Beberapa hari telah berlalu dari peristiwa nenek dari Nisa yang mengungkit masa lalu orangtua Alan.
Liham yang duduk di kursi makan selalu melirik ke arah kakaknya yaitu Alan. Merasa bahwa dia aman, Liham menarik dan menghembuskan napas lega. Tidak ada lirikan tajam dari sang kakak, itu berarti keceplosannya belum beredar luas sampai ke telinga sang kakak.
"Alan, kamu udah bicara sama Nisa, itu apa udah ada kabar dari Papanya Nisa kapan kita bisa pergi lamaran resmi? eh? bukannya nanti Pak kepala pelayan yah yang dihubungi oleh Papanya Nisa?" tanya Moti.
Alan dan saudara-saudaranya hampir tersedak makanan sarapan pagi.
Laras melirik ke arah Alan.
"Kalau Nenek hitung, udah dua minggu loh pas kamu dan Ayah–Bunda pergi ke rumah Nisa," ujar Laras.
Alan berusaha terlihat rileks dan seolah tak terjadi apa-apa.
"Alan sudah dapat konfirmasi dan restu dari Papanya Nisa, tapi Alan agak butuh waktu untuk bicara mengenai lamaran ini, kan yang namanya lamaran itu nggak boleh sembarangan, Bun."
"Ah begitu yah, baik kalau gitu. Nggak apa-apa kita nunggu lagi, toh Bunda kemarin siang lihat sepatu bagus untuk seserahan ke Nisa. Ah, itu tolong ditulis ukuran kaki Nisa, untuk sepatu dan sandal," balas Moti.
Alan mengangguk.
"Baik, Bunda."
Randra hanya melirik diam ke arah sang anak lalu dia mengambil *s**u khusus untuk diminum oleh sang istri.
"Nenek Momok! kata Om Liham! Om Alan ditolak-hhhmmpp!"
"Didorong oleh jin!" Liham buru-buru menutup mulut sang keponakan dan melanjutkan ucapan sang ponakan.
Moti yang mendengar ucapan Liham, dia terkekeh.
Alan dan yang lainnya melotot ke arah Liham.
"Chana baik! Chana cantik! sini Om Liham suap," ujar Liham. Dia cepat-cepat menyuapkan cereal pada sang ponakan.
Randra melirik ke arah Alan. Alan tersenyum masam sambil menggaruk kepalanya.
Ah, sepertinya sang ayah telah menangkap maksud dari cucunya. Ben dan Popy saling melirik dan mereka terlihat bersalah. Anak mereka hampir saja keceplosan, aduh!
°°°
"Masih tidak mau mengalah juga Oma Naila?" tanya Nibras.
Alan mengangguk sambil menyeruput jus buah.
Langkah kaki Gaishan memasuki ruang privat restoran. Setelah imam masjid mengucapkan salam, Gaishan tanpa lama langsung keluar masjid menuju ke tempat janjian. Yang penting dia shalat Jumat, itu kuncinya.
"Itu Oma Naila masih keukeuh yah nolak lamaran kamu??" tanya Gaishan langsung.
Alan dan Nibras melirik ke arah Gaishan, lalu mereka saling melirik.
"Aku tidak memberitahu siapapun, bahkan Papaku," ujar Nibras.
Alan melirik ke Gaishan.
"Siapa yang memberitahumu?"
Dengan polosnya Gaishan menjawab, "Liham."
Alan, "!!!" anak itu!
"Kapan?" tanya Alan.
"Dia pasang status hari senin kemarin," jawab Gaishan polos.
Alan menggertakkan giginya kesal.
"Liham Mochtar Basri!" ingin rasanya Alan meng-smack down adik bungsunya.
Nibras hanya garuk-garuk kepala. Si Liham ini memang benar-benar pencari masalah.
°°°
Liham sedang main mandi-mandian di dalam kolam mandi plastik dengan Chana. Chana memakai baju mandi anak-anak atau bikini mini sementara Liham memakai pakaian biasa. Mereka mandi di dekat teras belakang.
Terdengar langkah kaki cepat mendekat ke arah Liham.
Liham mendongak ke atas.
"Astagfirullahaladzim, Kak Alan kok mukanya gitu-aaaakk! tolongin Om Liham! Chana!"
Alan menyeret sang adik masuk ke kamar mandi lain.
Chana yang sedang main air hanya melihat bingung ke arah dua pamannya. Tak lama kemudian terdengar jeritan-jeritan dari Liham!
"Adoh! amppuun!"
"Bunda!"
"Liham tobat, Kak Alaaan!"
"Tobaaat!"
Nah kan, dia dismackdown oleh Alan.
°°°
"Jadi semua orang tahu masalah kita karena Liham?" tanya Nisa.
Alan mengangguk masam.
Finisa ingin tertawa tapi juga ingin menangis.
Mau menyimpan rahasia pun sama saja, kalau orang cerewet yang sudah tahu pasti akan terbongkar juga. Dan apalagi ini dua cerewet sekaligus siapa lagi kalau bukan Liham dan Gaishan.
"Dibawa santai aja, kita kan sekarang lagi santai jalan berdua. Yang penting Tante Momok nggak tahu," ujar Finisa.
Alan mengangguk.
Seseorang mendekat ke arah mereka, rupanya itu adalah Hamdan.
Sore-sore adalah waktu yang pas untuk jalan berdua dengan pasangan apalagi ini hari minggu.
"Tidak bisakah kamu pulang dan kita bicara?" tanya Hamdan.
Finisa merasa bahwa manusia ini adalah manusia paling rajin yang mengikuti aktivitas mereka. Dia melirik ke arah Hamdan dan berkata, "Aku harus mengatakan dengan cara apa bahwa aku itu tidak ada perasaan apapun pada Bang Hamdan. Tolong jauhi aku. Aku punya batas kesabaran dan jika sudah rusak kesabaranku, aku tidak segan-segan marah pada orang yang telah merusak batas kesabaranku."
"Nisa, aku harap kamu berpikir jernih, siapa yang lebih sayang dan peduli padamu," ujar Hamdan.
Alan ingin menendang Hamdan menjauh dari Finisa.
"Di sini seharusnya Bang Hamdan yang berpikir jernih dan menerima kenyataan. Tolong jangan paksa aku," balas Finisa.
"Oma sakit, ayo pulang dan lihat keadaan Oma," ujar Hamdan.
"Kalau Oma sakit, Papa yang lebih dulu memberitahu aku, tidak perlu aku tahu dari orang lain," balas Finisa. "Jadi tolong Bang Hamdan, jangan terlalu percaya sama Oma. Hal apa sih yang membuat Bang Hamdan itu percaya pada Oma? jangan memaksakan kehendak Bang Hamdan. Kebahagiaanku bukan berada di Bang Hamdan, tapi pada Alan."
Wajah Hamdan terlihat serius memandang ke arah Finisa.
Kata-kata Finisa masih terdengar sopan.
"Kamu tahu? banyak pasangan yang setelah menikah dengan pasangan pria yang lebih muda, tak lama kemudian mereka berpisah karena tidak samanya pikiran dan hal lainnya, itu terjadi karena lemahnya jiwa pasangan pria yang lebih muda dari wanita," ujar Hamdan.
Alan, "!!!" menahan emosi dan berdiri dari tempat duduk di taman itu. Dia menggenggam tangan Finisa dan berkata, "Ayo kita pulang."
"Ke apartemen kamu?" tanya Hamdan.
Alan melirik ke arah Hamdan.
"Kalau ya, kenapa?"
Hamdan terlihat cemburu, dia tidak suka Finisa berada terus di apartemen Alan.
"Nisa, aku menerima kamu apa adanya, meskipun kamu telah tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan dengan pria lain, aku tetap akan menunggu kamu-"
Alan mengangkat kerah baju Hamdan. Dia benar-benar tidak tahan dengan pria satu ini yang selalu menghalangi hubungannya dengan Finisa.
"Tolong jaga bicara Anda, Tuan Hamdan Farikin. Meskipun Nisa tinggal di apartemen saya, saya memperlakukan dia dengan hormat," ujar Alan.
Meskipun hampir kebablasan berkali-kali.
Finisa menarik tangan Alan, "Ayo pergi."
Hamdan hanya bisa memandangi Finisa dan Alan yang bergandengan tangan. Dia mengepalkan kuat kepalan tangannya.
°°°
Dua minggu kemudian.
Finisa siap ke kantor, dia membuka pintu apartemen Alan dan hendak keluar, namun rupanya sang nenek telah berdiri menunggunya keluar dari apartemen itu.
Wajah Finisa terlihat datar pada sang nenek.
"Satu bulan kamu pergi dari rumah dan tinggal di tempat seorang laki-laki, ada apa dengan otakmu, Nisa?" tanya Naila.
Finisa dengan santai menutup pintu apartemen Alan, dia berkata tanpa menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak penting.
"Aku akan bilang ke Papa, mungkin hari ini kepala pelayan Basri akan bertemu dengan Papa dan membicarakan lamaran resmi dari keluarga Basri."
"Finisa!" teriak Naila menggema di seisi lantai lima apartemen.
Meskipun diteriaki oleh sang nenek, wajah Finisa tetap terlihat datar dan tak berubah, mungkin dia sudah bosan dengan ocehan sang nenek yang tidak ada manfaat baginya.
"Orangtuaku adalah Papa dan Mama, Oma bukan orangtuaku dan tidak perlu ikut campur dengan urusanku-"
"Finisa, kamu!" Naila menyentuh dadanya.
"Oma!" Hamdan melangkah cepat keluar dari lift dan menopang badan Naila.
Finisa hendak menahan badan sang Nenek, namun dia mengurungkan niatnya karena sudah ada Hamdan di sini.
"Ah, jadi berkat pantauan Bang Hamdan satu bulan ini, Oma datang langsung ke apartemen ini?" tanya Finisa ke arah Alan.
"Pulang dan mari kita bicara," balas Hamdan.
"Tidak perlu bicara, besok Basri akan melamarku resmi," ujar Finisa.
Hamdan terbelalak.
"Tidak bisa seperti itu," ujar Hamdan.
"Bisa saja, aku yang minta, karena kedatangan Oma dan kemunculan Bang Hamdan di sini membuat aku ingin agar secepatnya menikah dengan Alan," ujar Finisa.
Finisa melangkah cepat masuk ke dalam lift tanpa mempedulikan Naila yang ternyata hanya pura-pura sakit.
Belajar akting dari mana sang nenek itu? patut mendapat piala oscar kategori akting tertop versi oma-oma.
°°°
Davin sedang duduk sambil melihat ponselnya.
Tiba-tiba Hamdan duduk berhadapan dengan Davin.
Davin melirik ke arah sang anak.
"Hari ini juga, Ayah harus melamar Nisa untuk kunikahi sebelum pria yang bernama Alan lebih dulu menikahi dia," ujar Hamdan tanpa basa basi.
Davin menatap serius ke arah anak bungsunya.
"Nisa tidak mencintai kamu dan jangan melakukan pernikahan paksa antara kamu dan dia. Kamu telah menghalangi dua orang yang saling mencintai."
"Ayah!"
"Ayah akan menghubungi Oma Naila itu dan mengatakan pada beliau untuk mengurungkan niat beliau yang tidak masuk akal itu, yaitu untuk menikahkan kamu dan Nisa." Setelah mengatakan ini, Davin berdiri dan benar-benar mengambil telepon rumah.
Hal ini membuat Hamdan terbelalak di tempat.
Davin tidak bohong, dia menelpon kediaman Jovian.
"Saya ingin bicara dengan Nyonya Naila Jovian, ini dari kediaman Farikin."
"Ayah!" Hamdan ingin mencegah sang ayah, namun Davin malah menjauh dari Hamdan.
Tak berapa lama kemudian suara Naila terdengar.
"Halo," ujar Naila.
"Tante Naila, saya mohon dengan hormat agar Tante Naila membatalkan niat Tante yang ingin menikahkan Hamdan dan Nisa, itu sangat tidak layak dan saya sangat menentang keputusan Tante," ujar Davin tanpa bersapa ria dengan Naila.
Bola mata Hamdan benar-benar terbelalak lebar hingga ingin jatuh ke lantai.
Sang ayah benar-benar tidak mendukungnya, semua keluarganya tidak mendukung kebahagiaannya sama sekali.
Mata Hamdan memerah dan dia mengepalkan kepalan tangannya.
"Baik jika Ayah tak mendukung kebahagiaanku. Ayah akan menyesal dan menarik kembali kata-kata Ayah," ujar Hamdan dan dia meninggalkan sang ayah.
Davin hanya melihat kepergian anaknya tanpa niat untuk menghentikan Hamdan.
"Tante, tidakkah Tante tahu bahwa Tante telah merusak hubungan antar anak dan ayahnya?" tanya Davin dingin.
Naila terdiam kaku dari seberang.
"Aku tidak menerima Nisa menjadi menantuku," putus Davin serius.
Naila menjadi kalang kabut.
Cucunya tidak diterima oleh keluarga Farikin!
°°°