Chapter 11

1501 Words
Davin duduk di sofa, sang anak bungsu ingin berbicara serius dengannya. "Ada apa?" tanya Davin setelah dia duduk mendapatkan posisi duduk yang pas. "Hamdan ingin agar Ayah pergi melamar Finisa Lisa Jovian malam ini di kediaman Jovian," jawab Hamdan serius. "Hum?!" Davin terbelalak. Dia tidak jadi bersandar di sandaran sofa, malah mendekat ke arah sang anak dan berkata, "Jadi kamu datang dari Padang ke sini untuk meminta Ayah melamar gadis itu agar menjadi istrimu?" Hamdan mengangguk. "Ya, benar Ayah." Davin manggut-manggut. "Sudah tidak terikat bayang-bayang almarhumah istrimu lagi?" tanya Davin pada sang anak. Hamdan menggelengkan kepalanya. "Sejak Filisa pergi tiga tahun lalu, Hamdan menemukan bahwa Nisa adalah perempuan yang cocok untuk bersanding di pelaminan dengan Hamdan. Tidak perlu pakai adat Padang lagi, pakai adat mereka saja Hamdan mau, asalkan Hamdan dan Nisa bisa cepat menikah," jawab Hamdan. Niat Hamdan ini cukup terburu-buru, dia ingin mendesak sang ayah untuk melamar kekasih orang lain, sungguh tak tahu malu. "Tapi kalau malam ini, Ayah dan Ibu kamu bahkan belum bicara mengenai lamaran, terlalu cepat. Apa bisa besok saja?" tanya Davin. Hamdan terlihat berpikir. Tadi sebelum dia pergi meninggalkan rumah Finisa, Nenek Finisa katanya sakit, tapi itu ternyata hanya pura-pura. Tak berapa lama dia keluar dari kediaman Jovian, Nenek Finisa meneleponnya dan mengatakan sesuatu pada Hamdan. Hamdan menggeleng. "Hamdan sudah berjanji pada Oma Naila bahwa malam ini Hamdan akan membawa Ayah untuk melamar Nisa," jawab Hamdan. Davin melirik jam di dinding. "Setengah enam. Kalau begitu setelah makan malam saja kita pergi ke kediaman Jovian," ujar Davin. Hamdan mengangguk. "Baik, setelah makan malam." Hamdan terlalu buru-buru dalam mengambil langkah, entah apa yang akan didapatkannya nanti, mari kita lihat. °°° "Kenapa mendadak sekali?" Dian terbelalak setelah mendengar ucapan suaminya bahwa malam ini mereka akan pergi melamar seorang gadis untuk dinikahi oleh anak bungsu mereka. "Aku juga tidak tahu. Itu mau Hamdan. Aku hanya ikuti saja apa mau dia. Tiga tahun jadi duda mungkin sudah cukup dan dia ingin membangun lagi rumah tangganya bersama gadis impian lain setelah Filisa meninggal," balas Davin. Pria berusia lebih dari enam puluh tahun itu sedang memakai baju. Dia baru saja selesai mandi. "Tapi dia bahkan belum istirahat barang satu hari di rumah ini, lalu belum bicara baik-baik denganku malah langsung bicara sama Abang," ujar Dian. "Mungkin karena aku ayahnya dia beritahu lebih dulu. Sudah, jangan banyak bicara, ayo bergegas berpakaian dan pergi ke rumah Jovian," ujar Davin. "Aku pikir Abang saja yang akan pergi ke rumah gadis itu untuk melamar, aku di rumah saja. Bukankah Amdan ingin Abang yang pergi untuk membicarakan perihal lamaran? mungkin setelah disetujui, aku dan Abang akan pergi lagi ke rumah gadis itu untuk membahas lamaran resmi mau dengan adat apa. Anakmu itu ternyata terlalu buru-buru bahkan biar tidak dengan adat Padang yang penting menikah dengan gadis itu. Aku sampai penasaran, bagaimana wajah gadis itu, cantik ataukah bagaimana yah?" ujar Dian. Davin mengangguk. "Baiklah. Ah aku pikir kamu sudah pernah melihatnya. Hm, aku dan Hamdan saja yang akan pergi malam ini," balas Davin. °°° Sesuai apa yang disepakati oleh Hamdan dan Davin, dua pria beda generasi itu datang ke rumah Jovian. Naila sudah berdiri berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah sambil memegang ponselnya, dia melirik ke arah gerbang rumah. Mobil berhenti, Davin dan Hamdan turun dari mobil. Naila tersenyum ke arah Hamdan. "Oma," sapa Hamdan. "Ah, akhirnya datang juga, mari masuk!" Naila mempersilahkan Davin dan Hamdan masuk ke rumah. Davin mengucapkan salam dan dibalas oleh Naila. Mereka bertiga duduk di ruang tamu. Naila memerintahkan asisten rumah tangga untuk membuatkan teh. "Buatkan teh dan bawa beberapa piring camilan!" "Baik, Nyonya." Asisten rumah tangganya menyahut patuh. Dia buru-buru ke dapur untuk membuatkan teh dan mengambil camilan. Naila tersenyum ke arah Davin. "Halo, Davin. Kamu rupanya sudah bertambah tua, masih ingat denganku kan?" tanya Naila. Davin mengangguk. "Kita sama-sama memiliki hubungan kerabat kerabat dengan keluarga Nabhan, setiap pernikahan keluarga Nabhan selalu kita hadiri, bagaimana aku tidak mengenal Tante Naila? tentu saja aku kenal," balas Davin. Naila tertawa pelan, khas tawa seorang nyonya rumah. "Jujur saja, aku tidak menyangka bahwa aku datang ke sini untuk membicarakan lamaran dari anakku untuk cucu Tante Naila. Di mana cucumu itu? aku ingin melihat dia lagi, waktu bertemu beberapa waktu lalu, kami hanya saling bertegur sapa saja," ujar Davin. "Ah, Nisa? dia sedang di kamar. Ah, mari bicarakan dulu mengenai lamaran, dia itu sudah tahu kok," balas Naila tanpa rasa bersalah atau rasa takut. Finisa bahkan tak tahu sama sekali Hamdan malah datang lagi ke rumahnya. Dan dia bahkan membawa ayahnya untuk membicarakan lamaran. Di dapur, Rina berjalan menghampiri asisten rumah tangga dan berkata. "Siun, itu ibu mertua saya bicara dengan siapa?" tanya Rina. "Bu, itu Nyonya sedang bicara dengan Tuan Hamdan Farikin, saya lihat Tuan Hamdan bawa seorang pria tua. Mungkin ayahnya," jawab Siun. Rina terperangah. "Ah? Hamdan datang lagi? bukankah dia tadi sudah pulang?" tanya Rina heran. "Saya kurang tahu, Bu. Tapi memang yang jelas itu Tuan Hamdan datang ke rumah, sedang di ruang tamu. Ini saya sedang buatkan teh dan camilan untuk tamu," jawab Siun. Rina mengangguk mengerti. Dia berbalik haluan dari dapur ke ruang tamu. Hanya mengintip dari jarak tertentu siapa-siapa saja yang datang. Sebab tamu dari Ibu mertuanya, dia tidak berani gabung. Rina mendengar suara Naila. "Mengenai pernikahan Nisa dan Hamdan nanti, itu tenang saja, saya yang akan urus. Keluarga Farikin hanya perlu memberikan seserahan dan persyaratan yang akan keluarga Jovian ajukan," ujar Naila lancar tanpa hambatan rasa bersalah sedikitpun. Rina terbelalak saat mendengar pembahasan dari sang ibu mertua. Gawat! bahkan Hamdan sudah membawa ayahnya ke sini! batin Rina terguncang. "Itu, ayah dan ibu Nisa tidak ada? saya datang kan untuk melamar anak perempuan mereka, jadi harusnya ada mereka juga biar kita sama-sama saling pengertian. Dan juga kita harus menjelaskan latar belakang keluarga masing-masing, yah seperti contoh anak saya Hamdan ini kan duda ditinggal mati oleh istrinya yang terdahulu," ujar Davin. "Ah! itu tidak perlu. Untuk urusan pernikahan Nisa, semuanya ada di tanganku. Anakku dan istrinya telah menyerahkan urusan itu padaku. Dulu juga pernikahan mereka aku yang atur, sekarang anak mereka aku juga harus atur," jawab Naila memberi alasan. Rina buru-buru berbalik, dia berpapasan dengan Siun namun untuk sementara dia mengabaikan Siun, dia berjalan cepat ke ruang kerja sang suami yang berdekatan dengan kamar mereka. "Pa, gawat!" ujar Rina. Derian yang sedang memantau hasil kerja dari manajer dan direktur pimpinan cabang dari Nabhan's Bank itu agar terkejut dibuat oleh sang istri. Derian menengok ke arah Rina. "Ada apa, Ma? mukanya kok gitu?" tanya Derian sambil mengerutkan keningnya. Rina masuk berjalan cepat ke dalam ruang kerja sang suami dan buru-buru menarik suaminya berdiri dari kursi putar. "Hamdan bawa ayahnya ke sini, mereka sedang membicarakan lamaran untuk Nisa nanti," jawab Rina seperti kebakaran jenggot. "Apa?!" Derian syok setengah mati. Dia menyentuh *d**a kirinya karena terlalu kaget. "Mama nggak bohong kan?" tanya Derian memastikan ucapan sang istri. Rina mengangguk berulang kali. "Aduh! Mamah kok bisa gitu yah! Mamah bilang ke ayahnya Hamdan kalau kita tidak perlu ikut campur dengan urusan pernikahan Nisa dan Hamdan, karena Mamah yang urus semuanya! Pa, buruan ke depan!" Derian menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia cepat-cepat berjalan ke ruang tamu. Sementara itu, Rina menutup pintu kerja sang suami dan buru-buru masuk ke kamar sang anak. Ini benar-benar gawat. Finisa sedang berada di dalam kamarnya, dia sedang duduk di kursi dan meja kecil tempat dia meletakkan barang-barang yang berhubungan dengan pekerjaan kantor, misalnya ada laptop atau printer pribadi miliknya. Asik mengetik, dia telah memakai baju piyama tidur namun masih bekerja. "Nisa!" panggil Rina. Dia berjalan cepat ke arah sang anak dan menarik tangan anaknya untuk keluar dari kamar. "Ma, kenapa? ada apa?" tanya Nisa. "Mari ikut Mama. Pokoknya kamu harus ikut Mama!" ujar Rina. Dia buru-buru membawa sang anak ke ruang tamu. "Tuan Davin," sapa Derian. "Ah, ini dia! Derian, sudah lama tidak bertemu!" Davin berdiri dan bersalaman dengan Derian. Finisa dan Rina tiba di ruang tamu. "Baru saja aku bilang ke Tante Naila untuk kamu harus ke sini biar kita bisa bicarakan mengenai pernikahan anak kita. Hamdan anakku benar-benar tidak sabar untuk menikah. Datang dari Padang langsung menarik aku ke sini untuk melamar Nisa jadi istrinya," ujar Davin tanpa tahu kebenaran. Dia tertawa senang dan sama sekali tak tahu apa-apa. Derian dan Finisa terbelalak kaget. Kuping Finisa tidak salah dengan kan? Hamdan dan ayahnya datang untuk membicarakan tentang pernikahannya bersama Hamdan? What!? benar-benar *gila. Finisa melirik dengan tatapan marah ke arah neneknya dia dia berkata pada Davin. "Om Davin, maaf jika Nisa lancang tapi Nisa-" "Nisa!" tegur Naila. Dia memotong ucapan Nisa agar Nisa tak dapat mengatakan hal yang sebenarnya pada Davin. "Oma!" Nisa malah balik menegur keras neneknya. Hal ini membuat Davin mengerutkan keningnya. Dia merasa ada yang salah di sini. Finisa melihat ke arah Davin dan dia berkata, "Om Davin, Nisa minta maaf, tapi Nisa ini sudah dilamar oleh Alan Basri. Om Randra dan Tante Moti sudah lebih dulu datang melamar Nisa di sini. Nisa dan Alan telah lama saling menyukai dan kami saling bawa." "Apa?!" °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD