Chapter 19

1522 Words
"Dia berani lagi?!" Alan bagaikan seperti orang yang kebakaran jenggot. Finisa melepaskan sepatunya dan memakai sandal rumahan. "Sepertinya kamu memang betul, dia itu menguntit," ujar Finisa. Dia melangkah ke dapur mengambil gelas dan air minum di dispenser. "Dia tahu kalau tadi malam aku tidur di rumahmu." Wajah Alan terlihat jengkel. "Pasti sekarang dia menguntit kita lagi dan tahu kalau kamu sekarang berada di apartemen aku." "Bisa jadi," timpal Finisa. "Hoh! aku tetap akan di sini dan tidak akan pulang ke rumah!" ujar Alan. Finisa melirik ke arah Alan dan dia menaikkan sebelah alisnya. "Kamu yakin tidak mau pulang?" "Hum, ayo kita tidur di sini," jawab Alan. Dia membuka dasi dan beberapa kenop kemeja untuk mengambil udara segar alias udara dari AC apartemennya. Finisa tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengangguk saja, toh ini kan adalah apartemen dari Alan, jadi suka-suka Alan mau tidur di sini atau di rumahnya. Alan duduk di sofa, Finisa mengikuti. "Tadi malam kamu dan dua adikmu ribut-ribut di kamar sebelahku," ujar Finisa. Alan memperbaiki cara duduk. "Nah! si Liham itu memang pencari masalah. Dia itu terlalu ceplos mulut dan suka bergosip sana-sini, rasakan itu bibirnya dijambak Bilal tadi malam." Finisa tertawa masih sambil memegang gelas air. "Kalian terlihat sangat dekat." "Yah begitulah, namanya juga kami saudara," balas Alan. "Dia memang cerewet yah, tapi sepertinya bukan hanya dia saja yang memiliki sifat ceplos," ujar Finisa. Alan tersenyum lebar memperlihatkan geretan giginya. "Kak Poko juga seperti Liham sifatnya. Dulu waktu masih belum nikah, apa-apa selalu lapor Ayah dan Bunda. Dia yang selalu bikin kita bertiga dihukum Ayah." Finisa tertawa. Semakin dia berhubungan dekat dan tahu seluk beluk mengenai Alan, semakin dia sering tertawa. Jika biasanya dia hanya akan tersenyum tipis atau tertawa kecil, namun saat ini dia telah tertawa keras sampai-sampai mengusap perutnya. "Aku melihat di dalam persaudaraan kalian, kamu dan Bilal memiliki sifat yang hampir sama, tidak terlalu cerewet, sementara saudara sulung dan bungsu memiliki kemiripan sifat," ujar Finisa menarik kesimpulan. Alan mengangguk membenarkan. "Kalau saja Liham itu jadi perempuan, maka dia akan menjadi perempuan busuk, sekarang malah jadi laki-laki busuk," ujar Alan bercanda. Finisa tergelak tawa. Di basement parkiran, Hamdan melihat mobil Alan yang terparkir di tempat parkiran. Selama mencari setengah jam, di mana keberadaan mobil yang diikutinya, dia akhirnya menemukan yang dicari. "Sudah aku duga sebelumnya, pria itu bukanlah pria baik-baik." Hamdan mengemudikan mobilnya dan menjauh dari kompleks apartemen itu. Sesampainya di rumah, dia melirik ke arah sang ayah. Davin juga melirik ke arah anak bungsunya. "Jangan memaksa perasaanmu pada orang lain, Amdan," ujar Davin. Sebagai seorang ayah, dia ingin memperbaiki hubungan yang sedikit renggang terhadap anaknya. Hamdan berhenti melangkah dan dia membalas, "Aku yakin, usaha tidak akan mengkhianati hasil." "Usaha apa yang kamu maksud?" tanya Davin. "Mengambil hati Nisa," jawab Hamdan. "Jangan terlalu memaksa Hamdan, Ayah sudah melihat bahwa dia dan Alan itu benar-benar saling cinta, jangan buat masalah lagi, Ayah sudah meminta maaf pada keluarga Basri," balas Davin. "Untuk apa Ayah meminta maaf pada keluarga Basri, keluarga kita tidak salah," ujar Hamdan. "Kamu yang salah. Kalau Ayah tidak minta maaf, maka dua keluarga akan berselisih," balas Davin. "Bukankah wajar saja jika kita mengejar orang yang kita cintai? apa yang aku lakukan ini sama seperti yang Ayah lakukan pada Ibu," ujar Hamdan. "Ibu dulu juga sudah dilamar oleh pria lain tapi Ayah tetap masuk tengah," sambungnya lagi. Davin terlihat kesal. "Ayah dan kamu itu berbeda konteks. Ibu kamu dulu memang sudah dilamar oleh orang lain, namun dia tidak menerima lamaran itu dan tak menyukai laki-laki lain selain Ayah. Sementara kamu? coba lihat kenyataan, apakah gadis yang kamu kejar itu menyukai kamu? kamu menghalangi kebahagiaan gadis itu," ujar Davin membela diri. "Sama saja. Apa yang aku lakukan itu berdasarkan apa yang terjadi pada Ayah," sahut Hamdan. "Hamdan, kamu benar-benar keras kepala! Ayah tidak tahu kamu mengikuti sifat keluarga kita yang mana! tapi yang pastinya di dalam keluarga Farikin, tidak ada yang punya sifat egois seperti kamu, baik kakek buyutmu atau kakekmu Pasha!" Davin hampir saja menghardik anak bungsunya. Dian datang untuk menengahi agar tidak terjadi adu mulut dan terjadi lagi perselisihan antar ayah dan anak. "Bang, sudah," ujar Dian. Dia mengusap punggung sang suami yang sedang menatap jengkel pada anak bungsu mereka. Kemudian Dian melirik ke arah Hamdan. "Amdan, apa yang dibilang oleh Ayah kamu ini benar. Jangan memaksa perasaan kamu pada Nisa. Ibu sudah mendengar beberapa informasi dari orang terpercaya bahwa sifat Nisa itu keras dan tak mudah goyah-" "Jadi sekarang Ibu berpihak pada Ayah?" potong Hamdan. "Bukan seperti itu, Nak," jawab Dian. "Ibu tidak mendukungku untuk bahagia?" "Mendukungmu untuk bahagia? otak kamu sudah geser ke laut? kebahagiaan yang kamu maksud itu adalah kesengsaraan bagi orang lain!" Davin menghardik anaknya. "Sudah! cukup!" Dian berkata agak keras. Davin dan Hamdan saling melirik. Adnan baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan dia disuguhi adegan adu mulut antar ayah dan adiknya. "Bang, jangan marah-marah nanti umur Abang pendek," ujar Dian. "Itu, anak itu mungkin ingin aku berumur pendek dan cepat mati. Tidak cukup dia membuatku malu di depan orang tua Nisa dan keluarga Basri, sekarang malah menambah beban pikiranku lagi," balas Davin. Dia menunjuk ke arah Hamdan dan berkata, "Jika timbul masalah yang kamu buat di kemudian hari, jangan bawa-bawa keluarga Farikin!" Setelah mengatakan kalimat itu, Davin berjalan dengan perasaan kesal masuk ke dalam kamar. Sementara itu, Hamdan juga berjalan masuk ke kamar yang ditempatinya. Adnan yang melihat hal itu mengembuskan napas frustrasi. Seorang anak berusia sekitar satu tahun lebih berlari maju ke arah Adnan. Dia adalah anak nomor dua Adnan. Adnan menggendong anaknya ke dalam pelukan sementara itu anak perempuannya yang lain mengintip agak takut ke arah pintu kamar sang kakek dan pamannya yang tadi sempat cekcok. Puspa yang mengikuti anaknya ke arah sang suami berkata, "Perasaanku tidak enak, Bang. Ayah dan Amdan sepertinya akan ribut terus jika Amdan masih tetap ingin menikah dengan Nisa itu." Adnan menggaruk kepalanya. Dia mau membela siapa? dua orang itu adalah ayah kandung dan saudara kandung. "Dik, diam saja. Jangan katakan hal apapun mengenai ini. Jangan sampai Ayah atau Hamdan tersinggung." Puspa mengangguk. °°° "Belum berganti pakaian?" tanya Finisa yang keluar dari kamar. Dia telah berganti pakaian setelah mandi. Alan yang masih dalam balutan pakaian kerja itu sedang memotong sayur dan terlihat memasak sup. "Nanti saja setelah memasak, aku akan mandi dan kita makan malam bersama," jawab Alan. Finisa manggut-manggut. Alan menambahkan sayur yang tadi dipotong ke dalam panci sup dan dia menutup panci sup. Kemudian dia melirik ke arah rice cooker dan berkata, "Nasinya sudah masak." Finisa mendekat ke arah Alan. "Apa yang bisa aku bantu?" tanya Finisa Pada saat mendekat ke arah Alan, bau harum aroma tubuh Finisa yang baru selesai mandi tercium ke indra penciuman Alan. "Melihatku saja memasak," jawab Alan. Finisa terkekeh. Dia melirik penuh tatapan manja ke arah Alan. "Kalau menikah nanti, mungkin aku adalah istri yang kerjanya hanya memandangi suaminya memasak," ujar Finisa. Alan terkekeh, dia mendekatkan dirinya atau lebih tepatnya menempelkan badan mereka berdua, bibir mereka hampir bersentuhan. Alan berkata, "Ya, itu lebih baik." Setelah itu sebuah ciuman halus menempel di bibir Finisa. Tangan Finisa malah terangkat memeluk pinggang Alan. Mendapat izin dari sang empunya bibir, Alan memeluk pinggang Finisa dan mendekatkan Finisa ke meja pantry, ciuman romantis dua muda mudi itu terasa sangat khusyuk. Alan terlalu tidak sabaran, dengan gerakan menggebu-gebu, tangan yang tadi memeluk pinggang Finisa kini terlihat mengusap badan Finisa, telapak tangan Alan tak sengaja meremas b****g Finisa. "Um …." Hal ini membuat Finisa menggeram halus sambil menutup matanya. Merasa bahwa sang kekasih tidak mencegah, Alan semakin sering melakukan hal yang sama pada Finisa hingga terdengar geraman dan desahan dari mereka berdua. Lutut Finisa terasa agak lemas, dia memeluk erat pinggang Alan. Gerakan Alan mulai liar, dia mengangkat badan Finisa dan mendudukkan Finisa di atas meja pantry, hal ini membuat Finisa membuka lebar dua kakinya dan dua kakinya itu memeluk Alan. Tangan Alan merayap dari pinggang Finisa naik ke atas perut dan mulai mengelus-elus perut rata sang kekasih. Mereka terlalu terbuai dalam jeratan bibir dan saling balas kecupan. Suasana semakin panas di saat Alan mulai meremas si gunung kembar milik Finisa. "Uuuhm!" Finisa merasa terkaget. Dia dan Alan menghentikan aktivitas mereka. Alan mengambil jarak dari Finisa dan melihat ke arah di mana telapak tangannya berada. Pria 23 tahun itu menggeram dan dengan cepat menarik kembali dua tangannya. Saat itu, mata Alan tiba-tiba bertatapan dengan mata melotot sang ibu yang dipajang di dinding dapur "Aah!" Alan terkaget dan mengusap dadanya. "Tidak bisa tidur di sini malam ini, kalau tidur, bisa-bisa kita berdua akan berakhir tanpa busana di atas ranjang!" kesal Alan. Finisa menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dia merasa agak malu. Sudah berkali-kali mereka hampir kebablasan terus. Beruntung di saat-saat terakhir, Alan mampu tersadar dan cepat-cepat mengendalikan dirinya. Tidak bisa Finisa pungkiri bahwa dia juga menikmati apa yang diperlakukan Alan pada tubuhnya, namun hal ini bukankah hal yang wajar mengingat status mereka yang belum terikat pernikahan. Alan menghargai Finisa sebagai seorang perempuan, makanya dia berusaha untuk tidak merusak tubuh Finisa sebelum mereka menikah, namun toh tetap saja, godaan syetan lebih asik dan menggoda ketika hanya berada di dekat mereka berdua. Istilahnya menjadi *setan dorong *iblis tendang. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD