Janji Yang Terlambat dan Harga Sebuah Kesempatan

1215 Words
​Setelah pertengkaran hebat yang dipicu oleh kejujuran brutal Aurelia, suasana di rumah mereka berubah menjadi sangat dingin. Reno menghabiskan beberapa hari di kamar tamu, sementara Aura tenggelam dalam pekerjaannya, menghindari konflik. ​Reno terluka, tetapi kali ini, ia tidak melarikan diri ke luar. Kata-kata Aura, meskipun menyakitkan, adalah cerminan yang tidak dapat ia sangkal: ia telah menghisap uang perusahaan istrinya. ​Upaya Penebusan Reno ​Suatu sore, Aura pulang dan menemukan suasana yang tidak biasa. Rumah itu bersih. Meja makan sudah tertata rapi dengan lilin dan hidangan sederhana. Di tengah meja, bukan mawar layu, tetapi karangan bunga lily putih segar—bunga favorit Aura. ​Reno berdiri di dapur, mengenakan kaus rumahan yang rapi, tampak canggung namun tulus. ​“Aku… aku masak,” kata Reno, menyajikan Ayam Bakar Kecap, masakan andalan ibunya. “Aku tahu aku sudah keterlaluan. Aku minta maaf, Ra. Aku minta maaf karena aku pengecut dan egois.” ​Aura duduk, hatinya melunak. Ini adalah Reno yang ia cintai. Reno yang hangat, penuh perhatian, dan mampu membuat setiap momen terasa spesial. ​“Aku sudah mulai membersihkan diri,” lanjut Reno, duduk di hadapan Aura. “Aku sudah menjual kamera lamaku, dan aku mengembalikan uang muka film dokumenter itu. Sebagian. Sisanya, aku akan cicil. Aku janji. Aku akan mencari pekerjaan yang stabil, Ra. Aku akan menerima tawaran fotografi korporat itu, meskipun itu membosankan.” ​Rasa haru membanjiri hati Aura. Akhirnya, Reno menyadari keseriusan situasi. Air mata hampir menetes, tetapi ia menahannya. ​“Aku tidak pernah meminta kamu berhenti jadi seniman, Reno,” kata Aura pelan. “Aku hanya meminta kamu bertanggung jawab atas hidup kita.” ​“Aku tahu. Dan aku akan melakukannya. Aku akan membuktikan bahwa aku pantas menjadi suamimu, dan aku bukan hanya… mokondo yang menghisap uangmu. Kita bisa melewati ini, kan, Ra?” Reno meraih tangan Aura. ​Aura menggenggamnya erat. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa optimis. Mereka menghabiskan malam itu dengan kehangatan dan keintiman yang telah lama hilang, menegaskan kembali alasan mengapa mereka dulu memilih untuk menikah. ​Tekanan yang Tak Terhindarkan ​Sayangnya, janji baik Reno harus bersaing dengan kenyataan baru: proyek mixed-use building dengan PT. Wiratama Karya. ​Keesokan harinya, Aura harus menghadiri rapat darurat dengan Juna. Tim konstruksi menemukan masalah struktural pada tapak lama, yang menuntut perubahan desain radikal dalam waktu 24 jam. ​Saat Aura bergegas keluar rumah, Reno menghentikannya. ​“Mau ke mana? Bukannya kamu bilang akan ada klien korporat yang menemuiku hari ini?” ​“Aku tahu, tapi ini darurat proyek, Ren. Aku harus bertemu Juna di lokasi sekarang juga,” jelas Aura, mengenakan high heels terburu-buru. ​“Juna lagi?” Reno tampak kecewa. “Bisakah kamu mendelegasikannya ke Maya? Ini akhir pekan, Ra. Kamu janji kita quality time.” ​“Aku tidak bisa! Ini proyek terbesar kita! Kalau ada kesalahan, reputasiku hancur, dan uang yang dia investasikan bisa ditarik. Kita tidak bisa kehilangan ini, Ren!” Aura berteriak, frustrasi. ​Aura bergegas pergi, meninggalkan Reno yang hampa di depan pintu. Ia merasa seperti baru saja dipukul mundur, tepat setelah ia memutuskan untuk melangkah maju. ​Intimasi Profesional ​Di lokasi proyek, Aura dan Juna bekerja dalam harmoni yang sempurna. Juna, meskipun sangat tegas, menghadirkan solusi cepat dan efisien. Mereka berdua sama-sama berorientasi pada penyelesaian masalah, tidak membuang waktu untuk emosi. ​Setelah delapan jam rapat di site, keduanya duduk di kantor proyek yang dingin, dikelilingi cetak biru. ​“Bagus, Ra,” kata Juna, menandatangani revisi akhir. “Kamu benar-benar arsitek terbaik yang pernah bekerja denganku. Kamu fokus, kamu cepat, dan kamu tidak mudah panik.” ​“Terima kasih, Juna. Aku hanya melakukan pekerjaanku,” jawab Aura, kelelahan, tetapi puas. ​Juna menatapnya. “Aku tahu. Tapi tidak semua orang bisa memisahkan tekanan rumah tangga dari profesionalisme. Aku perhatikan, kamu sangat lelah.” ​Aura mendesah. “Aku hanya mencoba menyeimbangkan semuanya.” ​“Tidak perlu menyeimbangkan sesuatu yang tidak bisa berdiri tegak,” ujar Juna, mengambilkan sebotol air mineral untuk Aura. “Aku tahu Reno sudah mulai mencoba berubah. Tapi Ra, perubahan yang datang karena keterpaksaan dan penyesalan, itu seperti obat penghilang rasa sakit. Hanya menunda masalah.” ​“Jangan bicara buruk tentang suamiku,” Aura membela diri, meskipun ia tahu Juna benar. ​“Aku tidak bicara buruk. Aku bicara fakta. Aku menawarkan kemitraan. Kemitraan yang solid, yang akan mendukung karier dan stabilitas finansialmu tanpa batas waktu,” jelas Juna, suaranya mengandung tawaran yang lebih dari sekadar bisnis. “Apa yang Reno tawarkan padamu? Potensi masa depan yang tidak jelas dan rasa bersalah?” ​Aura terdiam, tidak mampu menjawab. Juna selalu menawarkan jawaban yang logis dan solusi yang konkret untuk setiap masalah yang ia hadapi. ​“Aku tahu kamu wanita yang baik, Ra. Kamu ingin mempertahankan pernikahanmu karena kamu mencintainya. Tapi ingat, cinta yang baik seharusnya tidak membuatmu jatuh miskin, dan cinta itu seharusnya tidak membuatmu merasa sendirian saat sedang menghadapi badai,” ujar Juna, tangannya menyentuh bahu Aura, sentuhan yang penuh pengertian dan dukungan. ​Aura merasa sangat tergoda untuk bersandar pada bahu Juna, menikmati stabilitas dan ketenangan yang ia berikan. Ia lelah menjadi pilar tunggal dalam rumah tangganya. ​Konfrontasi di Ambang Pintu ​Saat Juna mengantar Aura pulang, mereka mendapati Reno berdiri di ambang pintu. Ekspresinya bukan lagi marah atau merajuk, tetapi hancur. ​Reno telah menunggu Aura selama berjam-jam. Di tangannya, ia memegang brosur kursus data entry yang baru saja ia ambil, sebuah bukti nyata ia sedang mencoba mencari pekerjaan stabil. ​Melihat Juna dan Aura keluar dari mobil mewah yang sama, berbicara dengan intim di gerbang, semua upaya penebusan Reno seakan runtuh. ​“Selamat malam, Pak Reno,” sapa Juna dengan sopan dan formal. ​Reno mengabaikannya, menatap lurus pada Aura. “Kamu bilang ini darurat. Tapi kenapa Juna menatapmu seolah dia adalah orang yang paling mengerti penderitaanmu?” ​Juna menyela, “Saya hanya membantu Bu Aurelia, Pak Reno. Perusahaan Anda dalam masalah serius. Saya memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh mitra saya.” ​Reno maju selangkah. “Dukungan? Atau kamu mencoba mencuri apa yang tersisa dariku?” ​“Reno, cukup!” Aura memotong. “Juna hanya… klien. Dia menyelamatkan perusahaan kita.” ​Reno menatap brosur kursus di tangannya. Seniman bebas itu kini siap menjadi karyawan biasa demi istrinya. Tetapi, tampaknya ia sudah terlambat. ​Reno membuang brosur itu. Ia menatap Aura, matanya penuh keputusasaan. ​“Aku sudah bilang aku akan berubah. Aku sudah bilang aku akan bertanggung jawab! Tapi kamu tidak memberiku waktu, Ra,” bisik Reno, suaranya pecah. “Apa yang dia berikan padamu, Ra? Stabilitas? Kamu tahu? Stabilitas itu juga bisa dibeli. Tapi ketulusan yang kamu cari, tidak akan kamu temukan dari dompetnya.” ​Reno berbalik, berjalan masuk ke dalam rumah. Ia tidak marah, ia menyerah. ​Aura berdiri membeku. Ia tahu betapa tulusnya upaya Reno untuk berubah. Tetapi ia juga tahu bahwa ketulusan Reno datang dengan biaya yang sangat mahal, dan biayanya hampir saja menghancurkan semua yang ia bangun. ​Juna mendekat. “Pintu sudah terbuka, Ra. Tinggalkan saja beban itu.” ​Aura menatap Juna, lalu ke pintu yang baru saja ditutup Reno. Dilemanya semakin dalam: ia mencintai pria yang ada di dalam rumah, tetapi ia membutuhkan pria yang ada di luar. ​[Akhir Bab 4]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD