Chapter 18

1536 Words
Saat mobil Alan yang membawa dirinya dan Finisa keluar dari rumah halaman rumah Basri, saat itu juga Hamdan telah tahu bahwa tebakannya benar tadi malam, Finisa bermalam di rumah Basri. Wajah Hamdan benar-benar terlihat cemburu, dia mengikuti mobil Alan dari belakang hingga mobil Alan berhenti di depan kantor Finisa. "Aku turun," ujar Finisa. Alan mengangguk. "Apakah malam ini masih ingin menginap di rumahku lagi?" tanya Alan. Finisa yang telah membuka pintu mobil itu melirik ke arah Alan. "Kupikir jika aku terus-terus menginap di rumah kamu, Tante Momok pasti akan merasa ada yang salah meskipun beliau tidak keberatan aku menginap di sana," jawab Finisa. Alan manggut-manggut mengerti. "Ke apartemenku?" tanya Alan. "Kemarin Papa datang menemuiku di kantor, katanya Mama khawatir karena aku sudah dua malam tidur di luar. Tapi kemarin setelah Papa kembali ke kantornya, aku sudah menelpon Mama dan mengatakan bahwa aku tinggal di apartemen kamu dan tidak tinggal berdua. Mama mengerti, yang penting aku baik-baik saja. Tapi Mama berharap agar aku pulang ke rumah, tapi melihat wajah orang kemarin malam membuatku ingin muntah," jawab Finisa. Alan terlihat mencebik. "Ck, jangan ingat dia lagi. Semakin aku mengingat dia semakin aku jengkel dibuatnya," balas Alan. Finisa hanya tersenyum tipis dan dia berkata, "Ke kantor sana." Alan mengangguk. Mereka berpisah saat Finisa memasuki pintu kantor dan Alan yang telah pergi mengendarai mobilnya. "Selamat pagi, Bu Nisa," sapa Safira. "Ya, selamat pagi," balas Finisa. "Selamat pagi, Bu," sapa karyawan lain. Finisa mengangguk dan membalas, "Ya, selamat pagi." Beberapa sapaan dilontarkan oleh para karyawan yang bekerja di Nabhan's Bank. Finisa membuka pintu kantornya dan masuk ke dalam, dia sama sekali tidak tahu bahwa ada langkah kaki lain yang mengikutinya masuk ke dalam ruang kerjanya. Saat Finisa hendak meletakan tas kerja di atas meja kaca kantor, suara Hamdan mengejutkannya. "Tidak baik seorang perempuan tidur di rumah pria lain," ujar Hamdan. "Ah!" Finisa menengok cepat ke arah belakangnya, tepatnya di pintu. Hamdan menutup pintu. "Kamu?!" Finisa hampir melotot saat tahu bahwa Hamdan ini dengan berani masuk mengikutinya ke ruang kerja. Hamdan melangkah pelan mendekat ke arah Finisa, dia berkata, "Laki-laki itu membawa pengaruh buruk untukmu, Nisa. Jika dia laki-laki baik, untuk apa dia mendukung perseteruan antara kamu dan Oma Naila? dia bukan pria baik-baik bagi kamu." Finisa hampir saja memutar bola matanya di depan Hamdan. Pria ini mulai menceramahinya. "Begini cara pria baik-baik masuk ke ruang kerja orang? tidak ada tata krama mengetuk pintu atau memberi salam?" tanya Finisa balik. Hamdan melangkah lebih dekat ke arah Finisa dan dia hendak menyentuh pergelangan tangan Finisa namun dengan cepat Finisa mundur ke belakang. "Jangan menyentuh sembarangan orang!" Finisa hampir saja memukul wajah Hamdan dengan tas kerja yang tidak jadi diletakkan olehnya di atas meja. "Aku ingin bicara baik-baik dengan kamu, Nisa. Ayo kita bicara dengan kepala dingin dan meluruskan masalah ini agar kamu tidak lagi marah padaku," ujar Hamdan. Finisa merasa bahwa berbicara dengan Hamdan tidak ada artinya. Toh dia tidak peduli juga mengenai pendapat Hamdan mengenai kehidupannya. "Aku harus bekerja. Banyak laporan yang harus aku periksa dari bawahanku," balas Finisa, dia menolak halus dengan alasan kerja. Hamdan mengangguk. "Baik." Finisa pikir Hamdan mengerti dan dia akan pergi dari ruang kerjanya. Namun, hamdan malah duduk di sofa ruang kerjanya sambil melihat ke arah Finisa. "Aku tidak akan pergi sebelum kita bicara." What?! Betapa meradangnya Finisa melihat tingkah Hamdan ini. Mau main-main denganku, yah? akan aku ladeni, batin Finisa. Dia mengangguk." "Baik," sahut Finisa. Dia meraih telepon kantor dan menekan tombol keamanan. "Aku tidak membuat keributan di sini!" Hamdan berdiri dan dengan cepat menarik jauh telepon kantor yang dipegang oleh Finisa. Hamdan meletakkan kembali telepon ke tempatnya. "Mau bicara apa? cepat bicara, aku tidak punya banyak waktu," ujar Finisa. Mungkin dengan memberi Hamdan sedikit waktu untuk bicara dapat membuat Hamdan mengerti dan dapat segera melangkah pergi dari ruang kerjanya. "Duduk dulu," ujar Hamdan. Finisa mencebik dalam hati. Dia duduk mengambil tempat sejauh mungkin dari Hamdan. "Tidak lebih dari lima menit," ujar Finisa datar. Hamdan duduk berhadapan dengan Finisa, dia mulai membuka mulut dan berkata, "Sudah tiga tahun aku suka padamu, tapi aku merasa bahwa belum waktunya untuk memberitahumu mengingat waktu itu almarhum istriku baru saja pergi meninggalkan aku. Dua tahun lalu aku telah berbicara jujur dengan Oma kamu mengenai maksudku untuk memperistri kamu dan Oma menyetujuinya. Aku juga telah mengikuti syarat dari Oma kamu untuk tidak melihat gadis lain. Dan aku lulus ujian. Aku merasa bahwa sudah saatnya untuk menikahi kamu, tapi tidak terduga, ada pria lain yang menghalangi jalanku." Pria lain yang menghalangi jalanmu? Oh, Tuhan! tolonglah kamu sadar diri, siapa yang menjadi penghalang di sini, batin Finisa. "Bang Hamdan, urusan mengenai kapan Bang Hamdan menyukaiku dan apa janji-janji Oma pada Bang Hamdan, itu tidak ada urusannya denganku. Aku sekarang ingin hidup damai," balas Finisa. Hamdan mengangguk. "Aku juga ingin hidup damai. Hidup damai dengan kamu, Nisa." Tiba-tiba perut Finisa terasa mual setelah mendengar kata-kata hamdan. Makin ke sini obrolan mereka makin ngawur, Finisa memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan percakapan mereka. "Bang Hamdan, saya rasa sudah cukup kami bicaranya. Saya tidak ingin bahas masalah pribadi di kantor," ujar Finisa. "Kalau begitu kamu pulang ke rumahmu dan aku akan datang ke sana, mari kita bicara di rumahmu setelah pulang kerja," balas Hamdan. "Tolong, aku minta dengan sangat hormat, jauhi aku." Finisa sudah gerah dan merasa tidak tenang bicara dengan Hamdan yang dari tadi tak mengerti-mengerti apa mau dia. "Nisa, kamu dibutakan oleh perhatian pria palsu," ujar Hamdan. Finisa hampir mencekik Hamdan setelah mengatakan Alan adalah pria palsu. "Maksud Bang Hamdan Apa?!" "Dia yang bernama Alan itu tidak pantas bersanding dengan kamu. Apakah kamu tidak bisa melihat betapa tidak dewasanya dia-" "Keluar!" Finisa sudah tidak tahan. Dia menunjuk ke arah pintu kerjanya. Hamdan tetap melanjutkan bicaranya. "Kamu harus dengar aku, dia itu labil. Tidak menentu dalam tindakan dan perasaannya-" "Aku tidak mau berteriak di depan wajah Bang Hamdan!" potong Finisa. Hamdan terdiam saat melihat wajah Finisa yang memerah menahan amarah dan kekesalan terhadapnya. "Aku masih punya sedikit rasa hormat pada Bang Hamdan karena kita sama-sama punya kerabat yang sama. Jangan menyalahkangunakan rasa hormatku dan membuat rasa itu berubah menjadi sebuah kebencian. Aku katakan pada Bang Hamdan, watakku sangatlah keras dan jangan sampai hal yang aku katakan tadi terjadi sebab itu tak akan baik untukmu, Bang." Di wajah Finisa, sama sekali tak ada raut senang. Melihat wajah Finisa yang tidak senang, Hamdan mengangguk. "Aku akan pergi. Mungkin setelah kepalamu dingin, kita akan bicara lagi." "Tidak perlu bicara lagi, aku tidak ingin bicara denganmu lagi," balas Finisa langsung. Hamdan tidak membalas, dia melangkah keluar dari ruang kerja Finisa. Setelah Hamdan keluar dari ruang kerjanya. Finisa menarik napas lega. "Ada apa dengan anak Om Davin yang satu ini? ada masalah dengan otaknya kah?" ujar Finisa kesal. °°° Naila melirik ke arah Rina. "Di mana Nisa tidur?" tanya Naila dengan nada ketus. Rina yang sedang makan siang bersama sang mertua itu mendongak dan melihat mata sang mertua. "Aku tidak tahu, Mah-" "Jangan berbohong! kau pikir aku mudah kau bohongi?" potong Naila. Rina diam selama tiga detik lalu dia menjawab, "Di rumah salah satu temannya." Naila menaikkan sebelah keningnya. "Kapan dia memberitahu kamu?" "Kemarin siang," jawab Rina. "Suruh dia pulang!" perintah Naila. "Dia akan pulang setelah tidak lagi merasa marah," balas Rina. Naila menunjuk ke arah wajah sang menantu dengan sendok. "Kamu salah didikan pada Nisa. Lihat, tidak becusnya kamu hingga membuat dia melawanku-" Ting! Rina berdiri dan meletakkan kasar sendok makan di atas piring. Hal ini membuat suara dentingan antar sendok dan piring terdengar agak keras. "Sepertinya aku lebih senang sekarang Nisa tidak dulu kembali ke rumah," ujar Rina dengan sedikit keberanian. Naila melotot. "Kamu berani padaku?!" Rina buru-buru melangkah cepat meninggalkan ruang makan. "Hei! Rina! Marina!" teriak Naila. "Dasar menantu tidak tahu diuntung!" cecar Naila. "Mengurus satu anak perempuan saja tidak becus, sudah tidak bisa melahirkan anak laki-laki, sekarang banyak tingkah!" Asisten rumah tangga yang mendengar cecaran Naila pada Rina hanya menunduk takut. Rina masuk ke dalam kamar dengan wajah marah dan mata memerah. "Aku tidak tahan tinggal di sini. Aku pikir dengan bebasnya Mamah pergi berlibur ke banyak negara dapat membuat Mamah tidak lagi marah-marah dan merubah sifatnya, tapi apa sekarang? sifat angkuh itu tetap saja bertahan, bahkan makin hari makin besar." Rina mengusap matanya yang berkaca-kaca. Sebenarnya, sudah untung si Naila itu diberitahu mengenai lamaran Alan pada Nisa. Itu tandanya, anak lelaki Naila dan menantunya masih melihat Naila sebagai orangtua, namun Naila malah memutuskan sendiri masa depan anak mereka. Hal ini membuat Rina benar-benar marah. °° Mobil Alan berhenti di depan kantor Finisa. Tak berapa lama kemudian, Finisa terlihat berjalan cepat memasuki mobil Alan. "Ke apartemen kamu saja, kita masak dan makan di sana," ujar Finisa. Alan mengangguk. "Baik." Alan belum tahu kedatangan Hamdan di kantor Finisa setelah dia mengantarkan Finisa ke kantor. Setelah beberapa saat kemudian, Alan dan Finisa sampai ke basement parkiran gedung apartemen milik Alan. Mereka berjalan memasuki pintu lift dan tak lama kemudian mereka tiba di lantai lima, lantai di mana apartemen Alan berada. Karena ini adalah kawasan apartemen elit, jadi hanya enam lantai, di mana di atas lantai lima adalah atap yang terdiri dari beberapa taman hijau. Setelah memasuki pintu apartemen, Finisa berkata, "Bang Hamdan tadi masuk ke ruang kerjaku setelah kamu meninggalkan kantorku." Alan, "!!!!" °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD