bc

Bunga Mekar Di Tengah Badai

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
dark
BE
family
HE
time-travel
fated
second chance
curse
kickass heroine
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
lighthearted
serious
kicking
campus
city
office/work place
actor
like
intro-logo
Blurb

​Sinopsis​Aurelia "Aura" Sanjaya adalah arsitek muda yang sukses dan ambisius. Di usianya yang ke-29, ia sudah memiliki biro desain sendiri, didorong oleh etos kerja yang keras dan janji pada dirinya untuk selalu mandiri. Namun, kemandirian finansialnya berbanding terbalik dengan pilihan hatinya.​Aura menikahi Reno Adrian, seorang fotografer freelance yang karismatik, penuh perhatian, dan mampu membuatnya merasa dicintai dan rapuh. Reno adalah escapism dari dunia pekerjaan Aura yang dingin dan penuh perhitungan. Aura mencintai Reno dengan tulus, mencintai senyumnya, cintanya yang hangat, dan semangatnya yang bebas.​Namun, cinta itu perlahan memudar menjadi penyesalan. Reno ternyata adalah 'mokondo' sejati—modal-kolor-doang. Reno kesulitan mempertahankan pekerjaan, utang kartu kreditnya menumpuk, dan ia mulai terbiasa meminta 'pinjaman' yang tidak pernah kembali dari Aura. Awalnya puluhan juta untuk modal usaha, kini bahkan untuk kebutuhan sehari-hari. Bisnis desain Aura yang seharusnya menjadi pundi-pundi tabungannya, kini beralih fungsi menjadi 'bank' pribadi Reno.

chap-preview
Free preview
Bab 1 : Fondasi yang Terbuat dari Pasir
​2 Tahun Lalu, Jakarta Selatan ​Kantor Aura Design & Co. pada masa itu masih berupa co-working space premium di kawasan SCBD. Aurelia Sanjaya—yang kala itu masih dipanggil “Aura”—baru genap 27 tahun. Ia sedang berada di puncak obsesinya: membuktikan diri. Ia duduk tegak di depan monitor, rambut hitamnya diikat tinggi, menampakkan leher jenjang dan rahangnya yang tajam—semua detail fisik yang menyiratkan ketelitian, sama seperti garis-garis yang ia buat pada blueprint desainnya. ​Aura tidak pernah punya waktu untuk hal-hal remeh temeh seperti kencan atau hiburan santai. Hidupnya adalah kerja, rapat, dan kopi. Bagi Aura, kesuksesan bukan hanya tujuan, tetapi sebuah perisai. Perisai yang melindunginya dari kebutuhan untuk bergantung pada siapa pun, terutama pria. ​Siang itu, perisai itu sedikit retak. Bukan karena pekerjaan, melainkan karena laptop terbarunya. ​“Sialan,” desis Aura, mengetuk-ngetuk keras layar Macbook Pro yang tiba-tiba gelap total. Deadline presentasi klien besar tiga jam lagi, dan semua file final ada di sana. ​Manajer co-working space dengan panik memanggil teknisi. Yang datang bukan teknisi, melainkan seorang pria dengan postur santai, jaket denim usang, dan kamera mirrorless tergantung di lehernya. ​“Aku Reno,” katanya dengan senyum lebar yang terasa tulus, berbanding terbalik dengan aura tegang di ruangan itu. “Bukan teknisi, tapi kadang kalau alat digital ngadat, aku jago nebak masalahnya.” ​Aura mendengus. “Aku butuh solusi, bukan tebakan.” ​“Wait,” Reno mengangkat kedua tangan, mendekat ke meja Aura. Ia bukan tipe pria kantoran; ia memancarkan aroma matahari dan tembakau ringan. “Coba ingat, terakhir kamu install apa?” ​Reno dengan luwes membalik laptop Aura, tangannya yang lentik dan bersih mulai memeriksa port dan kipas. Ia bekerja dalam diam sejenak, sementara Aura hanya bisa menatap cemas, mengagumi sekaligus kesal pada kepercayaan diri pria asing ini. ​“Nah, ketemu,” ujar Reno setelah beberapa menit. “Ini bukan masalah software atau hardware yang serius, kok. Kipasnya terlalu panas, overheated karena kamu pakai render berat tanpa cooling pad. Aku boost lagi sedikit di BIOS. Tapi lain kali, jangan siksa mesinmu begini, dear. Mesin juga butuh istirahat.” ​Beberapa detik kemudian, layar menyala. File desain Aura muncul kembali, seolah tidak terjadi apa-apa. ​Kelegaan yang dirasakan Aura begitu besar hingga ia hampir tersungkur. Ia menatap Reno, ekspresi awalnya yang dingin perlahan melunak. “Terima kasih. Aku… berutang padamu.” ​Reno tersenyum, matanya menyipit dengan indah. “Hutang itu nggak enak. Traktir aku kopi saja. Aku capek habis hunting foto di Kota Tua.” ​Itu adalah ajakan pertama. ​Perkenalan dan Daya Pikat Kebebasan ​Reno Adrian, 29 tahun, memperkenalkan dirinya sebagai fotografer freelance, spesialisasi travel dan portrait. Ia selalu bercerita tentang kebebasan, road trip mendadak ke Bromo, dan klien-klien yang memberinya bayaran besar untuk keindahan yang ia tangkap dalam bingkai. ​Aura adalah pendengar yang baik. Ia haus akan cerita seperti itu. Hidupnya sendiri adalah rutinitas yang terstruktur: bangun jam 5, desain, rapat, tidur jam 11. Reno adalah warna di atas kanvas abu-abunya. ​PDKT mereka terjadi di dua ekstrem: ​Ekstrem Pertama (Dunia Aura): Makan siang singkat di kantor Aura, di mana Aura sibuk dengan meeting telepon, sementara Reno sabar menunggu, kadang membantu merapikan meja kerja Aura atau sekadar membuatkan teh herbal. Reno tidak pernah merasa terintimidasi oleh kesuksesan Aura; sebaliknya, ia mengaguminya, menyebut Aura sebagai "wonder woman"-nya. ​Ekstrem Kedua (Dunia Reno): Kencan mendadak di pasar loak mencari kamera antik, atau menghabiskan malam di warung kopi kecil yang bau asap, membicarakan filosofi hidup. Di sana, Reno bukan Reno yang butuh uang, melainkan Reno yang romantis, puitis, dan penuh mimpi. ​“Kenapa kamu suka kerja sekeras ini, Ra?” tanya Reno suatu malam, saat mereka melihat bintang dari atap apartemen Aura yang mewah. ​Aura menjawab tanpa ragu, “Aku harus mandiri. Aku tidak mau hidupku tergantung pada siapa pun. Uang memberiku kendali.” ​Reno memandangnya dengan pandangan yang membuat Aura merasa telanjang. “Uang memang memberimu kendali, Ra. Tapi terkadang, kendali itu membuatmu lupa bagaimana rasanya jatuh dan ditangkap.” ​Reno tidak pernah membicarakan uang secara vulgar. Ia hanya menyebut bahwa uang tidak sepenting pengalaman dan seni. Dan anehnya, bagi Aura yang terbiasa dengan pria-pria korporat yang membicarakan saham dan investasi, cara pandang Reno yang anti-materialistik itu terasa menyegarkan, bahkan memikat. Ia melihat Reno sebagai pelabuhan tempat ia bisa melepaskan semua perisai kesuksesannya. ​Cincin Itu Bukan Berlian ​Hubungan mereka berjalan mulus selama enam bulan. Aura mulai melonggarkan jadwalnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa utuh bukan karena prestasi kerja, tetapi karena kehadiran orang lain. Reno memberinya perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari keluarganya yang dingin. ​Namun, tanda-tanda itu sebenarnya sudah ada. Kecil, tetapi konsisten. ​1. Dana Proyek: Reno sering membatalkan janji karena tiba-tiba harus ‘ke luar kota’ untuk proyek foto wedding besar, tetapi saat ia kembali, dompetnya tetap tipis. Ia akan bercerita dengan semangat tentang kliennya, tetapi selalu mengeluh kliennya 'susah bayar' atau 'menunda transfer'. Aura, karena tidak mau terlihat matre, selalu memaklumi. ​2. Hadiah yang Berbeda: Saat ulang tahun Aura, Reno memberinya sebuah kalung perak dengan liontin ukiran nama. Cantik, personal, dan Reno bilang ia membuatnya sendiri. Aura menangis terharu, membandingkannya dengan mantan pacarnya yang selalu memberinya tas branded mahal. Ia berpikir, inilah cinta sejati. Tapi, di saat yang sama, ia ingat Reno pernah meminjam uang padanya seminggu sebelumnya untuk 'bayar costume talent'. ​3. Laptop Aura: Laptop yang dulu diperbaiki Reno, seringkali dipinjamnya untuk ‘mengedit portfolio yang berat’. Awalnya Aura senang membantu. Tapi ia mulai merasa aneh ketika Reno selalu punya alasan untuk tidak membeli laptop yang lebih mumpuni. ​Puncaknya terjadi enam bulan setelah mereka berkencan, di sebuah restoran fine dining yang dibayarkan oleh Aura (Reno bilang ia sedang menunggu pembayaran dari klien di Singapura). ​“Menikahlah denganku, Ra,” kata Reno, matanya memancarkan ketulusan yang membuat dunia Aura seakan berhenti berputar. ​Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil. Bukan berlian. Bukan emas putih. Itu adalah cincin perak ukiran tangan, motif yang sama dengan liontinnya. ​“Aku tahu ini bukan yang kamu harapkan,” kata Reno, raut wajahnya berubah sedikit khawatir. “Aku tidak punya tabungan untuk membeli berlian yang pantas untuk wonder woman sepertiku. Tapi aku punya cinta yang tulus. Aku berjanji, suatu hari nanti, aku akan memberimu semua yang pantas kamu dapatkan.” ​Air mata Aura tumpah. Ia melihat ketidakberdayaan Reno, tetapi ia menerjemahkannya sebagai kerendahan hati dan kejujuran. Selama ini, Aura selalu dihargai karena kesuksesannya. Reno menghargainya karena ia adalah dirinya. Reno menawarkan kehangatan yang tidak bisa dibeli. ​“Ya,” bisik Aura. “Aku mau, Reno.” ​Saat itu, Aurelia Sanjaya, wanita mandiri yang logis, membuat keputusan paling emosional dalam hidupnya. Ia memilih cinta di atas stabilitas. Ia percaya pada potensi Reno, dan yang paling penting, ia percaya bahwa cintanya mampu membuat Reno menjadi pria yang lebih baik, lebih gigih. ​Tiga bulan kemudian, mereka menikah. ​Pernikahan itu didominasi oleh dana Aura. Mereka membeli rumah kecil (dengan down payment dari tabungan Aura). Mereka berbulan madu ke Maldives (dibiayai oleh bonus proyek Aura). Reno berjanji, rumah itu akan menjadi studio fotografi profesionalnya, dan Maldives adalah kesempatan Reno untuk membuat portfolio yang ‘menghasilkan uang gila-gilaan.’ ​Aura bahagia, sangat bahagia. Mereka sering tertawa, bercinta, dan Reno selalu memujinya di depan teman-temannya. Ia merasa lengkap. ​Namun, perlahan, janji Reno tentang studio dan portofolio penghasil uang itu tetap hanya janji. Studio di rumah itu hanya terisi debu, dan Reno lebih sering nongkrong dengan teman-temannya, bilang sedang networking. ​Ketika Cinta Mulai Berhitung ​Satu tahun setelah pernikahan, biro desain Aura sudah berkembang pesat dan pindah ke kantor yang lebih besar. Aura mencapai mimpi profesionalnya. Tetapi ia pulang ke rumah dengan masalah baru. ​Suatu malam, saat Aura sedang merancang anggaran untuk proyek besar, Reno menghampirinya. ​“Sayang,” katanya, memeluk Aura dari belakang. Cara yang selalu berhasil melunakkan hati Aura. “Aku butuh bantuanmu.” ​“Bantuan apa, Sayang?” tanya Aura, matanya tetap terpaku pada angka-angka di layar. ​“Kartu kreditku limit-nya sudah habis lagi. Aku harus bayar cicilan kamera yang lama, dan aku baru saja dapat tawaran proyek foto di Bali, tapi harus segera beli tiket dan bayar deposit akomodasi. Bisnis ini butuh modal, Ra.” ​Aura menghela napas. Ini bukan yang pertama. ​“Berapa, Reno?” ​“Lima puluh juta,” katanya, dengan nada yang terlalu cepat dan sedikit menghindar. “Aku janji, begitu invoice Bali cair, aku langsung balikin. Trust me.” ​Aura menatapnya. Wajah Reno yang memelas dan penuh harap itu membuat hatinya perih. Bukan karena nominal uangnya, tetapi karena ia tahu, invoice itu jarang sekali cair tepat waktu, atau bahkan cair seluruhnya. ​“Aku akan transfer,” kata Aura, tangannya bergerak cepat di atas keyboard. ​Reno langsung menciumnya dengan penuh gairah, mengucapkan terima kasih berkali-kali. ​Saat Reno pergi ke dapur, Aura menatap layar spreadsheet keuangan pribadinya. Ia membuat sebuah kolom baru, dengan judul: "Pinjaman Bisnis Reno (TIDAK KEMBALI)." ​50.000.000. ​Lalu ia teringat semua pinjaman lain: 15 juta untuk sewa studio mendadak, 10 juta untuk workshop yang batal, 8 juta untuk servis mobil. Totalnya sudah mencapai angka yang membuatnya ngeri. ​Saat itu, di tengah kesuksesan profesionalnya, Aurelia menyadari bahwa ia telah membangun rumah tangganya di atas fondasi yang terbuat dari pasir, dan pasir itu kini mulai menariknya ke bawah. Ia mencintai Reno, tetapi cinta itu kini datang dengan harga yang sangat mahal. ​Ia adalah mokondo, dan aku adalah istrinya yang mencintainya, pikir Aura dengan getir. Dan uang ini… uang ini akan menghancurkan kami berdua.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
318.6K
bc

Too Late for Regret

read
360.5K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
152.4K
bc

The Lost Pack

read
469.8K
bc

Revenge, served in a black dress

read
159.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook