Chapter 14

1443 Words
Setelah sarapan pagi, Randra biasa akan menemani sang istri untuk melihat tanaman herbal atau tanaman hias istrinya. Atau biasanya dia akan menemani istrinya bermain bersama Chana di gazebo belakang rumah. Seperti sekarang, Chana yang telah habis mandi dan berpakaian kasual itu sedang mengambil gunting mainan dan pergi menggunting daun bonsai. Karena itu hanya gunting plastik mainan, jadi tentu saja daun bonsai tak putus atau terpotong. Pelayan datang dari dalam rumah sambil memegang telepon rumah dengan dua tangannya, dia mendekat ke arah Randra. "Tuan Randra, ada telepon dari Tuan Tua Farikin," ujar sang pelayan perempuan. Mendengar nama Farikin membuat Randra menoleh ke arah telepon rumah, lalu dia melirik ke arah sang istri dan berkata pada istrinya, "Moti, main dengan Chana dulu yah, aku akan menerima telepon dari teman." Moti mengangguk mengerti. Randra menerima telepon rumah dan dia berjalan masuk ke dalam rumah sementara itu pelayan tetap tinggal di luar untuk menjaga sang nyonya rumah. Laras datang sambil membawa keranjang anyaman. "Chana, katanya mau main panen-panenan sama Eyang Laras," ujar Laras. Chana yang sekarang malah memetik daun bonsai hingga sebelah sisi kiri pohon bonsai itu hampir habis, melirik ke arah sang Eyang perempuan. "Eyang Lalas, petik daun!" Laras hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah cicitnya yang hampir memetik gundul pohon bonsai. Ben yang sekarang menjadi bapak rumah tangga buru-buru menjauhkan sang anak dari pohon bonsai itu. "Jangan dipetik habis, itu punya Nenek Momok," ujar Ben. Chana menggelengkan kepala. "Nenek Momok, Papa malah!" lapor Chana. Moti tersenyum ke arah sang menantu dan dia berkata, "Tidak apa-apa, Nenek Momok nggak marah, Ben jangan marah sama Chana, masih banyak bonsai yang lain." Ben hanya tersenyum masam sambil mengangguk. Anaknya sekarang tukang lapor sama seperti adik iparnya yang bernama Liham itu. Ini semua karena Liham yang mengajari Chana. Di ruang santai, sambil memantau aktivitas istri dan keluarganya, Randra menerima panggilan telepon dari Davin. "Halo." "Halo, Randra, assalamualaikum," salam Davin dari seberang. "Waalaikumsalam," balas Randra, "ada apa Bang Davin menelepon?" tanya Randra. "Randra, aku ingin mengatakan hal penting, tapi jika aku pergi ke rumahmu, aku takut akan menimbulkan masalah, jadi bisakah kita saling bicara lewat telepon saja?" tanya Davin. "Baik, bisa," jawab Randra. Davin bicara lagi. "Randra, aku minta maaf atas apa yang putraku lakukan, aku benar-benar tidak tahu bahwa kamu telah melamar gadis yang bernama Finisa untuk Alan. Putraku membuat masalah, aku sangat marah tadi malam saat dia membawaku ke rumah Jovian untuk melamar Nisa. Dan setelah sampai di sana, terjadi keributan antara Nisa dan neneknya. Aku juga tidak tahu kenapa Nenek Nisa egois dengan menjanjikan cucu perempuannya untuk dinikahi oleh anakku, sementara Nisa sendiri dan anak laki-lakimu yang bernama Alan sangat saling mencintai." Wajah Randra berubah serius saat dia mendengar ucapan Davin. Tadi malam Davin datang ke rumah Jovian dan melamar Finisa? Berarti masalah ini bertambah rumit. "Randra, tenang saja, setelah aku tahu bahwa anakku salah, aku langsung meminta maaf pada keluarga Jovian dan Nisa. Aku juga tidak menuruti apa mau anakku," ujar Davin dari seberang telepon. Randra mengerti, syukurlah otak Davin ini tidak seperti otak anak lelakinya yang tidak mengerti dan pengertian. "Aku menelponmu agar tidak menjadi masalah keluarga di antara kita. Aku jamin, anakku itu tidak akan melamar Nisa, aku akan awasi dia. Jangan sampai karena masalah ini, kita punya perselisihan, apalagi adik iparmu adalah istri dari adik sepupuku. Nabhan pasti akan terbawa," ujar Davin. "Aku mengerti, Bang. Karena Abang Davin sendiri yang menelepon dan menjelaskan padaku, aku tidak marah atau tersinggung," balas Randra. "Syukurlah. Itu … mengenai urusan antara Nenek Nisa dan keluargamu, aku pikir memang ada yang salah dengan beliau. Untuk apa beliau menolak lamaran dari keluargamu? pasti ada alasan," ujar Davin. "Aku sendiri tidak tahu apa alasannya," balas Randra seadanya. "Ah begitu rupanya. Um, sampai di sini dulu pembicaraan kita, yang penting sudah aku menghubungi kamu dan meluruskan masalah bahwa aku mewakili keluarga Farikin tidak ada hubungannya dengan apa yang dilakukan oleh anakku itu," ujar Davin. "Baik," sahut Randra. "Sampaikan salamku pada istrimu, harap dia selalu sehat-sehat. Aku tutup teleponnya, assalamualaikum," ujar Davin. "Baik, terima kasih. Waalaikumsalam." Randra membalas ucapan Davin. Panggilan telepon diakhiri. Randra berdiri sambil melihat sang istri yang didorong kursi rodanya oleh pelayan tadi ke dalam rumah kaca. Jadi semua ini terjadi tanpa keinginan dari keluarga Farikin. "Mari kita lihat, bagaimana wanita tua itu mencoba mengacaukan kebahagiaan istriku," ujar Randra dingin. Istrinya telah bahagia, lantas dia akan tetap diam saja melihat orang lain mengacaukan kebahagiaan sang istri? tentu dia tidak akan diam saja. Seorang pelayan datang. Randra memberikan telepon rumah pada pelayan itu dan dia bertanya, "Alan pergi ke kantor jam berapa?" "Tuan, saya pagi ini tidak melihat Tuan Alan keluar rumah," jawab si pelayan. Randra mengangguk mengerti. Dia berjalan keluar dari rumah dan memasuki rumah kaca. Sudah ada sang ibu yang sedang memetik stroberi yang sudah masak lalu meletakkannya ke dalam keranjang anyaman. "Momok, mau dibikin es krim apa kue?" tanya Laras. "Momok hari ini mau makan kue tart. Kata Kak Febri, sudah bisa makan manis-manis dan agak berlemak tapi tidak terlalu banyak," jawab Moti. Laras yang telah berumur pertengahan tujuh puluh itu mengangguk mengerti. "Mama Laras mau bikin untukmu," ujar Laras. Moti tersenyum. "Mama Laras masih bisa gerak bebas yah, padahal sudah tua." Laras tertawa. "Hum iya dong. Kita harus banyak olahraga," balas Laras. Mertua dan menantu itu terlihat menikmati obrolan mereka. Moti melihat Randra duduk di di pinggir rumah kaca. "Ran, Mama Laras mau bikin kue tart stroberi. Ran mau?" Randra mengangguk. "Mau." "Ok, tunggu kita lihat stroberi yang masak dulu," ujar Moti. Randra mengangguk. °°° Nibras duduk di ruang rapat gedung Basri dengan tatapan seperti orang linglung. Tak ada Alan dan Finisa. Bukankah mereka harus ada dalam rapat ini? Tapi di manakah mereka? Pintu ruang rapat dibuka, seorang pria berusia akhir dua puluhan memasuki ruang rapat. Itu adalah asisten Alan. "Tori, Alan sudah ada?" tanya Nibras. Tori yang adalah asisten dari Alan itu sedikit menunduk dan dia berkata, "Pak Nibras, ada pesan dari Pak Alan, beliau dan Nona Nisa tidak akan ke kantor untuk membahas pekerjaan dan rapat hari ini." Nibras, "!!!?" lah? Kemarin kan sudah janji. "Nanti Pak Alan akan menghubungi Anda lebih lanjut," ujar Tori. Alan mengangguk dan berwajah masam. °°° Malam dengan cepat datang. Alan berkata pada Finisa. "Haruskah aku menginap di sini lagi untuk menemani kamu? kamu belum mau pulang ke rumah." Finisa menggelengkan kepalanya. "Kamu harus pulang ke rumah. Jangan buat Tante Momok bertanya dan khawatir tidak melihat anak-anak beliau di rumah. Kesehatan Tante Momok tidak seperti Mamaku," balas Finisa. Alan mengangguk. "Ada tiga pasang piyama baru, tiga blus dan kemeja, rok, celana dan dalaman, sepatu dan tas baru untukmu. Peralatan mandi sudah tersedia dan perawatan wajahmu telah ada, bahan makanan cukup untuk tiga atau empat hari ke depan," ujar Alan. Finisa tersenyum geli. "Kamu yang sediakan semua, tuan rumah." "Harus, kan untuk calon istri," balas Alan. "Hum, aku tahu. Pulang sekarang, sudah jam sembilan malam. Hari ini kita tidak ke kantor dan membahas masalah kerja sama antar perusahaan kita. Apakah kamu sudah menelepon Ibas?" tanya Finisa. Alan tiba-tiba melotot. "Belum!" °°° Alan melangkah memasuki rumahnya. Di saat sampai di pertengahan ke arah kamarnya, suara sang ayah terdengar. "Nisa di apartemenmu?" "Astagfirullahaladzim," ucap Alan agak kaget. Dia mengusap dadanya dan berbalik melihat ke arah sang ayah. "Ayah." Ternyata sang ayah tahu bahwa pacarnya menginap di salah satu apartemen miliknya. Yah, Alan tidak bisa menyembunyikan hal ini pada sang ayah, toh mata sang ayah ada dan tersebar di mana-mana. …. "Aku tidak tahu, si Hamdan itu benar-benar kepala batu, Ayah. Kemarin sudah aku bilang padanya dengan jelas, bahkan Nisa juga bilang kalau kami itu telah bersama, saling suka dan ingin menikah, tapi dia masih saja nekat datang bawa Om Davin ke rumah Nisa dan dengan tanpa rasa bersalah dia membicarakan soal lamaran dengan Oma Naila. Alan sangat marah tadi malam. Nisa bahkan pergi dari rumah dengan menangis kesal, Ayah." Randra mengangguk mengerti. "Davin sudah menelepon. Dan dia mengatakan maaf dan benar-benar tidak tahu kalau kita sudah membicarakan hal lamaran dengan orangtua Nisa." "Syukurlah Om Davin mengerti, tidak seperti anaknya," balas Alan. "Ayah rasa, kita belum bisa melamar Nisa secara resmi karena Omanya yang keras kepala itu. Tunggu beberapa saat untuk memberi pengertian pada Omanya dan lihat ke depannya. Tapi Ayah janji, tidak akan lama masalah ini, sebab Bunda kamu sedang sibuk melihat apa saja yang ingin dibawa untuk lamaran," ujar Randra. Alan mengangguk mengerti. "Tidurlah, Ayah akan ke kamar untuk istirahat," ujar Randra. "Baik, Ayah." Alan menyahut. Randra keluar dari dalam kamar anaknya. Pembicaraan mereka berlangsung di dalam kamar Alan. Setelah Randra keluar kamar Alan, Alan membuang badannya ke atas ranjang. "Dasar laki-laki tidak tahu malu. Calon istriku dibilang calon istrinya," cebik Alan. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD