"Adikmu itu benar-benar keterlaluan!" Davin berteriak marah di depan Adnan.
Malam ini suasana rumah Farikin sama sekali tidak damai.
Hanya terdengar suara marah dari Davin yang merupakan Tuan Tua Farikin itu.
Wajah Adnan terlihat sangat menyesal dengan apa yang terjadi. Rupanya sang adik tidak bijak dalam menanggapi masalahnya, masalah itu merembes menjadi masalah besar antar keluarga. Adnan tak habis pikir dengan jalan pikir dari adiknya itu.
Puspa membujuk anak-anaknya agar tak keluar kamar, sebab untuk sekarang ini, dia tak ingin dua anaknya melihat betapa marahnya sang ayah mertua pada adik iparnya.
Dian menutup wajahnya dengan telapak tangan, dia duduk tak jauh dari Davin yang sedang berdiri sambil marah-marah. Perempuan paruh baya yang lebih dari 60 tahun itu menangis sedih.
"Amdan … apa yang telah kamu lakukan, Nak?"
"Ya Allah … ya Tuhanku … ada apa dengan anakku yang itu?"
Dian hanya bisa menangis meraung, dia meratapi apa yang telah diperbuat oleh sang anak bungsu.
Andan merasa sakit kepala dan sekaligus sakit hati atas apa yang telah diperbuat oleh sang adik. Entah dia ingin menenangkan sang ayah yang sedang marah atau ibunya yang sedang menangis.
"Bawa anak itu ke mari! ke hadapanku!" Perintah Davin.
"Kenapa kalian lama?!" hardik Davin.
"Heii!" Davin mengamuk.
"Aah!" Davin memegang belakang lehernya lagi, mata putihnya timbul dan dia pingsan. Serangan tekanan darah tinggi menimpa pria yang berusia 62 tahun itu tiba-tiba ambruk.
"Abang!" Dian buru-buru berdiri ke arah sang suami. Sementara itu Adnan bergerak cepat menahan tubuh sang ayah.
"Ke rumah sakit, siapa kan mobil!" perintah Adnan.
°°°
Finisa sedang mencuci piring makan malam dia dan Alan.
Sementara itu Alan sedang memandangi kekasihnya yang sedang mencuci piring itu.
"Aku memasak dan kamu mencuci piringnya, bukankah kita pasangan yang serasi?" tanya Alan.
Finisa memutar bola matanya.
Mereka baru saja meresmikan apartemen baru milik Alan yang bernuansa putih itu.
"Pulang sana, besok kamu harus kerja," ujar Finisa.
"Nisa, tolong jangan ganas padaku seperti hari-hari biasa. Kita harus menikmati suasana berdua ini agar-"
"Agar jangan kebablasan, kamu harus cepat pulang ke rumahmu. Kalau tidak mau pulang, aku akan menelpon Tante Momok dan katakan pada beliau kalau kamu terus-terus mencari kesempatan mepet-mepet," potong Finisa.
"Hahahaah!" Alan terbahak saat mendengar ucapan Finisa yang memotong ucapannya.
Ponsel berdering.
"Ponsel siapa itu? aku atau kamu?" tanya Finisa.
"Sebentar aku lihat," jawab Alan.
Dia berjalan ke ruang tamu di mana ada tas kerja Finisa dan ponselnya sendiri diletakkan di meja ruang tamu.
"Oh, Liham yang telpon, ck! mau apa lagi anak ini? tidak tobat-tobat membuka rahasia orang." Alan mencebik.
Dia meraih ponselnya dan berjalan ke dapur tempat di mana Finisa sekarang telah meletakkan piring ke rak piring.
"Punyaku?" tanya Finisa.
"Bukan, ini punyaku. Dari si Liham mulut cerewet," jawab Alan.
"Oh, hahaah. Kalau begitu angkat." Finisa tertawa geli.
"Hum." Alan menyahut.
Dia mengangkat telepon.
"Kak Alan! berita besar! berita besar! Nenek Lia difitnah oleh orang!" Liham bicara bagaikan sedang dikejar harimau dari belakangnya.
"Apa? Lihat jangan teriak!" balas Alan.
"Masa *bodoh! pokoknya ini berita besar!" balas Liham.
Terdengar suara Cassilda dari seberang.
"Liham, saham Surya Manggarai Media tiba-tiba kacau! harganya turun! ah! semua profil dan data-data dari Surya Manggarai Media tiba-tiba hilang! itu beritanya beredar!"
"Apa?! siapa yang melakukan semua itu?!" tanya Liham.
"Tidak tahu! eh! lihat ini, berita tentang Nenek Kak Gaishan dan Kak Ghifan sudah menghilang tapi malah berita buruk yang menimpa Surya Manggarai Media," jawab Cassilda.
"*Mampus! berani-berani sekali yah situ fitnah Nenek dari kakak sepupu saya, bilang beliau autis dan *bodoh, bilang beliau cacat mental, dipaksa nikah sama Kakek Agri! hancur! hancurkan!" suara Liham terlihat puas dengan berita terkini diterima. Dia mengutuk keras kabar buruk itu.
"Cassy, balas komen, cepat!" perintah Liham.
"Mau komen apa?" tanya Cassilda.
"Komen gini, siap-siap gulung tikar lalu tinggal di gunung!" jawab Liham.
"Cepat!" perintah Liham.
Wajah Alan tiba-tiba berubah serius.
°°°
Berita mengenai kabar buruk itu beredar luas di media massa, namun berkat keahlian dari tim IT Nabhan dan beberapa kerabat lainnya, termasuk Kemkominfo, berita itu ditakedown dan dilarang untuk disebarkan karena mengandung hoax dan unsur pencemaran nama baik.
Alan dan Finisa duduk diam di ruang tamu apartemen kedua Alan.
"Apa yang ada di otak pria yang bernama Hamdan itu?" tanya Alan tak percaya dengan apa yang baru saja dia baca dan dengar dari sang adik.
Video dari pengakuan Hamdan sempat didownload oleh sang adik sebelum video itu dihapus.
Finisa menggigit kukunya. Dia merasa bahwa Hamdan kali ini benar-benar keterlaluan.
Dia berani sekali menyinggung Nyonya Besar Nabhan tanpa takut. Itu berarti dia juga menyinggung Tuan Besar Nabhan dan semua Nabhan yang ada.
"Aku sudah merasa aneh dengan pria ini yang tiba-tiba muncul dan menghalangi hubungan kita," ujar Alan.
"Mengatakan Nenek Lia autis atau cacat mental dan kata-kata tidak layak lainnya, itu pasti akan membuat Kakek Agri marah besar." Alan melirik ke arah Finisa.
Finisa mendongak dan menatap Alan. Dia berkata, "Alan, apa semua ini ada hubungannya dengan hubungan kita?"
Alan diam.
°°°
Pada jam sembilan malam, Agri berhasil membujuk sang istri pergi ke dunia mimpi setelah mereka selesai makan malam yang sederhana, yaitu berupa sup ayam yang lezat.
Melihat betapa damainya wajah sang istri yang tertidur, telapak tangan kanan Agri terukur menyentuh pipi sang istri.
"Lia istriku … kamu tidak autis atau *bodoh."
"Kamu juga tidak cacat mental atau aneh."
"Bagiku kamu sempurna, tidak ada perempuan lain yang sesempurna kamu."
"Tuhan telah menciptakan perempuan yang paling sempurna untuk menjadi pendampingku."
Senyum lembut tercetak di bibir Agri.
Setelah menyentuh pipi sang istri, Agri memperbaiki letak selimut dan turun dari ranjang.
Dia berjalan dari kamarnya menuju ke ruang kerjanya yang berada di samping kamar tidurnya.
Setelah masuk, dia melihat dua anaknya beserta tiga cucunya yang duduk diam di ruang itu.
Melihat ayah mereka telah datang, Farel dan Busran buru-buru berdiri, hal yang sama dilakukan oleh anak-anak mereka.
Nibras, Gaishan dan Ghifan ikut berdiri.
Pertama-tama, Agri mendekat ke arah dua anaknya.
"Berapa jam membutuhkan waktu untuk menghilangkan berita itu?"
Busran menjawab, "Butuh waktu satu jam, Ayah."
Plak!
Plak!
Bunyi tamparan mendarat di masing-masing pipi kiri Busran dan kakaknya.
"Satu jam? itu terlalu lama. Apa kalian menunggu hingga semua orang tahu dan menghina istriku dengan sebutan cacat mental baru kalian bergegas menghentikan berita itu?" tanya Agri dingin.
Farel dan Busran menggelengkan kepala mereka.
"Semakin lama kalian menghilangkan berita itu, maka semakin banyak yang akan mengungkit masa lalu istriku. Semakin mereka akan mencelanya karena makan makanan sampah!" marah Agri.
Busran dan Farel tak membalas ucapan sang ayah. Tiga anak mereka juga sama, wajah Nibras dan kedua sepupunya terlihat menyesal.
"Aku tanya padamu Farel, apa kau selama ini melihat istriku dengan pandangan perempuan aneh?" tanya Agri.
"Tidak sama sekali. Istri Ayah adalah wanita yang luar biasa baik bagiku, beliau adalah Ibu terbaik di dunia ini, untukku dan untuk dua adikku," jawab Farel tegas.
Jeda selama dua detik, kemudian Farel berkata lagi, "Kami anak-anak dari Ibu menerima Ibu kami apa adanya, sama seperti Ibu yang menerima kami tanpa syarat apapun. Bagi kami, nyawa pun tidak akan cukup untuk menggantikan perjuangan Ibu kami dalam mengandung bahkan melahirkan kami."
Agri menelan salivanya.
"Besok pagi, aku tidak mau mendengar nama Surya Manggarai itu tetap ada di dunia hiburan manapun, buat mereka minta ampun di kaki istriku."
"Baik, Ayah." Farel dan Busran mengangguk.
"Apa tindakan Farikin?" tanya Agri.
"Mereka telah membantu Nabhan untuk menghilangkan berita itu," jawab Farel.
"Di mana Davin pada saat ini?" tanya Agri.
"Abang Davin tiba-tiba terkena tekanan darah tinggi setelah mendengar kabar ini dan beliau dilarikan ke rumah sakit, Ayah." Farel menjawab.
"Itu yang kuharapkan, biar dia tahu apa yang telah anak bungsunya itu lakukan," ujar Agri dingin.
"Masalah apa dengan Nabhan hingga dia berani menyinggung istriku?" tanya Agri.
"Sebenarnya … anak Abang Davin tidak ada masalah apapun dengan kami atau Nabhan," jawab Busran.
"Kalau tidak ada masalah kenapa dia membuat masalah dan menggali lubang untuk kuburannya sendiri?!" marah Agri.
"Itu … Hamdan dan Abang Davin sudah sebulan ini tidak berhubungan baik," jawab Busran sambil berpikir, harus jawaban apa yang pas untuk dikatakan pada sang ayah tanpa membawa nama dua keluarga lain yaitu Basri dan Jovian.
Agri mengerutkan keningnya, ada perasaan tidak suka.
"Singgung ayahnya jangan singgung istriku," ujar Agri dingin.
Tiga detik ruangan itu sunyi, Agri bertanya lagi.
"Masalah apa dia dan ayahnya hingga membawa nama istriku?"
"Itu mengenai lamaran, Ayah." Busran menjawab.
"Lamaran? lamaran siapa? katakan yang sejujurnya, jangan sampai aku tahu dari mulut orang lain," ujar Agri.
"Hamdan ingin memaksa melamar cucu dari Om Farel Jovian yang bernama Finisa, tapi sayangnya Finisa telah mempunyai kekasih dan dilamar oleh kekasihnya yang adalah anak kedua dari Randra Barsi, kakak iparku. Selama sebulan ini seharusnya lamaran resmi diadakan, tapi Tante Naila telah menjanjikan Finisa pada Hamdan, namun Finisa menolak. Hal ini juga ditentang oleh anak dari Randra. Bang Davin tidak akur dengan anaknya, Bang Davin menolak untuk mendukung Hamdan melamar Finisa, aku tidak tahu masalah ini merembes kepada nama baik Ibu," jawab Busran jujur.
Farel dan Ghifan terbelalak.
Mereka berdua baru tahu akar dari masalah ini.
"Jadi, hal ini benar-benar kesalahan anaknya Davin sendiri," ujar Agri.
"Memaksa masuk dalam hubungan orang dan memaksa orang tuanya untuk melakukan hal yang tidak sepatutnya, lalu berani menyinggung istriku? heum, anak itu cari mati," ujar Agri dingin.
Busran, Nibras dan Gaishan menutup mata mereka penuh penyesalan, sementara Farel dan Gaishan masih tak habis pikir dengan akar masalah yang membawa nama Ibu dan Nenek mereka.
Agri melirik tajam ke arah cucunya yang bernama Gaishan. "Tutup perusahaan hiburanmu itu. Perusahaan hiburan membuatku marah sekarang."
Gaishan, "!!!"
°°°