Chapter 12

1865 Words
"Apa?!" mata Davin terbelalak lebar. Dia buru-buru melirik ke arah Naila. "Tante Naila, apa maksudnya ini? maksudnya apa dengan lamaran anak saya untuk Nisa sementara dia sendiri telah dilamar oleh keluarga Basri?" tanya Davin butuh penjelasan serius. Suasana tiba-tiba berubah menjadi tegang. Naila seperti terlihat kalang kabut untuk menjawab. "Begini, itu sebenarnya Nisa tidak tahu kalau Hamdan telah lebih dulu menyukainya. Jadi dia dengan tanpa sadar em … mengenal Tuan Muda Basri-" "Oma benar-benar keterlaluan!" potong Finisa meradang. Davin dan Hamdan melirik ke arah Finisa, mata perempuan yang berusia 26 tahun itu memerah menahan kekesalan, dia hampir menangis histeris karena kelakuan sang nenek. Hamdan ingin membuka bibirnya untuk bicara, namun Finisa lebih dulu yang bicara. "Sekarang aku benar-benar marah. Kemarin Oma katakan bahwa Oma telah menjanjikan aku untuk menikah dengan dia–Bang Hamdan. Aku bahkan tidak tahu! Papa dan Mama bahkan tidak tahu. Oma sudah tidak waras! aku dan Alan saling mencintai, keluarga kami juga sudah setuju untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius. Bukankah tadi Alan juga sudah datang ke sini dan berbicara baik-baik dengan Oma? ada apa dengan Oma?!" suara Finisa terdengar bergetar menahan amarah pada wanita tua itu. Naila menelan susah air ludahnya. Ah, Davin sekarang mengerti apa yang terjadi. Dengan mata berkaca-kaca, Finisa melihat ke arah Hamdan. Dia berkata, "Dengan baik-baik aku sudah katakan pada Bang Hamdan bahwa aku sama sekali tak menaruh perasaan padamu. Tapi sepertinya Bang Hamdan ini sama sekali tak mengerti penjelasanku." Hamdan membalas, "Nisa, kamu sekarang sedang bingung. Alan itu tidak pantas dan tidak cocok untukmu. Umur kalian bahkan tidak pantas. Dia lebih muda darimu dan seharusnya dia itu seperti adikmu, bukan sepasang kekasih." "Cukup!" bantah Finisa. Dia melihat ke arah Davin. Satu tetes air matanya tak terasa tumpah. Hal ini membuat Davin sangat terperangah dan merasa terguncang atas jatuhnya air mata itu. "Om Davin, dengan segala hormat, maafkan jika kata-kata saya ada yang menyinggung keluarga Farikin, sungguh saya tidak bermaksud. Mau tetap bagaimanapun, saya hanya menyukai pria yang bernama Alan Arkin Basri, tidak ada yang lain, sudah dua tahun kami bersama." Davin menelan salivanya dan dia mengangguk mengerti. Pantas saja sang anak datang dari Padang dan buru-buru menyeretnya ke sini untuk meminang gadis ini. Gadis ini bahkan sudah dipinang oleh orang lain. Sungguh tak tahu malu. Jujur saja, saat ini Davin sangat malu dengan kelakuan anak nomor tiganya itu. "Nisa, Om Davin mengerti. Maaf telah membuatmu tersakiti. Om tidak tahu bahwa kamu telah dilamar dan memiliki hubungan dengan Alan Basri. Sekali lagi Om minta maaf." Finisa mengangguk. Syukurlah ayah dari Hamdan ini sangat pengertian dan tidak egois seperti anaknya. "Ayah-" "Cukup, jangan bicara lagi Amdan. Pulang dan ikut Ayah ke rumah," potong Davin atas ucapan Hamdan. Davin melirik serius dan dengan tatapan datar pada sang anak. Tatapan ini tersirat suatu peringatan tegas pada anaknya. Mau tak mau Hamdan diam dan dia menunduk. Naila tidak bisa bicara, dia seperti orang *bisu. Ah, nenek *bisu. Davin berdiri dan dia menarik paksa tangan kanan anaknya berdiri. "Saya permisi Tante Naila, Derian, Dik Rina dan Nisa. Om pamit pulang, maaf telah membuat keributan di sini," pamit Davin. Derian dan Rina mengangguk. Davin menarik tangan anaknya keluar dari rumah Jovian. "Ayah-" "Sampai di rumah baru kamu bicara," potong Davin. Dia benar-benar marah kali ini. Setelah Davin dan Hamdan pergi, Finisa yang masih dalam tatapan marah melihat ke arah neneknya. "Oma, tahukah Oma kalau Oma sekarang sudah membuat masalah bagi tiga keluarga?" tanya Finisa dingin. Naila melirik ke arah sang anak. "Jika saja kamu sedikit pengertian pada Oma, maka semua ini tidak akan terjadi-" "Apa yang diberikan Bang Hamdan pada Oma?" tanya Finisa memotong ucapan sang nenek. Mulut Naila tertutup dia tidak menjawab. Finisa tersenyum sinis. Dia melangkah cepat memasuki kamarnya dan mengambil ponsel, dompet dan kunci mobil, setelah itu tanpa berganti pakaian baju piyama yang dia pakai, Finisa melangkah cepat keluar dari rumahnya. "Nisa, kamu mau ke mana?" tanya Rina khawatir melihat anaknya meninggalkan rumah. Finisa berhenti lalu menjawab, "Untuk sementara Nisa nggak bisa serumah dengan Oma. Maaf Ma, Pa, Nisa akan menginap di tempat lain." Dia melanjutkan langkah menuju ke arah mobilnya. Naila hanya terdiam melihat kepergian cucu perempuannya. Sementara itu Derian melirik ke arah sang Ibu dan berkata, "Mamah sudah sangat keterlaluan. Tahukah Mamah kalau tindakan Mamah saat ini akan memicu perselisihan antar tiga keluarga? keluarga kita, keluarga Farikin dan keluarga Basri." Naila hanya diam tak membalas ucapan sang anak. Derian merasa sangat marah pada ibunya, tapi dia tak bisa mencecar atau memukul sang ibu. Itu bukanlah perbuatan bijak, biar bagaimanapun sikap Naila, Naila tetaplah ibu kandungnya. Jadilah Derian berjalan cepat masuk ke kamarnya dan melempar keras bantal dan selimut untuk menyalurkan rasa marahnya. Rina sendiri tak mau berdekatan dengan ibu mertuanya, dia buru-buru menyusul sang suami untuk menenangkan suaminya. °°° Alan yang sedang sibuk membalas satu demi satu email pekerjaan dari tiga sekretarisnya itu tiba-tiba dengan cepat membuka chat pesan yang masuk dari Finisa. 'Keluar, aku di depan rumahmu.' Dia buru-buru berdiri dari posisi santai dan berjalan keluar dari kamar. Pada jam sembilan malam seperti sekarang, orangtuanya telah tidur beristirahat, hal itu karena kondisi sang ibu yang dua tahun lalu melakukan operasi ring jantung. Setelah keluar rumah, dia berlari agak cepat keluar gerbang. Bodyguard yang melihat sang tuan muda berlari menuju gerbang, buru-buru menekan tombol pembuka gerbang. Alan menengok kiri dan kanan untuk mencari jejak Finisa, tepat sepuluh meter dari dari arah kanannya mobil sang kekasih terparkir. Alan buru-buru melangkah dan mengetuk pintu kemudi di mana ada sang kekasih duduk. Finisa membuka pintu kaca dan matanya memerah bengkak. Alan terbelalak. "Nisa! apa yang terjadi?" tanya Alan dan buru-buru membuka pintu mobil kemudi. Nisa keluar dari mobil dan langsung memeluk Alan, dia memasukkan wajahnya ke dalam pelukan Alan, air mata Nisa membanjiri baju piyama yang dipakai oleh Alan. "Jangan tanya aku sekarang! aku benar-benar kesal dan marah!" balas Finisa. Alan mengangguk mengerti, dia balas memeluk Finisa dan mengusap lembut punggung sang kekasih hati. Selama dua menit mereka berdiri sambil berpelukan. Yang Alan tahu sekarang, sesuatu yang besar telah terjadi, tapi dia tidak tahu apa itu. "Aku tidak ingin pulang ke rumah," ujar Finisa masih dalam pelukan Alan. Alan mengangguk mengerti. "Tidur di rumahku saja." Finisa menggeleng di dalam pelukan Alan. "Tidak bisa. Hal seperti ini sangat memalukan jika Tante Momok tahu," balas Finisa. "Baiklah. Ke apartemen milikku saja," ujar Alan. Finisa mengangguk. °°° Davin dan Hamdan melangkah masuk ke rumah Farikin. Rupanya Adnan sang anak sulung sedang duduk di ruang tamu karena baru saja selesai menerima tamu. "Ayah-" Plak! Bunyi tamparan dari Davin mendarat indah di pipi anak bungsu. Mata Adnan langsung terbelalak, dia langsung berdiri dari posisi duduk karena tegang. Hamdan mengusap pipi kirinya yang ditampar oleh Davin. "Ayah tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbuat perbuatan yang tidak terpuji itu, Amdan," ujar Davin. Jantung Adnan yang sebagai anak sulung itu yang berdetak tak karuan. Ada apa ini? bukankah sang ayah dan adik bungsunya pergi ke rumah seorang gadis untuk melamar perempuan yang bernama Nisa? Kenapa pas pulang terjadi adegan penamparan ini? "Gadis yang sudah dilamar oleh pria lain, tidak patut untuk kita lamar lagi. Kenapa sampai agama melarang itu? agar tidak terjadi perseteruan atau perselisihan antar satu dan yang lain. Apalagi gadis itu benar-benar menerima lamaran dari pria yang dia cintai dan mereka saling cinta. Dengan melakukan ini, kamu sangat salah. Kenapa salah? kamu memaksa kehendak kamu pada orang lain yang tidak menginginkan hal serupa denganmu," ujar Davin menceramahi anaknya. Ah, sekarang Adnan sudah tahu sedikit mengenai tata letak permasalahan dan pemicu tamparan dari ayahnya pada sang adik. "Apa lagi Finisa itu kekasih Alan Basri, orang yang juga memiliki hubungan kerabat dekat dengan keluarga Nabhan sama seperti kita," sambung Davin. Adnan melotot. "Apa?!" Adnan buru-buru menutup mulutnya. Jadi Nisa yang dimaksud oleh ibunya itu adalah Finisa yang adalah pacar dari Alan Basri, Finisa yang kakeknya merupakan sepupu dekat dari Kakek Agri. Otak Adnan sekarang benar-benar kebakaran konslet. °°° Alan menekan enam angka yang merupakan kombinasi dari pin pintu apartemennya. Ting. Pintu terbuka, sambil bergenggaman tangan, Finisa dan Alan memasuki apartemen mewah milik Alan. Ini adalah satu dari sederet properti pribadi milik Alan. Dia membawa Finisa yang sedari tadi diam ke sofa. Mereka duduk bersama. "Ceritakan apa yang terjadi," ujar Alan. Finisa mendongak menatap ke arah wajah Alan. "Setelah kamu pulang, aku pikir Hamdan itu tidak akan datang lagi ke rumah untuk membahas hal lamaran. Namun, nyatanya tebakanku salah. Dia datang lagi, kali ini membawa Om Davin dan mereka membicarakan lamaran dengan Oma Naila tanpa sepengetahuanku!" "Ah!" Alan terbelalak. Dia memegang dua bahu Finisa. "Dia nekat sekali!" marah Alan. "Arrgh! berani-beraninya dia melakukan itu!" Alan berdiri dari posisi duduk dan hendak berjalan keluar apartemennya. Hap! Finisa memeluknya dari belakang. "Mau kemana?" tanya Finisa. "Mau ke rumahnya! dasar laki-laki tidak tahu malu, jika kata-kata tidak mempan untuk menyadarkannya, maka pukulanku pasti akan bisa membuatnya sadar dari mimpinya!" jawab Alan dengan nada marah. Alan memang marah saat ini. Kemarahan Alan telah mencapai ubun-ubun. "Tidak perlu ke sana, kamu akan memperburuk suasana dan pasti akan terjadi konflik keluarga," ujar Finisa. "Tapi-" "Yang aku butuhkan sekarang adalah kamu," potong Finisa. Alan membalikkan badannya dan memegang bahu Finisa, dapat Alan lihat di mata Finisa yang masih memerah ada bekas sisa-sisa air mata ketika menangis kesal tadi. "Kamu bilang siapapun orang ketiga yang ingin masuk hubungan kita, kita akan singkirkan. Ayo singkirkan siapapun itu, tak usah menganggap mereka ada," ujar Finisa. *d**a Alan naik turun tak karuan. Dengan perasaan campur aduk dia langsung membekap bibir Finisa dengan bibirnya. Selama beberapa detik kemudian Alan melepaskan tautan bibir mereka dan dia berkata, "Aku hanya cinta kamu." Kemudian seperti hilang akal atau kesadaran, pergulatan bibir mereka mulai terjadi di mana Alan tak ingin memberikan Finisa waktu untuk mengambil napas. Dua tangan Finisa memeluk tubuh Alan, telapak tangan Finisa mencengkram kuat baju piyama yang Alan pakai hingga terlihat berkerut. Alan hilang kendali diri, dengan gerakan cepat kenop baju Finisa telah lepas. Bibir Alan berganti arah dari bibir Finisa ke leher Finisa, mengecup berkali-kali da mencium bau aroma tubuh Finisa. Mungkin itu adalah naluri seorang pria, Alan merasakan barang pribadinya tiba-tiba mengeras dan dia menggertakkan giginya dengan menggeram menahan sesuatu. Dengan cepat dia mengangkat badan Finisa menuju kamar, Finisa memeluk pinggang Alan dengan dua kakinya yang tertaut. Mereka terbanting di atas ranjang hingga ranjang empuk itu bergoyang beberapa kali. Hilangnya kesadaran Alan terlalu menggila hingga dia hampir *menelanjangi sang kekasih. Kecupan demi kecupan berlangsung hingga kecupan turun di atas si gunung kembar milik Finisa. Melihat mata Finisa yang tertutup menikmati sensasi dari Alan, membuat Alan langsung tersadar. Dia tiba-tiba duduk di atas perut Finisa namun tak sampai menindih perutnya. Finisa membuka matanya setelah dia berhasil sadar bahwa sesuatu tidak benar hampir saja terjadi. Alan cepat-cepat menaikkan *bra Finisa yang telah melorot dan mengancingkan kenop piyama baju milik Finisa. "Nisa … astagfirullahaladzim … ya Allah … aku tiba-tiba ingat suara Bunda berteriak …," ujar Alan, nada suara bergetar. Finisa bangun dari posisi terlentang dia menjambak rambutnya. "Hampir saja kita kebablasan lagi," balas Finisa. Alan cepat-cepat melompat turun dari ranjang setelah mengancingkan kenop piyama Finisa, dia menuju ke kamar mandi. Tak lama kemudian bunyi kran air terdengar. Finisa kembali melepaskan dirinya tidur di atas ranjang dan dia menghembuskan napas. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD