Bab 9: Fondasi Baru dan Bayangan Masa Lalu

1108 Words
​Enam bulan berlalu sejak perpisahan Reno. Kehidupan Aurelia Sanjaya telah bertransformasi total. ​Secara profesional, ia melambung tinggi. Proyek mercusuar dengan PT. Wiratama Karya berjalan mulus di bawah pengawasan ketat Arjuna. Aura Design & Co. kini bukan hanya disegani, tetapi ditakuti. Mereka memenangkan tender demi tender, dan stabilitas finansial perusahaan berada pada titik tertinggi sepanjang sejarahnya. Aurelia, yang dulunya tegang karena utang, kini memancarkan aura CEO yang benar-benar memegang kendali. ​Secara pribadi, Arjuna telah menjadi pilar utamanya. Mereka kini menjalin hubungan eksklusif. Arjuna tidak pernah secara resmi meminta Aurelia menjadi kekasihnya; itu hanya terjadi secara alami melalui kedekatan profesional dan emosional yang intens. Juna menawarkan makan malam yang mewah, perjalanan bisnis yang nyaman, dan yang paling penting, sebuah janji bahwa ia tidak akan pernah membuat Aura khawatir tentang uang. ​Kemewahan yang Hampa ​Aura menikmati kenyamanan finansial. Ia tidak lagi melihat harga saat membeli barang atau makan di restoran. Kalung berlian dari Juna kini menjadi perhiasan harian, menggantikan liontin perak buatan Reno. Rumah mereka, yang dulunya terasa dingin, kini penuh dengan teknologi canggih dan furnitur mahal pilihan Juna. ​Namun, di tengah semua kemewahan itu, ada kekosongan yang tak terhindarkan. ​Suatu malam, Juna mengundang Aura makan malam di penthouse-nya yang mewah, menghadap seluruh kota. ​“Proyek kita mencapai fase kritis, Ra. Kamu hebat. Aku akan menaikkan persentase keuntunganmu di proyek berikutnya,” ujar Juna, menggeser segelas anggur ke arah Aura. ​“Terima kasih, Juna,” kata Aura. Ia menghargai pengakuan Juna, tetapi ia mendapati dirinya merindukan pujian sederhana Reno yang tulus saat ia berhasil membuat nasi goreng yang enak. ​“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Juna, peka terhadap perubahan ekspresi Aura. ​“Tidak ada. Hanya teringat pada Reno,” jawab Aura jujur. ​Juna meletakkan garpunya. “Dia sudah membayar sisa utangnya dua minggu lalu, bukan? Dia menepati janjinya. Dia stabil sekarang. Itu bagus. Tapi dia adalah masa lalu, Ra. Aku adalah masa depan yang kamu pilih.” ​“Aku tahu,” bisik Aura. Ia tahu Reno sudah melunasi semua utangnya, bahkan beberapa utang kartu kredit lama yang dulu ditutup Aura. Reno telah menjadi pria yang bertanggung jawab, persis seperti yang Aura inginkan. Ironisnya, tanggung jawab itu lahir karena perpisahan mereka. ​“Aku ingin kamu benar-benar melepaskannya, Ra. Jika kamu benar-benar ingin aku menjadi fondasi hidupmu, kamu harus membersihkan semua bayangan masa lalumu,” tegas Juna. ​Kata-kata Juna terasa seperti ultimatum baru, tetapi kali ini, itu datang dari pria yang stabil, dan Aurelia tidak punya alasan logis untuk menolaknya. ​Konflik Baru: Kehilangan Identitas ​Konflik baru pun muncul, bukan lagi tentang uang, melainkan tentang identitas dan seni. ​Suatu sore, Juna dan Aura sedang membahas desain terbaru untuk sebuah resor di Bali. Juna, yang kini berinvestasi besar di Aura Design & Co., mulai mengambil alih keputusan desain. ​“Ra, untuk guest villa ini, jangan pakai desain atap tropis yang terlalu berani itu. Client kita, para investor, tidak mau mengambil risiko. Ganti dengan desain minimalis Skandinavia. Itu safe dan mahal,” perintah Juna. ​Aura mengerutkan kening. “Tapi, Juna, desain atap tropis itu adalah signature kita. Itu yang memenangkan kita tender ini. Minimalis sudah terlalu pasaran. Kita akan kehilangan identitas.” ​“Identitas yang tidak stabil, Ra? Ingat, yang dicari pasar adalah keamanan investasi, bukan idealisme senimu,” balas Juna dingin. “Ambil risiko adalah hal yang Reno lakukan. Kita tidak mengambil risiko di sini. Kita mengambil keuntungan yang pasti.” ​Aura merasa seolah-olah jiwanya sebagai arsitek sedang direnggut. Juna telah menyelamatkan perusahaan, tetapi ia membunuh seni di dalamnya. ​Saat itulah Aura menyadari ironi yang menusuk: ​Reno yang idealis selalu mendorongnya untuk berani mengambil risiko dalam desain, meskipun ia tidak bisa mendukungnya secara finansial. ​Juna yang stabil memberinya keamanan finansial absolut, tetapi menuntut kepatuhan dan pembunuhan terhadap idealisme seninya. ​Aura telah memilih stabilitas, tetapi stabilitas itu terasa seperti sangkar berlapis emas. ​Bayangan Reno ​Suatu sore, saat berkendara pulang, Aura melewati sebuah galeri seni kecil di pinggiran kota. Ia melihat sebuah poster besar yang dipajang. Itu adalah pameran fotografi tunggal. ​Reno Adrian: Jejak Kaki dan Cahaya. ​Jantung Aura berdebar kencang. Reno tidak hanya melunasi utangnya; ia kembali menjadi seniman, tetapi kali ini, ia melakukannya dengan mandiri. Ia pasti telah menggunakan uang yang ia peroleh sebagai kuli untuk mendanai pameran ini. ​Aura memarkir mobilnya. Ia harus melihatnya. ​Di dalam galeri kecil yang remang-remang, foto-foto Reno dipajang. Itu adalah karya yang indah, penuh emosi, dan teknisnya sempurna. Ada foto-foto portrait orang-orang biasa yang ditemuinya di jalanan, landscape pinggiran kota yang melankolis, dan yang paling menarik perhatian Aura, adalah serangkaian foto yang berfokus pada tangan pekerja. Foto-foto tangannya yang kapalan, berlumuran cat, atau memegang alat sederhana. Itu adalah self-portrait Reno selama masa sulitnya. ​Aura melihat label harga di bawah foto-foto itu. Terjual. Terjual. Hampir semua foto terjual. Reno tidak hanya berhasil, ia sukses dengan caranya sendiri yang idealis, tanpa bantuan uangnya. ​Rasa bangga bercampur dengan penyesalan yang mendalam menusuk Aura. Ia telah memberikan ultimatum yang sempurna, tetapi ia tidak memberikan dukungan dan waktu yang tulus untuk perubahan itu. ​Tiba-tiba, ia melihat Reno di sudut ruangan, berbicara dengan seorang kolektor seni terkenal. Penampilannya lebih matang, lebih terawat, tetapi tatapan matanya tetap memancarkan kehangatan yang dulu ia cintai. ​Reno melihatnya. Senyumnya yang dulu selalu cerah saat melihat Aura kini meredup menjadi senyum sopan yang formal. ​“Aurelia,” sapa Reno, nadanya datar dan profesional. “Terima kasih sudah datang. Aku senang kamu melihat pameranku.” ​“Reno… Aku… Aku bangga padamu,” kata Aura, suaranya tercekat. Ia meraih kalung berlian dari Juna, merasa kalung itu tiba-tiba terasa berat dan palsu di lehernya. ​Reno menatap kalung itu. “Aku yakin kamu bangga. Aku juga bangga. Aku membuktikan bahwa aku tidak butuh uangmu untuk menjadi seseorang.” ​“Kenapa kamu tidak menghubungiku? Kamu sudah melunasi semuanya,” tanya Aura. ​“Aku melunasi hutang uangku, Ra. Tapi aku tidak bisa melunasi hutang perasaanmu. Kamu sudah memiliki fondasi yang kamu inginkan sekarang,” jawab Reno. “Aku harus pergi. Ada wawancara radio.” ​Reno berbalik, berjalan menuju pintu belakang. Aura tahu, ia tidak hanya meninggalkan galeri, ia kembali meninggalkan hidup Aura. ​Saat Aura keluar dari galeri, ia mengeluarkan ponselnya. Ada pesan dari Juna: Aku sudah mengirimkan draf final untuk resor Bali. Ubah desain atap itu sekarang juga. Aku akan menunggumu di penthouse-ku. Aku bawakan sampanye. ​Aura menatap kalung berlian di lehernya, lalu menatap pesan Juna. Ia memiliki stabilitas absolut, tetapi ia baru saja menyadari harga yang ia bayar: kehilangan cinta sejati dan kehilangan jiwanya sebagai seniman. ​[Akhir Bab 9]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD