Chapter 30

1593 Words
"Kamu bukan lagi anakku. Di dalam keluarga Farikin, kamu tidak ada." Kata-kata Davin membuat semua orang terkejut dan terbelalak. Farel melihat dengan tatapan kaget ke arah sang kakak sepupu yang berbeda lima tahun darinya itu. Termasuk Hamdan yang tadi membatu, dia juga terbelalak. "Ayah!" panggil Hamdan. Davin tak ingin melirik ke arah anaknya, dia berkata, "Kamu menghina keluargamu sendiri, itu berarti kamu tidak mau lagi berada di dalam keluarga Farikin." "Tidak, Ayah!" Hamdan tiba-tiba berubah menjadi kalang kabut. Bibirnya bergetar takut setelah mendengar kata-kata dari sang ayah. "Ayah tidak bisa memutuskan untuk mengeluarkan aku dari keluarga, aku anakmu!" ujar Hamdan keras. "Pelankan suaramu!" tegur Davin. "Jangan kira kamu sudah terbiasa bersuara keras denganku, dan berani bersuara keras di sini." Davin sama sekali tidak ingin melihat wajah anaknya itu. Bukan hanya membuat malu keluarga Farikin tapi juga membuat dosa. "Ayah, apa yang Ayah lakukan? jangan bercanda-" "Lalu apa yang kamu lakukan kemarin?" tanya Davin memotong ucapan Hamdan. Hamdan terdiam. "Bercanda?" sinis Davin. Hamdan tak mampu menjawab pertanyaan sang ayah. "Bercanda dengan menghina Bibiku? kamu hanya anak kemarin sore, tahu apa kamu tentang Bibiku Lia? tahu apa kamu tentang apa yang dilakukan oleh Bibiku Lia? apakah kamu yang merasakan menjalani hari-hari masa kecil indahmu bersama Bibiku Lia? apakah kamu pernah dipangku sayang oleh Bibiku Lia? apakah kamu pernah disuapi oleh Bibiku Lia? apakah kamu pernah tertawa bersama Bibiku Lia?" *d**a Davin naik turun tak karuan. Saat mengatakan ini dia menahan tangis namun air matanya jatuh. Farel dan semuanya diam di tempat, termasuk Agri yang memilih diam melihat ke arah keponakan sang istri yang sedang menangis ini. Hamdan melihat wajah ayahnya dipenuhi dengan air mata sakit hati karena perbuatannya. "Memangnya kenapa jika Bibiku Lia mencari makan di tempat sampah? aku juga mencari makan di tempat sampah bersamanya, silakan siarkan video di semua stasiun televisi kalau aku juga mencari makan di tempat sampah biar kamu puas!" ujar Davin. "A-ayah …," bibir Hamdan terasa kelu untuk membalas ucapan sang ayah. Tangan Lia terulur dan menghapus air mata Davin yang turun. "Davin keponakan kecilku, jika kau lapar dan belum makan, marilah kita makan bersama. Aku akan mengambil beberapa makanan untukmu, bukankah kau suka bubur ayam dan teh hangat manis? aku akan buatkan untukmu," ujar Lia. Suara Davin bergetar dan dia berkata, "Bibi Lia bahkan masih ingat dengan jelas bahwa aku suka makan bubur ayam dan minum teh manis hangat, Bibi Lia juga ingat bahwa aku suka bermain ikan koi di kolam ikan. Lalu … bagian mana yang dari Bibi Lia adalah cacat mental atau *bodoh?" Davin malah semakin menangis keras. Dia menggenggam tangan sang Bibi dan mengecup punggung tangannya. "Bibi Lia, maafkan Davin …." "Oh tenanglah, jangan menangis. Aku tidak marah padamu …," ujar Lia. Kemudian Lia bernyanyi lagu yang entahlah lagu ciptaan siapa. "Jangan menangis … Davin keponakan kecilku jangan menangis … di sini ada aku yang bermain bersamamu …." Davin malah lebih menangis keras. "Bibi Lia, itu adalah lagu yang selalu Bibi Lia nyanyikan padaku saat aku masih bayi, Ibu Ninik selalu menyanyikan lagu itu dan bilang itu adalah lagu yang diciptakan oleh Bibi Lia sendiri." Farel merasa bahwa dia tidak bisa menenangkan sang kakak sepupu yang sedang menangis tersedu-sedu itu. Lia mengusap sayang kepala Davin, dia berkata, "Jika kau ingin mendengar laguku, maka aku tidak keberatan untuk menyanyikan lagu itu untukmu lagi. Aku akan menyanyi … jangan menangis … oh Davin keponakan kecilku … di sini ada aku yang akan bermain bersamamu …." Davin menangis sambil sesenggukan. Biar bagaimanapun, baik sifat atau karakter dari sang bibi adalah mudah pelupa dan linglung, namun masa kecilnya diwarnai dengan sang bibi sebelum Bibinya menikah dengan Agri. Davin besar di samping sang bibi, meskipun waktu itu Lia mengandung Farel, Davin masih bolak balik rumah Farikin untuk bermain bersama Lia. Setelah Davin berhasil mengontrol emosinya, dia berkata pada Hamdan. "Namamu akan dihilangkan dari keluarga Farikin, itu keputusanku untuk mempertanggungjawabkan perbuatan buruk yang kamu lakukan kemarin." "Tidak bisa seperti itu, Ayah!" tolak Hamdan. "Ayahku sebelum kematian menjemputnya beliau menyuruhku agar orang pertama yang harus aku lindungi adalah bibiku Lia. Beliau takut ada orang luar yang menghina atau memperlakukan beliau kasar karena kebiasaan beliau. Aku berpikir bahwa orang luar bisa saja menghina Bibiku Lia, tapi yang paling membuatku menyesal adalah anakku sendiri yang menghina Bibiku! Hamdan, kamu tidak lagi jadi anakku, aku masih punya dua anak setelah kamu pergi, silakan!" balas Davin. "Ayah! Ayah keterlaluan. Semua ini juga karena Ayah. Ayah tidak mendukung kebahagiaanku dengan gadis yang aku cintai. Aku lakukan ini agar perhatian Ayah tertuju padaku, agar Ayah dapat menyetujui keputusanku untuk menikahi Finisa!" ujar Hamdan keras. "Lancang!" tegur Davin. "Semakin hari kamu semakin lancang, Hamdan. Kamu boleh berbuat *kurang ajar padaku, tapi tidak dengan Bibiku Lia! hubungan apa hingga kamu mengaitkan niatmu yang tidak layak itu dengan bibiku?" Davin marah pada sang anak. "Hubungan? ah! bukankah Nenek Lia dulu tidak tahu apa itu pernikahan dan beliau dipaksa untuk menikah-" Bugh! Hamdan marah dan menendang anaknya hingga terjungkal ke belakang. Dia benar-benar meradang dengan kelakuan anaknya yang ini. Agri bergerak cepat saat Davin menendang Hamdan, dia meraih sang istri yang sedang linglung itu ke dalam pelukannya agar sang istri tak melihat adegan *kekerasan yang dilakukan oleh Davin pada Hamdan. Farel dan Nibras benar-benar merasa takut setelah mendengar ucapan Hamdan. Jihan Kamala berdiri takut bersembunyi di belakang sang suami. Sementara itu, Atika yang sedang hamil muda itu merasa agak pusing melihat pertengkaran ini. Seorang pelayan perempuan buru-buru memegang badan Atika dan menarik pelan Atika menjauh dari ruang makan. Hamdan melihat wajah marah sang Ayah. Dia merasa bahwa di matanya, dia tidak lagi dianggap sebagai anak. Hamdan berdiri dan melangkah lebar keluar dari dalam rumah Nabhan tanpa mengucapkan apapun. Hal ini justru membuat Davin lebih bertambah marah. "Mau ke mana kamu? kamu belum minta maaf pada Bibiku Lia!" hardik Davin. Hamdan tak mendengar ucapan sang ayah. "Anak durhaka!" kata ini telah dikeluarkan dua kali dalam kemarahan Davin untuk Hamdan. Jangan lagi ada kata durhaka untuk yang ketiga kalinya, sebab itu tidaklah baik. "Tenangkan amarahmu, Davin. Kamu membuat istriku terkaget dan takut," tegur Agri. Davin tersadar bahwa dia telah berbuat kasar dan marah di depan sang bibi dan yang lainnya. Dengan wajah menyesal Davin berkata, "Om Agri, aku minta maaf. Aku sudah berusaha untuk mendidik tiga anakku dengan baik, tapi aku tidak tahu anak yang ini akan sekurang ajar seperti itu." Agri memilih untuk diam selama beberapa detik. Dia melirik ke arah sang istri yang menyembulkan wajahnya dari balik pelukan Agri. "Suamiku, aku berpikir harus menghibur Davin keponakan kecilku, dia sedang tidak senang …," ujar Lia. Davin malah terlihat emosional lagi, dan dia malah hendak menangis lagi, di saat seperti ini sang bibi ternyata memikirkan perasaannya. "Bibi Lia …," ujar Davin menahan tangis. Di luar rumah, Hamdan melangkah cepat meninggalkan rumah Nabhan, wajahnya terlihat sangat tidak senang dengan apa yang baru saja diputuskan oleh sang ayah. "Jika Ayah sedikit saja pengertian mengenai apa mauku, maka semua ini tidak terjadi. Semua ini terjadi karena Ayah tak mendukungku. Dia ingin anaknya bahagia, tapi dia tidak mengerti kebahagiaan anaknya berada pada siapa." Wajahnya terlihat sangat marah. "Baik, jika Ayah tidak mendukungku, maka aku akan meraih sendiri kebahagiaanku itu dengan caraku sendiri," desis Hamdan. Dia memberhentikan taksi setelah menemukan taksi kosong yang lewat kompleks perumahan itu. °°° "Lamarannya hari Sabtu malam minggu! oh ya ampun, untung Bunda, Mama Laras dan Liham sudah selesai milih seserahan yang mau dibawa! eh! bukannya seserahan itu untuk malam mido yah? hahahha kita kecepetan!" ujar Moti senang di meja makan. Alan terlihat sangat senang ketika melihat senyum bahagia dari sang ibu. Liham ikut senang. "Oh iya, Mama Laras, Momok lupa!" ujar Moti. "Lupa apa, Sayang?" tanya Laras. "Mau lamaran resmi, baju kita satu keluarga harus sama!" ujar Moti heboh. "Nah, tuh kan! asik milih-milih seserahan Momok jadi lupa deh belum siapin seragam untuk keluarga kita!" ujar Moti. Laras terkekeh. "Tenang, kita akan membuat baju itu dalam waktu dua atau tiga hari, semua seragam kita beres, jangan panik." Moti mengangguk, dia melirik ke arah suaminya dan berkata, "Ran, itu tolong yah siapa itu yang bisa buat baju kita biar cepet selesai?" "Aku akan meminta beberapa desainer untuk membuat baju agar cepat selesai dan bisa dipakai untuk lamaran resmi nanti," balas Randra. Moti mengangguk. "Ran, pake jasa fotografer supaya dipublikasikan ke media supaya orang-orang tahu kalau anak laki-laki Momok berhasil melamar anak gadis orang dan segera nikah." Randra tersenyum dan mengangguk. "Baik." "Oh yah, sekalian kasih kabar ke Kak Agil, Gilan dan Gea kalau lamaran Alan malam minggu, ah Kak Cika juga, supaya mereka datang ke lamaran biar kita bisa foto bareng gitu," ujar Moti. "Baik," sahut Randra. Alan dan keluarga menikmati sarapan pagi. Setelah sarapan, seperti biasa Alan akan pergi menjemput Finisa ke apartemen kedua yang sekarang ditinggali oleh Finisa. °°° "Apa ini sudah sangat terlambat mengantarmu ke kantor?" tanya Alan melalui telepon pada Finisa. "Sedikit," jawab Finisa dari seberang. "Maaf, Bunda pagi ini terlihat sangat bersemangat untuk bicara tentang lamaran resmi kita jadi aku agak lama sarapan," ujar Alan. Finisa terkekeh. "Aku mengerti." Alan berjalan keluar rumah, dia masuk ke dalam mobilnya setelah mobilnya telah disiapkan oleh seorang bodyguard. Dia mulai mengendarai mobilnya keluar gerbang rumah. Namun, tidak disangka bahwa Hamdan berada di depan mobilnya menghalangi jalan mobil. "Ada apa dengan dia?" gumam Alan. "Pagi-pagi begini sudah ada di depan rumahku," ujar Alan. Dia turun dari mobil dan berkata pada Hamdan. "Tolong jangan halangi jalan mobil saya." Hamdan melangkah mendekat ke arah Alan. Wajah Hamdan terlihat marah sekaligus sombong. "Aku ingin berduel klewang denganmu untuk mendapatkan Finisa." Alan, "!!!" What?! °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD