Tak Sejalan

1007 Words
Gadis itu berjalan mondar-mandir di kamar sambil menggigit jemarinya. Wajahnya diliputi ketakutan. Terlintas hal mengerikan yang telah ia perbuat sebelumnya. Ia menghempaskan b****g di kasur empuknya, meremas rambut panjang lurusnya frustrasi.“Apa yang sudah kulakukan? Kau benar-benar bodoh, Liz! Gara-gara aku, Kak Rangga celaka. Apa Kak Rangga melihatku waktu itu?” Dia menggeram kesal. “Semua ini gara-gara cewek berjilbab itu! Apa yang Kak Rangga sukai dari orang seperti dia, sih? Aku benar-benar tidak mengerti!” Liz menghela napas, menenangkan diri. “Semoga Kak Rangga baik-baik aja.” *** Di rumah sakit, cukup lama Rangga ditangani, dan dokter berkata tidak ada luka dalam yang serius. Dhira menghela napas lega. Sedikitnya, rasa cemas yang ia rasakan mulai berkurang. Ia memutuskan untuk diam di sana dan menemani Rangga beberapa saat. Dhira sempat menghubungi orang tuanya juga atas perintah dari gurunya. Jadilah kini ia di rumah sakit bersama Umi. Karena Abi-nya masih bekerja. Setelah cukup lama, dan hari semakin gelap, orang tuanya menyuruhnya untuk pulang. Namun Rangga masih belum sadarkan diri. “Nak Dhira pulang saja, nanti kalau Rangga sudah siuman, Om kabari,” ucap Grada—ayah Rangga. Dhira mengangguk mengerti. “Kalau begitu, saya pamit, Om.” Grada mengangguk. Lalu giliran Umi yang pamit pada ayah Rangga. “Saya juga mohon maaf, karena terjadi hal seperti ini pada Nak Rangga.” Grada tersenyum. “Ini musibah, Bu. Bukan salah siapa-siapa.” “Semoga Nak Rangga cepat siuman ya, Pak. Kami pamit dulu.” “Amin. Silakan, Bu.” Tidak lama setelah Dhira dan Umi-nya keluar dari ruang inap Rangga, Rangga sadar dan orang pertama yang ia tanyakan pada ayahnya adalah Dhira. “Dia baru saja keluar untuk pulang,” ucap ayahnya. Rangga hendak bangun namun kepalanya yang terasa sakit menghambatnya. Ia meringis. “Kamu mau ke mana? Jangan banyak bergerak dulu, biar ayah panggilkan dokter.” “Rangga mau ketemu Dhra, Yah ...,” ucap Rangga sambil meringis menahan denyut di kepala. Ayahnya hanya diam menatap Rangga. “Ayah, Rangga mohon.” Ayahnya menghela napas. “Baiklah. Semoga ia belum jauh. Ayah juga akan panggil dokter. Kamu harus diperiksa dulu,” ucapnya pada akhirnya. Rangga mengangguk patuh. Grada pun keluar untuk menemui Dhira. Hingga ia bisa melihatnya berjalan di lorong ujung rumah sakit, lantas ia menyusul dan memanggilnya. “Rangga ingin bertemu denganmu,” ucap Grada. Dhira terdiam. “Dia sudah siuman?” tanyanya kemudian. Grada mengangguk. “Temuilah dia, sebentar saja. dia sepertinya sangat ingin bertemu denganmu.” Dhira menoleh pada Uminya, meminta persetujuan. Setelah mendapat anggukan dari sang Umi, ia pun kembali bersama Grada. “Kamu tunggu dulu, ya. Om mau panggil dokter dulu.” Dhira mengangguk dan menunggu di luar. Ia tidak mau masuk sendirian. Meski ia sangat khawatir, ia merasa salah jika langsung menemui Rangga. Tak berselang lama, Grada kembali bersama dokter. Ia pun mengajak Dhira untuk ikut masuk ke ruang rawat Rangga. Dhira akhirnya ikut masuk, ia berdiri di ujung dekat pintu, memperhatikan Rangga yang sedang diperiksa oleh dokter. Setelah dokter tersebut menyampaikan kondisi Rangga yang hanya butuh istirahat dan masih harus menginap, ia pergi. “Ra,” panggil Rangga begitu melihat Dhira yang masih betah berdiri di dekat pintu. “Kemari, Nak,” ucap Grada. Dhira menurut. Ia berdiri di samping ayah Rangga. “Ayah, aku mau bicara berdua sama Dhira,” pinta Rangga halus. Grada menurut, kemudian menunggu di luar untuk memberikan mereka privasi. Rangga bergerak ingin duduk yang langsung dibantu oleh Dhira. Melihat itu, Rangga tidak bisa untuk tidak tersenyum. Kini ia duduk bersandar pada bantal yang Dhira tumpuk di belakangnya. “Bagaimana keadaanmu?” tanya Dhira ragu. “Baik,” jawab Rangga singkat. “Apa sangat sakit? Terima kasih sudah menolongku,” ucap Dhira tulus tanpa memandangnya. “Sepertinya aku harus sakit dulu agar kamu memperhatikanku,” canda Rangga membuat Dhira menatapnya. “Aku bercanda. Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Ini tidak sakit sama sekali, justru aku sangat senang.” Rangga tersenyum. “Lalu bagaimana denganmu? Apa ada yang terluka?” Dhira terdiam, dalam keadaan seperti ini pun Rangga masih mengkhawatirkannya. Dhira menggeleng pelan. “Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa. Aku baik-baik saja,” jeda sebentar. Dhira menghela napas. “Kenapa kamu melakukannya? Kamu melukai dirimu sendiri karena aku. Aku tidak ingin berhutang budi padamu.” Rangga tersenyum kecut. “Kamu bertanya karena kamu benar-benar tidak tahu?” Mereka saling pandang dalam sesaat. Rangga kemudian melanjutkan, “Kalau kamu ingin membalas budi. Kamu cukup membalas perasaanku, Ra. Itu saja,” pinta Rangga. “Ini sudah larut, aku harus segera pulang. Umi sudah menunggu. Semoga lekas sembuh.” Dhira berusaha menghindar dan berbalik pergi. Namun Rangga memintanya untuk tinggal sedikit lebih lama. Karena ia belum selesai bicara. Kali ini Dhira mengalah dan berbalik menghadapnya. “Kamu belum menjawabnya, Ra. Apa kamu juga menyukaiku?” Dhira terdiam. Masih tanpa memandang laki-laki di hadapannya. “Apakah begitu sulit bagimu untuk mengatakan ya? Atau sekedar menganggukkan kepala?” tanya Rangga nanar. Dhira mengangkat wajah dan menatap Rangga tepat di manik matanya. “Sangat sulit bagiku, Ga ....” Rangga sedikit terkejut karena ternyata Dhira tak menyangkalnya. “Itu artinya .... Lalu kenapa? Aku menyukaimu, kamu pun begitu. Lalu apa lagi? Kenapa kamu membuatnya menjadi sangat rumit?” Dhira berusaha menahan air matanya. Menarik napas perlahan. Lalu berkata, “Karena tidak semudah itu bagiku. Bahkan jika aku menyukaimu, aku tetap tidak bisa. Kita tidak bisa bersama. Kita tidak bisa terikat oleh perasaan seperti ini. Karena kau dan aku, berbeda. Kita, berada di jalan yang berbeda.” Pada akhirnya air mata Dhira tumpah. Semua ini terlalu menyesakkan baginya. Rangga terdiam, mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Dhira. “Aku tidak mengerti, Ra .... Bukankah, setiap orang memang berbeda? Apa yang menjadi masalahmu? Aku benar-benar tidak mengerti.” “Kamu memang tidak akan pernah mengerti!” ucap Dhira frustrasi. “Kamu tidak akan pernah mengerti perasaanku, Ga.” “Kalau begitu jelaskan padaku. Bagaimana bisa aku mengerti kalau kamu tidak mengatakan apa-apa padaku?” Rangga berucap dengan sabar meski gadis di depannya kini berurai air mata dengan emosi yang tak stabil. Dhira menarik napas sejenak, menenangkan diri. “Dengar, Rangga. Aku yakin kamu paham bahwa kita memiliki keyakinan yang berbeda. Dan dalam keyakinanku, perasaanku padamu adalah sebuah kesalahan. Sebuah ketidakharusan.” Rangga tampak tidak terima dengan penjelasan dari Dhira. “Apa yang salah dengan perasaan? Apa yang salah dengan jatuh cinta? Perasaan bukanlah hal yang bisa kita kendalikan. Tidak ada yang salah dengan hal itu.” “Karena itulah aku bilang kamu tidak akan mengerti,” Dhira tersenyum pahit. Lalu menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya. “Sudah larut, aku harus segera pulang. Semoga lekas sembuh.” Dhira tersenyum kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu. “Ra!” Dhira tetap berjalan. Berapa kali pun Rangga memanggil namanya, ia hanya akan berjalan lurus ke depan. Tanpa menoleh kembali. Sementara, Rangga hanya bisa terdiam di ranjangnya. Memikirkan semua perkataan Dhira. Sesulit itukah, Ra? Apa aku benar-benar tak bisa menggapaimu? ***    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD