Chapter 26

1567 Words
Beberapa hari sebelumnya. "Aku tidak mau berlama-lama menggantung Alan dalam lamarannya, apalagi masalah kita, Bunda dari Alan tak tahu, sudah mau sebulan lamaran Alan tempo hari, aku tidak ingin memperpanjang masa tunggu hanya karena ada Oma," ujar Finisa di ruang kerjanya pada Derian. "Lalu kamu agar lamaran secepatnya?" tanya Derian. "Ya." "Kapan? Papa ikut mau kamu, karena kamu yang jalani, urusan Oma kamu, biar nanti belakangan," ujar Derian. "Papa hubungi keluarga Basri dan bicara dengan Om Randra agar mengutus kepala pelayan Basri untuk membicarakan hal apa yang diinginkan nanti, biar Om Randra dan Tante Momok yang datang untuk melamar," ujar Finisa. "Baik, Papa ngerti." …. Alan sedang menyiapkan makan malam untuk dia dan Finisa. Setelah insiden malam Naila yang mengungkit masa lalu orangtua Alan, Finisa memutuskan untuk tidak serumah dengan sang nenek. Aktivitasnya dengan Alan jalan seperti biasa, yaitu setiap pagi jam kantor, Alan akan mengantarnya ke kantor, yah meskipun dia dan Alan bertemu dengan Hamdan lagi yang tetap keukeh ingin agar Finisa kembali ke rumahnya. Lalu setelah pulang kantor, Alan akan menjemput Finisa dari kantor. Dan ada lagi Hamdan di sana yang masih berusaha untuk bicara dengan Finisa. Finisa memilih untuk tidak melayani Hamdan bicara, sebab sudah beberapa kali dia memberi kesempatan hamdan untuk bicara, dan dia juga telah menjelaskan perasaannya bahwa dia tak memiliki perasaan suka dan cinta pada Hamdan. Alan dan Finisa mengabaikan kehadiran Hamdan di tengah-tengah hubungan mereka, jadi Hamdan itu adalah pengganggu hubungan orang, beruntung dia tidak naik level menjadi perusak hubungan orang yaitu hubungan antara Alan dan Finisa. "Sudah aku pikirkan, hari senin nanti, sepertinya kepala pelayan Basri akan bicara dengan Papaku mengenai lamaran resmi kamu," ujar Finisa. Alan yang sedang meletakkan piring dan sendok di meja makan dapur langsung menatap Finisa. "Nisa … kamu … serius?" Finisa mengangguk. "Kupikir malam saja, tidak perlu datang ke rumahku untuk membicarakan lamaran resminya dengan kepala pelayan Basri, nanti ketemuan saja di salah satu restoran." "Lalu bagaimana dengan Oma?" tanya Alan. Finisa menaikkan sebelah alisnya ke arah Alan. "Kamu bilang kamu sudah sangat kalah start dari Ibas dua kali, pertama dia menikah dan kedua istrinya baru hamil." Alan, "!!!" "Ahk! benar! benar! benar! Sayang, kita memang sudah kalah jauh dari Ibas dan Atika!" Alan melotot. Finisa tersenyum tipis melihat tingkah sang pacar. °°° "Halo selamat pagi, dengan keluarga Basri, dengan siapa, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan perempuan mengangkat telepon. "Selamat pagi, saya Papa dari Finisa, Derian Jovian, dari rumah Jovian, saya sedang perlu dengan Tuan Randra Basri, bisakah saya berbicara dengan tuan rumah?" balas Derian. "Baik, mohon tunggu sebentar." …. "Saya Randra Basri," ujar Randra setelah mendapatkan telepon dari Derian. "Tuan Randra, saya ingin menyampaikan keinginan putri saya dan keputusannya untuk membicarakan lamaran resmi, kiranya Bapak Basri bisa mengutus seseorang untuk datang bertemu dengan saya di tempat yang akan kami tentukan," balas Derian. Randra diam selama dua detik, dia sedang berpikir mungkin orangtua Finisa telah benar-benar menerima anaknya sebagai menantu mereka, urusan dari nenek Finisa, dia tak peduli. "Baik, hari ini saja akan mengutus seseorang untuk menemui Anda. °°° Di sinilah Derian dan Rina berada. Mereka berdua yang adalah orangtua dari Finisa itu bertemu langsung dengan utusan dari Randra, yaitu kepala pelayan Basri. "Selamat siang Tuan dan Nyonya Jovian. Perkenalkan, saya adalah Santo, kepala pelayan Basri yang bekerja di urusan rumah tangga dan pelayan Basri dan ini asisten yang menemani saya hari ini. Saya ke sini atas suruhan dari Tuan saya yang bernama Tuan Randra Basri untuk membicarakan perihal lamaran resmi nanti pada anak perempuan Anda yaitu Nona Finisa Lisa Jovian." Kepala pelayan memperkenalkan diri dan seseorang yang mengikutinya ke tempat pertemuan yang telah disepakati, yaitu di Basri Food Restaurant. Kepala pelayan Basri mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Derian dan Rina mengangguk mengerti, mereka menerima baik jabatan tangan dari Kepala pelayan Basri. "Saya Derian Jovian, dan istri saya Marina Arlita Jovian, senang bertemu dengan Anda di sini untuk membahas perihal lamaran Nak Alan pada anak saya," balas Derian. Kepala pelayan Basri mengangguk. "Baik, tanpa membuang banyak waktu, mari kita lakukan pembicaraan ini. Pertama-tama, saya diminta oleh Tuan Randra untuk mencatat semua permintaan dan persyaratan dari lamaran ini, silakan untuk Tuan Jovian, bagaimana permintaan Anda dengan lamaran yang akan dilakukan nanti?" "Begini, saya dan istri tidak minta banyak, hanya mahar atau mas kawin untuk menghargai anak saya sebagai perempuan. Kalau boleh, bolehkah saya meminta persyaratan rumah untuk anak perempuan saya?" ujar Derian. Kepala pelayan mengangguk mengerti. Sang asisten mulai menulis permintaan pertama dari orangtua Nisa. "Yang berikutnya, bolehkah saya minta mahar berupa emas saja?" tanya Derian. Kepala pelayan Basri mengangguk. Asistennya mencatat. Pembahasan itu sampai pada lamaran dilakukan dengan adat atau seremoni apa, di tempat mana, dan apa saja seserahan yang diminta serta hal-hal lainnya mengenai lamaran. °°° "Jadi sekarang Pak Santo sedang bertemu dengan Papa kamu untuk membahas waktu dan tempat kita lamaran?" tanya Alan. Finisa mengangguk. "Kira-kira mau lamaran di mana yah?" tanya Alan. "Yang pastinya tidak di rumahku, Oma pasti akan membuka lebar mulutnya dan berteriak omong kosong lagi," jawab Finisa. Alan menggenggam tangan Finisa, dia tersenyum. "Baik." Makanan datang, pelayan meletakkan makanan di atas meja restoran dan mereka mulai menikmati makan siang. Mendengar bahwa saat ini orangtua Finisa dan kepala pelayannya sedang membahas perihal lamaran, Alan berhati senang dan merasa bahwa hari ini nafsu makannya lebih baik. "Eh, aku penasaran, apa si Hamdan itu telah menyerah?" tanya Alan. Nisa mengedikkan bahunya. "Mungkin saja." "Huh, tadi dia berani naik dan mendatangi apartemenku. Bisa saja besok-besok dia akan datang lagi. Aku akan mengantarkan kamu ke apartemenku yang lain," ujar Alan. Finisa mengangguk. "Mana-mana saja, yang penting tidak melihat wajahnya. Dia bahkan membawa Oma untuk menarikku pulang." Alan hanya geleng-geleng kepala. "Dia pikir bisa mengubah keputusanku," ujar Nisa. "Orang seperti itu, biarpun kamu bicara seratus bahkan seribu kali, dia tetap tidak akan mendengar dan terus saja mempertahankan keegoisannya," balas Alan. "Kamu benar. Faktanya memang seperti itu, sudah beberapa kali aku bicara halus hingga menahan marah bahwa aku tak ada perasaan suka padanya, tapi dia tetap saja ingin agar bisa menikahiku. Aku tidak tahu apa yang membuat dia menyukaiku. Kami hanya bertemu beberapa kali, tidak terlalu banyak," ucap Finisa. "Jangan lagi bahas dia. Eh, aku ingin agar besok saja lamarannya, hahaha!" Alan terbahak. Finisa tersenyum. °°° Sore harinya, Alan menjemput Finisa dan membawa Finisa ke apartemen lain. Mereka berusaha agar memantau situasi agar tak diikuti oleh Hamdan. Namun, Alan mengerutkan keningnya, tidak ada mobil yang mengikuti dia dan Finisa sudah sebulan ini. Biasanya akan ada mobil yang mengikuti ke mana Alan membawa Finisa. "Dia tidak ada," ujar Alan. "Bang Hamdan?" tebak Nisa. Alan mengangguk. "Hari ini sangat damai, tidak seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya, dia mengikuti kita terus dan memaksa bicara dengan kamu," ujar Alan. "Ah ya, aku lupa bilang, tapi pagi saat Oma datang ke apartemenmu, dia kan juga ada. Aku telah katakan pada Oma dan dia bahwa hari ini orangtuaku akan membahas lamaran kamu. Dan juga aku bilang padanya, dalam beberapa hari, lamaran kamu akan dilakukan," ujar Finisa. "Mungkin karena sudah kamu bilang, makanya dia mundur. Hahaha!" Alan tertawa senang sambil mengendarai mobilnya. Ini adalah suasana damai. Beberapa saat kemudian Finisa melirik ke arah apartemen lain dari Alan. Dia akan tinggal di sini lagi selama beberapa waktu. "Semua serba putih, di apartemen kamu yang sebelumnya malah serba hitam," ujar Finisa. Alan mengangguk. "Ada beberapa apartemen lagi yang masing-masing memiliki warna dominan. Ada yang krem, mocca dan abu-abu." "Lalu kamu pernah menginap di sana?" tanya Finisa Alan menggelengkan kepalanya. "Tidak punya waktu. Bunda selalu ingin agar suasana rumah ramai, jadi aku pulang ke rumah. Kalau sekarang Bunda sudah mengerti kalau aku sedang serius denganmu, bahkan Bunda orang pertama yang mendorongku untuk menghabiskan waktu lebih banyak denganmu, tapi yah begitulah, ceramah Bunda selalu ada, jangan berbuat ini dan jangan berbuat itu." Finisa terkekeh. Mereka terlibat percakapan ringan hingga beberapa saat. °°° Seorang wanita berusia sekitar akhir tiga puluhan memakai kacamata, sedang melihat ke arah Hamdan. Di meja pertemuan itu, selain kamera, ada laptop dan peralatan untuk merekam sebuah pengakuan. "Jadi Tuan Farikin, hal rahasia apa yang ingin Anda beberkan pada studio televisi kami?" tanya perempuan itu. Dia tersenyum standar ke arah Hamdan. Hamdan duduk bersandar di sofa, wajahnya terlihat datar lalu dia tersenyum miring. "Jika aku katakan bahwa ini menyangkut rahasia dua keluarga besar, apakah Anda tertarik untuk menyebarkannya?" Perempuan itu agak mendekat ke arah depan. "Apa itu? dan … dua keluarga yang mana?" "Pernah melihat langsung wajah Nyonya Besar Nabhan?" tanya Hamdan. Perempuan itu agak terbelalak dan dia dengan cepat menggelengkan kepalanya. Dia dengan gerakan cepat mulai mengambil rekaman pengakuan dari Hamdan. Mengenai Nyonya Besar Nabhan, wanita ini tidak pernah muncul di media mana pun, bahkan di media massa yang dikelola oleh cucunya saja, sangat jarang. "Tahu kenapa Nyonya Besar Nabhan tak pernah hadir di publik?" tanya Hamdan Perempuan itu menggelengkan kepalanya. "Ada sebuah rahasia, dimana ada seorang Nona Farikin yang lahir dalam keadaan autis dan *bodoh. Nona Farikin itu dipaksa menikah dengan seorang konglomerat yang kaya raya, pernikahan itu terjadi hampir enam puluh tahun yang lalu atau lebih tepatnya lima puluh delapan tahun yang lalu. Nona Farikin itu tidak hanya memiliki cacat mental atau gangguan mental, tapi dia memiliki kebiasaan yang aneh yaitu suka makan makanan sampah. Setelah menikah, dua pihak keluarga tidak pernah ingin mempublikasikan keberadaannya karena itu dianggap aib yang memalukan. Nona Farikin yang itu sekarang dikenal dengan sebutan Nyonya Besar Nabhan saat ini." °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD