Chapter 21

1538 Words
Beberapa hari telah berlalu dan kini adalah minggu malam yang artinya sudah seminggu Finisa tidak berada di rumahnya. Mobil Alan berhenti di depan pagar rumah Finisa pada malam jam setengah delapan. "Kamu yakin ingin bicara sekali lagi dengan Oma?" tanya Finisa melirik ke arah Alan. Alan mengangguk yakin. "Aku harus tanyakan alasan apa hingga Oma menolakku. Sebenarnya tidak bijak juga kita mengabaikan Oma. Biar bagaimanapun juga, beliau tetap Oma kandung kamu," jawab Alan. "Ya sudah, kalau kamu tetap bersikukuh ingin membujuk Oma, aku bisa apa? mari kita lihat kamu bicara dengan Oma," ujar Finisa tak punya saran lain. Alan tetap ingin berbicara dengan sang nenek, maka dia persilakan. Seseorang datang membuka gerang. Itu adalah Siun yang kebetulan berada di luar. Rumah Finisa tidak terlalu besar seperti rumah Alan, namun dapat menampung sepuluh orang anggota keluarga dengan empat kamar tidak terhitung kama asisten rumah tangga. Mobil masuk ke pekarangan rumah yang tidak terlalu luas. Luas pekarangan depan rumah Jovian hanya dua kali lapangan voli, sementara di pekarangan belakang sekitar empat kali lapangan bola voli. Berbeda dengan rumah Basri yang sekarang ditinggali oleh Alan, rumah itu terbilang sangat luas. Namun, ada rumah Basri yang lebih luas lagi, lokasi rumah itu berada di Bandung dengan total lahan mencapai puluhan hektar. Rumah itu tidak ditinggali oleh satupun anggota keluarga Basri. Yang tinggal di situ hanya kepala keluarga Basri yang seharusnya adalah Iqbal dan sang istri. Namun karena terlalu luas dan besar rumah tua Basri itu, mereka tidak nyaman. Mereka lebih memilih tinggal dengan anak dan menantu mereka. Begitu mobil berhenti di depan rumah Finisa, Alan dan Finisa keluar dari mobil. °°° Siun berjalan cepat ke dapur, di mana dia melihat Rina yang baru saja meneguk air putih dingin. "Bu, ada Non Nisa dan Tuan Alan di depan." Rina langsung melirik ke arah Siun. Dan dia buru-buru meletakkan gelas di atas meja makan lalu berkata, "Tolong panggilan suami saya." "Baik, Bu." Siun menyahut. Rina buru-buru melangkah ke ruang tamu di mana sudah ada Finisa dan Alan yang duduk saling berdampingan. "Nisa, Nak Alan," ujar Rina. Alan berdiri dan menyalami punggung tangan Rina. Setelah itu dia kembali duduk ke tempat semula. Rina sendiri mengambil tempat duduk berhadapan dengan Alan dan Finisa. Tiga detik setelah Rina duduk di sofa, langkah kaki Derian tiba di ruang tamu. "Nak Alan," ujar Derian. Alan berdiri lagi dan melakukan hal yang sama seperti dia menyalami tangan Derian. "Duduk, Nak." Derian menunjuk sofa. Alan mengangguk. Derian duduk di samping kiri istrinya, posisi itu berhadapan dengan Alan dan Finisa. "Nak Alan kemari mengantar pulang anak saya, kan?" tanya Derian. Alan mengangguk. "Meskipun ada masalah keluarga, tapi tidak sepatutnya Nisa berlama-lama pergi dari rumah. Sebab Nisa ini masih gadis, dia masih menjadi tanggungan Om dan Tante," jawab Alan bijak. Derian dan Rina bernapas lega, mereka memang tidak salah memilih Alan sebagai calon menantu mereka, pria ini tidak egois, Alan bahkan menghargai dia dan sang istri sebagai orangtua dari Nisa, tidak seperti sang ibu yang egois dan tidak menganggap mereka sebagai orang tua Nisa. "Itu … apakah ada keperluan lain lagi, Nak Alan?" tanya Derian. Alan mengangguk. "Om Rian, bolehkah saya bicara sekali lagi dengan Oma Naila?" Derian dan Rina saling melirik sekilas. Setelah itu, Derian melirik lagi ke arah Alan. "Om, sebagai laki-laki, saya tidak bisa diam saja. Mungkin Oma Naila sudah tidak marah lagi mengenai masalah minggu lalu. Om Davin sudah menelpon Ayah dan mengatakan maaf, Ayah juga tidak tersinggung dengan masalah ini. Saya ingin bicara baik-baik dengan Oma Naila dan ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan pada Oma Naila," ujar Alan. Derian mengangguk lega saat tahu bahwa Farikin dan Basri tidak berselisih. Davin memang bijak dengan memberi tahu keluarga Basri tanpa menutup masalah ini. "Boleh, sebentar yah," jawab Derian. Dia melirik ke arah dalam rumah dan berkata pada Siun, "Siun, tolong panggilkan Mamah saya di kamar." Tak berapa lama Naila muncul di ruang tamu setelah dipanggil oleh Siun. Melihat Alan ada di rumahnya membuat wajah Naila terlihat agak ketat dan waspada. Alan berdiri dan hendak menyalami tangan Naila. "Oma …." Ternyata wanita yang berusia lebih dari 70 tahun itu tidak mau memberikan tangannya atau bersalaman dengan Alan. Meski diperlakukan demikian, Alan tidak marah, dia tersenyum kecil dan kembali duduk setelah melihat Naila duduk di sofa tunggal. Derian dan Rina menjadi tak enak hati dengan kelakuan Naila. "Saya tahu, Tuan Muda Basri datang ke sini pasti bukan hanya mengantar cucu saya pulang, tapi juga ingin bicara dengan saya, kan?" ujar Naila. Alan mengangguk. "Benar, Oma." Untuk saat ini, Finisa memilih diam dan jadi penonton saja, jika situasi tidak terkendali, maka dia akan turun tangan. "Katakan apa itu," ujar Naila. Wajah Alan berubah serius dan dia berkata, "Oma Naila, saya ingin tahu, alasan kuat apa hingga Oma tidak ingin saya menikahi Nisa selain alasan bahwa Oma telah berjanji untuk menikahkan Nisa dengan anak Om Davin." Naila melirik ke arah Alan. Dia diam tak belum mau bicara. Hal ini membuat Alan merasa agak tidak sabar. Selama hampir setengah menit Naila memilih diam. Suara Alan terdengar lagi. "Apakah karena masalah perbedaan umur kami yang saya lebih muda tiga tahun dari Nisa?" Naila tidak menjawab. Derian merasa agak malu dengan kelakuan sang ibu. Merasa bahwa Naila tak akan menjawab pertanyaannya, Alan berkata lagi. "Jika ini masalah umur, Oma tidak perlu khawatir. Umur saya memang baru dua puluh tiga tahun, namun saya telah dewasa secara psikis dan fisik. Pikiran saya tidak seperti pikiran anak-anak, saya bahkan sudah mengambil alih urusan perusahaan secara penuh dari tangan Ayah saya-" "Saya dengar kamu membawa cucu saya menginap di rumah kamu?" potong Naila. "Ya," jawab Alan jujur, kemudian dia berkata lagi, "atas izin dari Bunda saya." "Tapi tidak dengan izinku," balas Naila. Finisa mulai merasa gerah dengan sang nenek. Dia membetulkan posisi duduknya baik-baik. "Om Rian dan Tante Rina tidak keberatan-" kata-kata Alan terpotong. "Lancang sekali mereka!" Naila malah marah. Wajah Derian terlihat serba salah dan malu di depan Alan. Dia malu karena Alan melihat sendiri betapa sang ibu yang tidak menghargainya sebagai anak atau orangtua dari Nisa. "Mah-" "Diam!" perintah Naila melirik ke arah Derian. "Kamu tahu, laki-laki ini telah membawa Nisa ke lain tempat selain rumah Basri." "Ke apartemen Alan," sambung Finisa yang mulutnya sudah gatal membalas ucapan sang nenek. Naila melirik ke arah sang cucu. "Memangnya kenapa aku tidur di apartemen Alan?" tanya Finisa. "Tidak seharusnya kamu melakukan itu, kamu itu akan menikah dengan-" "Berhenti katakan aku akan menikah dengan Hamdan!" marah Finisa. Dia memotong ucapan sang nenek. Alan menahan tangan kanan Finisa agar dia dapat menahan diri dan tidak mengamuk. "Kamu-" ujar Naila. "Mohon agar Oma Naila menjawab pertanyaan yang tadi saya ajukan," ujar Alan lebih dulu dari ucapan Naila yang ingin membalas kata-kata dari Finisa. Alan tidak mau Finisa dan neneknya terlihat adu mulut lagi dan kedatangannya ke sini untuk meminta jawaban langsung dari nenek Finisa gagal. "Pertanyaan? ah, yang mana?" tanya Naila. Alan dengan sabar mengulangi lagi pertanyaannya, dia maklum, Naila sudah tua dan *pikun. "Saya ingin tahu, alasan kuat apa hingga Oma tidak ingin saya menikahi Nisa selain alasan bahwa Oma telah berjanji untuk menikahkan Nisa dengan anak Om Davin." "Karena keluarga kamu," jawab Naila. Alan mengerutkan keningnya. "Keluarga saya? ada apa dengan keluarga saya? Basri dan Jovian tidak pernah bersinggungan sebelumnya." "Karena keluarga Basri yang dipimpin oleh ayah kamu sendiri, makanya saya tidak ingin cucu saya menjadi menantu Basri," jawab Naila. "Alasan ini sama sekali tidak berdasar. Memangnya kenapa jika Ayah saya yang memimpin keluarga Basri?" tanya Alan butuh penjelasan detail. Ini tidak lagi menyangkut dia, tetapi sudah menyangkut Ayahnya. "Tetua siapa yang tidak tahu bahwa ayah Anda itu telah banyak mengotori tangannya dengan membunuh banyak orang?" tanya Naila. Mata Alan dan semuanya melirik serius ke arah Naila. Mendengar ucapan Naila, hal ini membuat jantung Alan berdetak tak karuan. "Apa maksud Oma Naila ini?" tanya Alan. Finisa dan orangtuanya merasakan perasaan buruk terhadap percakapan ini. "Saya dengar masa lalu Tuan Randra Basri cukup mengerikan? dia bekas gila karena ditinggal oleh tunangannya yang saat ini menjadi cacat seumur hidup-" "Mamah!" "Oma!" Derian dan Finisa langsung menegur keras Naila. Detak jantung Finisa tidak rata, dia menatap agak takut ke arah wajah Alan yang kini terlihat datar. "Katakan saja apa yang ingin Oma Naila katakan. Saya ingin tahu alasan dibalik ditolaknya saya." "Cukup, Alan. Jangan lagi bicara dengan Oma," ujar Finisa. "Ayah Anda banyak membunuh orang kan untuk membalas dendam atas kecacatan yang menimpa istrinya?" tanya Naila. Alan ingin tertawa sinis pada saat ini. Hal ini ternyata dikaitkan dengan sang Bunda yang tak tahu apa-apa. "Mamah, tidak baik bicara hal yang sudah berlalu-" "Kamu ingin punya besan pembunuh banyak orang? bagaimana cucu saya bisa menjadi menantu seorang pembunuh-" "Cukup!" Finisa ingin sekali membalikkan meja. "Selama keluarga Basri masih dipimpin oleh orang *kejam dan sadis itu, saya tidak akan mengijinkan cucu saya menikah-" "Berhenti! aku bilang berhenti!" Nisa tidak tahan dengan kelakuan sang nenek. Dia bahkan membentak neneknya. Apa boleh buat, sang nenek terlalu berani. Finisa berdiri dan menarik tangan Alan untuk berdiri. "Aku kan sudah bilang, tidak mempan bicara dengan Oma." Dia menarik Alan untuk keluar dari rumahnya. Mereka memasuki mobil di mana Finisa mendorong Alan duduk di jok penumpang depan sementara Finisa sendiri masuk ke jok kemudi. Finisa dengan wajah datar mengendarai mobil Alan menjauh dari rumahnya. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD