mamanya rayyan merasa shock atas meninggalnya sang suami membuatnya harus menjadi kepala keluarga sekaligus mengurus rayyan yang masih kecil saat itu dan harus membiayai semua kebutuhan rumah dan juga sang anak, akhirnya Soraya menggunakan tabungannya untuk mendirikan sebuah butik untuk bisa menghidupinya dengan sang putra. usaha yang tak menghianatinya, semuanya berjalan dengan sempurna, sekarang usahanya semakin maju dan menjadi butik terkenal sampai saat ini.
Namun ia merasa khawatir dengan sang anak yang tak pernah menunjukkan kedekatan dengan seorang wanita. ia menjadi takut jika ia tak tertarik lagi dengan lawan jenis.
" apa yang harus aku lakukan, apa aku jodohkan aja sama anak teman-temanku mungkin saja ia bisa tertarik lalu langsung menikah, iya ya bisa aku coba dulu" pikir soraya.
" Halo jeng apa kabar?" sapa Soraya.
" Alhamdulillah sehat jeng, sudah lama ya kita tidak ketemu" jawab Renata dari sambungan telepon.
" besok bisa ketemu gak jeng?" tanya Soraya.
" boleh jeng, besok jam berapa?"
" nanti saya serlok ya jeng tempat dan jam nya" kata Soraya lagi.
" ok kalau begitu saya tunggu ya jeng" sambungan telepon diakhiri oleh Renata.
" pokoknya rencanaku gak boleh gagal" batin Soraya semangat.
******
Langkah kaki annisa berjalan menuju Rumah sakit begitu bersemangat, ia baru saja mendapatkan kabar dari Rangga bahwa ibunya sudah diperbolehkan untuk pulang, ia sangat senang sekali ibunya sudah sembuh dan nanti bisa berkumpul dengan sang ibu dirumah.
" assalamualaikum kak ibu" Annisa masuk keruangan sang ibu, ia mencium tangan sang kakak dan ibunya dengan takzim.
" kamu sudah makan nak?" tanya sang ibu.
" belum buk, tadi begitu dapat kabar dari kak Rangga langsung kesini" jawab Annisa senyum.
" kamu ini kebiasaan nis, ya sudah ayo kita makan dulu baru kita pulang" ajak Rangga pada Annisa.
" siap komandan" jawab Annisa seperti anak buah dan bos, sedangkan Rangga hanya tersenyum melihat tingkah adiknya yang selalu humoris ditengah keluarganya. Rangga sangat bersyukur bisa memiliki adik yang bisa memberi warna disetiap tingkah lakunya yang sangat ajaib menurutnya.
mereka segera keluar dari ruangan sang ibu menuju kantin untuk mencari makanan.
" kak nanti biaya rumah sakit bagaimana?" tanya Annisa.
" sudah beres tenang saja" jawab Rangga santai.
" emang kamu punya uang kok tanya biaya ibu?" tanya Rangga curiga.
" ya enggak lah kak, aku dapat uang dari mana coba, lulus sekolah aja belum, boro-boro dapat uang dari mana" jawab Annisa dengan wajah memelas membuat Rangga tak tahan untuk mencubit pipi chubby adiknya itu.
" sakit tau kak"
" kamu juga sih nunjukin muka kaya gitu, jelek banget "
" apa kakak bilang, aku jelek!!! awas aja nanti kalau sampai rumah" ucap Annisa kesal. membuat tawa Rangga pecah membuat Annisa langsung cemberut. membuat orang-orang yang ada dikantin melihat dua orang yang sedang bercanda, banyak yang mengira kalau mereka berdua sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, tak tau saja bahwa mereka adik dan kakak yang sedang mengejek satu sama lain.
"pokoknya kak Rangga harus nurutin kemauanku sekarang!!" kata Annisa ketus.
" ok ok, kamu mau minta apa anak kecil?" tanya Rangga membuat Annisa kesal dengan sang kakak.
" iiihhhh kak Rangga aku bukan anak kecil lagi ya, bentar lagi juga aku bakalan lulus sekolah!!" jawab Annisa tak terima.
" iya ya bawel, cepat mau makan apa?" tanya Rangga lagi.
" batagor, sate dan bakso, hmm minumnya es jeruk aja" ucap Annisa santai membuat Rangga melongo dengan pesanan Annisa, bukan masalah membayar namun dengan tubuh mungil adiknya itu apakah mampu menampung semua makanan tersebut pikir Rangga.
" kamu kesurupan nis?" tanya Rangga menyentuh dahi Annisa.
" kamu apaan sih kak pakek nyentuh dahi Annisa segala, ngatain kesurupan segala lagi" jawab Annisa kesal.
" ya habisnya kamu pesan makanan kaya satu tahun gak pernah makan aja" kata Rangga sekenanya.
" aku belum makan dari pagi kak, sekarang kan udah mulai siang makanya aku doubel sekarang makannya" Annisa cekikikan membuat Rangga heran dengan tingkah adiknya itu, dulu ibunya ngindam apa sih membuat Annisa seperti itu pikir Rangga.
pesanan pun mulai berdatangan, Annisa tersenyum melihat makanan yang sudah didepan mata, ia berdoa segera melahap semua makanan yang sudah tersaji itu masuk ke dalam perut.
Rangga yang melihat Annisa tak berkedip, dalam sekejap makanan yang tersaji sudah tandas masuk kedalam perut adiknya itu, Rangga merasa takjub dengan pola makan Annisa yang diacungi jempol.
" Alhamdulillah. . . ." ucap Annisa.
" sudah?" Annisa yang mendapat pertanyaan dari Rangga merasa heran.
" apanya kak?" tanya Annisa.
" makannya, sudah belum ? atau mau nambah lagi?" tawar Rangga.
" udah ah kak, sekarang aku udah kenyang"
" ya udah ayo kita keruangan ibu, kasihan ibu sendirian disana" mereka akhirnya berjalan menuju ruangan sang ibu untuk berkemas-kemas untuk segera pulang kerumah.
" assalamualaikum Bu" salam Annisa.
" walaikumsalam nak, sudah makannya?"
" Alhamdulillah sudah Bu, ayo sekarang kita pulang Bu?" ajak Annisa.
" ibu kuat tidak berjalan ke bawah?" tanya Rangga.
" masih agak lemas ga" jawabnya pelan.
Rangga segera membawa kursi roda untuk ibunya membawa kebawah untuk segera pulang kerumah.
tak menunggu lama akhirnya sampai diloby rumah sakit.
Terdengar sayup-sayup panggilan dari seseorang membuat tiga orang berhenti seketika.
" akhirnya kamu berhenti juga" seorang berseragam putih ber jas dokter itu menyapa Annisa membuat Rangga dan ibunya bingung.
" ada apa?" tanya Annisa cuek.
" kamu mau pulang?"
"pertanyaan apa itu " batin Annisa mulai jengah.
" aku antar ibu ke mobil dulu ya nis" kata Rangga langsung jalan menuju parkiran.
" ayolah pak dokter apa yang mau dibicarakan" kata Annisa tanpa basa-basi.
" maaf-maaf baiklah, bolehkan aku minta nomer ponsel kamu?" tanya rayyan.
dokter itu adalah rayyan yang mulai memperhatikan gadis berpipi chubby itu.
" buat apa?" Annisa langsung menatap rayyan yang lagi senyum ke kepadanya.
" ya mungkin saja butuh nanti" jawab rayyan asal.
" maaf ya pak dokter saya gak punya ponsel, permisi" Annisa segera menyusul sang kakak dan ibunya keparkiran, meladeni dokter yang selalu saja mengganggunya membuat Annisa pusing kepala.
rayyan melihat sikap Annisa tersenyum lalu melanjutkan tugasnya yang belum selesai segera masuk keruangan karena sudah banyak pasien menunggunya untuk segera diperiksa.
Annisa sesampainya didalam mobil melihat Rangga menatapnya tajam seakan ingin memakannya hidup-hidup.
Annisa melihat itu langsung menundukkan kepalanya tak mau bertatapan dengan sang kakak.
" ya Allah apa lagi ini" batin Annisa.
*
*
*
*
" nis ikut kakak ke belakang" Annisa merasa was-was sebentar lagi ia bakalan disidang oleh Rangga.
Annisa memastikan sang ibu istirahat sebelum menuruti sang kakak kebelakang.
" ada apa kak?" tanya Annisa
" cowok yang tadi siapa?" tanya Rangga pelan.
" yang mana sih kak?" tanya Annisa pura-pura tak tau.
" dokter tadi!" Rangga marah, rahangnya mulai mengeras. Annisa menjadi ketakutan melihat sang kakak marah kepadanya.
" dok-ter yang diloby tadi aku tak tau namanya kak, ta-pi aku pernah ketemu dia di pesantren waktu ia tanya alamat " jawab Annisa terbata-bata lalu menunduk.
" kenapa dia begitu dekat dengan kamu nis!, matanya menatapmu seakan kamu adalah kekasihnya!!" kata Rangga meninggi.
Annisa susah payah menelan seliver nya sendiri, apa yang harus aku katakan kepada kak Rangga batin Annisa.
" JAWAB NIS!!!!" bentak Rangga.
" sungguh kak aku tak bohong" Annisa mulai menceritakan awal mulai ia ketemu dengan rayyan tanya alamat, bertabrakan waktu di pesantren dan waktu makan siang dikantin tak ada sedikitpun Annisa tutup-tutupi dari kakaknya.
Rangga membuang nafasnya kasar, ia merasa sangat marah ada seorang laki-laki menyukai adiknya yang masih kecil, apalagi ia tau bahwa yang menyukai Annisa seorang ber profesi seorang dokter namun ia masih tak ikhlas jika Annisa menikah muda nantinya, Rangga takut kehilangan adik yang paling ia sayangi, memang ia masih mempunyai Aisyah adiknya juga namun ia lebih sayang kepada Annisa.
" maafkan kakak ya tadi Sudak membentakmu" ucap Rangga pelan langsung memeluk Annisa yang masih takut akibat bentakan Rangga tadi.
Annisa menangis sesenggukan dalam pelukan Rangga, ia masih takut jika kakaknya itu masih marah padanya tentang kejadian tadi. cukup lama pelukan itu tanpa sadar Annisa tertidur dalam pelukan sang kakak.
" nis. . . . kok gak bergerak" Rangga mencoba melihat wajah Annisa yang berada di d**a bidangnya.
" ya Tuhan bisa-bisa ia tidur dalam keadaan seperti ini"
Rangga mulai mengendong menuju ke kamar untuk menidurkannya.
Nafar teratur dan denguran halus terdengar dari mulut Annisa, Rangga mulai menyelimutinya dan segera keluar dari dalam kamar Annisa menuju kamar ibunya untuk melihat keadaan sang ibu.
" syukurlah ibu masih tidur"
Rangga mulai keruang tengah untuk melihat siaran tv namun tak ada acara menarik untuk ditonton.
suara ketukan pintu menandakan ada tamu yang datang.
" siapa sih yang datang" Rangga mulai berjalan membuka pintu ternyata paklek dan buleknya yang datang.
" assalamualaikum ga" salam paklek
" walaikumsalam paklek, silakan masuk" Rangga mulai berjalan menuju ruang tamu untuk mempersilakan untuk duduk.
" mau minum apa lek?" tanya Rangga.
" gak usah repot-repot ga, kami kesini gak lama kok"
" memang ada keperluan apa paklek? tanya Rangga penasaran.
" saya kesini ingin mengajak Annisa jalan-jalan kalau boleh, mumpung dia masih libur" kata bulek
" tapi Annisa nya lagi tidur bulek dikamar" kata Rangga
" ya bukan sekarang ga, besok-besok kan masih bisa" kata paklek lagi.
" namun Annisa mungkin besok sudah pulang kepesantren paklek, soalnya sudah lama ia izin takutnya nanti menjadi masalah, sebentar lagi juga dia lulus sekolah" ucap Rangga
" ohh gitu ya, ya kapan-kapan aja kali ya pah" kata bulek.
" terserah kamu aja mah" jawab paklek.
"Rangga penasaran tak seperti biasannya mereka mengajak Annisa pergi jalan-jalan" batin Rangga curiga
" ya sudah kalau begitu kami pulang dulu ya ga, salam buat ibu kamu ya " pamit bulek.
" baik bulek nanti saya sampaikan kepada ibu"
Rangga mengantar mereka ke depan untuk rasa hormatnya kepada adik dari ibunya itu.
"apasih tujuan mereka kesini, bikin curiga saja" kata Rangga.
" siapa yang bikin curiga kak?"
*
*
*
bersambung. . . . . .