Kebenaran

1288 Words
Malam itu, Dhira duduk di kursi ayunan—di halaman rumahnya—seperti biasa, sambil membayangkan semua kenangan dirinya bersama Rangga selama beberapa pekan ini. Semua perasaan itu, nyata. Karena jika itu semua hanya ilusi, rasanya tidak akan semenyakitkan ini. Ia mulai menangis.“Kenapa aku harus menyukainya? Dari sejuta pria, kenapa harus dia? Kenapa aku harus jatuh cinta di saat aku akan pergi? Ya Allah ... jika ia bukan takdirku, aku mohon ... hilangkan perasaan ini. Perasaan ini sungguh menyiksaku. Karena aku mencintai seseorang yang tak seharusnya aku cintai.” Ketika ia tenggelam dalam lamunannya, Umi datang dan duduk di samping anak gadisnya. Dhira terlambat menyadari, jadi percuma saja ia tutupi tangisannya. “Kamu kenapa, Sayang? Ada masalah, hm? Mau cerita sama Umi?” “Umi ....” Dhira tak bisa menahannya. Ia menangis sesenggukan di pelukan Uminya. Tangisan yang memilukan. “Umi ... kenapa kita semua harus berbeda?” tanya Dhira di sela-sela tangisannya. Meski Umi tidak tahu apa yang terjadi pada anak gadisnya. Ia berusaha menenangkannya lantas berkata, “Karena perbedaan itulah yang akan menyatukan semuanya. Kita berbeda untuk saling menghargai, saling melengkapi, dan saling mencintai.” Dan Dhira terus menangis di pelukan Uminya. Setelah kejadian itu, Dhira sakit. Mag-nya kambuh, sudah beberapa hari ia tidak bisa masuk sekolah. Kepergiannya ke Bandung pun menjadi tertunda. Dokter yang merawatnya mengatakan kalau Dhira terlalu stres dan membuat asam lambungnya naik, hingga kondisi badannya tidak sehat. Yah, karena yang sakit adalah jiwanya, hatinya, bukan raganya. Menyimpan perasaan pada seseorang, menahannya, membuatnya hilang, bukanlah hal yang mudah. Karena hal itu bertentangan dengan hatinya, maka raganya pun memberontak. Hari itu, Karen dan Latifah datang menjenguknya. Ingin melihat kondisi sahabat mereka. “Hey, Ra ... aku dateng sama Latifah, bagaimana keadaanmu? Apa lebih baik? Aku kangen tau, Ra ...,” sapa Karen terlihat sedih. Tidak ada senyuman di wajah Dhira, ia malah membalikkan tubuh; membelakangi kedua temannya. “Ra ... aku minta maaf.” Kali ini Latifah yang berbicara. “Kamu tidak perlu minta maaf, Fah ....” Dhira akhirnya bersuara, terdengar sangat lemah. Lalu hening sejenak. “Apa kalian pernah jatuh cinta?” tanya Dhira tiba-tiba, masih dengan posisi membelakangi mereka. Ia tak ingin kedua temannya melihat wajahnya yang sekarang. “Hah?” Hanya itu yang keluar dari mulut Karen. Sementara Latifah tak mengatakan apa-apa. “Mereka bilang, jatuh cinta itu sangat indah, seperti melihat kembang api, atau seperti berada di tempat yang dipenuhi bunga-bunga. Tapi aku tidak merasakannya. Justru rasa sakit yang aku rasakan.” “Dhira ....” “Aku menyukainya. Aku menyukai Rangga ....” Dhira mulai menangis. “Aku akui aku menyukainya. Tapi aku tahu itu salah. Aku tahu ini tidak seharusnya terjadi. Dan aku telah melanggar prinsipku sendiri. Aku melakukan seperti apa yang kamu suruh, Fah. Tapi aku tetap tidak bisa. Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. “Saat ia mengatakan ia juga menyukaiku, aku sangat senang, tapi aku sedih di saat yang bersamaan. Karena perasaan ini percuma. Aku ingin sekali berbalik dan mengatakan kalau aku pun menyukainya. Tapi aku menahannya, karena aku tahu itu tidak boleh terjadi. Aku tak bisa jatuh cinta padanya. Pada seseorang yang tak semestinya aku cintai ....” Dhira mengungkapkan semuanya sambil terisak. Tanpa sepengetahuan Dhira, sebenarnya Karen dan Latifah datang bersama Rangga. Pria itu adalah orang yang paling mengkhawatirkan kondisi Dhira lebih dari siapa pun. Tapi ia tak ingin masuk, karena takut Dhira tak menyukainya dan menyuruhnya pergi. Karena itu, ia memutuskan untuk diam di dekat pintu kamar Dhira, melihatnya dari sedikit celah pintu yang sengaja tidak dibiarkan tertutup rapat. Dan Rangga mendengar semua pembicaraan mereka, termasuk pengakuan Dhira tentang perasaannya. Ia masih tidak mengerti. Tapi matanya memanas, tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Ia menutup mata untuk menenangkan dirinya. Jika tidak, mungkin ia akan berlari menerjang pintu di hadapannya dan membawa Dhira kabur bersamanya. Rangga menghela napas panjang. Tak bisa menahan diri lebih lama lagi, ia pun memutuskan untuk pergi. Dari pada tetap di sana dan malah nekat melakukan hal yang tidak seharusnya. “Loh, Nak Rangga nggak ikut masuk?” Pertanyaan Umi sukses membuat langkah Rangga berhenti dan tersenyum ramah pada Umi. “Tidak Tante, saya takut mengganggu. Saya lupa ada janji, jadi saya pamit pulang duluan. Permisi,” pamit Rangga sopan lalu beranjak pergi dari rumah Dhira. *** Dhira sudah kembali masuk sekolah dan baru saja selesai mengurusi kepindahannya. Rangga melihatnya keluar dari kantor, tapi ia tidak tahu apa yang sedang Dhira lakukan di sana. Lalu ia melihat Liz. Ia pun memutuskan untuk menemuinya. Rangga tahu kalau orang yang menjatuhkan pot untuk mencelakai Dhira adalah Liz. Ia belum sempat menanyakannya karena ia juga belum lama masuk sekolah dan setelah masuk, ia mendapat kabar kalau Dhira juga sakit, jadilah ia tidak sempat bertemu dengan Liz. “Liz!” Perempuan itu menoleh dan tersenyum senang. “Kak Rangga!” “Ada yang mau aku bicarakan,” ucap Rangga tanpa basa-basi. “Kondisi Kakak gimana? Maaf ya, aku nggak sempat jenguk,” Liz tersenyum polos. Rangga serasa muak melihatnya. “Liz, katakan yang sejujurnya. Kenapa kamu melakukan hal itu padanya?” “Apa maksud Kakak?” “Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu kalau kamu yang menjatuhkan pot waktu itu. Aku melihatnya.” Liz mengatupkan mulut rapat-rapat, bukannya merasa bersalah, ia malah tampak kesal. “Apa Kakak bertanya karena Kakak benar-benar tidak tahu?” Liz balik bertanya. Kata-kata itu malah mengingatkan kata-katanya pada Dhira. “Karena aku menyukaimu. Dan Kakak malah menyukai perempuan itu!” Rangga terbelalak tak percaya. “Just it? Hanya karena itu, Liz? Kamu sehat, kan?” Ditanya seperti itu, Liz semakin kesal. “Benar! Hanya karena itu! Aku nggak suka Kakak ngejar-ngejar cewek itu terus. Apa sih, yang bagus dari dia? Dia itu cuma cewek naif yang sok jual mahal. Nggak pantes buat Kakak—“ “Shut up, Liz!” bentak Rangga tak suka. “Kamu tidak berhak menjelek-jelekkan dia. Dia lebih baik darimu dalam hal apa pun!” Liz terhenyak, seumur hidup mengenal Rangga, ia belum pernah dibentak seperti itu sebelumnya. “Lihat, Kakak sekarang bahkan berani bentak aku. Kakak udah nggak peduli lagi sama aku!” Rangga menghela napas jengah. “Aku mau kamu meminta maaf padanya.” “Tidak mau.” “Liz!” “Tidak mau dan tidak akan pernah!” balas Liz berteriak. “Kakak kenapa sih?! Dia itu berbeda dengan kita, Kak. Sadar! Kakak tidak bisa bersamanya.” “Bukan itu masalahnya, Liz! Kamu sudah berbuat salah. Kamu mencelakai orang lain. Kamu harus minta maaf!” Rangga berusaha menahan amarah. “Kenapa semua orang mengatakan kalau kami tak bisa bersama? Kenapa semua orang bilang kalau kami berbeda? Apa jatuh cinta sebuah kesalahan!?”—Rangga mengusap wajahnya kasar dan menggeram frustrasi—”Sudahlah! Kau ikut denganku!” tukasnya kemudian menyeret Liz bersamanya. “Kak Rangga! Mau ke mana?” “Bertemu Dhira. Kamu harus minta maaf padanya.” “Enggak! Aku nggak mau, Kak! Lepas!” Sontak, Rangga dan Liz menjadi bahan tontonan murid lainnya karena mereka terus ribut-ribut. Rangga mencari-cari Dhira hingga akhirnya ia menemukannya di depan perpustakaan. “Ra.” Dhira yang dipanggil pun menoleh, lantas keheranan melihat Rangga dan Liz yang tampak kesal bersamanya. “Ya?” “Liz, cepat minta maaf.” “Tidak,” Liz masih kukuh pada pendiriannya. Ia tidak sudi meminta maaf pada Dhira. “Liz!” Rangga kembali berteriak. Melihat itu, Dhira agak terkejut. “Tenang, Rangga. Ada apa? Coba bicarakan baik-baik.” Rangga menghela napas. “Dia adalah orang yang menjatuhkan pot untuk mencelakaimu waktu itu.” Pengakuan Rangga sontak membuat Dhira sangat terkejut. Ia sama sekali tak menyangka akan hal itu. Dia menatap Liz yang enggan menatapnya. “Apa benar begitu?” tanyanya tenang. Liz kemudian menatap Dhira sengit. “Benar! Aku yang melakukannya! Dan aku tidak menyesal karena itu aku tidak akan meminta maaf. Lagi pula kau tidak terluka, kan? Kenapa aku harus minta maaf?” “Liz!” “Kenapa?” tanya Dhira masih tenang. “Aku ingin tahu alasanmu melakukannya.” Liz mendesis kesal. “Karena aku membencimu! Aku tidak suka karena kamu merebut Kak Rangga dariku! Kamu tidak pantas buat Kak Rangga! Kalian itu berbeda, harusnya kamu tahu kan kalau—“ “Liz! Cukup!” Rangga sudah tak tahan lagi. “Aku membawamu untuk meminta maaf, bukan untuk mengatainya hal yang tidak pantas! Aku sungguh kecewa padamu.” Rangga kemudian pergi begitu saja dari hadapan mereka. “Kak Rangga!” Liz hendak menyusul Rangga, namun langkahnya terhenti karena Dhira memanggilnya. Dia pun berbalik menatap Dhira. Tanpa dia duga, Dhira malah tersenyum padanya. Sesaat, Liz tertegun. “Kamu tidak perlu khawatir. Aku paham apa yang kamu katakan. Aku sangat paham. Karena itu, kamu tidak perlu takut kehilangan Rangga. Lagi pula, aku akan segera pindah dari sini. Kami tidak akan pernah bisa bersama. Tolong jaga Rangga baik-baik.” Setelah mengucapkan itu, Dhira pun pergi menuju kelasnya. Meninggalkan Liz yang termenung seorang diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD