Chapter 27

1648 Words
"Ada sebuah rahasia, dimana ada seorang Nona Farikin yang lahir dalam keadaan autis dan *bodoh. Nona Farikin itu dipaksa menikah dengan seorang konglomerat yang kaya raya, pernikahan itu terjadi hampir enam puluh tahun yang lalu atau lebih tepatnya lima puluh delapan tahun yang lalu. Nona Farikin itu tidak hanya memiliki cacat mental atau gangguan mental, tapi dia memiliki kebiasaan yang aneh yaitu suka makan makanan sampah. Setelah menikah, dua pihak keluarga tidak pernah ingin mempublikasikan keberadaannya karena itu dianggap aib yang memalukan. Nona Farikin yang itu sekarang dikenal dengan sebutan Nyonya Besar Nabhan saat ini." …. Gaishan sedang asik berselancar di dunia maya, dia memposting gambarnya yang telah melalui banyak sekali tahap seleksi. Namun, sebuah panggilan tiba-tiba masuk, itu adalah dari wakil pimpinan perusahaan hiburan yang dikelola olehnya. "Ya, halo," ujar Gaishan mengangkat panggilan dari sang wakil. "Pak Gaishan, tolong Anda nonton video rekaman yang saya kirim sekarang!" ini terkesan seperti nada memerintah bagaikan kebakaran jenggot. "Ada apa-" "Tolong! saya mohon, Pak!" sang wakil pimpinan terdengar panik. Gaishan buru-buru menonton rekaman video yang dikirimkan oleh sang wakil. "Ada sebuah rahasia, dimana ada seorang Nona Farikin yang lahir dalam keadaan autis dan *bodoh. Nona Farikin itu dipaksa menikah dengan seorang konglomerat yang kaya raya, pernikahan itu terjadi hampir enam puluh tahun yang lalu atau lebih tepatnya lima puluh delapan tahun yang lalu. Nona Farikin itu tidak hanya memiliki cacat mental atau gangguan mental, tapi dia memiliki kebiasaan yang aneh yaitu suka makan makanan sampah. Setelah menikah, dua pihak keluarga tidak pernah ingin mempublikasikan keberadaannya karena itu dianggap aib yang memalukan. Nona Farikin yang itu sekarang dikenal dengan sebutan Nyonya Besar Nabhan saat ini." "J-jadi … Nona Farikin itu sekarang menjadi N-nyonya Besar Nabhan?" suara seorang perempuan terdengar takut bin kaget. "Ya, dan semua pasti tahu siapa Nyonya Besar Nabhan saat ini," ujar Hamdan. Gaishan hampir serangan jantung. "Astagfirullahaladzim!" dia buru-buru istighfar dan langsung berdiri dari kursi santai. "Ini! Bang Hamdan!" Gaishan berteriak dengan bercampur marah, suaranya bergetar. Gaishan menelepon wakilnya. "Hilangkan video itu sekarang juga! saya tidak mau tahu!" suara Gaishan terdengar menahan amarah. "Pak Gaishan, rekaman itu dipublikasikan oleh stasiun televisi Surya Manggarai dua menit yang lalu-" "Saya tidak mau tahu! mau itu dipublikasikan oleh Surya Manggarai atau surya surya yang lainnya, saya mau bungkam dan take down video itu! astagfirullah, Kakekku akan membunuhku!" Gaishan bagaikan orang yang kebakaran jenggot. Dengan masih menelepon, dia berlari keluar rumah dan memerintahkan seorang bodyguard. "Kamu bawa mobil ke perusahaan saya!" Saat masuk ke dalam mobil, rupanya mobil lain datang, itu adalah mobil Busran dan istrinya. "Gaishan-" Gea melirik heran ke arah sang anak yang berteriak marah. Sepertinya sedang memerintahkan orang di seberang. Busran ikut melirik ke arah mobil yang ditumpangi oleh anak sulungnya itu. "Huh … aku lelah seharian bekerja … andaikan ada waktu libur lagi … ah, padahal baru kemarin akhir pekan," ujar Gea setelah menghembuskan napas lelah. Dia dan suami melangkah masuk ke dalam rumah namun ponselnya berdering. Gea merogoh ponsel di dalam tas kerja. "Eh? bagian humas perusahaan?" Busran lebih dulu masuk sementara Gea mengangkat telepon. "Halo-" "Bu Gea, Stasiun Tv Surya Manggarai baru saja mempublikasikan sebuah video menyangkut Nyonya Besar Nabhan, mohon segera Anda lihat!" "Baik, tunggu sebentar," sahut Gea. Gea mematikan telepon dan dia mencari kabar terbaru dari stasiun tv Surya Manggarai. Setelah mendengar apa yang disiarkan oleh stasiun tv itu, bulu kuduk Gea merinding dan dia melotot. "Busran! Sayang!" Gea berlari cepat ke arah sang suami. °°° Nibras baru saja pulang dari kantor. Namun seorang pria paruh baya yang adalah kepala pelayan di situ melangkah cepat ke arah Nibras. "Tuan Muda," panggil kepala pelayan. Nibras melirik ke arah kepala pelayan. "Ya?" Kepala pelayan berbisik di telinga kanan Nibras, tak berapa lama mata Nibras terbelalak lebar. …. "Aaaah! leherku!" Davin tiba-tiba berteriak sakit sambil memegang leher bagian belakangnya. "Abang!" Dian buru-buru menopang badan sang suami. Brak! Kretak! Brak! Davin melempar kasar layar televisi lebar itu dengan benda-benda yang dia lihat di atas meja, seperti gelas, remot tv, dan vas bunga. "Hamdaaaaan! anak durhaka!" teriak Davin membahana di seisi rumah Farikin. Mata Davin memerah dan berkaca-kaca, tak lama kemudian air matanya turun, suara Davin terdengar bergetar. "Bibiku Lia … ya Allah Tuhanku … apa dosa yang kulakukan hingga Kau memberikan anak seperti dia …." Dian tiba-tiba menangis takut. "Amdan … ya Allah … apa yang sudah kamu lakukan Nak …? ya Allah … Ibu tidak percaya ini …." "Apa yang kamu tidak percaya? lihat itu Dian! dia menghina Bibiku Lia! aaaakh! di mana dia? di mana anak itu?!" amuk Davin. "Di manaaaaaa??!!" teriak Davin yang sedang mengamuk. °°° *d**a Farel turun naik tak karuan setelah menonton video itu. Terdengar suara renta sang ibu. "Oh pinggangku …," keluh Lia. "Sayang, biarkan aku yang mengambil roti sisa saja, jangan banyak bergerak," ujar Agri. Sang ibu terlihat mengangguk. "Baiklah suamiku. Oh … kau sangat baik." Agri tersenyum tulus dan lembut ke arah sang istri. "Mungkin aku sudah terlalu tua, jadi tidak bisa menunduk lagi ke dalam tempat sampah itu …," ujar Lia. Agri yang baru saja mengambil roti sisa itu menoleh ke arah sang istri. "Kita telah tua bersama, Sayang. Tapi bagiku, kau tetap terlihat sama seperti pertama kali kita bertemu." Lia membalas senyum sang suami. "Di manakah pertama kali kita bertemu, suamiku?" tanya Lia. "Kita pertama kali bertemu saat kau datang ke kantor perusahaanku untuk mengembalikan dompetku yang kau temui di tempat sampah, istriku." Agri menjawab. "Ah begitu rupanya … aku sudah tidak ingat lagi," ujar Lia. Agri tersenyum. "Tidak apa-apa, sayang. Yang penting tidak melupakan aku." "Ya, kau benar suamiku, yang penting aku tidak melupakan kamu," timpal Lia. "Beruntungnya aku memiliki kamu," ujar Lia. "Aku yang beruntung memiliki kamu, Sayang," balas Agri. Pasangan tua itu saling berpelukan sayang. Air mata Farel jatuh saat melihat ayah dan ibunya yang saling berpelukan sayang. Dari mana dari penglihatannya bahwa sang ibu dipaksa nikah? dari mana dari penglihatannya bahwa sang ibu itu autis? dari mana penglihatannya bahwa sang ibu itu *bodoh? dari mana penglihatannya bahwa sang itu itu memiliki kecacatan mental? Mana aib itu? Apakah ibunya itu adalah aib bagi dua keluarga? yaitu keluarga Nabhan dan Farikin? Jihan Kamala menutup mulutnya setelah melihat sang suami yang telah menangis tanpa suara. Kenapa? kenapa kerabat sendiri mengatakan hal itu pada ibunya? Tanpa melirik ke arah bodyguard yang berdiri di sampingnya, Farel berkata, "Bungkam stasiun televisi itu. Bila perlu buat stasiun televisi itu bangkrut dan kejar sampai dimana pun editor yang menyiarkan video ini." "Baik, Tuan." °°° Gaishan sibuk duduk di depan banyak layar yang menampilkan kinerja dari pada karyawan IT di perusahaannya. "Hapus semua situs jejak dari informasi yang memuat tentang nenek saya! apapun itu! jika berita itu tidak hilang dalam kurun waktu satu jam setelah dipublikasikan, maka kalian semua akan saya tendang keluar dari sini." Suara Gaishan terdengar sangat marah. Semua orang mengangguk dan mulai berpacu dengan waktu. Jika mereka telah menghilakan video itu, namun muncul lagi di tempat lain. Mereka harus benar-benar memusnahkan berita yang sedang beredar itu. °°° Dunia maya heboh! Namun, meskipun demikian, tidak ada yang berani menyinggung keluarga Nabhan. Busran datang sendiri ke gedung keamanan IT untuk menyaksikan seluruh tim IT Nabhan untuk bekerja menghilangkan kabar buruk dan fitnah pada sang ibu. Termasuk Mikki yang sedang serius meretas website dari stasiun tv Surya Manggarai itu. "Saya sudah masuk, Tuan." Suara Mikki terdengar. "Hancurkan semua database yang mereka punya, tanpa terkecuali!" perintah Busran. "Baik," sahut Mikki patuh. "Saya sudah masuk ke informasi pribadi dari editor yang menyiarkan video itu, Tuan," ujar IT a. "Hancurkan profilnya!" perintah Busran. "Baik," sahut IT a. "Saya sudah masuk ke bagian profil pimpinan Surya Manggarai Media, Tuan," ujar IT B. "Hancurkan profilnya!" perintah Busran. "Baik." Pintu ruang IT terbuka. Farel dan Nibras buru-buru melangkah masuk ke ruang IT di gedung keamanan Nabhan. "Busran," panggil Farel. Busran melirik ke arah sang kakak. Rupanya setelah mendengar kabar buruk mengenai fitnahan dari salah satu keponakan pada sang ibu, Busran yang lebih dulu datang ke gedung keamanan Nabhan dan memerintahkan semua staf IT untuk memblok berita itu. "Urusan dengan Hamdan itu nanti dulu, yang paling penting ini adalah urusan menghilangkan berita terkutuk ini," ujar Busran. Raut wajahnya terlihat sama sekali tak bersahabat. Farel melihat bahwa sang adik ini benar-benar marah. "Tuan Busran, kami telah masuk ke bagian saham surya manggarai media. Mereka mengalami kenaikan harga saham yang drastis dari empat puluh menit yang lalu, tepatnya setelah berita mengenai Ibu Anda disiarkan," ujar IT c. Busran melirik ke arah layar komputer milik IT C. Dia dan sang kakak berkata, "Hancurkan harga saham itu menjadi nol!" IT C, "...." diam selama dua detik. "Baik." Mereka mendapatkan keuntungan dibalik hinaan yang diterima oleh ibuku! Busran benar-benar tidak bisa menerima baik hal itu. Semua anak pun sama, mereka tidak akan menerima baik ibu mereka dihina. °°° Ghifan sibuk melihat ke arah layar monitor di ruang IT perusahaan milik Farikin's Seafood. "Blok semua komentar buruk itu!" perintah Ghigan. "Baik, Pak Ghifan." Tangan Ghifan menunjuk ke arah layar monitor sebelah kiri. "Aku ingin orang yang berkomentar ini diselidiki, ambil bukti komentarnya dan cari tahu siapa dia sebenarnya." "Baik, Pak Ghifan." Ghifan melihat layar monitor di tengah, dia menunjuk. "Akun yang punya komentar itu, segera selidiki." "Baik, Pak." Ghifan melirik lagi ke arah layar monitor kiri paling ujung. Dia menunjuk ke arah monitor itu dan berkata, "Cari tahu yang komentar ini, di mana dia tinggal sekarang." "Baik, Pak." Ghifan sibuk, dia tak punya waktu untuk santai setelah pulang kantor. Bukan cuma hanya Ghifan saja yang sedang sibuk mengurus berita yang mencemarkan nama baik sang nenek, semua Nabhan juga sibuk. Di luar gerbang perusahaan Farikin Seafood. Terlihat seorang gadis menatap terus ke arah pintu keluar. Kemudian dia melirik ke arah jam tangan yang dipakai olehnya. "Sudah setengah enam … dia belum pulang juga," gumam gadis itu. Gadis yang manis, rambutnya panjang dan selalu setia menunggu kepulangan seseorang. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD