"apasih tujuan mereka kesini, bikin curiga saja" kata Rangga.
" siapa yang bikin curiga kak?"
Rangga begitu terkejut mendengar pertanyaan Annisa yang tiba-tiba datang dari belakangnya.
" kamu ini bikin kaget saja" kata Rangga melewati annisa begitu saja masuk kedalam rumah.
" siapa kak yang bikin curiga?" Annisa mengikuti Rangga keruang tamu, ia sangat penasaran yang baru saja diucapkan Rangga.
" kamu udah bangun?" Rangga tak menjawab pertanyaan Annisa namun ia tanya balik ke adiknya itu.
" ya udah lah kak, kak Rangga ini bukan jawab pertanyaan ku malah tanya balik!" ucap Annisa menggerutu.
" itu gak penting, kakak ke kamar dulu" Rangga mulai pergi ke kamar untuk menghindari pertanyaan adiknya.
" aku jadi curiga, yang di maksud kak Rangga siapa ya" Annisa jadi penasaran siapa tadi yang datang kesini bikin kakak nya itu curiga.
" ah bodo amat, mending kekamar ibu" Annisa melihat kamar ibu tidak ter tutup rapat, ternyata sang ibu sedang melamun melihat ke arah jendela.
" apa yang sedang ibu pikirkan"batin Annisa.
" ibu Annisa boleh masuk" ketuk pintu membuyarkan lamunan Maryam.
" masuk aja nak, kenapa harus minta izin sayang?" tanya Annisa.
" ya takut mengganggu istirahat ibu aja" Annisa berjalan kearah keranjang ibunya yang sedang berbaring lemah.
perlahan Maryam duduk dibantu oleh Annisa memperbaiki bantal agar sang ibu bisa bersandar.
" ibu sebenarnya kenapa? apa ada masalah?" tanya Annisa penasaran.
" ibu gak mau kehilangan kamu sayang" Maryam sangat takut jika nanti Annisa tau masa lalunya apakah anaknya masih mau bersamanya pikir Maryam.
" aku gak kemana-mana kok Bu, Annisa akan selalu bersama ibu" Annisa memeluk ibunya mencoba untuk menenangkan perasaan gelisah Maryam.
" udah ya Bu jangan sedih Annisa kan sebentar lagi juga lulus sekolah, nanti Annisa keluar aja dari pesantren agar ibu tidak kesepian lagi" Maryam tersenyum mendengar penjelasan Annisa.
" ibu ingin kamu di pesantren dulu nak, biar bisa selesai hafalan kamu dulu" Annisa mencoba menjawab keinginan ibunya itu namun Aisyah datang.
" kenapa pada sedih sih ini?? kaya mau perpisahan aja " tiba-tiba Aisyah datang dan berjalan masuk untuk melihat ibunya yang sudah pulang dari rumah sakit, tadi ia tidak bisa jemput karena ada bimbingan dari dosennya.
" maaf ya Bu tadi Aisyah tidak bisa jemput ibu dirumah sakit, karena masih bimbingan sama dosen tadi" Maryam tersenyum melihat Aisyah mendekat dan duduk disebelah Annisa.
" tidak apa-apa sayang, sebentar lagi kan kamu juga akan lulus kuliah" Aisyah memeluk ibunya dan berterima kasih.
" kamu sudah makan kak?" tanya Annisa.
" belum nis, emang kamu sudah masak?"
" belum kak" Annisa tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
" huuu dasar kamu nis, kirain nawarin makan ternyata suruh masak" Aisyah mencubit pipi Annisa gemes.
" kakak ini sama aja kaya kak Rangga suka cubit pipi ku, nanti kalau hilang cantinya bagaimana!" Aisyah mendengar itu tertawa melihat wajah kesal adiknya itu, Maryam tak henti tersenyum melihat anak-anaknya bercanda seperti biasa membuatnya sangat senang.
kebahagian seorang ibu adalah melihat anak-anaknya bahagia, tertawa dan akur sesama saudara mereka. seperti saat ini Maryam dapat melihat anak-anaknya yang sedang bersenda gurau membuat hatinya bahagia.
Annisa dan Aisyah tak henti-hentinya menggelitiki satu sama lain membuat tawa mereka sampai ke kamar Rangga yang sedang tidur membuatnya terbangun karena suara berisik yang mengusiknya.
" ada apa sih kalian berisik amat" Annisa yang mendengar itu langsung diam tak mau kena marah seperti tadi siang.
" ini loh kak Rangga, kak Aisyah menggelitik Annisa terus" Aisyah yang mendengar Annisa mengadu pada Rangga langsung menggelitik adiknya lagi.
" ampun kak. . . . Annisa udah gak kuat ketawa terus"
" makanya jangan kerjain aku terus" Aisyah tak mau kalah dari Annisa.
" iya deh maaf"
" ayo kita masak sekarang keburu malam nanti" Aisyah ajak Annisa untuk membantunya memasak.
" ok "
Dua perempuan itu berjalan ke arah dapur untuk segera masak buat makan malam nanti. sedangkan Rangga melihat ibunya yang tersenyum kepadanya.
" kamu dari mana ga?" tanya Maryam.
" tadi Rangga tidur Bu" Rangga tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" iya gak apa-apa pasti kamu kan capek nungguin ibu dirumah sakit" Maryam memegang tangan Rangga.
" kamu kapan menikah nak? umur kamu sudah cukup untuk menjalin hubungan dan ber rumah tangga?" pertanyaan Maryam membuat tenggorokan Rangga terasa kering untuk menjawab pertanyaan sang ibu.
" ibu sudah tua nak, pengen melihat anak-anak ibu memiliki kebahagian masing-masing"
" mungkin umur ibu sudah tidak lama lagi" Rangga melihat wajah letih ibunya yang tak muda lagi membuatnya tak tega untuk mengatakan yang sebenarnya.
" ibu Jagan bilang kaya gitu, semuanya telah diatur yang Mahakuasa, jodoh, rezeki dan mati hanya Allah yang tau bu" Rangga tak kuasa kehilangan sosok yang begitu ia cintai di dunia ini yaitu ibunya.
" Rangga pasti akan menikah Bu tapi tidak sekarang, aku masih ingin merawat ibu dulu agar cepat sembuh" Rangga belum kepikiran untuk memenuhi keinginan sang ibu untuk segera menikah, ia masih mempunyai banyak mimpi yang belum tercapai, dalam hubungan asmara banyak wanita yang menyukainya namun ia belum tertarik untuk menjalin sebuah hubungan yang serius.
*
*
*
*
*
Disisi lain Gus Hasan sedang mengajar didalam aula yang biasa santri-santri berkumpul untuk menuntut ilmu.
" sampai disini dulu kajian kitab yang kita baca, semoga kita diberkahi Allah SWT aamiin, assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh" Gus Hasan mengakhiri pelajaran seperti biasanya.
" walaikumsalam warahmatullahi wabarokaatuh " ucap santri serentak.
para santri segera pergi keluar dari aula tersebut untuk melanjutkan kegiatan yang lainnya.
" kabar gadis itu bagaimana, sudah 1 Minggu ia belum kembali kepesantren" batin Gus Hasan.
Gus Hasan masih duduk termenung di dalam aula, ia merasa heran dengan hati dan pikirannya yang terus memikirkan gadis kecil itu, apa ia sedang jatuh cinta pikir Gus Hasan.
" astaghfirullah apa yang aku pikirkan " Gus Hasan tak henti-hentinya beristighfar dalam hatinya.
sementara Nafa merasakan kesepian tidak ada sahabatnya disisinya, ia begitu merindukan sahabat yang sudah ia anggap saudaranya sendiri, apa penyakit ibunya parah pikir Nafa.
" hay fa kenapa malah melamun disini?" Anita teman sekamar Nafa dan Annisa itu mengagetkan Nafa yang duduk dibangku taman.
" apaan sih nit bikin kaget saja" jawab Nafa kesal.
" maaf-maaf, kamu juga sih dipanggil dari tadi gak dengar-dengar, jadi aku samperin aja kesini" kata Anita tak mau disalahkan.
" aku tu lagi kangen sama Annisa" kata Nafa lirih.
" ya ampun fa, bentar lagi juga Annisa pulang kesini, kan ia dikasih waktu 1 Minggu untuk pulang" Anita heran dengan Nafa sampai segitunya ia merindukan sahabatnya itu.
" apa iya nit? kok aku gak tau ya" Nafa tak pernah tau jika ada peraturan pesantren jika ada keluarga yang sakit bisa izin 1 Minggu.
" iya lah fa, kamu ini kemana aja sih? udah bertahun-tahun kamu disini masih tidak tau peraturan pesantren deh, heran aku sama kamu" omel Anita pada teman kamarnya.
" hehehe namanya juga gak tau, berarti Annisa besok sudah kesini" kata Nafa semangat.
" iya lah, tapi aku juga gak pasti sih soalnya kita gak bisa tanya langsung Annisa kesininya kapan"
" yah kamu ini nit bikin aku bingung aja" Nafa mulai kesal dengan perkataan Anita yang tak pasti.
" ya aku kan cuman kayaknya, belum pasti juga. he he he" kata Anita.
Nafa yang semula bersemangat Annisa akan segera kembali kepesantren menjadi lesu lagi, mungkin efek rindunya pada sahabatnya itu.
" gimana kalau kita pinjam telfon pengurus aja, kan boleh tu kita bisa telfon Annisa??" Anita kasih solusi pada Nafa.
" kamu pintar nit, boleh yuk kita sekarang kepengurus saja tapi alasannya apa?" tanya Nafa bingung.
" kamu ini, gitu aja masa gak tau sih fa!! kan bisa bilang kalau keperluan kita habis mau telfon orang tua kita gitu aja susah amat" Anita mulai jengah dengan pertanyaan Nafa yang gak bisa berpikir itu.
" he he he " Nafa hanya bisa tertawa kikuk.
mereka berdua segera berjalan menuju pengurus untuk pinjam ponselnya. sesampainya mereka mengucapkan salam lalu mulai bicara tentang tujuannya tersebut.
" Alhamdulillah bisa nyambung nit" Nafa menghubungi ponselnya Rangga yang panggilan pertama tidak diangkat namun panggilan kedua langsung diangkat.
" iya halo assalamualaikum" ternyata suara cewek, kirain suara cowok karena namanya aja Rangga pikir Nafa.
" walaikumsalam benar ini dengan kediaman keluarga Annisa?" tanya Nafa.
" iya betul dengan saya sendiri, ini siapa?" ternyata yang angkat telfon Annisa sendiri, beruntung sekali Nafa bisa langsung bisaca pada Annisa.
" nis aku Nafa" suara Nafa pelan.
" ya Allah kamu fa, kirain siapa, apa kabar?" tanya Annisa.
"Alhamdulillah baik nis, ibu kamu sudah sembuh?"
" Alhamdulillah sudah fa, kemaren sudah dibawa pulang kerumah"
"Alhamdulillah kalau begitu, ngomong-ngomong kamu kapan kesini nis, kamu tega sama aku disini sendirian" Nafa mulai sedih.
" kamu itu apaan sih fa, disitukan masih ada banyak teman-teman yang lainnya??" Annisa heran dengan tingkah Nafa.
" aku tu kangen sama kamu nis" suara Nafa lirih.
" kamu nangis fa, ya Allah kamu ini " Annisa juga merasa sedih mendengar suara Nafa menangis.
" Jagan sedih ya fa, mungkin besok atau lusa aku sudah kesana kok" Annisa mulai menenangkan Nafa yang sedang menangis.
" benarkah nis" semangat Nafa
" iya fa, ya sudah aku tutup dulunya telfonnya?" Nafa hanya mampu mengangguk saja.
" assalamualaikum" akhirnya Annisa menutup telfon Nafa.
" walaikumsalam" jawab Nafa lirih.
" gimana sudah kamu tanyakan kapan Annisa kesini??" tanya Anita.
" sudah katanya besok atau lusa" Nafa mulai menghapus sisa airmatanya agar tidak dikatain cengeng.
Nafa dan Anita segera masuk memberi ponsel kepada pengurus yang telah dipinjamnya tadi, mereka segera pergi kekamarnya untuk mempersiapkan kegiatan berikutnya.
bersambung. . . .