Chapter 22

1635 Words
Pin pintu apartemen Alan dibuka oleh Finisa, setelah bunyi pintu terbuka, Finisa yang menggenggam tangan kanan Alan itu menarik pelan Alan masuk ke dalam apartemen. Setelah mereka masuk ke apartemen, tangan Finisa yang menarik Alan untuk masuk lebih dalam ke apartemen itu terhenti dan tak bisa bergerak maju. "Pada usia delapan belas tahun Bunda, keluarga Bundaku yaitu keluarga Baqi dibantai." Suara Alan terdengar. Finisa berhenti menarik tangan Alan, dia berbalik menghadap Alan. Terlihat wajah Alan sama sekali tidak bahagia. Alan sendiri tak menatap ke arah Finisa, dia hanya menatap ke lantai marmer apartemen. "Semua anggota keluarga Bunda diculik kecuali Kakek Mochtar yang bertugas dan Om Agil yang waktu itu masuk akademi kepolisian pada hari di mana seharusnya Kakek Mochtar mendapatkan penghargaan atas jasanya membongkar segudang kasus penyelundupan *senjata ilegal. Salah satu sepupu Bunda juga ikut diculik pada saat perjalanan ke acara itu, beliau adalah Tante Cika. Bunda sebagai saksi kunci kasus penyelundupan senjata ilegal yang pelakunya adalah sesama rekan polisi dari Kakek Mochtar diburu. Bunda dipisahkan dari Nenek Nulan, Om Gilan, Tante Gea dan Tante Cika." Finisa diam kaku. Sejujurnya dia tidak tahu detail masa lalu ibu dari sang pacar. Ada desas desus yang mengatakan bahwa kasus kematian keluarga Baqi sangat mengerikan dan menyisakan kenangan kelam yang mendalam bagi para pihak yang terlibat. Pihak-pihak itu adalah keluarga Baqi dan keluarga Basri yang waktu itu telah menjalin hubungan baik karena calon Nyonya Basri selanjutnya adalah dari seorang gadis Baqi. "Para penculik memutuskan untuk menghabisi semua sandera agar menghilangkan jejak kejahatan mereka. Tante Cika ditusuk berkali-kali dengan pisau tajam, beruntung ilmu bela diri dari Tante Cika mampu menahan serangan meskipun pada akhirnya beliau koma selama enam bulan. Sementara itu nadi kaki dan tangan dari Om Gilan disayat hingga putus, begitu juga nadi tangan Tante Gea." Suara Alan terdengar sangat terluka saat mengatakan hal ini. Ini adalah luka di masa lalu hingga terbawa sampai sekarang. Tidak ada satupun orang yang ingin membahas masa lalu yang mengerikan ini, termasuk dia. "Pada saat operasi penyelamatan sandera, Kakek Mochtar merasa tak sabar dan memilih lebih dulu masuk ke tempat penyanderaan, sayangnya pada saat itu Nenek Nulan ditembak tepat di dahi dan Kakek Mochtar ditembak tepat di jantung. Orangtua dari Bunda hari itu juga pergi dengan tragis dan dalam keadaan tidak wajar. Ayah dari Tante Cika datang terlambat, adik beliau telah tiada untuk selamanya dan Tante Cika sekarat kehilangan banyak darah." Mata Alan memerah, jika dia ingat cerita saksi mata dari sang tante yaitu Cika, maka tubuhnya akan bergetar takut. "Bunda diseret ke rooftop, pada saat negosiasi untuk penyelamatan Bunda, penculik tidak menerima dan langsung menyayat leher Bunda hingga hampir putus nadi beliau, seakan belum puas, Bunda dijatuhkan dari rooftop itu ke bawah, itu berjarak tiga lantai … hingga … tulang-tulang Bunda patah, retak dan terpisah sendi-sendi beliau …." Bahu Alan bergetar hebat saat mengatakan kalimat pilu itu. Mata Alan berkaca-kaca dan air matanya tumpah. "Nisa … itulah sebabnya kamu lihat Om Gilan tidak bisa berlama-lama berdiri tanpa penyangga … itulah sebabnya Om Agil terlalu sayang pada adik-adik beliau, termasuk Bunda yang paling menderita karena selama lima tahun Bunda hilang dibawa oleh ayah dari Tante Cika untuk perlindungan tanpa sepengetahuan siapapun. Dan kamu tahu? Bunda selama lima tahun itu koma tanpa tahu apa-apa bahwa orangtua beliau telah pergi …." Alan menangis. Seorang pria dewasa seperti Alan menangis di depan gadis pujaan hatinya karena sekarang hatinya benar-benar terluka dengan masa lalu orang tuanya. Tangan Finisa bergetar saat terangkat menghapus air mata Alan. Wajah Finisa berubah sedih dan iba pada Alan. "Oma Naila hampir benar … Ayahku hampir gila karena hilangnya sang tunangan. Perlu kamu tahu, pada umur lima belas tahun, Ayah telah melamar Bunda, rencananya setelah hari kelulusan Bunda, Ayah dan Bunda akan bertunangan, namun hari tunangan itu berubah menjadi pemakaman orang tua Bunda dan tragedi hilangnya Bunda …." Bahu Alan bergetar dan banyak tetesan air mata yang bagaikan rintik hujan turun membasahi punggung tangan Finisa yang sedang menghapus air mata Alan yang mengalir. Alan menggenggam tangan Finisa di dekat pipinya. "Ayahku mencoba melakukan bunuh diri karena kehilangan Bunda … lima tahun hidup di dunia bagaikan neraka yang seperti membakar *d**a Ayah … dendam Ayah … dendam Ayah pada para pelaku tentu saja tertanam dalam di hati Ayah." "Apalagi pada saat bertemu dengan Bunda untuk lima tahun pertama, Bunda tidak bisa lagi berjalan normal. Bagaimana bisa berjalan kalau sendi dan tulang beliau patah? bagaimana bisa bergerak bebas kalau organ dalam beliau rusak parah? hati, jantung, paru-paru dan semua badan Bunda telah disayat oleh pisau bedah untuk menyelamatkan beliau dari kematian … mereka tidak tahu betapa Bundaku menderita menahan sakit. Apakah kamu pernah merasakan bagaimana jantung kamu dipasang ring? tertawa ada batasnya, sedih ada batasnya, semua harus dibatasi, tapi Bunda terus bersikap kuat di depan anak-anaknya … meskipun kekurangan, Bunda bisa melahirkan empat anaknya. Sayang sekali, setelah melahirkan Bilal, tulang panggul Bunda terlepas dan membuat Bunda merasa tidak nyaman. Tapi Bunda tidak menyesal dan selalu menyayangi kami semua, Bunda tak pernah marah atau berkata kasar pada kita yang adalah anak-anaknya …." Air mata Alan turun deras jika mengingat sang ibu yang merawat mereka selama ini dengan keterbatasan sang ibu. "Nisa … menyangkut balas dendam Ayah Ran … aku tahu itu adalah hal yang salah, namun apakah kamu akan tenang dan duduk diam saja melihat pelaku yang membunuh keluarga istrimu berkeliaran bebas?" Mata Finisa memerah dan berkaca-kaca lalu dia menggelengkan kepalanya, air matanya ikut tumpah. Dia menangis bersama Alan. "Ayah bilang, kebahagiaan Bunda hanya kami anak-anaknya … hanya keluarga … apa kamu pernah lihat Bunda menangis di depan anak-anaknya?" Finisa menggelengkan kepalanya. "Tidak … itu karena Bunda selalu menunjukkan sisi kuat beliau pada kami agar kami tidak khawatir … tapi pada kenyataannya hanya di depan Ayah lah Bunda mengeluh sakit ini itu yang menimpa seluruh tubuhnya …." Bahu Finisa bergetar karena menangis bersama Alan. Dia memeluk Alan dan mengusap punggung Alan. "Alan … maaf," ujar Finisa dengan suara bergetar. "Apakah karena masa lalu hingga Oma kamu tidak ingin besan seperti Ayah dan Bundaku?" tanya Alan. Finisa menggelengkan kepalanya. "Jangan dengarkan Oma, jangan lagi pedulikan Oma," balas Finisa. "Masa lalu orangtuaku tidak bisa diubah. Kalau bisa diubah, maka aku ingin agar keluarga Bunda tidak mati secara tragis. Kalau bisa diubah, aku minta pada Tuhan, tolong kembalikan langkah kaki Bunda agar beliau bisa berjalan dan berlari-lari lagi di samping Ayah." Finisa tak mampu menahan suara tangis. Dia memeluk erat Alan. "Maaf … aku minta maaf atas kata-kata Oma padamu." Tangan Alan terangkat dan membalas pelukan sayang dan maaf dari Finisa. Pasangan kekasih itu menghabiskan waktu untuk berapa lama berdiri sambil saling memeluk. °°° "Mamah keterlaluan," ujar Derian. "Apa yang keterlaluan? di bagian mana aku keterlaluan?" tanya Naila. Derian menahan kekesalan yang amat luar biasa melandan dadanya. Ingat Derian, dia adalah ibumu, wanita yang melahirkan kamu. Jika saja kalimat ini tidak diulang terus di kepala Derian, maka mungkin saja Derian telah lepas kendali pada sang ibu. "Tidak patut mengungkit masa lalu orang lain!" ujar Derian. "Tidak! menurutku itu sangat patut!" balas Naila tak mau kalah. Tangan Naila bahkan. Terangkat dan menunjuk-nunjuk ke Derian dan ke pintu rumah di mana Finisa menarik Alan untuk keluar dari rumahnya. "Kamu tahu kenapa Mamah tidak ingin Nisa jadi menantu Basri? karena dia tidak akan bisa memerintah menjadi Nyonya Basri jika laki-laki yang bernama Randra Basri itu masih hidup!" "Akh!" Derian berteriak marah. Dia menatap nyalang pada sang ibu dan berkata, "Bukan Nisa yang memerintah, tapi Mamah yang ingin mengendalikan keluarga suami dari Nisa nanti kan!" Derian menuduh sang ibu. Naila langsung terbungkam. Ah, berarti benar tuduhan dari anaknya. Derian melihat dengan tatapan tidak percaya pada sang ibu. "Sekarang aku tahu, mengapa Mamah sangat selektif dalam menilai pria yang dekat dengan Nisa, selain kekayaan keluarga pria itu, masa lalu dan orang yang memimpin keluarga juga sangat Mamah lihat," ujar Derian Naila mengangkat dagunya ke arah Derian. "Ya." Derian tersenyum sinis. "Memangnya kenapa kalau Mamah selektif? ini demi kebaikan. Apa salah Mamah ingin mengendalikan keluarga suami Nisa? itu semua demi kebaikan Nisa dan masa depan keluarga Jovian," ujar Naila. Derian tertawa sumbang bin sinis. Ternyata sang ibu ini selain keras kepala juga matre. Ikut sifat siapa sang ibu? apa dulu karena keluarga ibunya hidup miskin dan tak mampu? Derian berkata, "Jangan ungkit masa lalu orang lain kalau masa lalu Mamah sendiri saja tidak seindah masa lalu orang lain." Plak! "Kamu!" Naila marah dan melotot sambil menapar pipi Derian. "Pa!" Rina berdiri dan menarik sang suami menjauh dari ibu mertuanya yang sekarang bagaikan kesetanan. "Sekarang aku penasaran, bagaimana butanya Papah hingga ingin memperistri Mamah," ujar Derian. "Pa, sudah!" Rina terlihat takut karena sang suami mulai membalas kasar dan pedas omongan sang mertua. Naila melotot marah, dia menunjuk ke arah hidung Derian. "Dasar anak *kurang ajar!" "Berani-beraninya kamu ungkit masa lalu Mamah kamu sendiri!" Naila mengamuk. Dia meraih vas bunga dan hendak melemparkan vas bunga itu pada Derian. "Ah! jangan, Mah!" Rina buru-buru menarik ke samping badan suaminya sebelum vas bunga itu mendarat ke kepala sang suami. Prang! Kretak! Vas bunga mendarat di dinding dan turun pecah ke lantai rumah. Detak jantung Derian berdetak cepat tak karuan. Badan Rina gemetar karena melihat suami dan ibu mertuanya yang sama-sama dalam suasana marah. "Pa, ayo ke dalam," ujar Rina. Derian berkata pada sang ibu. "Apakah dulu Mamah hidup susah dan bermimpi menjadi nyonya kaya raya? lalu menikah dengan Papah namun tidak kesampaian menjadi Nyonya rumah kaya dan ingin mengendalikan keluarga suami dari cucu perempuanmu?" "Pa, sudah!" Rina menarik kuat sang suami agar masuk lebih dalam ke rumah mereka. Sementara itu Naila masih melotot marah ke arah Derian. "Kamu berani padaku?!" Usaha Rina untuk menjauhkan sang suami dari ibu mertua membuahkan hasil. Rina menarik Derian masuk ke kamar mereka dan mengunci pintu kamar. Di ruang tamu, wajah Naila terlihat dingin dan datar, lalu muncul raut wajah yang penuh kebencian. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD