Pagi setelah makan malam dengan Arjuna, Aurelia bangun dengan perasaan yang campur aduk. Kantornya terselamatkan, tetapi pernikahannya terasa semakin terancam.
Reno masih terlelap di sofa, jaket denimnya melilit tubuh. Ia tampak begitu damai, seperti anak kecil. Melihatnya, rasa cinta dan kasih sayang Aurelia bergumul dengan rasa frustrasi yang menusuk. Ia mencintai seniman yang bebas itu, tetapi ia lelah menjadi bank dan penjaga gawangnya.
Aura dengan hati-hati membersihkan mawar layu dan surat di meja. Ia meninggalkan secarik catatan di bantal Reno: Aku sudah di kantor. Jangan lupa sarapan, aku sudah transfer uang untuk kebutuhanmu.
Uang. Lagi-lagi uang yang menjadi komunikasi utama mereka.
Kenaikan Tensi Rumah Tangga
Selama dua minggu berikutnya, hubungan Aura dan Reno berada di bawah tekanan yang tak terlihat. Aura sibuk mengurus kontrak besar dengan PT. Wiratama Karya, yang menuntut seluruh fokusnya. Ia sering pulang larut malam, membawa pulang blueprint besar dan rasa lelah yang menumpuk.
Reno, di sisi lain, mulai merasa diabaikan.
Suatu malam, Reno duduk di meja makan, menatap Aura yang sedang meneliti rincian material. Ia memegang kamera barunya yang mahal—salah satu pembelian yang dulu memaksa Aura menguras dana bisnis.
“Ra, kamu pulang cuma buat tidur?” tanya Reno, suaranya sedikit mengandung nada merajuk.
Aura mendongak, matanya lelah. “Aku sedang mengerjakan proyek besar, Ren. Ini proyek mercusuar, ini akan menentukan masa depan Aura Design.”
“Aku tahu, Sayang. Tapi kamu janji kita rayain anniversary kita yang kedua. Kita bahkan belum sempat bicara santai. Kita seperti teman sekamar yang sibuk, bukan suami istri.”
Aura menghela napas, ia tahu Reno benar. Tapi setiap kali ia menatap Reno, ia teringat pada saldo rekening perusahaannya yang nyaris kosong sebelum Juna turun tangan.
“Kita rayakan akhir pekan, oke? Sekarang aku harus fokus. Bayangkan, Reno, proyek ini bisa menghasilkan keuntungan yang cukup untuk kita hidup nyaman selama sepuluh tahun ke depan. Kamu bisa bebas mengambil proyek seni yang kamu suka tanpa harus khawatir soal uang,” jelas Aura, mencoba menyamarkan fakta bahwa keuntungan itu juga harus menutup semua defisit yang disebabkan Reno.
Reno bangkit, ekspresinya berubah. “Jadi, semua tentang uang? Sejak kapan kamu jadi se-materialistik ini, Ra? Dulu kamu bilang kamu mencintai kebebasanku, sekarang kamu ingin membelinya dengan uangmu?”
Kata-kata Reno seperti cambukan. Ironisnya, pria yang hidup dari uangnya sendiri menuduhnya matre.
“Ini bukan tentang membelimu, Reno. Ini tentang tanggung jawab,” balas Aura, nadanya meninggi. “Aku bekerja bukan hanya untuk diriku. Aku punya tim, aku punya kewajiban. Aku butuh stabilitas, Ren. Aku butuh kamu menjadi mitra dalam hidup ini, bukan hanya… beban.”
Reno terdiam. Wajahnya yang tampan terlihat terluka. “Aku minta maaf kalau aku membuatmu merasa terbebani. Tapi aku sedang berusaha, Ra. Aku sedang menunggu dana proyek filmku cair. Tunggu saja sebentar, aku janji semua akan berubah.”
Aura hanya menghela napas. “Aku tahu kamu berusaha, Reno. Tapi kapan ‘sebentar’ itu berakhir?”
Reno tidak menjawab. Ia hanya mengambil kunci mobilnya dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aura tahu, ia akan mencari ketenangan bersama teman-temannya. Dan lagi-lagi, Aura ditinggalkan sendirian di rumah mewahnya yang terasa dingin.
Bayangan Arjuna
Di kantor, keadaan berbanding terbalik. Bekerja dengan Arjuna adalah pengalaman yang profesional, menantang, dan sangat memuaskan. Juna adalah mentor yang cerdas dan mitra yang suportif. Ia menghargai setiap ide Aura, tetapi juga mendorongnya untuk berpikir lebih besar.
Hubungan kerja mereka intens. Rapat seringkali berlanjut hingga larut malam, membahas detail teknis desain.
Suatu sore, Juna dan Aura sedang meninjau lokasi proyek di rooftop gedung lama.
“Desain Anda yang ini sangat berani, Ra,” puji Juna, menunjuk sketsa fasad. “Saya suka. Tapi saya rasa anggaran kita bisa dipangkas di bagian lobby. Itu akan memberi Anda ruang untuk menggunakan material yang lebih mewah di penthouse.”
“Ide yang bagus, Juna,” kata Aura, menggunakan nama panggilan informal yang mulai terbiasa ia gunakan. “Aku akan segera revisi. Terima kasih.”
“Tidak perlu berterima kasih,” kata Juna, menatap Aura dengan serius. “Kita ini tim, Ra. Dan saya percaya pada Anda. Anda membuat saya merasa yakin bahwa uang yang saya investasikan tidak akan sia-sia.”
“Saya tidak akan mengecewakan Anda,” balas Aura, merasa hangat dengan kepercayaan itu.
“Saya tahu,” Juna tersenyum. Senyumnya tenang, berbeda dengan senyum Reno yang penuh semangat dan kekanak-kanakan. “Saya tidak pernah memilih mitra yang salah. Dan saya tahu, Anda tidak akan pernah membiarkan masalah pribadi merusak fokus profesional Anda.”
Ucapan Juna terdengar seperti validasi sekaligus peringatan. Ia tahu tentang perjuangan Aura.
“Bagaimana dengan suami Anda? Apakah ia sudah terbiasa dengan jadwal Anda yang padat?” tanya Juna tiba-tiba.
Aura merasakan sedikit tusukan di dadanya. “Ia… ia mengerti. Ia juga seorang seniman yang sibuk. Kami saling mendukung.”
Juna hanya mengangguk, tetapi tatapannya mengatakan ia tidak sepenuhnya percaya. “Saya harap begitu, Ra. Karena kebahagiaan sejati terletak pada keseimbangan. Tapi kadang, untuk mendapatkan keseimbangan, kita harus rela membuang beban yang memberatkan salah satu sisinya.”
Malam itu, Juna menawarkan diri mengantar Aura pulang. Di dalam mobil mewahnya, Aura merasakan keheningan yang nyaman, di mana ia tidak perlu menjelaskan pekerjaannya atau mengkhawatirkan uang yang akan hilang. Juna hanya memutar musik klasik, membiarkan Aura istirahat.
Ketika mereka tiba di depan rumah, Juna menahan Aura sejenak.
“Saya harap Anda menemukan kedamaian yang Anda cari, Ra. Anda pantas mendapatkannya,” bisik Juna.
Aura mengucapkan terima kasih, jantungnya berdebar kencang. Ia tidak berani menatap mata Juna terlalu lama. Juna menawarkan kedamaian yang tidak pernah bisa diberikan Reno, tetapi Juna juga memicu rasa bersalah terbesar dalam dirinya.
Saat Aura membuka pintu rumahnya, ia melihat Reno duduk di kegelapan ruang tamu.
“Siapa itu?” tanya Reno, suaranya dingin dan curiga.
Aura tahu, kedatangan Juna di rumah mereka adalah garis batas yang baru saja ia lewati.
“Itu Arjuna Wiratama. Klien pentingku. Kami baru selesai rapat,” jawab Aura.
Reno bangkit, berjalan mendekat. “Rapat sampai larut malam, dan diantar pulang dengan mobil mewah? Dan dia bukan dari timmu. Bukannya kamu bilang kamu sudah selesai rapat jam 5?”
“Reno, jangan berlebihan. Ini klien triliunan Rupiah. Dia hanya menunjukkan rasa hormat.”
“Rasa hormat, atau dia menunjukkan bahwa dia lebih mampu dariku?” Reno tertawa sinis, suaranya getir. “Aku tahu aku bergantung padamu soal uang, Ra. Tapi jangan jadikan itu alasan untuk mencari kenyamanan di pelukan pria lain.”
Aura merasa harga dirinya hancur. Ia yang bekerja keras, ia yang menalangi utang, kini dituduh.
“Aku mencintaimu, Reno!” teriak Aura. “Aku tidak mencari pria lain. Aku hanya berusaha menyelamatkan perusahaan yang kamu hisap uangnya! Perusahaan ini nyaris bangkrut karena kamu, Reno! Dan dia, Arjuna itu, adalah orang yang menyelamatkannya!”
Udara membeku. Baik Aura maupun Reno terkejut dengan kejujuran brutal yang baru saja keluar dari mulut Aura.
Reno menatapnya, matanya berkaca-kaca. Ia tidak marah, ia hanya terlihat hancur. Defisit uang mereka kini berubah menjadi defisit kepercayaan yang dalam.
Aku adalah wanita yang mencintai suaminya, tetapi membenci kelemahannya. Dan kini, aku bergantung pada kebaikan pria lain, pikir Aura, menangis dalam hati.