Chapter 17

1557 Words
Finisa memasuki kamar tamu yang diperuntukkan padanya malam ini. Pintu diketuk oleh seseorang. "Nona Nisa, ini saya Suni," ujar pelayan yang bernama Suni. Finisa melangkah mendekat ke arah pintu dan dia membuka pintu. "Apa apa?" tanya Finisa. Suni, perempuan yang berusia akhir dua puluhan itu memperlihatkan beberapa paper bag pada Nisa. "Ini ada baju piyama untuk Anda tidur malam ini, Tuan Alan juga menyuruh saya untuk membawa baju dan rok untuk Anda ke kantor besok," jawab Suni. Finisa mengangguk mengerti, dia mengambil alih tiga paper bag itu dan berkata, "Terima kasih." "Sama-sama, Nona. Saya permisi ke asrama," balas Suni. Finisa mengangguk. Suni telah berbalik turun ke lantai bawah dan akan ke gedung asrama untuk beristirahat, di saat Finisa ingin menutup pintu kamar, pintu kamar itu tertahan dan tak bisa tertutup. Dia berbalik melirik ke arah pintu, rupanya Alan yang menahan pintu itu. "Alan." Alan tersenyum, dia hendak masuk ke dalam kamar yang akan digunakan Finisa untuk tidur, namun Finisa mencegahnya. "Jangan buat hal macam-macam di sini. Ini rumahmu, rumah orangtua. Tidak baik jika kita berbuat sesuatu yang-" "Ya, aku tahu," potong Alan sambil mengangguk. "Baguslah kalau kamu tahu," balas Finisa. "Aku hanya ingin memastikan bahwa semua fasilitas pakaian dan keutuhanmu sudah berada di tanganmu. Dan lagian aku tidak berani macam-macam di sini, ini rumah ada Ayah dan Bunda. Kata orang tua, pamali berbuat macam-macam di rumah orangtua, nanti bawa *sial," ujar Alan. Finisa tertawa pelan. "Jadi kamu ini ternyata juga masih agak kolot. Masih percaya pamali," ujar Finisa. Alan terkekeh. "Bunda yang bilang pamali, Ayah Ran yah ikut saja, toh kamu kan tahu betapa cintanya Ayahku ke Bunda. Kalau Bunda bilang itu pamali yah itu pamali," balas Alan. Finisa mengangguk sambil senyum. "Sudah semua aku terima, Bapak Alan." Finisa menunjuk ke arah paper bag yang tadi diberikan oleh Suni. Alan mengangguk puas. "Baiklah, sekarang mari kita beristirahat malam." Finisa mengangguk. "Selamat malam my Nisa," ujar Alan. "Selamat malam," balas Finisa. Pintu kamar ditutup dan tak lupa dikunci. Alan hendak kembali turun ke lantai satu namun suara pintu terbuka dan suara laki-laki terdengar. "Oh, jadi Kak Alan naik ke sini dengan niat mau buat maksiat yah dengan Kak Nisa?" Alan, "!!!" dia menoleh ke arah pintu kamar yang sedang terbuka. Ada adik bungsunya yang menyipitkan mata ke arahnya seakan sedang memergokinya berbuat sesuatu. Liham berkata, "Liham bilangin Bunda yah kalau Kak Alan ini punya niat *kotor naik di sini-mhpp!" Hap! Alan melangkah cepat dan agak melompat ke arah Liham lalu membungkam mulut cerewet adik bungsunya itu. Dia melotot ke arah Liham. "Heh tukang lapor, awas yah kalau kamu berani ngadu yang nggak-nggak ke Bunda, aku putar leher kamu biar kebalik muka belakang," ancam Alan. Liham melotot dan dia berusaha untuk melepaskan tangan sang kakak yang sedang membungkam mulutnya. Alan menutup pintu kamar adiknya dan mereka bergulat di atas ranjang milik Liham hingga selimut dan bantal berterbaran di mana-mana. Dua anak dari Randra dan Moti itu saling kunci mengunci gerak hingga mereka berkeringat. "Sekarang Liham yakin, Kak Alan ini benar-benar punya niat *m***m ke sini-adoh!" Pletak! Alan menghadiahi sebuah jitakan manis di dahi adik bungsunya. "Ngawur kamu yah kalau ngomong," ujar Alan. "Liham bilangin Bunda lagi nih yah kalau Kak Alan suka nyiksa-nyiksa dan ancam-ancam Liham," ujar Liham. Alan mencekik. "Tukang adu." "Biarin, biar Bunda makin sayang sama Liham dan makin marah sama Kak Alan," balas Liham. Alan malah bertambah menjambak rambut cepak sang adik, jadilah dua kakak beradik itu saling jambak-jambakan. Pintu kamar terbuka. Terlihat wajah datar Bilal yang membuka pintu. "Kalau kalian mau duel jambak-jambakan rambut, silakan main di taman belakang. Mengganggu waktu istirahat orang yang ingin istirahat," ujar Bilal datar. Alan dan Liham yang telah berkeringat akibat saling jambak itu melirik serentak ke arah Bilal, mereka berkata, "Banyak bacot!" Bilal, "!!!!" "Dasar es batu!" cebik Alan dan Liham secara bersamaan. Bilal, "...." Tiga detik kemudian. Hap! "Aaaauuh!" suara Alan. "Wadoouw!" suara Liham. "Kak Bilal muka papan talenan, rambut aku rontok! aku bilangin Bunda yah!" teriak Liham setelah Bilal menjambak rambut pendeknya. "Biar tahu rasa kamu," balas Bilal. "Dasar adik nakal! berani-beraninya main tindih badan orang!" ujar Alan, kakinya naik dan hendak mengungukung badan Bilal. "Woy! nggak bisa napas!" teriak Liham yang rupanya dia berada di paling bawah. "Biarin!" ujar Alan dan Bilal secara bersamaan. "Bunda! Bunda! Bunda! Liham mau mati! Bunda! Bunda! Liham dianiaya Kak Bilal dan Kak Alan!" teriak Liham membahana di dalam kamarnya. "Bundahmmppp!" Alan dan Bilal kompak membungkam mulut adik mereka. Poor Liham, dia dianiaya oleh dua kakaknya sekaligus. Di dalam kamar tamu, Finisa menahan tawa sambil geleng-geleng kepala. Ternyata suasana di rumah ini benar-benar harmonis akan rasa kekeluargaan yang hangat. Hubungan antar suami istri, anak dan orang tua, bahkan cucu dan kakek-nenek terlihat sangat harmonis. Begitu juga hubungan antar saudara, mereka sangat dekat. Merasakan kehangatan keluarga ini, Finisa semakin yakin dengan keputusannya untuk menikah dengan Alan agar menjadi bagian dari keluarga ini. Di dalam kamar Ben dan Popy. Ben geleng-geleng kepala. "Liham lagi ditindas di atas," ujar Popy lalu dia terkekeh. Ben tersenyum. "Aku mendukung Liham yang ditindas," ujar Ben. Popy terkekeh. Poor Liham. Rupanya sang kakak ipar juga mendukung Alan dan Bilal. Mungkin karena Liham selalu membuat kesal Ben, jadi Ben mendukung Liham ditindas oleh dua saudara iparnya yang lain. Di dalam kamar Randra dan Moti. Moti memeluk suaminya dan dia berkata, "Kapan lagi mereka bertiga akan bercanda seperti itu? kan sebentar lagi Alan akan nikah, jadi nanti kalau Alan dan Nisa sudah menikah, Alan tidak sering datang ke sini dan main dengan Bilal dan Liham. Hehehehe." Randra tersenyum. Sang istri tidak keberatan dengan keributan yang ditimbulkan oleh anak-anak mereka. "Dulu, Momok sama Kak Agil juga begitu, saling jambak dan saling gigit malah, hahahah!" Moti tertawa. Randra ikut tertawa geli sambil mengusap sayang sang istri. Di luar rumah Basri. Hamdan melirik ke arah arloji. "Sebelas malam," gumamnya. Dia melirik lagi ke arah rumah Basri dan berkata dengan nada tidak suka. "Laki-laki itu memang membawa pengaruh buruk pada Nisa. Seorang gadis seharusnya pada jam begini sudah ada di rumahnya, ini bahkan sudah mau lewat jam sebelas tapi Nisa tidak keluar-keluar rumah pria itu." "Apa Nisa menginap di sini?" gumam Hamdan. Beberapa detik kemudian wajah Hamdan terlihat tidak baik. "Seorang gadis tidak seharusnya menginap di rumah seorang pria, itu bukan hal baik. Bagaimana jika dia diapa-apakan oleh pria itu?" Hamdan mulai mengeluarkan kata-kata bijak untuk didengar sendiri olehnya. Merasa bahwa Finisa memang tidur di rumah Basri, Hamdan memutuskan untuk pulang ke rumah. °°° Saat pagi telah datang, Hamdan buru-buru keluar kamar dan melewati sang ayah serta kakak sulungnya yaitu Adnan. Davin melirik ke arah sang anak. Karena anaknya tak menegurnya pasca tamparan beberapa malam lalu, jadilah sekarang hubungan mereka itu agak renggang dan terlihat dingin. Sambil menggelengkan kepalanya, Davin berkata, "Lihat itu adikmu, bukan menyesal dan meminta maaf atas perbuatannya, malah semakin besar kepala pada Ayahnya sendiri." Adnan hanya diam mendengarkan saja ucapan sang ayah. Mereka melangkah menuju ke ruang makan untuk sarapan pagi. "Ayah heran, ikut siapa adikmu itu," ujarnya. Davin duduk di kursi makan dia dia berkata lagi. "Bahkan Badran saja tidak seegois dia. Badran tahu bahwa gadis itu tidak menyukainya dan dia mundur perlahan, tidak seperti adikmu yang ini, malah tambah egois." Badran adalah adik kembar dari Adnan. Namun, Badran tidak tinggal di Jakarta, Badran menikah dengan seorang gadis melayu yang berasal dari Malaysia dan sekarang mereka menetap di Kuala Lumpur. Dian dan Puspa masing-masing melirik ke arah suami mereka. Pagi-pagi seperti ini sudah terdengar suara cibiran dari kepala keluarga mereka. "Ada apa sih, Bang?" tanya Dian pada sang suami. Davin mendongak melihat istrinya. "Dian, coba kamu ingat, dari kejadian malam itu apakah Amdan itu pernah makan bersama kita di sini?" tanya Davin. Dian menggelengkan kepalanya. "Itu … mungkin Amdan merasa agak malu bertatap wajah denganmu, Bang." Davin memutar bola matanya. "Alasan." Dian hanya bisa menghembuskan napas susah. Memang dari yang dia lihat selama beberapa hari ini, sang anak bungsu tidak mau menegur suaminya. Hanya karena masalah wanita, hubungan antara ayah dan anak menjadi renggang. Namun, Dian tak bisa menyalahkan Finisa yang adalah objek perselisihan antara anak dan suaminya, sebab dia sendiri tahu bahwa yang salah di sini adalah anaknya. Tapi sang anak malah tidak mengakui kesalahannya. °°° Sarapan yang ramai di meja makan Basri. Liham melapor pada sang ibu sambil menyentuh pipi dan mulutnya yang bengkak, tatapan mata Liham dibuatnya harus terlihat memelas dan seperti orang yang tersakiti. "Bunda, coba lihat ini! pandangilah pipi dan bibir Liham. Kak Alan dan Kak Bilal sungguh tidak punya hati, mereka tadi malam menampar pipi Liham dan bahkan menjambak bibir Liham!" "Pffthahaaha!" orang-orang tergelak tawa karena ucapan Liham. "Bunda, jangan dengar dia. Biar angin menampar wajahnya pun, dia selalu memfitnah orang lain agar hatinya puas melihat orang lain dihukum," balas Alan. Laras dan yang lainnya tertawa geli. Liham melirik ke arah sang kakak lalu dia mendengkus. "Angin kentut Kak Alan," cebik Liham. Alan melotot ke arah adiknya dan dia mulai menggait leher sang adik dengan lengan kanannya. "Ah! ah! ah! Bunda bisa lihat sendiri kan, Kak Alan yang mulai duluan, srutt!" setelah Liham menjerit nama sang Ibu, dia malah memuncratkan air putih yang tadi diteguk ke arah tangan Alan. Alan melotot dongkol. "Liham! aku mau pergi kerja! ini kotor! ah! kamu belum sikat gigi kan?!" tuduh Alan. Liham terkekeh. "Rasakan itu." "Dasar adik kepala batu!" dongkol Alan. Moti terkekeh sambil menggelengkan kepalanya melihat dua anaknya itu. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD