Chapter 16

1575 Words
Pada jam pulang kantor, sesuai kesepakatan Alan dan Finisa, Alan menjemput pulang Finisa dari kantor tempat di mana Finisa bekerja. "Aku pikir sebelum aku mengantarmu pulang ke apartemenku, mari kita habiskan waktu dua jam menuju makan malam di luar. Setelah makan malam aku akan mengantarmu dan aku akan pulang," ujar Alan. "Baik, aku juga tak ingin sendirian di apartemen kamu. Mungkin makan di luar adalah pilihan yang bagus," balas Finisa. Alan melajukan mobilnya keluar dari kompleks perkantoran Nabhan, sementara itu mereka tak tahu bahwa di belakang mobil Alan, sudah ada mobil lain yang sedari tadi menunggu di luar kantor Finisa. Mobil itu kini melaju mengikuti ke mana mobil Alan pergi. Menghabiskan waktu sore di puncak, memang agak sedikit jauh dengan rumah mereka, namun bagi Alan dan Finisa yang sedang dalam masalah keluarga dan hubungan mereka, pemandangan sore puncak sangat indah dan merefreshkan pikiran mereka. Kedua orang itu berjalan sambil bergandengan tangan, mereka terlihat bersandar di pagar dan melihat ke arah pemandangan kota di mana banyak lampu yang menyinarkan sinar mereka dan banyaknya gedung. "Aku ingin seperti ini, menghabiskan waktu bersamamu tanpa gangguan dari orang lain," ujar Alan. Finisa melirik ke arah Alan dan dia tersenyum. "Mungkin benar apa kata sebagian orang. Semua orang pasti punya masalah versi mereka sendiri," balas Finisa. Alan tersenyum tipis. "Menunggu makan malam, ayo nikmati sunset," ujar Alan. Finisa mengangguk. Alan merogoh ponsel mahal dan mengambil beberapa gambarnya dan Finisa dalam balutan keromantisan yaitu saling berpelukan. Meskipun ada masalah yang menimpa hubungan mereka, namun Alan dan Finisa untuk sementara memutuskan untuk tidak mau membahas masalah itu, mereka bersenang-senang di puncak dengan berfoto ria dan memandangi sejumlah pemandangan yang indah. Tak berapa lama telah jam makan malam. Finisa dan Alan memutuskan untuk menikmati makanan di puncak saja. Alan dan Finisa mengambil tempat outdoor agar bisa leluasa memandangi pemandangan kota. "Kamu ingin makan malam menu apa?" tanya Alan. "Coba aku lihat menu apa saja yang ada di sini," ujar Finisa sambil mengambil alih buku menu dari tangan Alan. "Silakan, calon Nyonya Basri," balas Alan. Finisa terkekeh. Kata-kata Alan sungguh menyentuh hatinya. Dia melihat ada makanan seafood. "Scallop mentega dan nasi juga enak," ujar Finisa. Alan mengangguk mengerti. "Ok, itu pesanan kamu." "Kamu pesan apa?" tanya Finisa. "Ada pasta seafood. Aku ingin makan pasta kerang," ujar Alan. "Baik, aku scallop mentega dan kamu pasta kerang. Hm … aku ingin air putih saja, aku rasa kita hari ini kekurangan minum air putih," ujar Finisa. "Baik, sesuai apa kata calon Nyonya Basri Alan," sahut Alan. Finisa tersenyum. Hatinya malam ini lumayan senang karena kata-kata romantis dari Alan. Beberapa saat setelah dia dan Alan memesan makan malam, pelayan datang membawa makanan mereka. "Terima kasih," ujar Alan. "Sama-sama," balas pelayan restoran. Saat Alan dan Finisa mulai menikmati makan malam mereka, Alan berkata, "Lumayan rasa pasta kerang punyaku." Finisa melirik ke arah piring Alan. Melihat Alan melingkarkan pasta menggunakan garpu, membuat Finisa melihat aktivitas Alan hingga memasukkan garpu ke dalam mulut. Itu adalah tindakan yang terlihat manis di mata Finisa. "Mau mencoba?" tawar Alan. Dia menunjuk ke arah piring makan miliknya. "Punyaku masih banyak," balas Finisa. Alan manggut-manggut. Dia melanjutkan makan. Finisa tersenyum kecil ke arah Alan yang memasukkan lagi pasta kerang ke dalam mulut, namun senyuman Finisa membatu saat tak sengaja melirik ke arah belakang Alan. Senyum manis diarahkan ke arahnya, itu bukan senyuman dari Alan melainkan dari laki-laki lain. Melihat pacarnya yang berubah senyum menjadi batu, Alan mengerutkan keningnya. "Kenapa? apa makanan yang kamu pesan tidak enak?" tanya Alan. Wajah Finisa terlihat datar. Alan menjadi bingung. "Ada yang salah?" tanya Alan. Finsa mengangguk. "Ya, ada yang salah," jawab Finisa. "Seharusnya kita tidak memutuskan untuk makan malam di sini, akan jauh lebih baik kita makan berdua saja di tempat lain, misalnya di dapurmu," sambungnya lagi. Alan tersadar bahwa tatapan mata sang pacar tidak berada padanya melainkan ke belakangnya. Alan menoleh ke belakang, tepat berjarak sekitar lima meter dari mereka, jarak satu meja, ada manusia yang bernama Hamdan duduk di kursi dan melihat ke arah Finisa dengan mempersembahkan senyum manis yang membuat mata Alan sakit serta perut Alan mual. Betapa jengkelnya Alan ketika melihat wajah tanpa penuh dosa itu memberikan servis senyum pada kekasihnya. Alan berbalik ke arah Finisa dan dia berkata, "Kamu ingin kita makan di dapurku saja? aku akan memasak untukmu malam ini." Finisa tiba-tiba kehilangan nafsu makan karena hadirnya sosok yang membuatnya marah. "Tapi makanan sudah ada, tidak baik membuang-buang makanan," jawab Finisa. Alan menarik dan menghembuskan napas, dia berkata, "Habiskan makanan kita dan aku akan mengantarmu pulang. Tidak perlu melihat ke arahnya, nanti dia merasa benar dan bertambah menghayal yang tidak benar tentang kamu." Finisa mengangguk. Sebelum dia mengalihkan arah pandangnya ke arah piring makan di atas meja restoran, sekilas dia sempat melirik ke arah piring makan yang dipesan oleh Hamdan, itu adalah scallop mentega dan nasi serta air putih. Persis seperti apa yang Finisa pesan. Pria ini memang benar-benar tidak beres, ada apa dengan Bang Hamdan? batin Finisa. Dia dengan gerakan cepat menghabiskan makan malamnya. Sementara itu, suasana hati Alan jatuh dari ketinggian setelah tahu bahwa di belakangnya ada pria yang menghalangi hubungannya dengan Finisa. Benar-benar menjengkelkan, membuatku tidak senang, batin Alan dongkol. Dia dan Finisa berusaha makan secepatnya dan segera pergi dari restoran itu. Alan dan Finisa secara bersamaan menghabiskan makanan mereka dan meneguk segelas air. Lalu mereka berdiri dan saling bergandengan tangan. Alan dengan sigap mengeluarkan kartu debit dan membayar harga makanan mereka. Dua orang itu berjalan ke arah parkiran dan masuk ke dalam mobil. Namun saat mobil Alan hendak menjauh dari tempat itu, dia melirik sekilas pria berbaju putih yang tadi mereka lihat di restoran puncak, pria itu berjalan terkesan buru-buru ke arah parkiran dan masuk ke mobil. "Oh, laki-laki kurang kerjaan itu ternyata menguntit kita dari tadi," ujar Alan kesal. Dia melajukan mobilnya ke jalan raya, namun mobil hitam yang tadi dimasuki oleh Hamdan malah melaju mengikuti mobil Alan. Hal ini benar-benar membuat Alan jengkel. "Ck! laki-laki itu memang sengaja mengikuti kita. Aku khawatir mungkin di saat kita berdua mulai pulang, dia telah mengikuti kita dari awal," ujar Alan setelah dia berdecak kesal. "Kan! dia menguntit! dasar penguntit!" kesal Alan. Alan memacu mobilnya ke arah kompleks perumahan di mana rumah Alan juga berada di situ. "Kita ke rumahmu?" tanya Finisa. "Jika aku mengantarkanmu ke apartemenku, maka aku tidak akan bisa pulang ke rumah, dia pasti akan mengikuti kamu ke sana, dan coba tebak, aku akan diam melihatmu bersama pria lain? heum! tidak akan!" ujar Alan. Finisa menahan senyum saat melihat kecemburuan Alan terhadap Hamdan yang mengikuti mereka. Pikiran Alan memang sangat panjang. "Kalau aku bawa kamu ke rumahku, dia tidak berani masuk, ingin masuk? Ayahku akan menendangnya jauh," ujar Alan. Saat mobil Alan memasuki gerbang rumah Basri, Hamdan yang mengikuti mobil Alan dari belakang mengerutkan keningnya. Saat dia melihat nama Basri di tengah gerbang pintu, Hamdan tahu itu adalah rumah Basri. Jadi, Hamdan hanya bisa menghentikan mobilnya berjarak dua puluh meter dari pintu gerbang rumah Basri. Alan melirik ke arah Finisa dan dia berkata, "Malam ini kamu tidak keberatan kan menginap di rumahku?" Finisa mengangguk. "Sama sekali tidak keberatan." "Ok, ayo turun!" Alan membuka pintu mobil dan dia turun. Finisa mengikuti Alan yang turun dari dalam mobil, mereka memasuki rumah Basri setelah mengucapkan salam. Di tengah perjalanan ke dalam rumah, Alan dan Finisa mendengar suara ramai, rupanya setelah makan malam, Moti dan keluarganya sedang menikmati acara televisi. "Bunda," panggil Alan pelan. Moti menengok ke arah Alan, dia tersenyum. "Tante Momok," panggil Finisa pelan. Dia berjalan ke arah Moti dan menyalami Moti dan para tetua yang lain yaitu Laras dan Iqbal. "Nisa datang yah? udah makan malam?" tanya Moti. Finisa mengangguk. "Sudah, Tante. Nisa dan Alan tadi makan di restoran," jawab Finisa. Moti manggut-manggut. "Ayo duduk dulu atau mau bersama Alan? uhum! maksud Tante Momok mungkin aja kamu ke sini mau main bersama Alan bukan dengan Tante Momok, hehehe." Moti berdehem dan setelah itu dia terkekeh. Finisa tersenyum. "Bunda, Nisa boleh malam ini nginap di sini kan?" tanya Alan meminta izin dari sang ibu. "Boleh! boleh! malah itu bagus. Ah, tolong siapkan kamar untuk Nisa, yah." Moti menjawab pertanyaan Alan dan dia melirik ke arah salah satu pelayan yang sedang mengambil mainan Chana yang dibuang oleh Chana. "Baik, Nyonya." Sang pelayan mengangguk. Finisa menghabiskan waktu selama beberapa lama dengan Moti dan yang lainnya di ruang santai. Sementara itu Randra melihat ke arah Alan dan Finisa. Tidak biasanya Finisa menginap di sini, yang dia tahu pacar anaknya itu menginap di apartemen milik sang anak karena masalah keluarga kemarin. Apakah ada sesuatu? pasti ada yang terjadi. Namun, Randra memilih diam saja. Jika ada masalah serius, pasti sang anak akan memberitahunya. °°° Wajah Hamdan terlihat kesal saat melihat gerbang pintu rumah Basri. "Untuk apa Nisa ke rumah pria itu?" gumam Hamdan. "Di saat malam-malam seperti ini seharusnya Nisa pulang ke rumahnya. Pria itu benar-benar membawa pengaruh buruk pada Nisa, lihat saja sekarang, bukanya membawa anak gadis orang pulang ke rumah, malah membawanya ke rumah sendiri," ujar Hamdan. "Benar kata Oma Naila, Nisa harus menikah denganku, karena hanya aku yang bisa menuntunnya ke jalan yang benar. Memiliki hubungan dengan pria yang lebih muda, seharusnya itu tidak terjadi. Apa yang dikatakan oleh Oma Naila benar, pria yang lebih tua memiliki pikiran yang bijak, sementara yang lebih muda malah tidak konsisten dan labil," ujar Hamdan. Ah, rupanya dia sedang membandingkan umurnya dan Alan lalu mengukur seberapa bijaknya dia dan Alan. Mari kita lihat, siapa yang paling bijak antara Alan dan Hamdan ini. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD