Hitam dan Putih

1202 Words
Hari itu Rangga beserta kawan-kawannya telah bersiap berangkat ke lokasi festival rock yang akan mereka ikuti. Riuh semangat kawan-kawannya tak membuat Rangga ikut bersemangat. Ia nampak menunggu seseorang dengan cemas. “Ga, ayo naik. Kita mau berangkat, nih! Acaranya dimulai pukul 10, jadi kita harus berangkat sekarang, biar nggak telat,” kata salah satu temannya. “Iya bentar ah, bawel.” Rangga menunggu dengan tidak sabar. “Kenapa ia belum datang juga?” batinnya. Ia kemudian melihat Karen dan menghampirinya tanpa membuang waktu. “Karen!” Karen berhenti berjalan dan menoleh pada Rangga. “Ya? Ada apa, Ga?” “Lihat Dhira, nggak? Aku belum melihatnya sejak tadi pagi, apa dia tidak datang ke sekolah?” tanyanya cemas. Dahi Karen mengernyit. “Apa Dhira tidak memberitahumu?” tanyanya bingung. Rangga terdiam untuk sesaat. “Apa ada yang tidak kuketahui?” Karen menghela napas. “Dhira pindah sekolah. Dia akan pulang ke Bandung, kemungkinan besar ia tidak akan kembali lagi.” “Pindah?” Rangga seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Karen mengangguk. “Bukankah kemarin kalian bicara? Dhira bilang—” “Kapan dia berangkat ke Bandung?” pangkas Rangga cepat. “Aku rasa hari ini.” Setelah mendengar itu, Rangga langsung melesat dari hadapan Karen. Sementara Karen hanya bisa menghela napas, menatapnya iba. Kini Rangga sedang di perjalanan menuju rumah Dhira dengan motornya. Ia melajukannya dengan sangat cepat. “Dhira pindah sekolah. Dia akan pulang ke Bandung, kemungkinan besar ia tidak akan kembali lagi.” Lalu ia juga ingat perlakuan Dhira kemarin padanya yang­—terlampau baik—tidak seperti biasanya. Ia semakin melajukan motornya. Sementara itu, Dhira dan keluarganya telah bersiap untuk berangkat. Mereka memasukkan barang-barang mereka ke dalam mobil. Tidak ada senyuman di wajah Dhira. Ia terlihat murung. “Kamu kenapa, Ra? Apa kamu tidak mau pindah?” tanya Uminya. “Meskipun Dhira bilang tidak mau, tidak akan mengubah apa pun, kan? Umi dan Abi akan tetap pada keputusan kalian,” ucapnya tersenyum paksa. Umi dan Abi saling tatap merasa bersalah. Saat ia akan masuk mobil, langkahnya terhenti ketika mendengar suara motor. Ia menoleh untuk melihat siapa yang datang. Ia begitu terkejut karena ternyata Rangga yang datang. Rangga akhirnya bisa melihat Dhira, bersama kedua orang tuanya. Dan ia bisa melihat kalau Dhira memang akan pergi. Ia kesal. Sangat kesal. Dan juga marah. Setelah memarkirkan motor, ia menghampiri Dhira begitu saja, meraih tangannya dan membawanya tanpa izin—menjauh beberapa langkah dari keluarganya. Lalu melepaskan tangan Dhira sedikit kasar. “Kenapa kamu bisa ada di sini? Bukankah hari ini adalah hari festival?” tanya Dhira basa-basi namun juga terdengar sedikit cemas. Rangga tak percaya Dhira masih sempat menanyakan hal itu. “Apa itu yang kamu khawatirkan? Kamu keterlaluan, Ra ...,” lirih Rangga menatapnya nanar. Dhira menundukkan kepala. Tak berani menatap Rangga. “Kenapa? Kenapa kamu tak mengatakan apa pun? Kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa padaku?!” Rangga meninggikan suaranya. “Kamu tidak memberiku kesempatan untuk berbicara,” jawab Dhira dingin. Rangga membuang mukanya sebentar, membuang napas kasar lalu kembali menatap Dhira. “Apa aku ini tidak berarti apa-apa untukmu? Kamu mau pergi begitu saja?” tanya Rangga tak percaya. “Aku minta maaf ... aku harus pergi sekarang.” Dhira hendak pergi namun Rangga menarik lengannya hingga mereka kembali berhadapan. Abi Dhira yang melihat hal tersebut merasa terkejut anaknya diperlakukan seperti itu, ia pun bermaksud menghampiri mereka, namun Uminya melarang. “Aku belum selesai bicara. Dan kamu belum menjawab pertanyaanku,” sergah Rangga tajam. “Aku tidak bermaksud seperti itu. Dan aku sama sekali tidak menganggapmu tidak berarti apa-apa,” ucap Dhira. “Lalu kenapa? Kenapa kamu melakukan ini padaku? Kamu sendiri tahu hari ini sangat penting bagiku. Aku akan memenangkan festival ini lalu aku akan—” “Kalau begitu kembalilah. Teman-temanmu pasti sedang menunggumu sekarang,” tukas Dhira. Rangga menahan amarahnya. “Apa kamu masih tidak mengerti? Saat aku meninggalkan impianku dan berlari kepadamu. Aku menganggapmu lebih penting dari semua itu! Tapi kamu malah pergi tanpa mengatakan apa-apa padaku? Apa kamu tahu bagaimana perasaanku? Tidakkah kamu memikirkan perasaanku? Apa kamu tidak penasaran apa yang akan terjadi padaku jika kamu pergi dariku?” Dhira berusaha menahan air matanya. Ini juga sulit baginya. “Lalu apa kamu tahu perasaanku? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaanku?”—Dhira memberanikan diri menatap mata Rangga—”Kamu tidak mengerti apa-apa, bukan?” “Kalau begitu jelaskan padaku agar aku mengerti! Aku menyukaimu, Ra ... aku sangat menyukaimu. Kamu tahu itu, kan ...?” Rangga terdengar putus asa. Dhira memejamkan mata. Mencoba menahan diri. “Jangan katakan itu lagi. Pergilah,” ujarnya. “Aku tidak bisa pergi sekarang. Apa kamu tidak bisa untuk tidak pergi? Lalu bagaimana denganku, Ra?” Rangga menatap Dhira dengan sorot mata kesedihan. Ia terlihat sangat terluka. “Untuk pertama kalinya aku tertarik pada seorang wanita aneh berkerudung. Untuk pertama kalinya aku merasa dia begitu cantik dengan balutan jilbab di tubuhnya. Untuk pertama kalinya hatiku bergetar saat aku mendengarnya mengaji. Untuk pertama kalinya hatiku tergerak saat mendengar ucapannya. Untuk pertama kalinya—” “Cukup Rangga ... kumohon hentikan ...,” pinta Dhira sungguh-sungguh. Tapi Rangga yang belum selesai melanjutkan kalimatnya. “Untuk pertama kalinya jantungku berdebar-debar saat dia tersenyum padaku. Untuk pertama kalinya aku bahagia saat bersamanya. Untuk pertama kalinya aku merasakan hatiku sakit saat melihatnya terluka. Untuk pertama kalinya aku memberikan hatiku pada orang itu. Memang apa lagi jika bukan cinta?” Rangga berhenti sejenak, menatap gadis di depannya dengan mata legamnya. “Aku menyukaimu Ra .... Aku mohon jangan pergi. Apa kamu tidak menyukaiku?” Dhira balas menatap Rangga. “Aku menyukaimu. Aku menyukaimu, Rangga ....” Pada akhirnya air mata Dhira pun jatuh. Rangga menatap Dhira tak percaya. Ia tak percaya apa yang baru saja ia dengar. Dan melihatnya menangis, membuat hatinya sakit. Tapi Dhira belum selesai bicara. “Lalu apa? Meski aku juga menyukaimu, tetap tidak akan ada yang berubah. Kita tetap tidak bisa bersama. Karena kita—” “Karena kita berbeda? Begitu? Itu yang mau kamu katakan, kan? Memangnya kenapa jika kita berbeda? Aku bisa mengubahnya. Aku bisa menjadi seperti apa yang kamu inginkan. Aku bisa melakukan semuanya. Aku bisa berada di jalan yang sama denganmu. Untuk itu, tetaplah di sampingku. Aku membutuhkanmu untuk menemukan jalan itu. Aku mohon ....” Jalan itu? Dhira teringat dengan email yang ia kirim saat ia memberi nasihat pada Rangga, “Kau masih harus menemukan jalanmu.” Dhira menatap Rangga sungguh-sungguh. “Kamu adalah seseorang yang tidak bisa aku cintai. Saat hitam dan putih bersatu, maka tidak akan ada lagi putih, tapi yang ada hanyalah hitam,” lirihnya. “Dhira! Ayo! Kita harus segera berangkat!” seru Abinya. “Maaf Ga, aku yakin kamu bisa mencarinya bersama orang lain. Maafkan aku. Kembalilah.” Dhira pun pergi dari hadapan Rangga. “Kalau begitu tunggulah aku!” teriak Rangga. Dhira kembali menghentikan langkahnya. “Tunggu aku. Jika aku hitam, aku akan datang lagi padamu dengan putih. Aku akan mencari jalan itu. Setelah aku menemukannya, aku akan mencarimu dan menemukanmu. Dan kita akan berada di jalan yang sama. Hingga kamu tak memiliki alasan untuk tidak bisa bersamaku.” Dhira tak menjawab apa-apa. Dengan langkah cepat ia masuk ke dalam mobil. Tanpa bisa ia tahan, air matanya mulai jatuh satu-satu. Baginya ini terlalu kejam. “Dhira ...,” panggil Uminya lirih. Dhira terdiam sejenak merasakan hangat air mata yang tak mau berhenti mengalir, sekuat apa pun ia menahannya. Sesak dan nyeri. Tenggorokannya tercekat dan ia tak mampu lagi menahannya. Dhira menghambur pelukan Umi dan menangis sekeras-kerasnya. Meluapkan semua rasa sakitnya. “Aku benci .... Aku membencimu .... Aku sangat membencimu, Rangga ...,” lirih Dhira di sela isak tangisnya. Sementara Rangga menatap mobil Dhira yang melaju dan semakin menjauh. Tatapan nanar dan kehilangan. Lalu air matanya jatuh. Ia merasa takdir sedang mempermainkannya. Rangga menjatuhkan lutut ke atas aspal dan berteriak sekeras mungkin, meluapkan kemarahan, kekesalan, dan ketidakberdayaannya. Juga, rasa sakit yang dideritanya. “Tuhan!! Tidak cukupkah ibuku yang meninggalkanku? Kenapa dia pun? Kenapa, ya Tuhan? Kenapa kami harus berbeda? Dan kenapa ... kenapa aku begitu mencintainya ...?” Rangga berteriak, terisak. Tanpa peduli tatapan setiap orang yang melewatinya. Ia tidak peduli. Ia tak akan peduli tentang apa pun lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD