Chapter 15

1555 Words
Finisa melihat penampilannya di depan cermin lemari ruang ganti pakaian yang berada di apartemen Alan. Hari ini hari rabu, di mana dia memakai blus pink berbunga di bagian bawah dan rok merah ketat pensil. Sepatu baru yang dibelikan oleh sang pacar terlihat sangat pas. Alan telah tahu ukuran luar dalam pakaian yang dipakai oleh Finisa. Finisa memasukkan dompet, ponsel dan kunci mobil ke dalam tas branded yang dibelikan oleh Alan kemarin melalui Tori sang asisten. Dia berjalan keluar dari apartemen milik kekasihnya dan naik lift menuju parkiran. Pintu lift terbuka dan Alan sudah membuka pintu mobil jok depan untuk Finisa masuk. "Hari ini kita ada rapat bersama, kemarin kan kita berdua tidak ada. Jadi pergi bersamaku saja, nanti setelah rapat, aku akan mengantarmu ke kantormu," ujar Alan. Finisa mengangguk tidak keberatan. Dia duduk di jok penumpang depan, Alan berjalan melalui depan mobil dan masuk ke jok kemudi. Dua muda mudi itu meninggalkan basement parkiran apartemen. °°° "Sekarang tolong jelaskan padaku Bapak Alan Arkin Basri dan Nona Finisa Lisa Jovian, kenapa kemarin kalian berdua kompak tidak hadir di ruang rapat yang telah kita sepakati di hari sebelumnya?" tanya Nibras. Mereka telah selesai rapat pagi. Pertemuan antara dua perusahaan berlangsung hingga jam makan siang. Sekarang mereka memilih makan siang bersama di Basri Food dimana ini adalah restoran di bawah naungan Basri Group yang bekerja sama dengan Farikin Seafood milik Busran. Berada di privat room membuat Alan dan yang lainnya bebas membuka mulut mereka. "Sepupumu yang bernama Hamdan Farikin itu tidak tahu malu. Dia dengan tanpa ada rasa malu memaksa melamar Nisa bahkan tadi malam membawa Om Davin ke rumah Nisa dan membicarakan lamarannya pada Nisa," jawab Alan. "Hah?!" Nibras terbelalak. Dia melirik ke arah Finisa, wajah sang sepupu jauh terlihat datar bagaikan papan talenan. Ekspresi wajahnya juga seperti sedang ingin membunuh orang yang berani mengganggunya. "Bang Hamdan datang ke rumah kamu bawa Om Davin untuk melamar kamu?! aaah!" tanya Nibras pada Finisa. Lalu dia melirik ke arah Alan dan berkata, "Jangan berbohong! apa yang terjadi sebenarnya? katakan padaku!" Nibras bagaikan orang yang kebakaran jenggot. "Oma ingin membatalkan lamaran Alan," jawab Finisa datar. "Haaa?!" Nibras benar-benar melotot kaget. "Oma Naila ingin membatalkan lamaran kamu? ada apa? alasannya apa?" tanya Nibras ke arah Alan. "Aku tidak tahu. Tapi Oma Naila tetap ingin agar aku tidak jadi menikahi Nisa," jawab Alan. "Aku baru tahu kalau Oma telah menjanjikan aku untuk menikah dengan Bang Hamdan," ujar Finisa setelah Alan menjawab pertanyaan dari Nibras. Nibras, "!!!" hampir syok setengah mati. Dia bahkan tidak dapat berkata apa-apa lagi, hanya melirik ke arah Alan dan Nisa secara bergantian. "Hari minggu kemarin Oma pulang dari liburan di Prancis. Malam itu aku baru diantar pulang oleh Alan dari rumahnya karena aku seharian menghabiskan waktu bersama Tante Momok dan Nenek Laras. Setelah Alan mengantarkan aku pulang, kakiku bahkan baru melangkah tiga langkah memasuki rumah, Oma berkata batalkan lamaran Tuan Muda Basri dengan cucunya," ujar Finisa. Dia tersenyum sinis. "Oma pikir aku perempuan lemah lembut yang dapat ditindas dan diperintah sesuka hati, Oma salah besar." Suara Finisa terdengar dingin. Nibras melihat ke arah Finisa tanpa niat untuk menjeda ucapan Finisa. Dia tahu, ini adalah masalah serius. Pokoknya yang berhubungan dengan pernikahan itu adalah serius. Sebagai contoh, dia gagal menikah dengan perempuan pujaan hatinya beberapa bulan yang lalu, beruntung Tuhan menjodohkan mereka lagi dan sekarang dia telah bersyukur perempuan itu telah menjadi istrinya. "Oma ingin aku menikah dengan Bang Hamdan, tapi siapa peduli? aku menolak tegas. Terjadi adu mulut antara aku dan Oma. Papa dan Mama tak bisa berbuat apa-apa karena tekanan dari Oma," ujarnya. "Besoknya aku berpikir mungkin Oma akan menghilangkan keputusannya itu, aku memberi tahu Alan semua yang terjadi di rumah malam itu dan Alan berniat untuk datang sendiri ke rumah setelah pulang kerja, namun ada Bang Hamdan yang ternyata sudah bersama Oma sedang membicarakan mengenai lamarannya padaku. Terlibat lagi adu mulut dan Oma sama sekali tak menganggap omongan Alan. Oma mengeluh sakit dan semua orang kembali pulang ke rumah, tapi yang membuatku benar-benar marah malam itu, Bang Hamdan dengan berani membawa Om Davin datang ke rumah untuk melamarku, dan Oma sama sekali tidak merasa bersalah dan malah menerima baik lamaran itu. Bahkan Mama dan Papa tidak dilibatkan dalam pembicaraan mereka. Aku marah, tentu saja aku tidak terima. Aku katakan yang sebenarnya pada Om Davin tanpa menyinggung perasaan beliau bahwa Alan telah melamarku, aku dan Alan telah bersama selama dua tahun kami pacaran. Syukurlah Om Davin mengerti dan meminta maaf padaku dan pada Papa dan Mama. Om Davin menarik pulang Bang Hamdan dari rumahku. Setelah Om Davin dan Bang Hamdan pulang, aku hampir adu mulut lagi dengan Oma karena benar-benar marah dan jengkel. Ingin rasanya aku berteriak pada Oma agar jangan lagi mencampuri urusanku dan mengaturku sesuka hatinya karena aku bukan Papa." Wajah Nibras terlihat iba pada Finisa. Berat juga masalah Finisa, ini menyangkut orangtua dan anak, nenek dan cucu serta beberapa keluarga sekaligus. "Aku memutuskan untuk pergi dari rumah dulu. Dalam keadaan marah, aku tak bisa tinggal serumah dengan Oma, aku takut akan hilang kendali," ujar Finisa. Nibras mengangguk mengerti. "Aku mengerti perasaan kalian berdua. Di saat kalian benar-benar serius untuk menikah, namun ada orang lain yang menghalangi atau mengacaukan hubungan kalian, pasti kalian akan marah. Satu pesanku, jangan termakan omongan orang lain seperti pengalamanku dulu. Dulu aku benar-benar termakan omongan orang yang menjelek-jelekan Tika, hingga aku menyakitinya dan membuat harga dirinya sebagai wanita terluka." Alan dan Finisa mengangguk. "Jadi lamaran resmi darimu bagaimana? apakah Om Randra tahu masalah ini? kalau beliau tahu, beliau bilang apa?" tanya Nibras. "Tadi malam aku sudah mengatakan pada Ayah. Ternyata kemarin pagi Om Davin sendiri yang menelepon dan bicara dengan Ayah mengenai kejadian malam itu, malam yang Om Davin datang ke rumah Finisa untuk melamar Nisa namun malah menjadi masalah," jawab Alan. "Om Davin bilang apa?" tanya Nibras. "Om Davin minta maaf padaku dan Ayah. Serta mengatakan bahwa beliau mewakili keluarga Farikin untuk tidak ada hubungannya dengan apa yang dilakukan oleh Hamdan itu. Juga Om Davin mengatakan bahwa beliau tidak akan mengiyakan kemauan anaknya untuk menikahi Finisa. Om Davin takut kalau kita saling berselisih apalagi empat keluarga ini telah saling berhubungan kerabat, dimana Tante Gea merupakan menantu dari Nenek Lia yang adalah Tante dari Om Davin sementara almarhum Opa Nisa merupakan sepupu dari pihak ibu Kakek Agri," jawab Alan. Nibras manggut-manggut mengerti. "Om Davin itu jika waktunya serius, beliau juga akan serius, jika waktu bercanda, maka beliau juga akan bercanda. Apalagi ini menyangkut beberapa keluarga sekaligus, pasti kita akan saling tidak enak hati. Biar bagaimanapun juga Bang Hamdan masih cucu dari Nenek Lia, tapi di sisi lain menantu Nenek Lia adalah Tante kamu yaitu adik dari Tante Momok. Pasti kami akan saling berhubungan dan merasa tidak nyaman kalau ada masalah," ujar Nibras bijak. Alan dan Finisa mengangguk mengerti. Nibras melirik ke arah Finisa, dia bertanya, "Jadi kamu tidak tinggal di rumahmu untuk sementara?" Finisa mengangguk. "Di mana kamu tinggal untuk sementara?" tanya Nibras. "Apartemenku," jawab Alan. Nibras melirik ke arah Alan. "Dia keluar dari rumah dengan perasaan yang benar-benar berantakan. Hanya membawa baju piyama di badan. Kalau menginap di rumahku takutnya Bunda akan bertanya banyak hal," ujar Alan. "Ah benar. Jadi apakah Tante Momok tahu mengenai masalah ini?" tanya Nibras. Alan dan Finisa sama-sama menggelengkan kepala mereka. "Kabar buruk sangat tidak baik untuk Bunda. Cukup dua tahun lalu di mana Kak Poko dibawa kawin lari oleh Ben dan membuat Bunda harus operasi ring jantung. Jangan lagi ada masalah ini itu. Aku sebagai anak tidak ingin Bunda sedih dan merasa tidak nyaman, sudah cukup selama sisa hidup beliau harus menghabiskan duduk di kursi roda," jawab Alan. Di akhir kalimatnya, suaranya terdengar serak. Finisa menggenggam tangan kanan Alan dengan tangan kirinya, hal ini memberikan kekuatan pada Alan. "Aku harap masalah ini cepat selesai dan tidak ada dari pihak manapun yang merasa tersinggung dan terluka," ujar Nibras. Alan dan Finisa mengangguk bersamaan. °°° Mobil Alan berhenti di depan pintu kantor di mana Finisa bekerja. "Pulang nanti aku akan mengantarmu ke apartemenku lagi," ujar Alan. Finisa mengangguk. "Baik." Sebelum Finisa turun dari mobil, Alan sempat mengusap sayang pipi Finisa. Finisa berjalan memasuki kantor, dia melangkah ke ruang kerjanya di mana di depan ruang tunggu di pintu kerjanya sudah ada Derian yang duduk menunggu kedatangan sang anak. Derian berdiri setelah melihat Finisa. "Nisa." …. Mereka sekarang berada di dalam ruang kerja Finisa. "Kamu tidur di mana? di rumah Alan?" tanya Derian. Finisa menatap diam ke arah sang ayah. Derian buru-buru berkata, "Papa tidak akan beritahu Oma kamu. Mama kamu dari kemarin khawatir, sudah dua malam kamu tidur di luar tanpa bilang kamu di mana." "Papa tenang saja. Aku baik-baik saja, Alan memperlakukan aku dengan baik," jawab Finisa. Derian mengangguk. "Baiklah kalau kamu tidak mau memberitahu kamu tinggal di mana untuk saat ini. Yang penting kamu baik-baik saja. Itu … besok kalau kamu sudah benar-benar tenang dan tidak lagi marah pada Oma kamu, pulanglah ke rumah," ujar Derian. Finisa mengangguk. "Baik." Derian berdiri dari sofa. "Papa kembali ke kantor cabang. Datang ke sini karena Mama kamu khawatir," ujar Derian. Finisa mengangguk. "Aku akan menelepon Mama nanti." "Ya, telepon Mama kamu," timpal Derian. Derian melangkah keluar dari dalam ruang kerja sang anak dengan perasaan lega. Kemarin dia datang untuk menemui sang anak namun anaknya tak masuk kantor, ponsel dimatikan, hal ini membuatnya khawatir. Mau ke rumah Basri takut salah. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD