Alan memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
Dia tidur telentang melihat langit-langit kamarnya.
"Kalau saja tidak ada laki-laki itu, mungkin lamaran resmi dariku sudah terlaksana," gumam Alan.
"Kenapa di saat aku dan Nisa serius ingin menikah malah ada cobaan seperti ini?"
Alan melipat tangannya di belakang kepala.
"Apa yang salah pada diriku hingga Oma Naila tidak mau menerimaku menjadi suami Nisa?" Alan sedang berpikir keras, apa sebenarnya yang membuat nenek Finisa tidak mau dia dan Finisa menikah.
"Apa umurku yang terlalu muda?" tanya Alan pada dirinya sendiri.
"Aku rasa menikah di usia dua puluh tiga tahun itu wajar-wajar saja. Aku kan sudah selesai kuliah dan bahkan sudah memegang perusahaan selama dua tahun. Kalau mau bilang dewasa, aku dewasa. Salahnya dewasaku dari mana?"
Alan mengerutkan keningnya sambil berpikir keras.
Cukup lama dia termenung memikirkan masalahnya, tiba-tiba dia menebak.
"Apa karena aku tiga tahun lebih muda dari Nisa, makanya Oma Naila menolak?"
Alan bangun dari posisi tidur, dia duduk di atas ranjang.
"Masa karena perbedaan umur kami yang nggak seberapa itu membuat Oma Naila tak mau menerimaku," ujar Alan, suaranya terdengar tidak senang. Wajahnya cemberut.
"Secara mental aku bukan anak kecil. Memang aku lebih muda dari Nisa, tapi bukankah kedewasaan seseorang itu bukan hanya diukur dengan umur saja? harusnya ada aspek lain, misalnya pikirannya."
"Kalau benar karena perbedaan umur kami, aku akan bicara pada Oma Naila lagi. Ada banyak kok pasangan di luar sana yang bahkan laki-laki umurnya sepuluh atau lima belas tahun lebih muda dari pasangan mereka. Presiden Perancis saja lebih muda dua puluh lima tahun dari istrinya, bahkan perbedaan usiaku dengan Nisa nggak ada apa-apanya." Alan berbicara sendiri.
Alan mencebik, dia turun dari ranjang dan melangkah keluar kamar.
Rupanya Alan pergi ke dapur untuk mencari minuman segar.
Dia membuka kulkas dan mengambil sekotak es krim lalu menutup kembali pintu kulkas dan mengambil sendok es krim dan memisahkan sejumlah sendok es krim yang ingin dinikmati olehnya ke dalam gelas es krim. Dia tidak jadi minum, dia tertarik untuk makan es krim malam seperti ini.
Langkah kaki mendekat ke arah dapur, rupanya itu Ben yang hendak membuat *s**u formula untuk Chana.
"Aku kira kamu tidur di tempat lain malam ini," ujar Ben.
Alan yang telah memisahkan es krim ke gelas, membuka lagi pintu kulkas dan meletakkan kembali kotak es krim ke dalam freezer.
Dia melirik ke arah kakak ipar dan berkata, "Aku takut Bunda dan Ayah akan memiliki cucu di luar nikah nanti."
Ben yang sedang mensterilkan botol *s**u dengan air panas melirik ke arah Alan.
"Aku rasa kamu dan Nisa harus cepat menikah biar tidak jadi masalah yang kamu sebutkan. Aku baru tahu mengenai konsep anak di luar nikah dan di dalam nikah. Nasabnya pasti akan kacau jika hal itu terjadi."
Alan menarik napas dan menghembuskan napas susah.
"Ada apa? bukankah minggu lalu kamu telah membawa Ayah dan Bunda ke rumah Nisa untuk melamarnya? ada masalah?" tanya Ben. Melihat dari raut wajah Alan, Ben mengira ada suatu masalah yang menimpa adik iparnya.
Alan menarik kursi dan dia duduk sambil menancap sendok es krim kecil ke atas tumpukan bola es krim yang tadi dibuatnya. Sementara Ben telah selesai mensterilkan botol *s**u. Dia mulai menyendok tiga sendok takaran *s**u formula bayi yang berusia di atas satu tahun ke dalam botol.
"Hanya Ayah Ran yang tahu masalah ini," ujar Alan.
Ben yang telah selesai memasukkan tiga sendok *s**u formula itu bertanya, "Masalah apa?"
Dia pergi ke dispenser untuk memasukan air hangat.
"Nenek dari Finisa ingin agar aku membatalkan lamaran pada Nisa," jawab Alan.
"Ahk!" Ben meringis sakit saat dia tak sengaja menarik mulut botol ke arah keluarnya air panas.
Dia meniup jari ibu yang sempat terkena air panas itu dan buru-buru memutar kran air dingin agar tangannya tak melepuh karena air panas.
"Hati-hati," ujar Alan.
Dia mengambil botol *s**u dan meletakan mulut botol di air hangat agar air masuk ke dalam botol itu.
"Ukuran berapa mili?" tanya Alan.
"Dua ratus lima puluh mililiter," jawab Ben.
Alan menunggu hingga air mencapai 250 mililiter dan menarik botol, kemudian dia menutup botol dengan penutup dan mengocok *s**u formula itu.
Ben mematikan kran air. Dia melirik serius ke arah Alan dan berkata, "Kamu tidak sedang membohongi aku kan?"
"Lihat wajahku, apakah aku dalam raut wajah atau dalam hati suasana senang? kalau aku tidak bohong untuk apa Nisa datang ke sini kemarin dan menginap?" balas Alan.
Ben menarik kursi dan duduk. Botol *s**u masih berada di tangan Alan dan dia sudah selesai mengocok *s**u itu.
"Kenapa nenek Nisa memutuskan hal demikian?" tanya Ben.
Alan duduk di kursi yang tadi ditarik olehnya.
"Oma Naila itu ternyata telah menjanjikan Nisa pada laki-laki lain untuk menikah."
"Apa?!" Ben terbelalak.
"Masalah bertambah besar karena laki-laki yang dimaksud oleh Oma Naila itu adalah anak bungsu dari Om Davin Farikin," ujar Alan.
Ben merasa bahwa ini adalah masalah serius. Dia terlihat terheran-heran setelah mendengar penjelasan dari Alan.
"Jadi … Nisa tidak tidur di rumahnya?" tanya Ben.
Alan mengangguk.
"Dia berada di apartemenku untuk sementara."
Ben tidak tahu harus berkata apa lagi, dia sudah cukup kaget dengan masalah ini.
"Itu … jadi dia dan keluarganya … bagaimana hubungan mereka?"
"Tentu saja bertengkar dengan Oma-nya. Senin malam kemarin, laki-laki itu dengan bangga membawa Om Davin ke rumah Nisa untuk membicarakan lamarannya pada Nisa," jawab Alan sesuai fakta yang terjadi.
"Hah? datang ke sana untuk melamar Nisa?" Ben membeo.
Alan mengangguk.
"Makanya sudah tiga hari ini Nisa pergi dari rumah. Oma-nya terlalu egois."
"Jadi masalahmu hanya Ayah saja yang tahu di rumah ini?" tanya Ben.
"Dan kamu, kakak iparku," jawab Alan.
Namun, di balik pintu dapur, rupanya Bilal sedang membungkam mulut adiknya dengan telapak tangan agar sang adik yang cerewet itu tidak berteriak kaget karena mendengar masalah yang dikatakan oleh kakak mereka pada kakak ipar mereka. Mata Liham hanya terlihat melotot karena mulutnya dibungkam oleh Bilal. Bisa kacau kalau adiknya ini membuat keributan mengenai masalah ini. Bisa-bisa semua orang akan tahu masalah ini.
Alan melirik ke arah pintu dapur.
"Aku apresiasikan usahamu untuk menutup mulut adik kita, tapi kamu juga harus ingat, besok pagi mungkin saja ada laporan aniaya terbaru dari kita untuk Bunda."
Bilal mendorong keluar adiknya dari persembunyian dan Liham melepaskan bungkaman tangan sang kakak.
"Aduh! Kak Bilal bungkamnya pelan-pelan aja, nggak usah isi semua jari ke dalam mulut Liham dong."
Bilal memberi isyarat diam pada Liham.
Namun, seakan dia itu bebal, Liham malah buru-buru melangkah ke arah Alan dan dengan tanpa dosa bertanya, "Jadi Kak Alan batal lamaran-hmphmmmp?!"
Alan hampir saja memasukkan bagian bawah botol *s**u formula ke dalam mulut sang adik. Beruntung dia cepat menutup mulut adiknya dengan telapak tangan kiri.
"Jangan ribut, awas kalau Bunda dengar, Ayah Ran akan marah sama kamu," ujar Alan memperingati adiknya.
Liham mengangguk dan dia menaikkan dua jarinya sebagai tanda sumpah.
Alan melepaskan bungkaman.
Liham hendak bertanya lagi namun Alan telah lebih dulu mendahuluinya.
"Kecilkan suara."
Liham mengangguk kuat.
Dia bertanya, "Jadi gimana soal lamaran Kak Alan ke Kak Nisa? jadi nggak?"
"Kata Ayah, tidak bisa dalam waktu dekat. Kita tunggu beberapa hari ke depan, mungkin sampai seminggu, dua minggu atau lebih," jawab Alan.
"Aduh, tapi Bunda malah sudah pilih-pilih barang loh buat seserahan lamaran nanti. Bahkan variasi *celana dalam untuk seserahan saja udah Bunda lihat-lihat dan mau dibeli," ujar Liham.
Alan hanya bisa diam sementara dan menarik napas susah.
"Soal laki-laki itu, itu benar anak Om Davin? Om Davin Farikin yang keponakan Nenek Lia, kan?" tanya Liham.
Alan mengangguk.
"Waduh! gawat ini! kalau jadi masalah gimana? kan Kak Gaishan sama Kak Ghifan juga sepupuan sama anak Om Davin. Terus kita juga sepupuan sama Kak Gaishan dan Kak Ghifan, kalau ada masalah lalu Kak Gaishan dan Kak Ghifan mau pilih yang mana? mau bela Kak Alan apa anaknya Om Davin?" malah Liham yang sibuk sendiri dan khawatir dengan masalah sang kakak.
"Liham, aku menghargai pikiran kamu yang panjang ini, tidak seperti biasanya yang pendek pikiran. Tapi, tolong jangan terlalu over seperti itu," ujar Alan.
Bilal duduk diam di kursi sambil melihat kakak dan adiknya bicara.
"Tapi kan memang benar Kak Gaishan dan Kak Ghifan itu adalah saudara sepupu dari dua pihak, kalau Kak Alan dan anak dari Om Davin saling baku hantam, mereka pilih siapa? apa Kak Gaishan pilih Kak Alan dan Kak Ghifan pilih anaknya Om Davin?" ujar Liham.
Bilal bahkan memutar bola matanya.
"Netral," ujarnya.
Liham dan Alan melirik ke arah Bilal.
"Netral adalah jalan yang terbaik," ujar Bilal.
Ben mengangguk setuju.
"Ya, netral."
"Liham, coba kamu diam saja dan nggak perlu sok sibuk sama masalah Kak Alan," ujar Bilal.
Liham cemberut.
"Kak Bilal tahu apa? aku setiap hari duduk-duduk bareng Bunda dan bahas lamaran ke rumah Kak Nisa terus. Kalau gagal, Bunda pasti sedih dong. Dan bisa aja Bunda malu karena sudah pernah ke rumahnya Kak Nisa dan bertemu langsung dengan orangtua Kak Nisa. Kalau yang lain malu nggak apa-apa. Tapi kalau Bunda? aku nggak terima!" balas Liham.
Alan dan yang lainnya terdiam. Mereka bahkan tidak dapat membalas kata-kata dari adik mereka.
Terdengar suara Popy.
"Kalau begitu kita semua harus diam tutup mulut agar Bunda nggak tahu masalah Alan."
Ben dan yang lainnya melirik ke arah pintu. Di mana ada Popy yang sedang menggendong Chana.
Chana menunjuk ke arah ayahnya.
"Papa *s**u! Papa *s**u!"
Ben mengambil botol *s**u formula dari tangan kanan Alan dan menggendong anaknya lalu memberikan sang anak *s**u formula.
Popy berkata, "Jangan ada dari kita yang membuka mulut. Awas saja kalau tersebar kabar mengenai masalah ini dan sampai ke telinga Bunda. Nanti Ayah Ran bakal marah."
Semua orang yang berada di ruang dapur itu mengangguk, termasuk Chana yang sedang menyedot *s**u formula, padahal dia tak tahu apa-apa mengenai pembicaraan antar orang dewasa itu.
°°°