Chapter 13

1642 Words
Kediaman Farikin. Dian tak henti-hentinya menarik dan menghembuskan napas penyesalan. Jika dia tahu akan seperti ini, dia pasti akan mencegah suaminya untuk tidak pergi ke kediaman Jovian. "Untung tadi aku tidak pergi, Bang. Astagfirullahaladzim. Kenapa dengan Amdan? bagaimana bisa dia memaksakan kehendaknya pada seorang perempuan yang memang tak memiliki perasaan serupa dengan dia? dimana letak otaknya itu?" ujar Dian. Davin memijat pelipisnya, dia sedang memegang telepon rumah, sedari tadi setelah masuk kamar sehabis menceramahi habis-habisan anak bungsunya, dia hendak menelpon seseorang, namun dia melihat waktu yang sekarang sudah lewat dari jam sembilan malam. Dia mengurungkan niatnya untuk menelpon orang itu. "Aku tak tahu dia taruh di mana otaknya itu, sudah hilang mungkin," balas Davin. Dian melirik ke arah suaminya yang sedang pusing memikirkan masalah ini. "Andaikan saja Abang tadi tidak datang ke sana, mungkin saja kita tidak membuat perselisihan antar keluarga. Itu … Nenek Finisa juga kenapa sangat egois sekali?" "Aku tidak tahu apa yang terjadi antara Tante Naila dan Hamdan putra kita. Tante Naila berani sekali dengan mengambil keputusan itu, sementara aku saja syok hampir mati saat tahu bahwa keputusan Tante Naila ini sama sekali tidak melibatkan Nisa dan dua orangtua Nisa," ujar Davin. "Aku sampai heran, Bang. Amdan datang dari Padang langsung mau melamar Nisa tanpa bicara dengan kita berdua secara baik-baik dan dari hati ke hati. Langsung saja menarik Abang ke rumah Nisa," ujar Dian. "Yang pastinya kita sudah bersinggungan dengan keluarga Basri," ujar Davin sakit kepala. Dian memperbaiki posisi duduk di bibir ranjang dan berkata, "Telpon keluarga Basri lalu bicara baik-baik, Bang. Katakan pada mereka bahwa ini hanya kesalahpahaman." "Kau pikir aku sedang apa? dari tadi mau telpon Randra Basri tapi kupikir besok saja mengingat ini sudah larut," balas Davin. "Masih awal, Bang-" "Istrinya yang tidak bisa diganggu. Jangan mengganggu orang yang sudah beristirahat. Ah, kepalaku sakit, aku hampir kena darah tinggi hari ini, mari tidur!" putus Davin. Di dalam kamar Hamdan. Pria itu membuka jendela dan melihat ke arah luar kamar. Embusan angin malam menerpa wajahnya. Tiga tahun yang lalu. Suasana di kediaman Farikin terlihat ramai, namun itu bukalah ramai karena bersuka ria, melainkan duka cita. Hamdan yang memakai pakaian kemeja dan peci putih itu terlihat diam sambil melihat ke arah dinding dimana itu adalah foto keluarga yang diambil satu tahun yang lalu setelah pernikahannya dengan sang istri. "Maaf aku baru sampai di sini, Bang. Macet di jalan, hari ini aku berusaha untuk mempercepat pertemuan bisnis dengan rekan bisnis, ini saja aku dan sekretarisku datang ke sini," ujar Nibras. Hamdan mengangguk mengerti. Dia melirik ke arah Finisa yang kala itu berusia 23 tahun. Mata mereka saling beradu tatap, Finisa buru-buru menutup kepalanya dengan taplak meja saat mendengar imam mulai membaca doa ayat suci Al Qur'an. Senyum tipis melintas di bibir Hamdan. … Beberapa bulan kemudian. "Siapa nama sekretarismu?" tanya Hamdan. "Finisa," jawab Nibras. Hamdan agak terperangah. "Finisa?" Nibras mengangguk. "Namanya …," ujar Hamdan terhenti. "Yah, hampir sama dengan nama istrimu, tapi jangan salah, kepribadiannya dan istrimu tidaklah sama," ujar Nibras. Hamdan mengangguk pelan, dia bergumam nama Finisa dengan nada pelan. "Finisa … Filisa …." "Finisa siapa?" tanya Hamdan tanpa sadar. Nibras menjawab, "Finisa Lisa Jovian." Lagi-lagi Hamdan terperangah. "Sudah kubilang nama mereka hampir mirip," ujar Nibras. "Ah, satu lagi, dia sekarang tidak lagi menjadi sekretarisku, dia telah menjadi manager di Nabhan's Bank." Hamdan mengangguk mengerti. …. Hamdan mengingat masa ketika dia pertama kali bertemu dengan Finisa. Nama Finisa dan mendiang istrinya hampir sama. "Finisa Lisa Jovian … Filisa Nisa Jorian …," gumam Hamdan. °°° Pagi telah datang. Moti melirik ke arah sang suami dan dia berkata, "Ran, hari ini Alan pergi duluan ke kantor dan nggak sarapan bareng kita yah?" Randra melirik ke arah sang istri lalu beralih arah lirikan ke arah kursi yang biasa diduduki oleh sang anak lelakinya setiap pada saat makan di ruang makan itu. "Bun, mungkin Kak Alan sarapan bareng Kak Nisa. Kan mereka mau nikah gitu jadi nggak mau pisah meskipun hanya satu hari," ujar Liham. Anak ini biar bukan urusannya, dia selalu saja ikut urusan itu, seksi sibuk. "Oh begitu. Ah, kemarin juga Alan buru-buru ke restoran mau sarapan bareng Nisa," ujar Moti sambil manggut-manggut mengerti. Randra hanya diam sambil melihat ke arah sang istri yang terlihat ceria seperti biasa. Chana datang berlari kencang bagaikan angin ribut ke arah ruang makan. "Nenek Momok! Eyang Lalas!" teriak Chana. Pantatnya bahkan masih penuh kembung karena pampers belum dibuka. Ben berlari kencang mengikuti sang anak. Dia bahkan belum cuci muka tapi harus terpaksa menyusul sang anak perempuan yang sangat aktif itu. "Ooh ponakan Om Liham!" Liham membuka lebar tangannya agar Chana masuk ke dalam pelukan. "Om Liham! hiiiiiiii! jijik! pampes belum buka!" adu Chana. "Oh oh kasihan ponakan Om Liham ini. Ayo kita buka pampesnya yah," balas Liham terdengar seperti bahasa bayi. Namun sedetik setelah ucapan Liham, tubuh kecil dan tembem Chana telah berpindah pelukan ke ayah anak itu. Wajah Ben terlihat serius. "Tidak boleh sembarangan membuka celana seorang anak perempuan," ujar Ben. Liham memutar bola matanya. "Sudah sering *taik Chana aku pegang. Tuh bahkan mukanya si Kak Bilal pernah maskeran pake *taiknya Chana," balas Liham. "Uhuk uhuk uhuk!" Bilal terbatuk hebat. Dia melotot ke arah adiknya. "Kamu! awas yah!" Bilal menggertakkan giginya kesal. Moti terkekeh begitu juga dengan Laras dan Iqbal. Mereka mengingat lagi beberapa bulan lalu di mana Liham *mencebok Chana namun semua orang bersalah sangka yang tidak-tidak tentang Liham. Alhasil Liham jengkel dan mengolesi hasil ekskresi dari Chana ke wajah Bilal. Ben menahan tawa. Kalau diingat-ingat, memang waktu itu Bilal sedang *sial. Randra hanya tersenyum geli melihat ekspresi Bilal. °°° Finisa membuka dua kelopak matanya. Dia melirik ke arah kamar yang ditempati olehnya. Lampu kamar apartemen itu bahkan tidak menyala karena dia dan sang kekasih langsung masuk sambil beradu bibir dan membuang diri mereka ke atas ranjang tadi malam. Beruntung mereka berdua tersadar bahwa apa yang mereka lakukan itu hampir melewati batas pria dan wanita. Finisa bangun dari posisi tidur. Dia turun dari ranjang dan membuka pintu kamar apartemen. Finisa merasa tidak ada orang di dalam apartemen itu selain dirinya. Apakah Alan telah pulang ke rumahnya tadi malam tanpa pamit padaku? batin Finisa. Namun saat dia melangkah mendekat ke arah dapur dan mendengar suara seseorang yang sedang memasak. Ketika Finisa berjalan cepat ke arah dapur dan berhenti di ambang pintu dapur, dia melihat Alan yang masih memakai baju piyama tidur dan dilapisi apron di pinggangnya sedang memasak nasi goreng. Alan yang sedang mencicipi rasa nasi goreng buatannya itu melirik ke arah langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Dia tersenyum manis. "Selamat pagi my Nisa," sapa Alan manis. Finisa diam selama beberapa detik memandangi Alan. Ini adalah pemandangan baru baginya. Ya, baru. Pasalnya dia tidak pernah melihat Alan memasak sebelumnya, bahkan tidak pernah terpikirkan oleh Nisa bahwa Alan sangat tampan saat memakai apron. Finisa terkekeh. "Ada apa? ada yang salah denganku?" tanya Alan. Finisa melangkah maju dengan melipat dua tangan di *d**a dan menjawab, "Aku tidak pernah menyangka kamu pakai apron ternyata sangat tampan." Alan tersenyum miring. "Tidak lama lagi, kamu akan lebih sering melihatku memakai apron di dapur," ujar Alan. Finisa terkekeh. "Sudah selesai masak untuk sarapan kita. Tunggu aku plating dulu lalu kita sarapan bersama," ujar Alan. Finisa mengangguk. Dia melirik ke arah dalam wajan, nasi goreng sederhana buatan pacarnya beraroma menggoda perut. Alan mengambil piring dan mulai membuat bola nasi di atas piring besar putih dan mengambil satu telor ceplok diletakkan di atas nasi bola itu. Dia membuat dua porsi yang pas. Kemudian Alan membawa dua piring itu ke meja pantry dan membuka kulkas. "Coba aku lihat minuman apa yang pas? ah, asisten yang sangat pintar, ada jeruk," ujar Alan. Dia buru-buru mengambil empat buah jeruk berukuran jumbo dan pergi membuat jus jeruk menggunakan mesin pembuat jus buah. Hanya dua menit dan semua sarapan sederhana jadi. Finisa yang melihat Alan sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, dia tersenyum manis. "Ayo sarapan," ujar Alan. Finisa mengangguk. Dia menyuapkan nasi goreng ke dalam mulut. Rasanya enak, tidak banyak minyak, bahkan rasa bawang bombai tumis menambah cita rasa nasi goreng ini dan daging ikan. "Aku pikir kamu tidak tahu masak," ujar Finisa setelah dia menelan suapan nasi goreng pertama. Alan melihat ke arah mata Finisa dan dia terkekeh. "Aku dilatih untuk menjadi Tuan Muda Basri, semuanya harus aku lakukan secara mandiri, dari mandi, makan sampai urusan lainnya," ujar Alan. Finisa manggut-manggut. "Dulu kata Ayah, Ayahku tidak suka memasak dan memang tidak pandai memasak, namun setelah menikah dengan Bunda, Ayah mencoba untuk memasak hidangan sederhana untuk Bunda agar dapat menghibur Bunda," ujar Alan. Finisa manggut-manggut mengerti. "Jadi kamu memutuskan untuk belajar masak karena menjadi Tuan Muda Basri?" tanya Finisa. Alan mengangguk. "Cita-cita memasak untuk istriku nanti." Finisa tertawa. "Aku serius," ujar Alan. "Hum, aku percaya," balas Finisa lalu dia melanjutkan makan. Beberapa saat kemudian di pertengahan makan, Finisa bertanya, "Ah, Alan, darimana bahan-bahan makanan ini, bukankah kamu selalu pulang ke rumah?" Alan menjawab, "Kusuruh Tori bawa bahan-bahan makanan pagi tadi jam lima." Finisa terbelalak. "Jam berapa sekarang?" "Jam sembilan," jawab Alan. "Akh! bagaimana urusan kantor kita?!" tanya Finisa. "Nanti saja, kita habiskan sehari berdua di sini dulu," jawab Alan santai. "Tapi bukannya kamu sudah janji pada Ibas untuk-" "Jangan membantah. Di apartemen ini tidak ada baju satupun. Hanya ada handuk dan kimono mandi. Mau pergi ke kantor dengan memakai kimono mandi?" potong Alan. Finisa tertawa. Baiklah, ayo habiskan satu hari di apartemen bersama. Namun mata Finisa melotot. "Jangan berduaan terlalu lama, aku takutnya kejadian tadi malam akan terulang," ujar Finisa. Alan menunjuk ke arah dinding dapur dan beberapa dinding lainnya. "Hal pertama yang kusuruh pada Tori selain membawa bahan-bahan makanan, dia juga harus print foto Bunda Momok dengan tatapan melotot supaya aku tetap sadar ada Bunda yang selalu mengawasi lewat dinding." Finisa tergelak tawa hingga sakit perut. "Biar tidak khilaf," sambung Alan. Air mata tawa Finisa bahkan turun setelah mendengar kata-kata Alan. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD