Chapter 23

1524 Words
Pada pagi harinya, Alan dan Finisa tidur sambil berpelukan. Ketika hati salah satu pasangan terluka, maka pasangannya juga akan merasakan luka itu. Sama halnya dengan Finisa yang merasa terluka karena sang Oma dengan sengaja menyakiti hati Alan. Finisa membuka kelopak matanya. Dia melihat wajah Alan yang masih terlelap dalam tidur. Dia bergerak pelan agar tak membangunkan Alan dan turun dari atas ranjang. Mereka tidur dengan memakai pakaian kemarin, bahkan sepatu Alan tak sempat dilepaskan. Cukup lama dia mendengar suara hati Alan yang menyedihkan menceritakan masa lalu orangtuanya. Sekarang, Finisa tak ingin lagi membahas masa lalu itu, dia mengerti perasaan Alan. Finisa melangkah ke kamar mandi dan melakukan ritual panggilan alam dan mencuci wajahnya. Setelah lima menit kemudian dia melangkah ke dapur apartemen milik Alan dan berencana membuat sarapan pagi yang sederhana. Di dalam kamar apartemen Alan, pria itu mengerutkan keningnya saat mendengar suara-suara yang ditimbulkan saat Finisa sedang memasak. Kelopak mata Alan terbuka dan dia melirik ke arah sekeliling kamarnya. Untuk beberapa detik, Alan mengumpulkan nyawa yang masih berterbangan agar kembali ke dalam tubuhnya. Setelah merasa tidak mengantuk lagi, Alan turun dari ranjang namun dia melirik ke arah sepatunya yang masih terpasang. Alhasil, sebelum melangkah keluar dari dalam kamarnya, dia membuka sepatunya dan berjalan ke dapur di mana Finisa baru saja meletakkan pancake yang baru dibuat ke atas piring. "Sudah bangun?" tanya Finisa. "Ya," sahut Alan sambil mengangguk, suaranya terdengar serak dan agak hilang, mungkin karena efek saat menangis tadi malam. Finisa melirik ke arah Alan dengan tatapan penuh rasa sayang. "Mandi dulu, lalu kita sarapan. Matamu bengkak." Alan mengangguk. Dia melirik ke arah pancake dan berkata, "Jangan pakai toping madu, aku ingin selai stroberi. Ada di kas bagian atas." Finisa mengangguk mengerti. "Baik." Stroberi adalah kesukaan dari ibu Alan. Anak-anak Moti juga suka stroberi. Alan kembali melangkah ke kamarnya dan pergi ke kamar mandi untuk mandi. Beberapa saat kemudian dia keluar dengan memakai handuk kimono. Finisa yang telah selesai menatap meja makan, melangkah ke kamar mandi. "Aku akan mandi." Alan mengangguk sambil mengeringkan rambutnya. Dia melihat pancakenya yang diolesi selai stroberi. Senyum tipis menghiasi bibirnya, dia melirik ke arah kamar mandi setelah mendengar suara guyuran shower. Tak berapa lama, Finisa keluar dari kamar mandi sambil membungkus rambutnya dengan handuk. Dia memakai baju piyama tidur. Duduk bersama Alan di depan meja dan mereka berdua mulai sarapan. "Hari ini kamu ke kantor?" tanya Finisa. Alan menatap Finisa. "Siang dikit," jawab Alan. Finisa manggut-manggut. "Baiklah, kita ke kantor sedikit siang." "Kurasa kamu harus telepon Tori untuk membawa baju bersih ke kantor. Tidak mungkin kamu ke kantor dengan kimono mandi," ujar Finisa. Alan tersenyum setelah mendengar ucapan Finisa. "Um," dia menyahut sambil menggigit pancake. °°° "Tidak pulang lagi ke rumah," ujar Naila datar. Hanya dia seorang diri yang sarapan di meja makan, Derian memilih untuk tidak sarapan bersama sang ibu karena adu mulut mereka tadi malam. Sementara Rina pergi bersama sang suami ke kantor cabang Nabhan's Bank di mana suaminya menjadi pimpinan di situ. Siun yang melayani Naila sarapan, terlihat menjauh dan tak berani dekat-dekat dengan Naila. Dia telah melihat kemarahan Naila tadi malam. Anaknya sendiri saja ditampar dan dilempari vas bunga, apalagi dia yang hanya asisten rumah tangga biasa? bisa lebih dari itu, mungkin saja. Itu pemikiran Siun. "Heum, anak dan ayah sama saja, tidak mendengarkanku," ujar Naila setelah dia mendengkus. Naila menikmati sarapan paginya dengan hati penuh dengki. °°° "Hamdan, maafkan Oma, Nisa belum juga kembali ke rumah. Dia malah semakin hari semakin jauh dari rumah dan sudah sangat berubah jauh dari yang dulu. Oma tidak tahu lagi harus bilang apa padamu agar kamu mengerti, kepala Oma sakit dan Oma ingin ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan Oma." Hamdan mendengar suara renta yang dikeluarkan oleh Naila dari seberang telepon. Hamdan mengangguk mengerti meski dia tak dilihat oleh lawan bicaranya. "Aku mengerti, Oma. Aku akan coba menyadarkan Nisa dan membawa dia kembali pulang ke rumah. Oma tenang saja, Nisa pasti akan pulang. Benar kata Oma, dia sedang tersesat karena pengaruh buruk orang," balas Hamdan. "Nanti Hamdan transfer biaya rumah sakit Oma di nomor rekening Oma yang biasa," sambung Hamdan. "Ah terima banyak Hamdan. Oh, beruntung sekali jika Nisa menikahi pria yang pengertian sepertimu, bukan pria yang tidak punya perasaan," ujar Naila dari seberang, dia bertingkah seperti dia telah dirugikan oleh seseorang. Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Naila, Hamdan tersenyum senang seakan dialah kandidat yang tepat untuk menjadi suami dari Nisa. "Oma tenang saja. Biar Hamdan yang akan membawa pulang dia ke rumah," ujar Hamdan dengan percaya diri. "Baik. Terima kasih banyak, Hamdan." Naila senang dari seberang. Panggilan diselesaikan oleh dua belah pihak. Hamdan melirik jam tangan. "Jam sembilan, jam seperti sekarang ini Nisa sudah tiba di kantornya." Hamdan mulai bergegas untuk pergi ke kantor Finisa. Saat melewati Davin, dia tak menyapa sang ayah, justru Davin malah mendengkus karena melihat tingkah anak bungsunya itu. °°° Pintu apartemen dibuka. Finisa yang kini telah berpakaian rapi untuk ke kantor yang membuka pintu. Tori langsung terlihat salah tingkah, dia pikir yang membuka pintu adalah bosnya, namun pacar sang bos. "Em, Bu Nisa," sapa Tori sopan, "ini pakaian kerja Pak Alan." Tori memberikan sebuah paper bag sedang yang berisi baju dan celana kerja Alan. Finisa mengangguk. "Terima kasih." "Sama-sama, Bu." Tori membalas. "Kalau begitu saya kembali ke kantor." Finisa mengangguk. Dia menutup pintu apartemen setelah Tori melangkah ke dalam lift. Mendengar pintu apartemen telah ditutup oleh pacar sang bos, Tori yang penasaran akut langsung buru-buru menengok lagi ke pintu apartemen bosnya yang kini telah tertutup rapat. "Pak Alan sudah tinggal berdua sama Bu Nisa, yah?" gumam Toei menerka-nerka. "Wah, padahal hampir dua minggu yang lalu Pak Alan lamar Bu Nisa di kantin perusahaan, dan sekarang sudah tinggal bareng. Apa … Tuan Randra tahu yah?" "Ah pasti tahu lah, kan Tuan Randra itu ayah dari Pak Alan, lagian semua kendali Basri masih ada di tangan beliau." "Tapi kira-kira Pak Alan dan Bu Nisa sudah tinggal berapa lama yah di sini?" "Seminggu?" "Ah, nggak deh," bantah Tori sendiri. "Eh, bisa jadi. Minggu lalu aku juga bawakan baju dan keperluan dari Bu Nisa, jangan-jangan sudah dari minggu lalu Pak Alan dan Bu Nisa tinggal bersama!" Tori malah heboh sendiri dan kepo dengan urusan sang bos. Pada jam setengah sebelas, Alan mengantarkan Finisa ke kantor. Alan berkata pada Finisa sebelum pacarnya itu turun dari mobil. "Kamu tidak mau pulang ke rumah lagi?" Finisa menggelengkan kepalanya tegas. "Tidak mau!" "Pasti akan sangat sulit untuk hubungan kita di mata Oma kamu," ujar Alan. Finisa melirik ke arah Alan, dia membalas, "Beri saja waktu selama seminggu atau dua minggu lagi untuk Oma berpikir bahwa apa yang telah Oma katakan pada kamu itu salah. Dan jika Oma masih ngeyel dengan janji-janji nikah yang masa *bodoh itu, aku tidak peduli. Keputusan masa depan dan dengan siapa aku menikah adalah mutlak di tanganku, bahkan Papa dan Mama tidak bisa menganggu. Setelah waktu yang aku tentukan itu, cari waktu dan aku akan bicara dengan Om Randra mengenai lamaran resmi." Alan terlihat berpikir dan dia mengangguk setuju. Namun suara Hamdan membuat Alan melirik cepat ke arah Finisa. "Nisa, aku rasa kamu memang benar-benar disesatkan oleh pria muda ini," ujar Hamdan. Alan merasa jengkel dengan kehadiran dari Hamdan. Alan semakin yakin, selama ini pasti manusia berjenis kelamin laki-laki yang bersama Hamdan Farikin ini telah mengikuti ke mana saja mereka pergi. Alan keluar dari dalam mobil dan menjauhkan Hamdan dari pintu mobil jok penumpang depan. "Maaf, tapi apa maksud Anda?" tanya Alan masih dengan rasa sopan. "Oma Naila benar tentang kamu. Kamu membawa pengaruh buruk bagi Nisa hingga dia berani meninggalkan rumah selama lebih dari seminggu," ujar Hamdan. Wajah Alan berubah jelek tidak suka dengan kalimat dari Hamdan ini. "Lalu Anda sendiri membawa pengaruh baik bagi Nisa? sejauh mana Anda mengenai kekasih saya? apakah dari makanan kesukaannya? ukuran sandal atau sepatu? ah, ataukah Anda mengenal sifat aslinya?" tanya Alan beruntun. Hamdan tak dapat membalas jawaban dari pertanyaan Alan ini. Sebab dia sendiri tak tahu pasti apa makanan kesukaan Nisa, ukuran sandal atau sepatu, bahkan sifat asli dari gadis yang disukainya. Melihat Hamdan mati kutu atas pertanyaannya, Alan tersenyum sinis. "Tolong Tuan Hamdan Farikin, jauhi kekasih saya. Tidakkah Anda sudah melihat dengan jelas bahwa Nisa itu menyukai saya dan bukan Anda? lalu kenapa Anda ingin terus memaksakan kehendak Anda?" "Saya telah diterima oleh keluarga Nisa," ujar Hamdan. "Saya telah diterima langsung oleh Nisa dan orang tua Nisa," balas Alan, kali ini nada suaranya terdengar sombong. "Apakah Anda diterima oleh Nisa sendiri?" tanya Alan. Hamdan terdiam. "Tentu saja jawabannya adalah tidak," jawab Alan atas pertanyaannya pada Hamdan. "Lelaki yang baik adalah lelaki yang juga harus menghargai orangtua gadisnya, bukan hanya menghargai neneknya. Sebab Anda tidak tahu seberapa berat dan besarnya perjuangan orangtua dari seorang gadis untuk membesarkan anak mereka." Alan mendekatkan wajahnya ke arah Hamdan dan berkata, "Saya tahu bagaimana perasaan orangtua dari seorang gadis sebab saya juga punya saudara perempuan." Alan menjauhkan Hamdan dari Finisa dan dia membuka pintu mobil jok penumpang membiarkan Finisa keluar dari dalam mobil. Saat Finisa dan Alan berbalik ke arah pintu masuk kantor Finisa, di situ rupanya ada Derian dan Rina yang dari tadi menunggu kedatangan anak mereka ke kantor. "Papa, Mama." °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD