Sepeninggal Alan, Derian dan Nisa saling menatap di ruang tamu.
"Aku tidak mengerti kenapa Oma menjanjikan aku seperti barang untuk diberikan pada pria lain. Apakah aku sudah dijual oleh Oma?" tanya Finisa tanpa filter.
"Nisa, jaga ucapan kamu," tegur Derian.
"Pa, aku akan menjaga ucapanku jika semua yang aku katakan ini tidak benar. Kenapa Oma mati-matian ingin agar aku dan Alan tidak menikah? apa yang salah dengan Alan? keluarganya? Basri adalah keluarga baik-baik. Mereka itu memperlakukan semua orang dengan setara, bahkan pelayan yang bekerja di rumah Basri saja sudah dianggap seperti keluarga sendiri, aku yang melihat sendiri dengan mata kepalaku. Om Randra itu memang memiliki sifat lain hanya untuk melindungi istri beliau yang sakit. Jika Mama sakit-sakitan, apa yang akan Papa lakukan? lembek terhadap orang yang ingin menyakiti Mama?" Nisa memberi pengertian pada sang ayah.
Derian menggaruk ubun-ubunnya yang nyut-nyutan. Dia duduk di tempat tadi sang ibu duduk.
"Papa tidak tahu kenapa Oma kamu berjanji pada Hamdan Farikin. Bahkan keluarga Farikin tidak memberitahu keluarga kita mengenai hal ini," balas Derian.
"Apapun yang terjadi, aku tetap pada pendirianku, tidak akan berpisah dari Alan. Enak saja Oma katakan perintah seperti itu," ujar Finisa.
"Semoga saja keluarga Basri dapat mengerti masalah ini dan mereka tidak tersinggung," ujar Derian.
"Jelas saja mereka akan tersinggung jika Oma dengan tanpa rasa bersalah menelpon mereka untuk membatalkan lamaran ini. Papa pikir Oma itu tidak berani? Oma berani, tapi Oma tidak tahu kalau kemarahanku akan meledak jika Oma berani melakukan itu," ujar Finisa dingin.
Derian melirik ke arah anak perempuannya. Memang tidak diragukan lagi, sifat anak perempuannya ini turunan dari sang ibu.
"Aku mau istirahat," ujar Finisa. Dia berdiri dari posisi duduk.
Derian hanya mengangguk.
Di kamar Naila.
"Lepaskan aku!" Naila sama sekali tak ingin dipegang oleh Rina.
Rina menuruti perintah mertuanya, tidak memegang lagi badan Naila.
"Kenapa hari ini benar-benar *sial?" jengkel Naila.
Rina hanya diam tak menanggapi, dia berdiri kikuk sambil melihat sang ibu mertua.
"Kenapa Nisa membawa Tuan Muda Basri ke sini?" tanya Naila.
Rina menggelengkan kepala.
"Aku tidak tahu, Mah," jawab Rina.
"Berikan teleponku!" pinta Naila.
Rina membuka laci nakas di pinggir tempat tidur sang ibu mertua, dan dia mengambil ponsel sang ibu.
"Keluar dari kamarku, aku tidak butuh dirawat olehmu," ujar Naila, dia mengusir sang menantu.
Rina hanya mengangguk dan keluar kamar, wajahnya benar-benar merah karena menahan marah.
Di luar kamar, Derian hendak masuk ke kamar ibunya.
"Mamah mengusirku, Pa," ujar Rina.
Derian tak jadi masuk ke dalam kamar sang ibu, dia mengikuti istrinya masuk ke dalam kamar mereka.
"Selama puluhan tahun aku menikah dengan kamu, aku selalu patuh, Pa. Tapi lihat, Mamah selalu memperlakukan aku kasar. Apa yang salah denganku? apakah karena aku tak bisa memberikan anak laki-laki pada keluarga ini?" tanya Rina.
Derian terdiam. Sang istri sedang kesal dan kecewa dengan perlakuan yang diterima olehnya dari sang ibu.
"Dari masa mudaku hingga tuaku, aku tidak dapat tempat damai di sini, aku tidak dianggap sebagai menantu," ujar Rina.
Derian memeluk istrinya.
"Ma, coba tenang."
Derian membawa sang istri untuk duduk di ranjang.
"Coba Mama ingat, apakah Papa juga diperlakukan seperti anak oleh Mamah?" tanya Derian.
Mendengar pertanyaan sang suami, Rina sadar bahwa dia dan suami juga diperlakukan tidak beda jauh.
Rina menarik dan menghembuskan napas.
"Semoga keluarga Basri dapat mengerti. Mau taruh di mana muka Mama, Pa? kita sudah saling bicara tatap muka sesama orangtua, dan masalah ini datang," ujar Rina. Hatinya sedang susah.
Derian mengangguk.
°°°
Alan melangkah masuk ke rumahnya.
Dia mendengar suara senang dari sang ibu.
"Liham, tolong cari di internet, itu kalau mau menaikkan seserahan bagusnya yang kayak gimana yah?" tanya Moti.
"Ok, Bun. Liham buka yah di internet," balas Liham.
Mendengar suara sang ibu, Alan tahu bahwa ibunya benar-benar serius dan senang dengan pernikahannya.
"Momok, kenapa nggak tanya ke Mama Laras aja? kan dulu waktu kamu dan Randra nikah, Mama Laras yang urus, Misya juga seperti itu," ujar Laras.
"Ah benar! hehehe!" Moti terkekeh.
"Liham, nggak jadi deh. Mari kita diskusi sama Mama Laras saja. Ah, itu Bu Rima kan yang berpengalaman dalam urusan rumah tangga pernikahan. Eh, tolong panggilkan Bu Rima yah dari asrama," ujar Moti.
"Baik, Nyonya," sahut seorang pelayan.
Melihat betapa senangnya sang ibu membuat Alan mengacak-ngacak rambutnya frustrasi.
"Ada masalah apa?"
"Ah!" Alan terkaget.
Rupanya itu suara dari sang ayah.
Alan menengok ke arah sang ayah. Randra melihat wajah frustrasi anaknya yang penuh dengan beban masalah.
"Ceritakan pada Ayah. Ayah tidak *bodoh, ada sesuatu yang menjeratmu," ujar Randra.
Alan menghembuskan napas susah.
"Ayah, Alan butuh bicara serius dengan Ayah, tapi jangan sampai Bunda tahu ini … ini … pasti membuat Bunda tidak bahagia lagi," jawab Alan, di akhir kalimatnya, terdengar nada lirih.
Setelah mendengar ucapan sang anak, wajah Randra berubah serius.
"Masuk ke ruang kerja Ayah."
Alan mengerti. Dia melangkah mengikuti jejak sang ayah masuk ke ruang kerja sang ayah.
Setelah pintu ditutup rapat, Alan dan Randra duduk berhadapan.
"Ceritakan apa masalahmu dengan jelas dan detail, jangan ada menyembunyikan sekecilpun rahasia dari Ayah. Karena kamu menyebut nama Bundamu, Ayah tidak ingin kamu menyembunyikan apapun dari Ayah," ujar Randra.
"Ayah, Oma dari Nisa baru pulang dari Perancis setelah berlibur. Kemarin pagi saat Alan menjemput Nisa untuk datang ke sini, Om Derian mengatakan pada Alan bahwa malam nanti atau besok Om Derian akan memberi kabar mengenai lamaran Alan. Tapi saat tadi malam Alan mengantar Nisa pulang, rupanya Oma Naila berseteru dengan Nisa dan mengatakan pada Nisa untuk membatalkan lamaran Alan padanya," ujar Alan.
Randra terlihat agak terperangah.
"Membatalkan lamaran kamu?"
Alan mengangguk.
"Alan baru saja dari rumah Nisa. Tadinya Alan hendak bicara baik-baik dengan Oma Naila, tapi masalah lain muncul. Ternyata di rumah Nisa, sudah ada seorang pria yang ternyata akan dinikahkan oleh Oma Naila dengan Nisa," jawab Alan.
Randra terbelalak.
"Dia dari keluarga Farikin, namanya Hamdan Farikin, anak bungsu dari Om Davin Farikin, keponakan Nenek Lia," sambung Alan.
"Apa keluarga Jovian tahu bahwa anak mereka akan menikah dengan anak dari keluarga Farikin sementara kita sudah datang langsung melamar Nisa untukmu?" tanya Randra.
Alan menggelengkan kepala.
"Awalnya mereka tak tahu. Om Derian dan Tante Rina bahkan baru tahu setelah tadi malam Nisa dan Oma Naila terlihat adu mulut. Nisa juga tidak tahu kalau ternyata Oma Naila telah dari dulu berjanji pada Hamdan Farikin untuk menikahkan Nisa dan dia," jawab Alan.
Ekspresi yang ditunjukkan oleh Randra terlihat rumit untuk dijelaskan.
"Tadi ada pria itu. Dia juga tidak tahu kalau Alan sudah melamar Nisa. Dia tidak menerima baik hubungan Alan dan Nisa. Tapi siapa peduli, Ayah? Nisa dan Alan sama-sama saling cinta. Nisa sudah katakan pada dia bahwa Nisa sama sekali tidak menaruh perasaan apapun pada pria yang bernama Hamdan itu, tapi dia saja yang sudah berkhayal dan menyebut Nisa sebagai calon istrinya," ujar Alan.
Saat mengatakan kalimat ini, raut wajah Alan terlihat tidak begitu baik.
"Seenaknya saja mengklaim Nisa sebagai calon istrinya. Alan tentu saja marah."
"Pembicaraan kami tidak berlangsung lama karena Oma Naila sakit. Alan tidak tahu apakah itu hanya pura-pura atau benar. Mungkin bisa saja itu pura-pura untuk menghindari pertanyaan Alan dan Hamdan itu bahwa kenapa dari awal Oma Naila tak bilang kalau Nisa sudah dilamar oleh Alan. Padahal dia sudah datang dari Padang untuk membicarakan mengenai lamaran nanti pada Nisa," ujar Alan.
"Om Rian terlihat sangat tidak enak hati saat melihat Alan tadi. Alan dapat melihat ada rasa malu yang dipancarkan oleh Om Rian. Om Rian bilang, beliau tidak tahu harus berkata apa pada Ayah dan Bunda mengingat mereka sudah setuju mengenai lamaran Alan tempo hari," ujar Alan.
Randra terlihat sedang berpikir setelah mendengarkan detail dari penjelasan sang anak. Dia mengetuk-ngetukan jari telunjuknya di tangan sofa.
"Davin itu adalah keponakan tersayang dari Tante Lia. Mereka saling berkerabat antara Farikin dan Nabhan setelah pernikahan dua keluarga. Ayah dan keluarga Farikin tidak pernah ada singgungan sedikitpun mengenai hal apapun. Meskipun Basri dan Farikin tidak bekerja sama dalam bisnis namun mengingat kita sama-sama memiliki hubungan kerabat dengan Nabhan, dua keluarga saling menghargai," ujar Randra.
Basri dan Nabhan bersahabat karena hubungan antara Busran Nabhan dan Randra yang adalah sahabat dari masa SMA, sementara itu kekerabatan lainnya yaitu dari sang istri yang berbesanan dengan Nabhan, Busran adalah adik ipar dari istrinya alias adik ipar dari Moti.
Alan mengangguk mengerti.
"Biarkan langkah apa yang diambil oleh keluarga Jovian lebih dulu. Jika Oma dari Nisa masih tetap bersi keras dalam pendiriannya, Ayah akan turun tangan menangani masalah ini. Ini bukan lagi masalah pribadi antar kamu dan Nisa atau antar keluarga Basri dan keluarga Jovian. Ini telah menyangkut empat keluarga sekaligus jika masalah tidak ada solusi," ujar Randra.
"Baik Ayah, Alan ngerti." Alan mengangguk patuh.
"Itu … nanti kalau Bunda tanya, Alan harus jawab apa? Bunda sangat senang dengan lamaran Alan," tanya Alan.
"Itu biarkan Ayah yang jawab. Kamu hanya perlu ikut saja arus permainan Oma Naila itu," jawab Randra.
Alan mengangguk.
°°°
Kediaman Farikin.
Dian melihat anak bungsunya yang baru pulang ke rumah.
"Amdan, tadi pas datang dari Padang kok langsung pergi keluar lagi? Ayah dan Ibu belum sempat bertemu kamu loh," ujar Dian.
"Ayah ada kan, Bu?" tanya Hamdan.
Dian mengangguk.
"Ada di dalam."
Hamdan buru-buru masuk rumah.
….
"Ada apa?" tanya Davin.
"Hamdan ingin agar Ayah pergi melamar Finisa Lisa Jovian malam ini di kediaman Jovian," jawab Hamdan.
°°°