prinsipnya sendiri seandainya hal itu benar-benar terjadi pada dirinya. Lagi pula, Rangga tidak mungkin menyukainya. Semua perasaan ini hanya akan menjadi sia-sia. Latifah mengusap-usap punggung Dhira, memberinya kata-kata yang semoga bisa sedikit membantu menenangkan sahabatnya itu. Tanpa mereka ketahui, Rangga mendengar percakapan mereka. Ia bersender pada dinding tembok. Memikirkan semuanya. Jika benar Dhira menyukainya, maka ia benar-benar telah menyakitinya.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD