Alan pulang ke rumahnya pada jam sepuluh malam setelah menemani Finisa beberapa jam setelah mereka tahu mengenai berita yang membawa nenek nenek dari salah satu sepupu mereka.
Pertama-tama setelah masuk rumah, dia melangkah ke dapur dan membuka kulkas. Suasana panas dan jengkel seperti sekarang ini harus dinetralisir dengan sebuah makanan yang dingin. Ada es krim di dalam kulkas, dia mengambil gelas es krim dan menyendok beberapa bola es krim untuknya. Setelah itu dia menutup pintu kulkas, namun dia malah hampir copot jantung.
"Akh!" Alan melangkah mundur saat melihat wajah sang adik bungsu yang terlalu dekat dengan wajahnya.
"Liham! kamu!" Alan menggertakkan giginya kesal agar dia tak teriak pada sang adik.
"Ternyata tampang orang yang menghalangi hubungan Kak Alan dan Kak Nisa seperti itu, wajahnya jelek, bahkan lebih tampan Pak Santo," ujar Liham mulai menilai.
Pak Santo yang sedang melangkah ke dapur untuk mencari Alan, "...." berhenti sejenak dan merasa agak senang karena pujian dari tuan mudanya.
"Dia berani sekali membawa-bawa nama Nenek Lia, ah! belum tahu itu kalau Kakek Agri marah, dia pasti akan segera jadi bangkai hidup!" ujar Lihatm menggebu-gebu. Dia mengepalkan kuat kepalan tangannya ke atas dan berkata lagi. "Ingin rasanya aku tendang wajahnya itu! sombong sekali! eh, Kak Alan, masa saat dia mengatakan hal-hal fitnah pada Nenek Lia, wajahnya sama sekali tidak ada rasa bersalah!"
Alan mulai menyendok es krim ke dalam mulutnya sambil mendengar adik bungsunya bercerita sesuka hatinya.
"Kalau Nenek Laras dikatakan seperti itu, apa yang akan Kak Alan lakukan?" tanya Liham.
"Mencekiknya sampai mati!" Alan dan Liham sama-sama berkata.
Liham melotot ke arah sang kakak.
"Nah, berarti kita memiliki ikatan saudara yang sesungguhnya!"
Alan, "...." memang kita adalah saudara sesungguhnya, apa yang membuat kita berbeda saudara sementara kita satu ayah dan satu ibu?
Adiknya ini lama-lama ada yang tidak beres dengan otaknya.
"Kalau ada yang menyinggung nama Nenek Laras, tidak akan aku ampuni orang itu," ujar Alan.
Liham mengangguk kuat.
"Coba tebak, pasti Om Busran sekarang sangat marah."
Alan mengangguk sambil makan es krim.
"Tidak perlu tebak, itu kenyataan."
"Pasti Om Farel juga marah. Terus ada Om Rafi di Makassar, pasti juga marah," sambung Liham.
"Liham, semua nama yang kamu ucapkan itu pasti mereka marah, mereka semua adalah anak dari Nenek Lia. Tidak mungkin mereka tidak marah setelah mendengar Ibu mereka dihina. Aku tanya padamu, jika Bunda dihina demikian, apa yang kamu rasakan?" tanya Alan.
"Marah!" jawab Bilal.
"Menangis!" jawab Liham.
Mereka menjawab secara bersamaan pertanyaan kakak mereka.
Alan melirik ke arah pintu ruang dapur, di mana Pak Santo yang adalah Kepala pelayan Basri itu agak menyingkir untuk memberi ruang pada Bilal melangkah masuk ke dalam ruang dapur.
"Orang yang menghina Bunda, tidak layak hidup di dunia ini. Apa mereka tahu penderitaan Bunda?" tanya Bilal. Bilal yang jarang bicara itu merasa agak emosional saat Alan memposisikan posisi Lia dan Moti pada kasus yang sama.
Alan menarik dan menghembuskan napas susah. Mulutnya terbuka dan dia berkata, "Dua minggu lalu aku mencoba bicara pada Oma Naila lagi, aku pikir dengan kedua kali aku bicara baik-baik dengan beliau, maka beliau pasti akan mengerti dan mengurungkan niatnya untuk menghalangi hubungan kita. Namun, nyatanya aku salah. Aku tanya apa alasan beliau tidak ingin aku menikah dengan Nisa, beliau menjawab karena keluarga Barsi dipimpin oleh Ayah Ran."
Liham dan Bilal mengerutkan kening mereka.
"Memangnya kenapa Ayah Ran yang memimpin keluarga Basri?" tanya mereka secara bersamaan.
"Aku …," ujar Alan, dia menggelengkan kepalanya.
"Ah, ada yang Kak Alan sembunyikan dari kita, ayo ngaku!" Liham langsung curiga pada sang kakak.
"Nggak ada apa-apa," ujar Alan.
"Ok, Liham kasih tahu Ayah, kalau Kak Alan-" ancam Liham.
"Ck!" Alan melotot sambil berdecak ke arah sang adik.
"Kalau begitu bilang, ada apa?" tanya Liham. Dia tetap mendesak sang kakak untuk mengaku.
"Karena dulu Ayah Ran pernah mengotori tangan beliau dengan membalas dendam atas orang-orang yang mencelakai Bunda. Ayah Ran disebut sebagai seorang pembunuh-" ujar Alan.
"Kurang *ajar itu nenek sihir!" Liham langsung jumawa emosi.
Wajah Bilal terlihat tidak senang setelah mendengar ucapan sang kakak.
"Kapan dia cepat mati?!" rutuk Liham.
"Liham!" ini adalah suara teguran dari Randra yang datang menemui anaknya setelah memastikan bahwa sang istri telah tertidur di kamar mereka.
"Ayah!" Liham cepat-cepat berjalan ke ayahnya. Wajahnya seperti orang yang sedang ditindas, padahal bukan dia. "Ayah, nenek itu sudah sangat keterlaluan. Jangan bawa-bawa nama Ayah! Liham tidak terima baik yah masa lalu Ayah dan Bunda diungkit kembali! Liham sudah lihat Bunda sengsara, Liham sudah lihat bekas luka Bunda, bekas operasi dan semua bekas luka lainnya! Liham tidak terima!"
Tiba-tiba mata Liham memerah dan dia menjadi marah.
"Memangnya nenek itu tahu fakta sesungguhnya Nenek Nulan dan Kakek Mochtar meninggal karena apa? nenek itu tahu apa mengenai Bunda? tahu apa tentang Ayah yang mencari Bunda-"
Randra memeluk anak bungsunya yang terlihat menahan tangis.
"Tenanglah, jangan bicara lagi."
Liham menghapus air matanya di pelukan sang ayah. Sejujurnya, jarang-jarang dia dipeluk oleh sang ayah.
"Kembali ke kamar, Ayah Ran ingin bicara dengan kakakmu Alan," ujar Randra. Suaranya terdengar agak lunak pada sang anak.
Liham mengangguk.
Dia dan Bilal melangkah menjauh dari dapur ke lantai atas. Namun pada saat Bilal hendak menutup pintu kamar mereka, sang adik malah main nyelonong masuk tanpa permisi.
Bilal hanya mampu diam dan menghembuskan napas pasrah.
Liham membuang tubuhnya ke atas ranjang empuk milik Bilal hingga badannya goyang naik turun.
"Kalau Kak Alan nikah sama Kak Nisa, aku nerima Kak Nisa sebagai Kakak ipar aku, tapi jangan harap aku mau nerima nenek sihir itu jadi besan aku, heum!" Liham mendengkus.
Bilal berkata, "Aku mau kunci pintu."
"Kunci saja," balas Liham.
….
Alan, Randra dan kepala pelayan Basri berada di sebuah ruangan rahasia di lantai atas.
"Jadi dia mengungkit masa lalu Ayah yang kejam?" tanya Randra.
Alan mengangguk.
"Dia tidak menerima besan seorang pembunuh?" tanya Randra.
Alan mengangguk.
Beberapa detik ruang itu sunyi.
"Tidak masalah dia menyinggung Ayah, tapi tidak jika menyinggung Bunda kalian," ujar Randra dingin.
"Tidak masalah apakah dia mau menerima kamu sebagai suami Nisa atau tidak, pendapatnya sama sekali tidak penting karena orangtua Nisa telah setuju kamu dan Nisa menikah. Abaikan nenek tua itu," ujar Randra.
"Baik, Ayah." Alan menyahut.
"Mengenai lamaran resmi, akan dilakukan sabtu malam di salah satu rumah kerabat Mama dari Nisa. Tempatnya tidak begitu jauh dengan rumah kita, mereka akan ada di sana pada Jumat sore untuk menyiapkan menyambut kita nanti," ujar Randra.
Alan mengangguk. Dia mendengarkan baik-baik ucapan sang ayah.
"Mengenai mahar dan sejenisnya, telah ayah setujui. Syarat dari mereka sama sekali tidak memberatkan pihak kita, itu sangat mudah."
Alan mengangguk.
"Pada saat lamaran nanti, tidak perlu ada Oma dari Nisa, Ayah tidak ingin dia mengacaukan suasana senang Bunda-mu," ujar Randra.
"Baik, Ayah." Alan mengangguk mengerti.
"Dan satu lagi, mengenai anak dari Davin itu, abaikan dia. Sekarang dia telah berurusan dengan keluarga Nabhan, itu membuatnya akan sengsara," ujar Randra.
Alan mengangguk patuh.
°°°
Hari baru telah tiba.
Di ruang rawat milik Davin Farikin itu, suasana tidak setenang ruang rawat milik pasien yang lain.
Davin dengan emosi yang belum mereda turun dari ranjang.
"Bang, jangan banyak gerak-" ujar Dian.
"Antarkan aku ke rumah Bibiku Lia, sekarang!" pinta Davin.
Dokter datang untuk memantau kondisi Davin.
"Tuan Davin, mohon bersabar dulu, saya periksa dulu yah."
"Tidak perlu, saya sudah sembuh. Hati saya yang sakit, bukan badan saya," jawab Davin tegas.
Dian hanya bisa menarik dan menghembuskan napas kasar.
Davin memakai sandal dan mencoba mencabut jarum infus.
"Abang!" Dian agak berseru.
"Dokter, tolong buka ini, saya tidak ada waktu berdiam diri di sini," ujar Davin.
"Tapi saya periksa dulu yah baru Anda bisa pergi," bujuk dokter.
Davin mengangguk.
"Tidak pakai lama. Masalah menantiku untuk diselesaikan."
°°°
Kepala pelayan buru-buru melangkah ke arah ruang makan, di mana ada Lia yang sedang menyendok bubur ayam untuk sang suami.
Padahal suaminya telah banyak makan bubur ayam pemberian dari istrinya.
"Tuan Besar," ujar kepala pelayan Nabhan pelan.
Agri melirik ke arah kepala pelayan.
"Oh ya ampun, aku lupa kalau kau sudah makan banyak, suamiku." Lia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Langkah kaki terdengar memasuki ruang makan.
Davin berhenti di ambang pintu dan melihat ke arah sang bibi.
Di belakangnya ada dua orang bodyguard Farikin yang menyeret Hamdan masuk ke rumah Nabhan.
Agri dan yang lainnya menoleh ke arah kedatangan Davin.
"Um? oh Davin keponakan kecilku …," ujar Lia setelah dia mengingat siapa Davin ini.
Mata Davin memerah dia berjalan mendekat ke arah sang Bibi lalu menggenggam tangan Lia dan berkata, "Bibi Lia … maafkan Davin yang gagal mendidik anaknya hingga dia berkelakuan kurang *ajar padamu."
Agri melihat ke arah wajah Davin yang sedang menangis sedih.
Lia terlihat linglung dan bingung dengan apa yang terjadi.
"Davin keponakanku yang kecil … jangan menangis, Bibi akan menemanimu main di kolam ikan dan memberi makan ikan koi di kolam, oh keponakanku yang kecil."
Lia mengusap sayang kepala Davin yang sedang menunduk menangis.
Air mata Davin turun lebih deras setelah mendengar ucapan tulus dari sang bibi.
"Oh jangan menangis, Bibi tidak akan meninggalkan kamu, ayo bermain bersama," ujar Lia.
Namun, Davin tetap saja menangis. Betapa baiknya sang bibi ini, namun anaknya mengatakan bahwa sang Bibi mengalami cacat mental.
"Hamdan, minta maaf pada Bibiku sekarang juga," pinta Davin.
Hamdan membatu melihat sang ayah menangis.
"Kau tidak dengar kata-kataku?" ujar Davin menahan marah.
Lia masih terlihat linglung.
"Kamu bukan lagi anakku. Di dalam keluarga Farikin, kamu tidak ada."
°°°