Bab 2 : Tawaran Stabilitas dan Harga Sebuah Ketulusan

1493 Words
2 tahun kemudian Desember, Bagi Aura Design & Co., ini adalah masa panen. Namun, bagi Aurelia, ini adalah masa krisis likuiditas. ​Pagi itu, Aurelia duduk di kantor barunya yang elegan, menghadap pemandangan kota Jakarta. Tampilannya sempurna: blazer Dior navy yang pas badan, rambut ditata apik, dan power look yang tidak pernah goyah. Hanya asisten pribadinya, Maya, yang tahu betapa rentan kondisi di baliknya. ​“Ra, supplier kayu kita sudah mengirimkan surat peringatan ketiga. Total tunggakan untuk proyek Kemang sudah mencapai $200.000,” bisik Maya, suaranya tegang saat memeriksa spreadsheet. “Kalau kita tidak bayar dalam 48 jam, mereka mengancam akan menahan pengiriman material.” ​Aura memijit pangkal hidungnya. Angka itu besar, tetapi seharusnya mudah ditangani. Namun, seharusnya tidak berlaku lagi. ​“Dana di rekening operasional kita tinggal $50.000, May. Kita baru saja membayar gaji tim inti, dan invoice dari Pak Dharma baru cair minggu depan. Kita tidak punya buffer,” kata Aura, suaranya datar, mencoba menyembunyikan kepanikan. ​Maya menatapnya dengan pandangan penuh tanya yang tidak berani ia utarakan. Maya tahu persis: dana $150.000 yang hilang bulan lalu, yang Aura catat sebagai ‘Investasi Bisnis Pasangan,’ adalah sumber masalah utama. Itu adalah uang muka yang ia berikan kepada Reno untuk ‘modal proyek film dokumenter besar’ yang, seperti biasa, mangkrak di tengah jalan. ​“Coba kamu hubungi bank lagi, minta relaksasi jangka pendek,” perintah Aura. “Aku akan coba mencari dana talangan.” ​Dana Talangan. Kata-kata itu terasa begitu menyakitkan. Aurelia, si Wonder Woman yang selalu mandiri, kini harus mencari pinjaman demi menyelamatkan perusahaan yang ia bangun dari nol. Semua karena ia tidak bisa mengatakan ‘Tidak’ pada pria yang tidur di sampingnya setiap malam. ​Pertemuan dengan Arjuna ​Pukul 11.00, sebuah janji temu penting berlangsung. Aurelia bertemu dengan perwakilan dari PT. Wiratama Karya, salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia, yang dipimpin oleh Arjuna Wiratama. ​Arjuna bukan hanya sekadar klien; ia adalah kesempatan bagi Aura Design untuk naik ke liga yang lebih tinggi. Proyek yang ditawarkan adalah pembangunan sebuah mixed-use building di pusat kota—proyek mercusuar senilai triliunan Rupiah. ​Saat pintu ruang rapat terbuka, Aura melihatnya. ​Arjuna 'Juna' Wiratama (35 tahun), tinggi, mengenakan setelan jas abu-abu yang ditenun dengan presisi. Berbeda dari Reno yang selalu santai, Juna memancarkan aura kemapanan dan otoritas yang tenang. Ia tidak banyak bicara, tetapi setiap perkataannya adalah keputusan. ​“Selamat datang, Bu Aurelia,” sapa Juna, menjabat tangan Aura dengan mantap, tatapannya langsung, tidak seperti pria lain yang seringkali tersesat menatap Aura hanya karena kecantikannya. “Saya sudah membaca profil perusahaan Anda. Menarik sekali. Dalam lima tahun, Anda berhasil mencapai ini. Itu bukan keberuntungan.” ​Pujian dari Juna terasa seperti validasi profesional yang paling ia butuhkan saat ini. ​Presentasi Aura berjalan lancar. Juna mendengarkan dengan penuh perhatian. ​Ketika sesi tanya jawab tiba, Juna mencondongkan tubuh ke depan. “Desain Anda inovatif. Namun, untuk proyek sebesar ini, kami tidak hanya mencari desain terbaik. Kami mencari mitra yang stabil. Bisakah Anda meyakinkan saya bahwa Aura Design & Co. memiliki cash flow dan dukungan logistik yang kuat untuk menahan goncangan, Bu?” ​Pertanyaan itu tepat mengenai lukanya. Aura harus berbohong atau kehilangan kesempatan terbesar dalam karirnya. ​“Tentu saja, Bapak Juna,” jawab Aura, suaranya terkendali. “Kami memiliki dukungan finansial yang solid. Tim kami berpengalaman dalam manajemen risiko supply chain untuk proyek skala besar.” ​Juna mengangguk pelan, senyum tipis di bibirnya. “Bagus. Saya harap begitu. Karena saya tidak suka kemitraan yang rapuh. Saya menghargai kekuatan, Bu Aurelia.” ​Tawaran yang Melangkahi Profesionalisme ​Beberapa jam kemudian, tim Juna pergi. Aura berhasil meyakinkan mereka, tetapi ia tahu bahwa kebohongannya tentang ‘dukungan finansial yang solid’ hanya akan bertahan selama 48 jam ke depan, saat batas waktu pembayaran supplier tiba. ​Saat Aura hendak meninggalkan kantor, ponselnya bergetar. Telepon dari Juna. ​“Bu Aurelia, maaf mengganggu. Saya tahu ini mungkin tidak profesional, tapi saya punya firasat Anda sedang dalam masalah keuangan. Khususnya terkait cash flow,” ujar Juna tanpa basa-basi. ​Aura terkejut. Bagaimana dia bisa tahu? ​“Maaf, Bapak Juna, saya tidak mengerti maksud Anda,” elak Aura, nada suaranya kembali dingin. ​“Saya mengerti dinamika bisnis arsitektur. Anda baru saja melakukan ekspansi, dan itu pasti menguras banyak dana. Saya dengar dari beberapa rekan di industri bahwa supplier kayu Anda sedang keras. Angka $200.000, bukan?” ​Aura terdiam. Juna tidak hanya sukses, ia juga memiliki jaringan informasi yang mengerikan. ​“Saya tidak mau proyek ini gagal hanya karena masalah cash flow jangka pendek. Kami bisa mempercepat down payment kontrak kemitraan senilai 10% dari total nilai proyek, segera setelah Anda tanda tangan kontrak. Itu lebih dari cukup untuk menutupi tunggakan Anda,” tawar Juna. ​Aura menarik napas dalam. Itu adalah penyelamat. Uang itu bisa membuatnya bernapas. ​“Tawaran itu sangat menarik, Bapak Juna. Tapi saya khawatir, jika pembayaran dipercepat tanpa persetujuan kontrak, itu akan membebani Anda…” ​“Tidak membebani,” potong Juna, suaranya tegas. “Tetapi ada syarat non-formal, Bu Aurelia.” ​Jantung Aura berdebar kencang. Ini dia. Semua pria yang menawarkan bantuan selalu meminta imbalan yang tidak pernah ia sanggup berikan—kecuali uang. ​“Syaratnya?” ​“Saya hanya ingin kejelasan bahwa Anda, secara pribadi, fokus pada proyek ini, Bu Aurelia. Proyek ini butuh kepala dingin dan perhatian penuh. Saya menghargai wanita pekerja keras seperti Anda, tetapi saya tidak mentolerir mitra yang mudah terdistraksi oleh drama pribadi atau masalah rumah tangga yang memakan waktu,” jelas Juna. “Saya tahu Anda sudah menikah.” ​Aura merasa terpukul. Juna tidak meminta tubuhnya, tetapi ia meminta jiwanya—fokus absolut yang belakangan ini dirobek-robek oleh masalah Reno. Juna secara tidak langsung meminta Aura untuk memprioritaskan pekerjaan di atas pernikahannya. ​“Saya menjamin profesionalisme saya, Bapak Juna,” janji Aura. ​“Saya pegang kata-kata Anda. Tapi izinkan saya menjadi pendukung Anda. Anggap saja ini due diligence,” kata Juna. “Saya akan mentransfer $250.000 ke rekening perusahaan Anda, malam ini juga. Sebagai tanda keseriusan kami.” ​“Malam ini?” Aura hampir tidak percaya. ​“Ya. Jangan khawatir soal kontraknya, bisa kita selesaikan besok. Anggap saja ini jaminan saya pada potensi Anda. Saya hanya meminta satu hal lagi, Bu Aurelia,” suara Juna melembut, tetapi tetap dingin. “Malam ini, izinkan saya mentraktir Anda makan malam. Kita bicarakan kontrak ini lebih santai, tanpa tim, hanya berdua.” ​Aura memandang tumpukan file di mejanya. Di satu sisi, ada Reno, yang malam ini pasti sedang bersama teman-temannya, mungkin tidak akan pulang sampai subuh, dan mungkin sedang menggunakan sisa uang di rekening pribadinya. Di sisi lain, ada Juna, yang menawarkan $250.000 (Rp3,8 miliar) dalam hitungan jam, demi menyelamatkan perusahaannya, asalkan Aura mau makan malam dengannya. ​Ini adalah keputusan bisnis yang menyelamatkan perusahaan, dan juga keputusan pribadi yang penuh risiko. ​“Baik, Bapak Juna,” kata Aura, menelan harga dirinya. “Di mana kita bertemu?” ​Kehangatan yang Terlarang ​Makan malam itu berlangsung di sebuah restoran Italia eksklusif, jauh dari kebisingan kantor. Juna tidak menyinggung pekerjaan sama sekali. Ia bertanya tentang mimpi masa kecil Aura, tentang arsitek favoritnya, dan mengapa Aura memilih jalur karir yang keras ini. ​Juna adalah pendengar yang luar biasa. Ia membuat Aura merasa dilihat bukan hanya sebagai Arsitek Aurelia, tetapi sebagai Aurelia sang individu. ​“Saya menghormati Anda, Ra,” kata Juna, menatap Aura saat pelayan menuangkan anggur. “Anda membangun kerajaan Anda sendiri. Itu langka.” ​“Itu wajib,” sahut Aura, sedikit emosional. “Saya harus punya kendali atas hidup saya.” ​“Apakah Anda benar-benar memegang kendali?” Juna bertanya pelan, tidak menghakimi. “Ketika kita mencintai seseorang yang rapuh, Ra, kadang-kadang kendali yang kita pegang itu malah menjadi rantai bagi diri kita sendiri. Kita terlalu sibuk menangkap mereka, sampai lupa bahwa kita juga manusia yang bisa jatuh.” ​Kata-kata Juna menusuk tepat di jantung masalahnya dengan Reno. ​Aura tiba-tiba teringat Reno. Apakah Reno sudah makan? Apakah dia ingat malam ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang kedua? ​“Suami saya bukan pria yang rapuh, Bapak Juna,” bela Aura, meskipun ia tahu itu adalah kebohongan. “Ia hanya pria yang mencintai kebebasan.” ​“Kebebasan yang mahal,” balas Juna, senyumnya menghilang. “Saya sudah mentransfer dananya, Ra. Lihat ponsel Anda.” ​Aura mengecek. Notifikasi bank itu membuat napasnya tertahan. $250.000. Terselamatkan. ​“Terima kasih,” bisik Aura, matanya berkaca-kaca karena kelegaan dan rasa bersalah. ​Juna meletakkan tangannya di atas tangan Aura di meja. Sentuhan itu tidak genit, melainkan menenangkan. ​“Tidur nyenyak malam ini, Ra. Besok, kita buat perusahaan Anda terbang tinggi. Tinggalkan semua beban yang menyeret Anda ke bawah,” kata Juna. ​Aura menarik tangannya, meskipun ia merindukan rasa stabil yang ditawarkan Juna. Ia harus pulang. Pulang ke rumahnya yang terbuat dari pasir, dan kepada pria yang ia cintai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD