Selesai bicara dengan Liz, Dhira yang pergi menuju kelasnya harus bertemu lagi dengan Rangga yang sepertinya sengaja menunggunya di depan kelas.“Ra ... aku benar-benar minta maaf soal Liz. Aku juga tidak menyangka sama sekali kalau dia akan berbuat sejauh itu,” Dhira mendengarkan dengan tenang. “Sejak dulu kami memang dekat. Karena kami sering ditinggal bekerja, kami selalu main bersama. Dia menjadi sangat manja padaku. Dan aku pun sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Sepertinya dia salah mengartikan sikapku.”
Dhira tersenyum. “Aku mengerti. Mungkin dia hanya merasa aku telah merebut perhatianmu darinya.”
Rangga menghela napas. “Kenyataannya, kamu memang berhasil menyedot seluruh perhatianku hanya padamu, Ra.”
Dhira berdecak. “Nggak usah gombal.”
“Fakta,” Rangga mengangkat bahu sambil tersenyum jenaka. Lalu kembali emnghela napas. “Aku harap kamu mau maafin dia. Aku juga minta maaf, karena secara tidak langsung, aku pun menjadi penyebabnya.”
“Sudahlah, Rangga. Aku nggak mempermasalahkan itu. Lagi pula, aku baik-baik saja. Justru kamulah yang terluka,” Dhira menatap kening rangga yang masih tertempel perban. “Bagaimana keadaanmu? Apa kepalamu sudah baikan?”
Rangga tertegun, merasa heran, karena tidak biasanya Dhira perhatian dan lembut seperti itu padanya. Namun, tidak dipungkiri kalau ia merasa senang. Dengan senyuman lebar Rangga menjawab, “Aku baik-baik saja karena orang yang aku sukai mengkhawatirkanku.”
Jika biasanya Dhira akan berdecak, memutar bola mata atau bersungut kesal, kali ini Dhira hanya membalasnya dengan senyum tipis. Rangga menyadari perubahan itu, namun ia tak ingin mengungkitnya.
“Lalu bagaimana denganmu? Kamu sakit apa? Sampai berhari-hari tidak masuk sekolah. Kamu nggak tahu betapa kesepiannya aku tanpamu, Ra. Nggak ada yang bisa aku gangguin selain kamu. Ternyata kamu bisa sakit juga yah,” celoteh Rangga pura-pura tidak tahu apa-apa.
Dhira hanya terkekeh mendengar semua celotehan itu. “Aku baik-baik saja. Aku hanya kelelahan. Aku terlalu malas untuk pergi ke sekolah,” jawab Dhira sedikit bercanda.
“Wow! Seorang Dhira ternyata punya rasa malas juga.”
Dhira mendelik. “Aku juga manusia.”
Rangga terkekeh senang. Ia merasa damai, tapi juga takut entah untuk alasan apa. “Oh ya, besok adalah hari festival rock, kamu ikut ya? Rasanya aku gugup setengah mati. Aku akan bicarakan tentang ini pada Bu Catrin, jadi kamu tidak usah khawatir.”
“Tapi, Ga ....”
“Aku tidak mau mendengar alasan apa pun. Besok pukul delapan. Harus! Aku tidak akan pergi kalau kamu nggak ikut. Aku akan menunggumu.”
“Ooy! Rangga! Ngapain lu di sana? Ayo cepet latihan!” seru teman band-nya. Hari ini Rangga dan teman-teman band-nya mendapat izin meninggalkan kelas untuk latihan penuh di ruang musik.
“Oke! Tunggu bentar!” balas Rangga kemudian kembali menatap Dhira. “Aku akan pergi sekarang. Bye! Jangan lupa besok, ya!”
Rangga tak memberikan Dhira kesempatan untuk bicara, ia pun berlalu dari hadapan Dhira, tapi kemudian dia kembali lagi.
“Jika aku memenangkan festival ini, kamu harus menerimaku. Ingat itu.”
Rangga yang berpura-pura tak mengerti apa-apa tersenyum bahagia pada Dhira. Ia hanya tahu bahwa orang yang dicintainya juga mencintainya. Itu saja, sudah cukup baginya. Ia pun pergi dengan perasaan bahagia. Tapi tidak dengan Dhira. Ia ingin menangis saat itu juga.
***
Bel pulang telah berbunyi. Semua orang langsung membubarkan diri mereka. Terkecuali Dhira. Setelah salat Zuhur, ia menemui Mang Hajar untuk memberikan salam perpisahan pada beliau. Dhira menemukannya sedang bersih-bersih di lantai bawah.
“Assalamu'alaikum, Mang ....”
“Wa'alaikumussalam, eh ada Neng Dhira. Ada apa, Neng? Belum pulang?”
“Iya, nih. Dhira ganggu nggak, Mang?”
“Enggak, tenang aja, nggak ganggu kok. Ada perlu apa sama Amang?”
“Gini Mang, besok Dhira mau pindah. Dhira mau pulang ke Bandung. Kemungkinan besar Dhira nggak akan ke sini lagi. Makanya Dhira nemuin Amang sebelum pergi.”
“Pulang? Kan sekolahnya sebentar lagi? Kenapa harus pindah? Kalau Neng Dhira pindah, nanti Amang nggak ada temennya atuh.”
Dhira terkekeh. “Iya Mang, ini keputusan Umi sama Abi, Dhira nggak bisa nolak. Kan masih ada Latifah Mang, Dhira mau ngucapin banyak terima kasih sama Mang Hajar, selama ini Amang selalu bantuin Dhira, nemenin Dhira, makasih banyak ya Mang ....”
“Ah, si Eneng mah, udah sepantasnya atuh sesama muslim itu saling membantu.”
Dhira tersenyum. “Ini, ada sedikit kenang-kenangan untuk Amang. Dhira mohon jangan ditolak ya Mang ....” Dhira menyerahkan sebuah jinjingan pada Mang Hajar. Saat Mang Hajar membukanya, isinya adalah sebuah baju Koko lengkap beserta sarung dan pecinya.
“Maasyaa Allah ... terima kasih Neng, semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Insya Allah ini akan sangat bermanfaat.”
“Alhamdulillah. Aamiin .... Kalau gitu Dhira pamit dulu ya Mang, Dhira mau ketemu Pak Adi sebentar. Jaga kesehatan ya, Mang. Jangan sedih karena Dhira nggak ada yah,” candanya yang kemudian mereka saling tersenyum.
Dhira pamit sambil mencium tangan Mang Hajar yang mungkin untuk terakhir kalinya. Mang Hajar sangat terharu oleh perbuatan Dhira. Baginya, ia sudah seperti anaknya sendiri.
“Salam juga buat keluarga Amang ya, Assalamu'alaikum.”
“Nak Dhira juga, wa'alaikumussalam warohmatulloh ....”
***
“Kamu bener-bener yakin mau pindah?” tanya Pak Adi yang kini sedang berjalan di koridor bersama Dhira.
“Iya Pak. Ini adalah keputusan yang tidak bisa saya tolak. Saya cuma mau pamitan sama Pak Adi aja. Pak Adi jangan galak-galak terus sama anak-anak, kasihan tahu Pak. Oh, kecuali si Rangga. Bapak harus sering-sering hukum dia, biar kapok.” Dhira memasang wajah pura-pura kesal.
Pak Adi menatapnya. “Kamu yakin mau ninggalin Rangga?”
Dhira sedikit tertegun dengan pertanyaan itu. ragu-ragu, ia menoleh pada gurunya. “Maksud Bapak ...?”
“Dia itu bener-bener suka sama kamu. Bapak juga mau minta maaf sama kamu,” ujar Pak Adi.
“Untuk apa, Pak?” tanya Dhira bingung.
“Masalah kalian yang mencoret-coret dinding itu, sebenarnya Rangga yang memintanya.”
Dhira sangat terkejut, dia mencoba mencerna kata-kata Pak Adi.
“Dia memohon untuk bisa dihukum sama kamu, katanya ada yang ingin dia bicarakan berdua sama kamu. Awalnya Bapak menolak, tapi dia terus menerus meminta dan sebagai gantinya dia mau melakukan apa pun yang Bapak minta. Yah, anak itu memang nakal. Dia mencoret-coret dinding hanya untuk bisa dihukum bersama denganmu,”—Pak Adi berdecak—”Kalau kamu ninggalin Rangga, dia pasti akan sedih. Kamu udah ngasih tahu Rangga?”
Dhira berhenti. Kepalanya menunduk. Pak Adi agak bingung, apa ia salah bicara.
“Dhira? Ada apa?”
Sampai seperti itukah Rangga? Dia selalu melakukan banyak hal untuk dirinya. Tapi dirinya bahkan tak bisa membalas perasaan pria itu. Dhira berusaha mati-matian untuk menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia lalu mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Pak Adi.
“Tidak ada apa-apa. Terima kasih ya, Pak. Tolong jaga Rangga. Dhira pamit,” ucap Dhira.
Setelah itu ia pergi meninggalkan Pak Adi, teman-teman, beserta sekolahnya.